
Li Guangrui, di balik tatanan rambut yang dibuat berantakan--menjuntai menutupi seluruh bagian kening, sorot mata coklatnya tak cukup sedap untuk ditatap secara bersahabat.
"Yuru, aku sudah mengejarmu sangat lama. Tapi kamu bahkan tidak menghargai aku sedikit pun!" decitnya dengan rahang mengetat penuh kekesalan. Jika dia seekor naga, mungkin hidungnya sudah mendengus-dengus dengan kobaran api di mulutnya. "Gigolo ini mana bisa dibandingkan denganku!" semburnya seraya mengulurkan tangan menunjuk Lin Mu.
"Apa hubungannya denganku?!" Lin Mu bertanya tak cukup paham. Apa-apaan pria itu?
"Jika dibandingkan Lin Mu, jelas kamu sangat jauh berada di bawah!" Song Yuru menimpal dengan hardikan, tajam dan menukik. Kalimat membandingkan yang jujur namun jelas diwarnai rasa muak terhadap pria berambut emas tersebut. "Sekarang kamu benar-benar membuatku merasa jijik! Cepatlah pergi dari hadapanku!"
Li Guangrui meradang amarah. "Song Yuru! Aku sangat mentolerirmu selama ini, karena aku menyukaimu! Apa kamu benar-benar berpikir kamu hebat?!" serunya tak terima tentu saja. "Siapa yang tidak tahu tentang kekacauanmu di sekolah! Aku bisa tertarik padamu, seharusnya berkah untukmu! Dan bersyukurlah karena itu!"
Terkesan sombong. Ia mungkin tidak sadar apa yang baru saja dikatakannya.
Tak menunggu lama, Guangrui memajukan sedikit posisinya lebih ke depan, dengan wajah terangkat angkuh. Penggambaran amarah yang meletup terpampang jelas di raut wajahnya. "Dan kamu, Gigolo, berhenti berharap! Tunggu dia muak padamu! Kamu juga akan dihempas olehnya!"
"Tutup mulutmu!" Song Yuru menghardik keras. "Atas dasar apa kamu melontarkan fitnah itu?!"
"Haha!" Guangrui terbahak lebar. Gunung fuji mungkin akan mampu ditelannya dalam sekali lahap--sakit lebarnya. "Kenapa? .... Lagi pula setelah bermain sampai puas dengannya, kamu juga akan mencampakannya. Kenapa kamu begitu panik, Yuru?" tanyanya penuh cemooh.
"Lin Guangrui, aku peringatkan kamu! Cepat pergi dari hadapanku! Kalau tidak, jangan salahkan aku! Aku tidak sungkan untuk kali ini!"
"Hahaha!" Ancaman semacam itu tentu hanya dianggap decit tikus kecil yang terjebak di dalam lemari, oleh Guangrui. Apa gadis itu sedang mengajak seni peran? Atau menganggap dirinya hanya seekor lalat. Hoho. "Hanya orang sepertimu ... apa kamu bisa mengalahkanku?" tanyanya mengejek. "Tapi kedua pahamu memang sangat licin. Apa kamu ingin aku menyentuhnya lagi?"
Dengan wajah memerah geram merasa terhina, Song Yuru maju seraya melontarkan tendangan ke arah Guangrui. "Matilaaahh!" teriaknya garang, persis singa betina yang tercabut bulunya.
Namun sial, Guangrui mampu menghindarinya hanya dengan sedikit gerak mengelak. Jelas saja, Song Yuru bukan ahli kungfu dan sejenisnya, mana bisa melawan hanya dengan tendangan serampangan yang malah membuat rok mini yang dikenakannya tersingkap ke atas.
"Ayo lagi ... biarkan aku membimbingmu," kata pria itu menantang disertai seringai mencela.
Sedangkan Lin Mu, ia memang tak tahu apa-apa tentang masalah dua orang itu, tapi berhubung ia di sana bersama Song Yuru, ya ... terpaksa terlibat.
"Orang lain pun bisa kena dampak. Aku hanya membantu Guru Song membawakan barangnya. Itu saja," aku Lin Mu ketika dua orang pengawal bertubuh kekar itu tiba-tiba mengepungnya.
"Berhenti omong kosong!" Satu pria pengawal pemilik kepala licin tanpa rambut, mengayunkan kaki kanannya menendang Lin Mu. Urat-urat wajahnya tercetak tegas pertanda ia serius.
__ADS_1
Sedikit menghindar dengan raut tenang, begitulah Lin Mu.
BLAM
Kepalan tangannya membentuk tinju dan berhasil mendarat di wajah pria botak. Lin Mu balik menyerang.
UGH
Pengawal itu sontak terjerembab hanya dengan satu pukulan.
ARRGGGHH
Satu pengawal lainnya mulai menyerang.
Well, yeaahh ....
Nasibnya sama juga dengan temannya.
"Kamu baik-baik saja?"
Pertanyaan cemas Song Yuru ditanggap Lin Mu dengan senyuman ringan. Wanita itu tak melihat apa pun yang dilakukannya terhubung kesibukan menghadapi Guangrui.
"Tidak apa-apa. Orang-orang ini menyerangku bersamaan. Aku hanya ingin menghindari mereka, tapi mereka semua sudah terjatuh saja. Mungkinkah ada master yang menyelamatkanku?" kelakarnya pura-pura blo'on, dengan tampang tanpa dosa.
"Master dari mana? Kenapa aku tidak melihatnya?" Song Yuru mengedar pandang ke sana-sini dengan wajah serius.
"Bukankah master selalu datang dan pergi tanpa jejak."
Senyuman tenang menyabit manis di bibir Yuru. "Asalkan kamu baik-baik saja, berarti kita sudah termasuk baik di mata mereka," tanggapnya percaya saja.
"Jelas-jelas dia ...." Si pengawal botak menyela. Namun naas, Lin Mu lebih dulu menginjak telapak tangannya yang terkapar di sisi kepalanya, sebelum pria itu melontarkan kesaksiannya--tanpa terlihat Song Yuru
"...." Kalian bisa bayangkan sendiri bagaimana ekspresi pria gundul itu saat ini.
__ADS_1
"Ayo Lin Mu. Suasana hari ini sudah dihancurkan orang-orang ini, kita pergi saja." Song Yuru mengajak. Mood-nya sudah cukup rusak dengan kehadiran pria berjas merah muda yang songongnya kebangetan itu.
Namun belum genap dua langkah ayunan kaki Lin Mu dan Song Yuru, Guangrui lebih dulu berseru, "Tunggu!" cegatnya. "Mau kabur setelah melukai orang-orangku? Mana ada hal semudah itu?"
Song Yuru berbalik badan menghadapnya lagi. "Lagipula bukan kami yang melukai mereka. Jika kamu hebat, cari saja master itu!"
Ppfffttt ....
Seperti bocah tiga tahun yang menangis, tapi langsung reda ketika diberi permen, Song Yuru manis sekali mempercayai kelakar Lin Mu.
"Apa hebatnya cuma bisa menindas kami?!" lanjutnya dengan cemooh.
"Master apa? Hanya bisa sembunyi?" Guangrui bertanya tak percaya. Jelas saja. "Aku mau lihat, apakah ada master yang menolong kalian lagi setelah ini?"
Ditanggapi Lin Mu dengan kening berkerut juga tajam matanya.
"Jangan maju!" Song Yuru mencegah ketika satu kaki Lin Mu baru saja terangkat untuk melangkah. "Dia memenangkan banyak kompetisi taekwondo. Kamu bukan lawannya!" Wanita itu memperingatkan.
Yang kemudian disambur Guangrui dengan gelak tawanya. "Pecundang perlu dilindungi wanita!" ejeknya.
"Ibu Guru Song, jika aku pergi begitu saja, itu sama sekali tidak bermartabat. Jika dia ingin bertarung, maka aku akan temani dia!" tegas Lin Mu. Pemuda itu lalu maju mendekat ke arah Guangrui dengan langkah ringan.
"Lin Guangrui, ya? .... Aku mau lihat, seberapa hebat kemampuanmu," katanya seraya tersenyum.
"Anak baik. Lumayan juga." Guangrui menanggapi tak kalah ringan.
"Jangan banyak omong kosong!" Lin Mu menghardik. "Biarkan aku lihat, mana yang lebih hebat. Mulutmu ... atau kemampuanmu!"
Ahh, tidak! Ucapan itu berisi intonasi Chang Kunzi, lugas dan menekan--tidak ada pura-pura bodoh lagi seperti sebelumnya.
Jelas merasa dihina oleh seorang pemuda ingusan, Li Guangrui bergerak tanpa babibu. Mendekati Lin Mu dengan langkah-langkah lebar.
"Jangan berlutut di tanah dan memohon belas kasihan nantinya!" teriaknya serata mengayunkan satu kaki--menendang Li Mu penuh tenaga.
__ADS_1