
KLUB KARATE
Tiga orang lelaki berjejer dengan posisi siaga. Kaki mereka sudah waspada dengan kuda-kuda. Mengenakan kostum serupa putih, pelindung kepala, juga punch target yang tersangga apik di tangan masing-masing, siap menerima tendangan dan pukulan dari pria tinggi berbadan badas yang memilik otot kekar dan berwajah sedikit kebule-bulean, di hadapan mereka.
"Sudah siap?!" tanya pria bermata tajam itu pada ketiga pria pemegang punch target di depannya. Dialah Sagyu Kojiro, ahli sekaligus pelatih karate di Universitas Donghai yang cukup disegani dalam kiprahnya.
"Siap, Ketua!" sahut serempak ketiganya.
Walaupun terdengar tegas, di balik pelindung kepala berwarna biru yang mereka kenakan, ada ketar-ketir yang menampari tak kasat mata.
Sepasang tangan telah menggulung terkepal kuat, dengan posisi kanan di depan, dan kirinya di belakang--sama-sama di depan dada. Kakinya sigap dengan kuda-kuda kokoh, juga sorot tajam mata yang menampilkan karakter bengis yang cukup mampu menakuti siapa pun.
"Aku akan menyerang," ujarnya pada ketiga pria itu.
Tanpa babibu ....
KYAAAAA
BUGGHH
Satu pukulan menghujam telak punch target milik lelaki yang siap di posisi paling kiri.
"Aargh!" Teriakan itu nyaring membahana. Pukulan Yagyu Kojiro cukup kuat untuk ukuran tahap latihan. Pria lahan tinjunya terpental membentur lantai hanya dengan satu pukulan saja.
WUSSSHH
"Masih belum selesai!" ujar Yagyu Kojiro bersiap menghantam pria berikutnya.
"Aaarggh!" Teriakan kedua lebih nyaring terdengar, Yagyu Kojiro menggunakan tendangannya kali ini.
BUGGHH
BRUK
Dan menyusul kemudian pria ketiga.
Semua lunglai tercampak di lantai dengan wajah meringis sedikit nyeri.
"Aku hanya menggunakan sedikit tenaga. Kalian sudah tidak kuat!" tegur Kojiro, melipat kedua lengannya bersedekap.
"Maaf! Maaf, Ketua!" Satu di antaranya menyahuti tergagap.
"Berdirilah! Lanjutkan latihannya!" titah Kojiro seraya menarik bangkit salah seorang dari mereka melalui telapak tangan yang ia ulurkan.
__ADS_1
"Baik, Ketua!" Ketiga muridnya menyahut serempak setelah kembali menegakkan tubuh.
"Sudah waktunya untuk bertemu orang itu," gumam Kojiro dengan sorot tajam menatap suatu titik di depan sana. Sedang anak didiknya sudah sibuk dengan latihan mereka seperti sebelumnya.
Lain tempat pelatihan karate, lain halaman Universitas Donghai.
Lin Mu, dengan setelan jas putih yang membungkus kemeja biru dan dasi merah di dalamnya, tengah ringan menapaki jalanan kecil di bagian halaman kampus. Entah menuju mana dan mau apa.
Di belakangnya, dua orang mahasiswa berjalan beriringan dengan obrolan renyah mereka yang sepertinya cukup menggembirakan.
Lin Mu datar saja menanggapi. Ia bukan bagian dari mereka. Selain Beibei, tak satu pun berhasil merenggut keinginannya untuk berteman dengan harga ringan. Ia bukan sombong, tapi sepertinya merekalah yang memilih menjaga jarak. Entahlah!
Di sela waktu senggangnya tanpa tali-tali kusut mata pelajaran perkuliahan, langkah kaki Lin Mu tiba-tiba terhenti. Sesuatu baru saja menjegalnya.
"Apa itu dia?" Ia terperanjat. Rasa sejuk yang sama dengan kekuatan Qi milik Ji Qinglan, menyergapnya tanpa diduga. Kepalanya mulai mengedar, mengamati tempat itu sejenak untuk memastikan.
Dan benar!
Dari ujung belokan di depan sana, gadis itu muncul. Lenggak-lenggok tubuhnya cukup menarik minat para pria yang berada di beberapa titik kawasan itu. Ia cantik dan menarik. Ditambah gaun tanpa lengan dengan garis penyekat ketat di bawah dada, mencetak dengan jelas bentuk dan ukuran dua tonjolan kenyal di dalamnya.
Menyengsarakan!
Nikmat, tapi tak bisa dinikmati!
"Lin Mu! Ternyata kamu di sini!" ujar Qinglan setelah langkahnya mencapai sisa sekitar dua meter di hadapan pemuda yang baru saja disapanya. "Kemarilah, aku ada urusan denganmu!"
"Ada apa?" tanya Lin Mu datar saja.
"Ayo!" Qinglan malah melontarkan ajakan.
"Urusan apa? Apa tidak bisa dibicarakan di sini saja?"
Sepertinya nada santai Lin Mu tak tepat digunakan untuk menghadapi Qinglan yang terlihat sangat serius saat ini.
"Eh! Apa yang kamu--"
"Sudah, jangan banyak bicara lagi!" sergah Qinglan memungkas telak kalimat Lin Mu, seraya menarik cepat lengan pemuda itu menyeretnya menjauh dari tempatnya berdiri.
"Ikuti aku saja! Aku juga tidak akan menggigitmu!" Tarikan kasar tangannya seketika berubah menjadi gandengan manis yang cukup menunjukkan keintiman di antaranya. Walau sedikit terpaksa.
"Ya, ampun! Ternyata Ji Qinglan juga bisa menyukai seorang pria." Salah satu dari dua pemuda yang sedari tadi berdiri di belakang Lin Mu, mulai berkicau memberi komentar.
"Lin Mu berhasil menarik perhatian tiga bunga kampus sebelumnya. Sekarang bunga kampus yang ini juga tak disisakannya untuk kita." Satu lainnya menimpal berkeluh tak habis pikir.
__ADS_1
"Sial, ternyata berwajah tampan dan hebat dalam beladiri bisa melakukan dan mendapatkan apa pun sesukanya."
"Ya, begitulah!"
Terima nasib saja!
Lin Mu yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu pecundang, sekarang jadi bintang--bintang yang bersinar.
___
Jalanan dilalui Lin Mu dan Ji Qinglan hanya dengan kedipan mata. Tentu saja dengan peran kekuatan masing-masing. Untung saja area itu sepi, hingga tak satu pun menangkap gerakan sakti mereka.
Kebun milik kampus, dipilih Qinglan untuk berbicara. Ia dan Lin Mu sekarang sudah berdiri berhadapan di bawah sebuah pohon dengan jenis daun menyerupai mangga, namun bukan.
"Ada masalah apa?" Lin Mu bertanya langsung saja. "Kenapa begitu misterius?"
Sesaat Qinglan menghela napas, menstabilkan perasaan gugup yang sedikit mencubitnya. "Ayahku ingin bertemu denganmu!" ungkapnya kemudian. "Malam ini ikut denganku pulang ke rumah," tukasnya sedikit tersirat ketidaknyamanan.
"Ayahmu ingin bertemu denganku? Untuk apa?" Lin Mu bertanya ingin tahu.
Dalam sekejap, iras manis Qinglan berubah aneh. Semburat merah melukiskan rasa malu cukup kentara. "Aku ... umm ... aku sudah beritahu ayah tentang kita. Dan dia ...." Rasa gugupnya semakin terasa mencekik. Namun tetap jua harus melanjutkan, "Dan dia ingin bertemu dengan calon menantunya!" tandasnya dalam sekali pautan napas.
Berbeda dengan Qinglan yang memasang semu merahnya, mendengar penuturan itu, Lin Mu justru menarik ekspresi sebaliknya. "Kenapa kamu begitu cepat memberitahu orang rumah?! Bukankah kita sudah sepakat untuk menunggu?!" Cukup tinggi ia mengambil suara.
Sorot hijau matanya menunjukkan ketidaksetujuan yang vivid.
"Kenapa?! Apa kamu menyesal?!"
Sialnya, teriak hardikan Qinglan malah membekukannya dalam sekejap, seakan tak bisa bergerak dan tersihir. "Te-tenanglah," ucapnya tergagap.
****!
Wanita jika tersentil, tampilannya sungguh menyeramkan melebihi monster, decit hatinya geleng-geleng.
"Ba-baiklah. Aku akan pergi."
Dan langsung kembali berbinar saat sesuatu berada pada zona persetujuannya, begitulah yang juga terlihat pada Qinglan dua detik kemudian. Raut wajahnya berangsur ringan. "Nah, begitu seharusnya," katanya dipulas senyuman puas.
Disergap, ditekuk, lalu dimasukkan ke dalam karung, ya ... seperti itulah Lin Mu saat ini, serupa anak kucing yang tak berdaya saat dicubit kulit pundaknya.
Detik berikutnya, melodi berkasih dalam keterpaksaan itu, sontak terganggu oleh sebentuk kesiur suara bariton yang cukup memberi kejutan untuk keduanya.
"Maaf mengganggu, apakah kamu ... Lin Mujun?!"
__ADS_1