Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 61


__ADS_3

Ruang pribadi VIP makan malam amal.


Yan Langshi, berdiri dengan kedua tangan terselip di saku celana, menghadapi sebotol anggur lengkap dengan cawannya di atas meja berukir elang yang terlihat aesthetic. Rambut kuningnya nampak tersisir rapi ke belakang dengan sedikit helai terjuntai di depan kening.


"Lin Mu .... Kamu ternyata berani mengambil perhatian Xiu. Sebaiknya kamu menghilang!" gumamnya dipulas wajah geram memikul amarah yang tentu saja butuh pelampiasan.


Di posisinya, masih di dalam acara amal, Lin Mu sedikit terlihat gelisah. Ada yang tak beres dengan dirinya.


Kenapa tiba-tiba ada perasaan dingin di belakang?


Entah sebuah firasat, atau mungkin hal lainnya.


Kembali lagi pada Langshi.


Pria itu masih diam. Namun kini beralih menatap pemandangan di balik kaca lebar yang menampakan keriuhan acara malam amal itu di bawah sana.


Suara derak pintu kemudian terdengar di belakangnya. Masuklah sosok seorang pria tinggi berbadan kekar dengan penampilan aneh.


Rambutnya dibuat hijau menyala, sepasang mata ia timpal dengan softlens berwarna merah pekat, bibirnya ia pulas dengan warna ungu, juga anting yang menindik di kanan daun telinganya. Sepintas dipandang, penampilannya persis menyerupai sosok drakula. Diperkuat dengan kerah jas yang ia tarik meninggi hampir menyentuh rahang.


Qing She, begitu nama pria itu.


"Tuan Muda, ada perintah apa?" tanya Qing She tertuju pada Langshi.


Masih dalam mode mengurat geram, Langshi lantas menjawab tanpa menoleh pesuruhnya itu sedikit pun, "Aku tidak ingin lihat anak muda yang memakai baju putih itu!"


Diikuti Qing She kemana pandang tuannya mengarah. Ia kemudian menangkap sosok itu dua detik setelahnya. "Mengerti, Tuan Muda. Akan kupastikan ... dia tidak akan melihat cahaya matahari esok," ucapnya didukung sorot tajam mata yang mengerikan.


"Anak muda itu hebat berkelahi! Jangan meremehkan dia!" Langshi mengingatkan. Sedikit banyak, ia telah menyelidiki perangai Lin Mu melalui antek suruhannya. "Pastikan semuanya bersih dan rapi!"


Di antara senyum hasil lukisan dari kata ‘meremehkan’, Qing She lalu berujar, "Tuan Muda jangan khawatir, aku Qing She ... tidak pernah terkalahkan!" tukasnya seraya membungkuk tipis, lalu berlalu dari ruangan itu tanpa berkata lagi.


Beriring dengking suara pembawa acara mengakhiri sesi acara amal malam ini ....

__ADS_1


"Ini adalah akhir acara malam amal, terima kasih atas dukungan Anda sekalian," tutup pembawa acara itu kemudian.


"Gendut, apa tujuanmu membawaku ke sini?" tanya Lin Mu menoleh ke samping kirinya di mana Weilong duduk dengan damai. "Semalaman di sini terus," gerutunya jengah.


"Jaga perkataanmu, Kak Lin," hardik Weilong. "Orang lain belum tentu ada kesempatan untuk datang ke sini!" lanjutnya. "Aku tadinya ingin membeli sesuatu dan membiarkan Kak Lin untuk membantu!"


Lin Mu terkekeh. "Lalu kenapa tidak mengangkat papan?" tanyanya sedikit bernada mengolok.


Dalam sekejap, ekspresi Weilong berubah datar kemudian memberengut, seperti tersirat sebuah penyesalan. "Aku hanya membawa sepuluh milyar," ungkapnya. "Aku pikir bisa membeli sesuatu. Tetapi bahkan untuk menawar pun, tidak ada kesempatan!" Wajah gembul itu lebih mirip Shincan yang tak diberi uang jajan. "Orang kaya di Donghai selalu berubah. Terlalu sadis menawar. Terutama Ao Shaolong. Mengeluarkan seratus milyar hanya untuk sebuah kalung. Walaupun berharga, itu juga terlalu berlebihan."


"Atau membantu orang untuk membelinya!" Lin Mu menyergah dengan seulas senyuman aneh.


Yang lalu dihardik Weilong tanda tak setuju dengan argumen itu. "Tidak mungkin membantu orang untuk membeli barang yang begitu mahal!"


Lin Mu hanya tersenyum. "Gendut, aku tiba-tiba ada hal penting yang perlu diurus. Aku pergi dulu," katanya seraya melongokan wajah ke suatu arah.


"Kak Lin, masalah apa yang membuatmu tergesa-gesa?" tanya Weilong ingin tahu. "Padahal aku masih ingin mentraktirmu makan."


Lin Mu mulai bangun dari kursinya. "Hal ini lebih penting. Lain kali saja kamu traktir aku!" Kemudian melanting berlari menyongsong pintu keluar.


Ternyata di sini! Ia menemukan apa yang dicarinya.


"Tuan Ao, silahkan naik!" Seorang pengawal berkacamata mengarahkan tangannya pada pintu sebuah mobil mewah yang baru saja disibaknya--pada si tua Ao Shaolong untuk di masukinya.


Lin Mu memperhatikan dari balik pilar persegi tak jauh dari posisi mobil tersebut berada.


Dan mobil berwarna biru itu pun mulai melaju meninggalkan parkiran sesaat setelahnya. Lin Mu mengikuti dengan kekuatan kecepatan yang dimilikinya.


Kini ia berdiri di tepi jalan, menatap mobil yang membawa Ao Shalong yang saat ini berhenti tepat di bawah lampu merah yang menyala.


Aku harus mencari tahu dulu, di mana kalung itu akan disembunyikan, agar memudahkanku untuk mengambilnya di kemudian hari. Hehehe.


Niat yang manis, Lin Mu.

__ADS_1


Ada begitu banyak lampu lalu lintas di kota, sangat mudah mengikuti satu mobil. Aku hanya perlu ....


SWUUSSHH


Lin Mu menghentikan langkahnya tiba-tiba, saat sesuatu berhasil mencuri perhatiannya.


Ada aura pembunuh! batinnya berdecit.


Sepasang matanya kemudian membelalak.


Perasaan ini ....


Lantas dirotasikan kepalanya ke belakang.


Benar saja. Tiga orang manusia berseragam serba hitam, menyerupai ninja dengan penutup wajah dan kepala, sudah berdiri berjejer rapi menatap ke arahnya dengan sorot tajam.


Mereka tidak seperti perampok gangster.


"Siapa kalian?!" tanya Lin Mu seraya memutar tubuh, menghadap ketiga orang itu.


Sayangnya, bukan jawaban melalui perkataan wajar yang diterimanya, melainkan ....


"MATILAAAHH!!"


Swooosswwhh


"Terlalu naif!" komentar Lin Mu seraya dengan cepat melakukan gerak menghindar.


SETT


SETT


SETT

__ADS_1


"Apa?!" Kali ini Lin Mu cukup terkejut. "Di dalam bayangan ada tiga pisau terbang?!"


Salah satu dari ketiga orang yang jelas merupakan para pria itu, menyeringai dari balik maskernya. "Hehe. Kamu pasti mati!"


__ADS_2