
"Demikianlah masalahnya, Mu! Jika tidak seperti seperti itu, aku tidak akan mencarimu." Lanjutan kalimat penjelasan Ayah Wang Xiqing atas tujuannya memanggil Lin Mu, seraya terus naik meniti satu demi anak tangga menuju lantai berikutnya sebuah bangunan megah, yang dilihat dari struktur isian juga bau desinfektan yang menyengat, jelas tempat itu adalah sebuah rumah sakit.
Lin Mu yang mengekor pria itu di bawahnya kemudian berujar, "Paman, walaupun aku sudah berjanji, tapi aku bukan seorang dokter." Pemuda itu tak bisa memberikan harapan lebih, di saat bahkan ia tak tahu, apa yang akan ditanganinya mudah atau tidak.
"Sekuat tenagamu saja. Perlu apa-apa, silahkan katakan, selama ada di dunia ini, kami akan berusaha mendapatkannya!" Pria tua dengan kumis tebal dan kacamata berlensa kotak itu menegaskan.
Di ruangan lain ....
"Kenapa masih belum datang juga!" Seorang pria berseragam polisi berkicau gusar, ditemani satu pria berpakaian sama--lainnya, duduk berdampingan seraya terus melihat ke arah pintu yang masih tertutup di posisinya.
Satu detik bagaikan menahun bagi keduanya. Entah apa yang mereka risaukan.
Apa mungkin karena pria tua yang tergolek memprihatinkan di brankar dekat mereka?
Mungkin!
Cukup puas bergumul dalam resah.
Sampai selang beberapa menit kemudian ....
Waktu merangkul pada apa yang dikehendakinya. Daun pintu yang sedari tadi mereka nantikan suara dan geraknya, kini benar-benar terbuka. Seseorang baru saja menyibaknya dari luar.
"Ketua Wang, akhirnya Anda datang!"
Kedua polisi itu sontak mengangkat tubuh berdiri bersamaan, menyambut lepas seorang pria yang mereka sebut 'ketua'--tak lain adalah ayah Wang Xiqing, yang saat ini datang bersama Lin Mu tentu saja.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Ketua Wang pada anak buahnya. Tatapannya mengarah pada pria renta yang tergolek tak sadarkan diri di ranjang pasiennya.
"Beliau masih koma!" Salah satu polisi itu memberitahu dipulas tatanan wajah cemas. "Kemungkinan buruknya ...."
Mati!
Ia bahkan tak sanggup mengatakan kata kelam tersebut. Tenggorokannya seolah tercekat seperti dibelenggu sesuatu yang tajam.
__ADS_1
Sedengus hembusan napas terdengar berat dari mulut Ketua Wang. "Orang tua ini sangat penting bagi China," ungkapnya seraya menatap wajah renta yang terpejam itu, tentu saja menjurus pada Lin Mu. "Jika dia tidak ada ... China akan menghadapi pukulan keras."
Pandangan Lin Mu juga turut menyorot pria renta di ranjang itu. Walaupun tak mengenal siapa dia, tapi dipastikannya melalui ucapan Ketua Wang, posisi si tua itu ... bukanlah orang sembarangan di negeri ini.
"Jangan khawatir, Paman. Aku pasti akan melakukan yang terbaik," kata Lin Mu meyakinkan. "Tapi tolong tunggu di luar," pintanya tanpa mengalihkan pandang dari sejurus perhatiannya--si kakek tua renta di atas brankar.
"Baiklah!" ujar Ketua Wang seraya membenarkan sedikit tungkai kacamatanya. "Mu, aku serahkan dia padamu." Lalu berbalik badan, mengajak serta kedua orang bawahannya untuk keluar dari ruangan.
"Apa kau yakin tidak akan apa-apa menyerahkan Ketua pada pemuda itu?" Salah satu pria bawahannya bertanya dengan ekspresi tak yakin, tepat setelah pintu tertutup dari luar.
Ketua Wang--ayah Wang Xiqing, menghentikan langkahnya, lalu menarik kedua lengannya untuk bersedekap. "Tidak apa-apa. Dia pernah menolong putriku. Aku percaya padanya!" jawabnya dengan sorot teguh, tanpa mengalihkan tatap dari titik di ujung sana.
Di dalam ruangan.
Lin Mu sudah berdiri tepat di samping brankar di mana pak tua itu terbaring tak berdaya dengan sebagian tubuh tertutup selimut--dari ujung kaki hingga ke bawah dada.
Sejenak memperhatikan seksama bagian wajah yang mulutnya tertutup tabung oksigen tersebut, dengan tatapan intens. Lalu mulai mengangkat kedua telapak tangannya untuk menggenggam bagian pergelangan tangan si pria renta, dengan satu tangan bertugas menekan urat nadinya, guna meraih asumsi awal.
Pertama, gunakan kekuatan Qi untuk mengetahui masalah penyakitnya, batin Lin Mu memutuskan. Seraya ditekannya sedikit lebih kuat bagian bawah pergelangan tangan Kakek Tua itu dengan telunjuk dan jari tengah yang ia rapatkan--hanya menggunakan sebelah tangan saja.
Eh, ini aneh! Lin Mu berdecit seraya mengangkat langsung kedua jarinya dari nadi si kakek.
Tidak ada kelainan pada semua organnya. Tidak seperti orang yang akan mati. Cukup tersentak ia mendapati kenyataan itu.
"Apakah aku melewatkan sesuatu?" Lin Mu bergumam. Satu tangan ia dekapkan di depan dada, sedang lainnya ia cubitkan ke ujung dagunya, memasang mode berpikir.
"Baiklah!" Kedua tangannya mulai ia lerai kembali.
Coba lagi. Kali akan kumasukkan lebih banyak kekuatan Qi, sembari ditekankannya kembali rapatan telunjuk dan ibu jarinya ke bagian nadi si kakek. Kali ini tangan satunya juga turut mengambil peran di tempat yang sama.
SWUUUSSSHH
Tubuh orang tua itu kembali memendarkan asap samar kekuningan, serupa sebelumnya.
__ADS_1
Konsentrasi, Lin Mu mulai mulai mengatupkan kedua matanya. Titik masalahnya ada di mana.
Hening.
Masih ditelusurnya.
TIK TIK TIK
Detik jarum jam bahkan terasa nyaring terdengar di kehampaan.
Hingga ....
"Dapat!" Sepasang mata Lin Mu terbuka seketika. "Di jantung!" imbuhnya menyebutkan. "Samar-samar ada sekelompok udara kotor tersumbat di arteri atrium kanan, sudah lama terjadi," tuturnya seraya membayangkan penampakan jantung di dalam tubuh si kakek tua. "Hal itu mengakibatkan kekurangan oksigen jangka panjang dalam tubuh. Yang pada akhirnya menghasilkan kegagalan fisik."
Kesiur napas dihembuskan Lin Mu sedikit kasar. "Selanjutnya gampang diurus," katanya mulai ringan. "Cukup gunakan kekuatan Qi untuk menyingkirkannya."
Oke! Tak perlu banyak bermain dengan kicau dan asumsi, Lin Mu menyegerakan apa yang sudah semestinya ia lakukan sesuai yang diketahuinya.
....
"Tidak tahu apakah Ketua dapat menahan ini semua atau tidak." Satu pria berseragam polisi berujar rapuh. Ia, satu rekannya juga Ketua Wang, masih setia menunggu di depan pintu ruangan yang di mana ada Lin Mu dan si kakek renta di dalamnya.
Sampai beberapa waktu kemudian ....
KRIEEETT
Setelah cukup masa berada dalam irama gusar, Ketua Wang juga kedua bawahannya itu, akhirnya melihat pintu di depan mereka terbuka. Lin Mu menyembul dari baliknya yang kemudian disambut ketiganya antusias.
"Orang tua itu sementara tidak ada masalah. Dia akan segera bangun," Lin Mu mengungkapkan lebih dulu sebelum orang-orang itu melontar tanya.
"Benarkah?!" Satu polisi menyambut girang. "Bagus sekali!"
"Begitu cepat sudah menyembuhkannya?!" Ketua Wang justru memasang wajah terkejut. "Mu, menurutmu ... Ketua dapat bertahan berapa lama?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
Lin Mu menyambutnya dengan senyuman samar. Lalu mulai menjabarkan sesuai apa yang dilakukan juga didapatnya, "Meskipun akar penyebab penyakitnya telah diketahui ... tapi tubuh Kakek tua itu sangat kelelahan." Dibenturkannya tatap pada lantai seraya menghembuskan kasar napasnya. "Kecuali seorang dokter dewa yang bereinkarnasi menanganinya. Jika tidak ada, menurutku ... ia hanya akan bisa bertahan sampai setengah tahun saja."