Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 45


__ADS_3

"Apa?! Kenapa tidak dapat menembaknya?!" Mata yang melotot itu memancarkan kebingungan. Pria itu menyadari beberapa detik kemudian. Gawat, tidak ada peluru lagi! decit hatinya cemas. "Ka-kamu sebenarnya siapa?!" tanya gagapnya pada Lin Mu. Pistol diturunkan perlahan, dengan bahu menegang, penuh antisipasi.


Lagi-lagi Lin Mu memasang seringainya. Dan ....


BUGGG


Pukulan yang manis, mendarat tiba-tiba di perutnya tanpa diduga si penjahat.


"Kamu tidak perlu tahu siapa aku!" ujar Lin Mu.


Pria penjahat itu sudah terkapar di dasar jalanan tanpa bergerak lagi. Kedua tangannya tercampak lebar di sisian tubuhnya, sedang kepalanya terhentak ke samping dengan darah segar menciprat persis di depan wajahnya. Matanya telah terkatup seiring kesadaran yang menurun lalu menghilang.


Dengan gerakan santai, Lin Mu kembali memundurkan tubuhnya, berdiri tegak seraya melakukan krepitasi atas sepuluh jarinya hingga menimbulkan bunyi berkeretak.


Satu pukulan di perut saja sudah terkapar, bagaimana jika ia menggunakan kekuatan sepenuhnya?


Dengan kekuatan segitu, seharusnya tidak memakan nyawa, 'kan? tanya hati Lin Mu seraya mengamati. Tatapnya pada pria itu ia biarkan berlalu, lalu beralih pada Wang yang ....


Gawat! Polisi itu ..., ia menyadari. Laju dengan gegas menyongsongnya.


Julang tubuhnya diturunkannya meniti rendah untuk berjongkok. Kanan tangannya ia selinapkan ke bagian bawah punggung Wang, lalu mengangkatnya. Sejenak tajam matanya mengamati kondisi wanita itu.


Sepertinya dia pingsan karena kehilangan banyak darah, batin Lin Mu berasumsi. Kini dua jari--telunjuk dan jari tengahnya ia tekankan pada nadi di pergelangan tangan Wang. "Denyut nadinya ...." Matanya seketika melebar, disusul jantung yang berdentam menabuh cemas. "Sangat lemah! Aku harus segera membawanya ke rumah sakit!" Tanpa babibu, diangkatnya tubuh lemah Wang lalu membopongnya meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit.


Kilas balik end.


Saat ini di ruang rawatnya, Wang sudah bangun kembali. Wajah pucatnya telah tanggal tak nampak lagi.


Dan Lin Mu ... ia masih berada di sana.


Dari yang terdengar, sepertinya percokolannya dengan gadis itu sudah melewati tujuh benua dan lima gang di sudut kota.


"Hanya melihat seorang pria kekar yang mengenakan celanadalam di luar celananya," kelakar Lin Mu. Saat ini ia tengah menjalani peran sebagai seorang pengarang, yang jika dilihat dari gerakan peragaannya, lebih pantas disebut pendongeng anak-anak ingusan yang sulit tidur. Sebuah kekonyolan demi menutupi perangai tiran dalam dirinya sebenarnya.


"Meninju tepat di bagian dada, dan membuat penjahat itu langsung roboh. Gerakan pria itu sangat lincah!" ujarnya melanjutkan cerita--cerita halu.


Menanggapi itu, Wang memasang wajah antara terkejut, tak percaya, sedikit bingung, namun juga ada syukur yang menggunung.


Bagaimana tidak, keselamatannya dibawa oleh seorang pria asing yang siapa pun pasti mengaitkannya dengan pahlawan marvel ... Superman.

__ADS_1


Tapi ... apa itu benar?


"Jika saja pria itu tak datang tepat waktu, kita berdua pasti sudah mati," Lin Mu menambahkan. Sekilas pandang, ekspresinya nampak seperti sebuah bentuk syukur, namun ada hal lain di baliknya.


Ia mendesah pendek membuang sedikit perasaan galau yang terlahir dari kata ‘menyesalkan’. Jujur saja, hal itu membuatnya cukup terganggu.


Aku bahkan masih takut memikirkannya sampai sekarang.


Untung saja polisi wanita itu bisa diselamatkan.


Jika tidak, ini akan menjadi PR paling sulit untuk bisa dikerjakan Lin Mu dalam jangka waktu yang tak singkat.


Wang menghela pandangnya menatap Lin Mu. "Katamu, seorang pria kekar yang mengenakan celanadalam di luar celananya. Apa dia juga memakai jubah?!" tanyanya dengan wajah sumringah, persis anak-anak yang spontan gembira ketika diberi sebungkus permen beserta pabriknya sekalian.


Namun ekspresi itu tak bertahan lama. Seulas dengusan ditunjukannya seraya membuang wajah. "Kamu terlalu banyak menonton film pahlawan super," katanya jelas saja tak percaya. Dia itu Wang, polisi wanita paling cerdas dan pemberani di kesatuannya, mana bisa disamakan dengan Maruko Chan!


"Jika hari ini kamu tidak memberitahuku kebenarannya, aku akan ...." Batuk sesak memungkasnya, sebelum kalimat yang menjurus pada bentuk ancaman itu terlontar dari mulut Wang.


Cepat tanggap Lin Mu membantunya untuk bangun dan terduduk. "Sudahlah. Petugas Wang jangan banyak bicara lagi."


"Uhuk, uhuk!" Wang terus saja terbatuk-batuk. Rasa sakit dari inti luka tembak di dadanya cukup membuatnya sesak.


Lin Mu menatapnya cemas.


Telapak kanan tangannya terlihat merogoh saku celana. Sebuah guci kecil berbentuk terompet, sebesar dua jari sudah digenggamnya. Sejenak menatapnya seraya meyakinkan diri.


Baiklah! Ia memutuskan.


Telapak kirinya terbuka menadah sesuatu yang ia keluarkan dari dalam guci mini berwarna hijau tersebut.


Sebutir pil!


"Ini. Hari ini aku memberikanmu barang bagus!" katanya seraya menyodorkannya pada Wang.


"Apa ini?" Polwan itu bertanya ingin tahu.


Lin Mu menanggapi ringan, "Jangan khawatir, aku tidak akan mencelakaimu."


"Coba saja kalau kamu berani!" Wang membalas dengan tantangan. Pil itu sudah terselip di ujung--antara telunjuk dan ibu jarinya. Sejenak menimang-nimang seraya mengamati bentuknya. Namun tak lama, ia menelannya juga, begitu saja tanpa rasa curiga dan banyak bertanya lagi.

__ADS_1


Tepat ketika pil itu menerobos tenggorokan Wang ....


"Lin Mu, keluarga petugas Wang sudah datang!"


Zhou, dokter wanita tiba-tiba saja sudah berdiri di ambang pintu.


"Baik! Aku akan pergi!" sahut gegas Lin Mu, seraya menghentak kembali wajahnya pada Wang.


"Petugas Wang, semoga lekas sembuh. Aku akan menjengukmu beberapa hari lagi." Lalu berbalik badan menyongsong dengan tergesa pintu keluar.


"Lin Mu, terima kasih obatnya. Bye, dadahh!"


Lin Mu menanggapi seruan Wang dengan angguk disertai senyum, menolehnya tipis saja di tengah langkah.


Namun sepuluh detik setelah kakinya mencapai jarak sekitar tiga meter menjauh dari pintu ruangan, ia menghentikan ayunan kakinya tersebut--sejenak memperhatikan tanpa membalik hadap.


"Dokter, bagaimana keadaan putriku?!" Pria tua berjas hitam dengan rambut cepak tentara, bertanya cemas pada Zhou.


"Iya, Xiqing baik-baik saja, 'kan?" Disusul wanita sama tua, dengan tubuh gempal dan rambut ikal pendeknya dengan ekspresi tak kalah cemas.


"Jangan khawatir, Petugas Wang sudah berhasil melewati masa kritisnya. Silahkan kalian masuk untuk melihatnya." Zhou menjawab apa adanya dipulas senyuman ramah.


Tanpa banyak bertanya lagi, sepasang suami istri yang tak lain kedua orang tua Wang itu langsung melejit masuk ke dalam ruang rawat Wang Xiqing.


Dan ya! Itu nama lengkap si polwan ... Wang Xiqing.


"Dokter Zhou, aku pamit dulu!" kata Lin Mu melanjutkan langkah tanpa menoleh, selain sekilas lambaian tangan.


"Tunggu!"


"Ada apa lagi?" Lin Mu menanggapi panggilan Zhou. Hadap tubuhnya ia balik kembali pada wanita itu.


"Tadi obat apa yang kamu berikan pada pasien?!" tanya Zhou lengkap dengan ekspresi kelam yang menuntut. "Berbuat seenaknya saja! Pasien kritis tidak boleh sembarangan minum obat!"


"Tenang saja, Dokter Zhou. Itu hanya vitamin C." Lin Mu berkilah ringan.


Itu adalah obat buatanku. Sangat ampuh menyembuhkan luka. Walaupun tidak mudah untuk membuatnya, tapi nyawa seseorang lebih penting dari pada sebuah proses.


"Dokter Zhou, aku akan mengunjunginya beberapa hari lagi nanti. Sampai jumpa!" Lin Mu berbalik lalu berjalan meninggalkan Zhou yang masih diam di posisinya.

__ADS_1


Tidak salah lagi! Dia bukan Lin Mu yang sebelumnya. Lin Mu yang sebenarnya sudah meninggal saat itu. Sekarang, siapa dia sebenarnya? Zhou menatap punggung Lin Mu yang semakin menjauh di telan jarak, dengan ekspresi kental berkerut penuh tanya.


Punggung Lin Mu yang sekarang lebih tegap dari punggung milik Lin Mu sebelum kecelakaan. Pun dengan pundaknya, Lin Mu yang dulu selalu lemas dengan sejuta kerapuhan dalam dirinya. Dan yang sekarang ....


__ADS_2