
Beberapa saat sebelum mobilnya tenggelam ke dasar ....
Demi kejayaan keluarga ... atau demi keuntungan bisnis?
Luo Bingyun meracau dalam hatinya, sedangkan air laut sudah merendam sebatas dadanya.
Aku tidak menyangka akan berakhir seperti ini.
Mobil semakin merosot, batas air sudah mencapai pangkal hidungnya.
Diiringi tetesan air mata, Bingyun lalu memejamkan kedua mata, meresapi, betapa kenyataan ... terkadang segetir ini.
Aku sungguh tidak rela!
Dan kini tenggelam seluruhnya, menyongsong dasar lautan.
Ia tak berontak, berusaha keluar, apalagi berteriak meminta pertolongan. Detik menyesakkan dipeluknya dalam kepasrahan.
Lin Mu ... pada saat akhir nyawaku, mengapa aku terpikirkan dia ...?
Wajah pemuda itu vivid menguasai pikirnya, seolah menjadi pendorong untuknya melakukan perpisahan antara raga dan nyawanya.
Dan ....
"Ugh!"
"Bingyun! Syukurlah, akhirnya kamu sadar!" Lin Mu berseru girang dengan tubuh terperanjat ke depan.
"Lin Mu?" Dengan suara parau juga wajah terkejut, Bingyun berseru lemah seraya mengangkat tubuhnya dari baring untuk duduk, yang kemudian gegas dibantu Lin Mu. "Kamu ... kamu ... kamu kenapa ada di sini? .... Kamu juga datang ke surga?" tanya gadis itu antara sadar dan tidaknya.
__ADS_1
"Jangan bicara sembarangan!" hardik Lin Mu. "Kamu belum mati. Aku menyelamatkanmu!" ungkapnya.
Pernyataan itu seperti sebuah oase di hamparan gurun bagi Bingyun--menyejukkan.
Ditatapnya wajah pemuda itu dengan mata berkaca-kaca. Ia sudah sepenuhnya meraih kesadaran. "Lin Mu ... aku merindukanmu!" Ia berseru seraya dengan cepat merengkuh Lin Mu--memeluknya. Tangis gadis itu pun meledak kemudian.
"Jangan menangis. Semuanya sudah berlalu," kata Lin Mu membalas pelukan erat Bingyun, memberi penenangan.
"Bagaimana kamu bisa menemukanku?" tanya Luo Bingyun di sela isaknya.
Pelukan itu kemudian dilerai Lin Mu. Mengalihkan sepasang tangannya ke pundak Bingyun seraya tersenyum. "Aku kebetulan lewat. Dan dengar ada orang jatuh ke dalam air. Demi kemanusiaan, aku masuk ke dalam air untuk menolong," tuturnya menjelaskan. "Tidak disangka, orang itu adalah kamu. Bagaimana kamu mengemudikan mobil sampai masuk ke laut?"
Pertanyaan itu disambut Bingyun dengan tarikan napas berat. "Tidak tahu bagaimana bisa terjadi. Tiba-tiba mobilku lepas kontrol."
Kening Lin Mu berkerut dalam menyikapi. "Tiba-tiba lepas kontrol? Bahaya sekali."
"Sudahlah. Ayo kita pergi," ajak Lin Mu menuntun wanita itu untuk berdiri. "Aku temani kamu mengganti baju. Jangan sampai masuk angin."
Bingyun mengangguk patuh tanpa kata. Dengan langkah sedikit masih gemetar karena kedinginan, dipapahnya langkah dengan bantuan Lin Mu tentu saja.
"Hebat sekali!"
"Anak Muda, luar biasa!"
Tepukan tangan riuh terdengar dari deretan orang-orang yang masih asyik menjadi penonton di tepian.
...****...
Universitas Donghai
__ADS_1
"Tadi masih baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba mati teleponnya?" Dengan segala asumsi di kepala, Zhou Shiyun terus berceloteh. Ponsel yang meredup ditatapnya bolak-balik dengan wajah cemas.
Demi menemui Lin Mu, ia kini telah berdiri di depan halaman universitas di mana Lin Mu bersekolah.
Di saat yang sama tiba-tiba ....
"Nona yang di sana. Katanya kamu sedang mencari Lin Mu?!" Song Yuru, diikuti Zixi juga Xuanrong di belakangnya, muncul dari balik punggung Zhou.
Dokter berambut cola itu lantas menoleh kemudian berbalik seutuhnya menghadap ketiga wanita itu. "Benar. Apa kalian teman Lin Mu?" tanyanya.
"Maaf, kenapa kamu mencari Lin Mu?" Yuru bertanya dengan wajah tak enak. "Dia sudah beberapa hari tidak pulang. Kami juga tidak tahu dia ada di mana," ia menjelaskan.
"Lin Mu beberapa hari ini ada di rumahku," ungkap Zhou Shiyun.
"Apa?! Dia beberapa hari ini di rumahmu?!" Zixi berseru terkejut.
"Iya. Tadi pagi baru pergi," lanjut Zhou. "Aku ada urusan mencarinya. Tapi teleponnya tidak tersambung. Aku khawatir ....
"Apa yang sudah terjadi?!" Xuanrong menyela.
Dipulas wajah tak nyaman, Zhou lalu menjelaskan demi sebuah pelurusan, "Beberapa hari yang lalu Lin Mu terluka berat. Aku yang menolongnya. Jadi dia di rumahku untuk memulihkan dirinya."
Zixi menyergah tanya, "Lin Mu terluka parah?"
"Iya. Katanya dia diserang diam-diam oleh seorang pembunuh bernama Qing She," jelas Zhou.
"Aku tahu. Lin Mu tidak akan pernah menghilang tanpa memberitahu. Ternyata ada masalah." Zixi membenarkan.
"Tapi dia sudah pergi dari pagi. Kenapa sampai sekarang belum sampai ke kampus? Apa terjadi sesuatu di perjalanan?"
__ADS_1