
Universitas Donghai
Seorang pria berambut emas yang biarkannya sedikit gondrong, mengenakan jas merah bersetel celana putih, sudah berdiri di depan halaman universitas dengan sebuket bunga mawar biru digenggamnya.
"Siapa itu? Pagi-pagi sudah berdiri di sana?" Seorang mahasiswa bertanya pada temannya.
"Tidak kenal."
Tak lama ....
CKIIIIDDD
"Woooaaa, bukankah itu lamborghini terbaru?"
Mobil berwarna putih itu berhenti tepat di depan kerumunan orang. Pintu menyerupai sayap itu mulai tersibak ke atas. Dan keluarlah Situ Xiu dengan kacamata hitam juga sejuta karismanya.
"Bunga kampus baru." Orang-orang mulai ricuh mengagumi.
Seraya membuka kacamatanya, Situ Xiu mengedar pandangnya berkeliling. "Kenapa hari ini begitu banyak orang di halaman kampus?" gumamnya bertanya heran.
"Xiu, akhirnya kamu datang!"
Suara itu tiba-tiba mengejutkannya. "Yan ... Langshi?" katanya menyebutkan nama pria berjas merah muda itu dengan ekspresi terkejut.
"Kamu kenapa di sini?!"
__ADS_1
Pria bernama Yan Langshi itu tersenyum, tipis saja. "Di mana pun kamu berada, tidak mungkin tidak ada aku, 'kan?" ujarnya ringan. "Ini ... sebuket mawar biru ini, untukmu." Seraya menyodorkan apa sedari tadi dipegangnya pada Xiu.
"Terima kasih," kata wanita itu.
"Xiu, kenapa kamu pindah ke Donghai tidak memberitahu aku?!" tanya Langshi dengan tatapan berubah keruh.
"Aku hanya ke Donghai hanya untuk menemani ayahku," jawab santai Xiu.
"Benarkah? Aku rasa tidak perlu ...." Lanshi menggantung kalimatnya. Jelas yang dilontarkannya mungkin akan membentuk kata-kata singgungan untuk wanita itu.
"Apa maksudmu?" tanya Situ Xiu tak paham.
".... Sebagian besar pasti karena pria itu, 'kan?" tanya Langshi seraya menoleh ke kanan posisinya.
"Benar, karena Lin Mu!" Langshi menimpali. Lalu menghadapkan kembali wajahnya pada wanita di depannya.
"Bisikannya di pesta ulang tahunmu saat itu sangat mesra, 'kan?" tanyanya menyudutkan. "Aku ingin tahu apa yang dia katakan!"
"Yan Langshi, ini urusan pribadiku! Tidak ada urusannya denganmu!" hardik Xiu meninggi, walaupun cukup tak membuatnya nyaman.
"Kamu adalah tunanganku! Kenapa aku tidak boleh bertanya tentang masalahmu?!" Tatapan Yan Langshi semakin kuat menusuk wanita itu.
"Heh, walaupun kita sudah menikah, tidak semua masalahku perlu dilaporkan padamu, bukan?" ujar Situ Xiu.
"Artinya kamu ada hati dengan Lin Mu!" terka Langshi tajam, seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Xiu, dengan tatapan tak kalah tajam.
__ADS_1
"Benar!" Dengan entengnya Xiu menjawab. "Jadi jangan ganggu aku lagi! Jangan sampai semuanya menjadi tidak menyenangkan," ia memperingatkan, lalu berbalik meninggalkan pria itu.
"Situ Xiu! Apa kamu tahu apa yang baru saja kamu katakan ...?!" teriak Langshi membahana.
"Tentu tahu! Kamu pikir aku sedang bercanda!" jawab Xiu lagi tanpa menoleh, kemudian mempercepat langkahnya meninggalkan pria itu dalam segudang kemarahannya.
....
"Kak Lin, ada sesuatu di sana!" Si gendut Xing Weilong mengarahkan tangannya ke arah di mana Xiu dan Langshi berseteru.
Lin Mu juga memperhatikan itu.
Kekuatan Qi yang feminin ... ternyata dari seorang pria, batinnya. Ini adalah pertama kalinya aku melihat, seorang pria dewasa berlatih kekuaran Qi feminin, lanjutnya dengan senyuman geli.
"Kak Lin, apa yang membuat hatimu senang?" tanya Weilong memperhatikan.
"Tidak apa-apa!" kilah Lin Mu. "Ayo kita jalan!" ajaknya seraya kembali menuntun langkah memasuki kampus.
Masih di posisinya, berdiri dengan segenap kemurkaan, Yan Langshi menatap Xiu yang menghilang ditelan jarak.
Berani merebut wanitaku ... hatinya mulai berdecit dalam geram yang membumbung.
Di seluruh China ini ... tidak ada yang berani melawan Langshi! Sorot tajam matanya melukiskan aura membunuh yang kental.
Dan kamu Lin Mu ... sangat tidak layak!
__ADS_1