Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 12


__ADS_3

Ruang perpustakaan yang seharusnya tenang, kini berganti ricuh setelah aksi urakan yang dilakukan Lin Mu dan juga Wang Dong.


Pemandangan berantakan dengan beberapa kursi terjungkal di beberapa titik, ditanggap terkejut oleh petugas penjaga, yang ... kemana saja dia dari tadi? Setelah usai baru muncul.


"Ada apa ini?!" teriaknya, menuntut jawaban--dari siapa pun yang berada di sana.


Lin Mu menolehnya tanggap. "Tadi ... ada mahasiswa yang berlari terlalu cepat, lalu tidak hati-hati menabrak meja dan kursinya hingga jatuh." Siapa pun tahu itu bohong, Lin Mu berkelakar seraya mengusap bagian tengkuknya.


Mungkin akan merepotkan, jika ia diketahui sebagai korban, yang kemudian pada akhirnya menjadi pelaku.


Tanpa menunggu reaksi petugas itu, Lin Mu mengambil inisiatifnya--membereskan kembali kursi-kursi itu ke tempatnya semula, satu demi satu.


Di posisinya, Xiaoyue menatap pemuda itu tercenung. Kemana Lin Mu si pecundang? Kenapa dia jadi sekeren itu? Pikirnya terheran-heran.


"Kamu sudah berubah. Dulu kamu tidak seperti ini." Ia berkomentar dengan suara ragu. Tentu saja merasa takjub.


"Mungkin saja. Paling tidak, seperti ini tidak akan ada begitu banyak masalah lagi," tanggap Lin Mu tanpa menoleh. Satu telapak tangannya nampak santai ia selipkan ke dalam saku celana.


Tidak ada Lin Mu si Bodoh lagi!


Mungkin sedikit sulit merangkai kata, dalam beberapa saat, Xiaoyue bergeming. Terlalu banyak hal yang harus ia cerna mengenai perubahan Lin Mu yang begitu mencengangkan.


Hingga sesuatu muncul di kepalanya. "Wang Junli, ayah Wang Dong ... adalah orang yang pendendam. Kamu harus hati-hati."


Deretan kata membentuk tajuk memperingatkan dari gadis itu, disambut Lin Mu ringan saja, "Heh, benarkah? Kalau begitu terima kasih sudah mengingatkan."


Langkah kakinya kemudian ia tuntun ke arah bukunya yang tadi terlempar karena perbuatan Wang Dong. Masih nampak tergeletak di lantai.


Ada yang aneh!


Sepasang mata Lin Mu menangkap sesuatu yang berbeda dari buku tersebut. Dengan cahaya yang melingkari pas di bagian tengah, sekitar tiga bait banyaknya dari halaman dalam buku itu, menampilkan pesan yang berkaitan dengan apa yang tengah pemuda itu alami saat ini.


MASALAH HARUS DISELESAIKAN SECARA MENYELURUH. JIKA TIDAK, KELAK PASTI AKAN MELAHIRKAN MASALAH LAGI.


Kurang lebih seperti itu isinya.


Lin Mu meraihnya gegas, lalu diamatinya halaman buku tersebut. Telunjuk dan ibu jarinya ia sentuhkan ke bagian dagu membentuk huruf V, menandakan ia tengah berpikir saat ini.

__ADS_1


Menyelesaikan masalah secara menyeluruh, ia mengulang bait kalimat itu.


"Teknik pernapasan juga sudah selesai dipelajari. Sudah waktunya untuk memperlajari ilmu berikutnya dengan Lu Shouyang." Ia memutuskan.


Rencana demi rencana akan mulai ia susun untuk mengisi hidup barunya--sebagai Lin Mu tentu saja.



Suatu malam di sebuah rumah.


Dari ketinggian sekitar sepuluh meter di atas permukaan atap, rumah itu nampak kelip berkilauan, dengan lampu-lampu kuning menyala benderang di setiap sudutnya, sangat indah terlihat mengisi malam yang kadang terasa menjengkelkan sebenarnya.


Seperti saat ini ....


"SEMUANYA TIDAK BERGUNA!!"


Cukup keras menembus cakrawala--mungkin, teriakan itu berasal dari dalam rumah.


Sebuah buku tebal melayang lalu menimpa salah satu pria yang berdiri di antara banyak pria lainnya. Dilempar secara sengaja oleh--mungkin atasan mereka.


"Dalam seminggu hanya menyelidiki barang seperti ini!" Pria tua dengan kumis sedikit tebal itu kembali berteriak. "Aku menghabiskan begitu banyak uang untuk memelihara kalian. Kalian malah membodohiku seperti ini!"


"Lin Mu penakut?!" tanyanya lebih terdengar seperti cemooh. "Jika penakut mana mungkin dia mematahkan tangan Wang Dong?!"


Pria-pria berjas yang seharusnya memasang wajah tegas karena status mereka sebagai kaki tangan orang berpengaruh seperti si tua itu, kini terlihat lesu menunduk. "Ini ... Bos ... kami juga tidak tahu kenapa bisa begitu--"


"Apanya kenapa bisa begitu?!" sergah Wang Junli semakin merayang emosi. "Katakan terus terang!"


Lalu dengan ketar-ketir, salah satu pria pesuruhnya mulai menjelaskan, "Kami menyogok seorang pengasuh dari Keluarga Lin. Menurut perkataannya ... Lin Mu memang penakut dulunya." Sebutir keringat menggelinding dari ujung pelipis melewati pipi tirusnya. "Kemudian terjadi kecelakaan, lalu berubah menjadi seperti sekarang ini. Sepertinya dia masih hilang ingatan," tandasnya.


Namun kelihatannya berita itu tak melahirkan toleransi dalam diri Wang Junli. "Aku tidak peduli! Tangkap orangnya, dan bawa kemari!"


Walaupun cukup terkejut, para pria pesuruh itu menanggapi dengan sigap, "BAIK!"


Dalam kesendiriannya, selepas para kaki tangannya berlalu dari ruangan, Wang Junli memasang wajah geramnya sangat ketat.


"Bocah tengik! Apa kamu mengira, karena kamu orang dari Keluarga Lin, lalu tidak ada orang yang berani menyentuhmu?" tanya sinisnya, mungkin pada bayangannya sendiri. "Setelah menyinggungku, sekali pun tidak mati, aku juga akan membuatmu menderita!" Ia bertekad.

__ADS_1


Keesokan harinya ....


Lin Mu tengah santai berjalan di tengah hiruk pikuk orang, di sekitar halaman universitas.


Entah akan kemana sepasang kaki itu menuntunnya.


Tapi sepertinya ia mulai mencapai batas, yang tak diduganya sama sekali sebelumnya.


"Emm?" gumamnya. Kepalanya sedikit ia miringkan untuk menelisik apa yang kini menjadi sejurus pandangnya menangkap.


Langkahnya tersebut terpaksa terhenti ketika ....


"Namamu Lin Mu, benar, 'kan?"


Tiga orang banyaknya, pria-pria dengan otot kekar dan busana macho, berdiri menghadang jalannya. Wajah-wajah itu nampak sangar tak bersahabat, Lin Mu menilai.


"Iya aku. Apa ada masalah?" Ia menyahut santai, namun juga cukup terkejut sebenarnya.


Dari mana datangnya orang-orang ini?


Setidaknya begitu isi pikir Lin Mu saat ini. Yang kemudian terjawab dua detik setelahnya ....


"Bos kami mengundangmu untuk ke tempatnya sebentar." Salah seorang pria dengan manset menyerupai tato di kedua lengannya, menjawab. Dari nada yang tertangkap, cukup fals dan tak pantas dikatakan sebagai sebuah sapaan pembuka.


"Bos kalian ...? Apakah aku mengenalnya?" tanya Lin Mu ingin tahu.


Pria dengan kacamata hitam itu tersenyum. "Kamu akan segera mengenalnya. Ayo pergi. Jika tidak ingin menderita, maka ikuti kami dengan patuh."


Ya ... memang! Permintaan bersifat peringatan. Demikian kesimpulannya.


Kalimat itu jelas dimengerti Lin Mu. Namun karena dia Chang Kunzi, maka lagi-lagi berbeda caranya menyikapi.


Akan semakin membuang waktu, jika hanya saling melempar cakap, hanya perlu lima detik saja untuk Lin Mu mengambil keputusan. "Kalau begitu ayo pergi."


Dengan senang hati para pria kekar itu memboyongnya menuju mobil yang mereka bawa.


Pendendam ya ...? Komentar Lin Mu dalam hati. Kebetulan aku juga sama.

__ADS_1


Ia kini sudah berada di dalam mobil, dengan himpitan dua pria di kiri dan kanannya, melaju entah kemana.


__ADS_2