
Dengan senyuman miring, Lin Mu lantas menanggapi kalimat si botak tua itu, "Aku memang tidak secepat peluru. Tapi lebih cepat darimu, itu sudah cukup!"
"Masih bicara sembarangan!" Air soft gun hitam dengan amunisi penuh itu diarahkan pria botak tua pada wajah Lin Mu. "Mati saja, Sialan!"
Seribu kali sayang, sebelum pelatuk pistol itu ditariknya, Lin Mu sudah lebih dulu menghadang dengan gerak kilat. Ditekannya lengan penjahat tua itu ke bawah, tepat ketika telunjuknya menekan habis pelatuk pistolnya, dan ....
DUAAARRRR
"Aaaaarrrggghhh!" Teriakan ketua penjahat tanpa rambut itu mendengking seantero ruangan. Satu peluru bunuh diri menembus daging pahanya hingga berlubang sesuai bentuk timah panas yang dilesatkannya tak sengaja. "Kakiku! Kakiku!" Dilemparnya serampangan senjata api itu lalu melumbrukkan diri ke lantai seraya memeluk pahanya sendiri yang mulai mengalirkan darah segar akibat tembakan barusan, dengan wajah menegang ringis menahan sakit.
Lin Mu menurunkan tubuhnya--berjongkok tepat di hadapan pria itu. "Kamu sendiri yang menyuruhku untuk datang. Apa kamu tidak tahu aku siapa?!"
Dengan wajah kasihan memelas iba, pria itu mendongak menatap Lin Mu. "Kumohon lepaskan aku. Aku pasti akan membalas budimu!" pintanya memohon.
Kerah jas dengan harga mahal itu dicengkram Lin Mu lalu ditariknya sedikit ke depan. "Aku tidak butuh balas budimu!" ujarnya dipulas senyuman mengerikan. Satu telapak tangannya naik dengan telunjuk dan jari tengah yang berdiri dan lainnya terlipat, yang kemudian diarahkannya pada kening si botak tua. Sebias cahaya kuning keemasan keluar dari ujung kedua jari itu. Lin Mu menotok kepalanya menggunakan sedikit kekuatan. "Aku mau kamu membayarnya sekarang juga!"
Beberapa detik setelahnya ....
"Eh, aku siapa? Aku di mana?" Penjahat tua botak itu tiba-tiba meracau seperti orang linglung. Terlihat seperti orang idiot, mulutnya bahkan sampai ngeces layaknya balita.
Lin Mu baru saja membuatnya mengalami alzheimer, di mana kondisi otak dan sel-selnya merosot dan mati, hingga menghancurkan memory dan fungsi mental penting dalam diri penjahat tua itu.
"Lin Mu, apa yang kamu lakukan padanya?!" Zhou Shiyun mendekat penasaran.
Laju dengan santainya Lin Mu menjawab, "Aku hanya menggunakan inti cahaya kehidupan. Sedikit membantunya menyadarkan otaknya."
"Oh, wow, kamu ramah sekali," komentar Zhou Shiyun takjub.
__ADS_1
Di saat yang sama ....
Suara derap langkah yang sepertinya lebih dari dua pasang kaki, mengudara keras dari luar ruangan, mendekat ke arah Lin Mu.
Benar saja. Sekelompok pria masuk dengan tampang-tampang tegas.
"Kamu bocah hebat. Dengan satu gerakan dapat mengalahkan begitu banyak orang," suara bariton salah satu dari mereka, seketika memecah perhatian Lin Mu dan Zhou Shiyun.
"Kamu siapa?" tanya Lin Mu setelah berbalik menghadap jejeran orang-orang tinggi itu.
"Namaku Shen Zhuguang. Temanku membuka tempat ini," terang pria berkacamata minus itu. "Kamu membuat masalah di sini. Membuatku susah mengurusnya!" keluhnya dengan nada keruh.
Setelah mendengar nama itu, barang sejenak Lin Mu terdiam. Mencoba menggali pikirnya tentang pria berbadan besar dengan kumis tipis di depannya itu.
Shen Zhuguang ... bukannya dia ... atasan Wang Xiqing. Direktur biro keamanan umum kota?
"Dengan tuduhan sengaja melukai orang, kami akan membawa kalian berdua ke Biro untuk diinterogasi. Untuk itu silahkan ikut kami!" Satu pria kurus berseru lantang dengan tangan terjulur ke arah Lin Mu dan Zhou Shiyun.
"Petugas Shen, aku yang menjatuhkan orang-orang itu, tidak ada hubungannya dengan wanita ini," ujar Lin Mu. "Jika ingin tangkap, tangkap aku saja!" tukasnya meyakinkan.
"Lin Mu! Kamu ...." Zhou menghardik tak setuju.
"Jangan khawatir, Dokter Zhou. Aku tidak akan apa-apa," kata Lin Mu mencoba menenangkan. Senyum manis ia hadiahkan untuk wanita itu.
"Aku, Shen Zhuguang, sejak kapan diatur olehmu dalam melakukan tugas?!" Petugas itu menghardik keras ucapan Lin Mu. "Bawa semuanya!" titah tegasnya pada bawahannya.
"Kamu!" Lin Mu sedikit meradang dengan perintah itu. Ia tak ingin Zhou Shiyun terlibat dalam kasus yang menjeratnya, walaupun iya, semua jelas terkait dengan wanita itu.
__ADS_1
"Sudahlah, Lin Mu!" Zhou menepuk pundaknya menenangkan.
"Tuan dan Nona, silahkan!" decit salah satu petugas seraya merentang satu lengannya mengarah pada pintu.
Lin Mu merasa baik jika ia sendirian. Wajahnya kini berubah resah karena Zhou juga diboyong para polisi itu besertanya.
"Dokter Zhou, maaf telah menyeretmu," ucapnya penuh sesal.
"Perkataan macam apa itu?!" tukas Zhou Shiyun. "Aku malah berterima kasih karena kamu sudah menolongku."
Di tengah jalan, di ujung koridor bangunan ....
"Gerakan sebesar ini tetap membuat orang merasa--" Xing Weilong, racaunya tergantung tepat ketika langkahnya berbenturan dengan Lin Mu dan para pria itu. "Eh, Kak Lin, kenapa kamu bisa di sini?!" tanyanya terkejut.
Lin Mu membalik tipis badannya menoleh pria itu. "Gendut."
"Kalian siapa? Kak Lin Mu dibawa kemana?" tanya Weilong pada para petugas--yang mana pun, tanpa peduli sapaan Lin Mu padanya.
Satu petugas berjaket merah lantas menjawab, "Polisi sedang menangani kasus .... Dua orang ini membuat masalah. Kamu jangan ikut campur!"
Peringatan itu membuat Weilong sedikit ketakutan. Ia laju diam tanpa berkata lagi.
"Gendut, bagus sekali kamu ada di sini," ujar Lin Mu pelan. "Pegang baik-baik kertas ini." Segulung kertas kecil sebesar lintingan rokok, diselipkannya ke telapak tangan Weilong.
"Kak Lin, apa ini?" tanya Weilong tak paham.
"Nanti tolong telepon nomor yang ada di kertas itu. Ceritakan situasiku padanya. Semuanya. Aku mohon bantuanmu."
__ADS_1