Aku Seorang Sampah

Aku Seorang Sampah
Episode 34


__ADS_3

Dua hari kemudian ....


"Aku tidak mau menemani wanita belanja lagi. Banyak sekali pakaian yang dibeli," keluh Lin Mu sembari merapikan kantong-kantong belanjaan segala rupa ke dalam bagasi belakang sebuah mobil--mungkin milik Song Yuru, atau kedua temanya, entahlah.


"Akhirnya bisa masuk semua!" cakapnya setelah pintu bagasi tertutup.


Di saat yang sama ....


"Kebetulan sekali!"


"Hh?" Lin Mu menoleh terkejut ke belakangnya.


"Kamu tidak menyangka bisa bertemu denganku lagi, 'kan?" Rambut lurus sedikit melewati telinga itu nampak melecut-lecut tersapu angin, seringai di bibirnya seolah mengolok Lin Mu. Pakaian yang dikenakannya masih tetap sama.


Ya ... wanita yang kemarin--Petugas Wang.


SREEKK


Borgol yang kemarin dirusak Lin Mu diangkatnya tinggi-tinggi ke hadapan pemuda itu. "Mari, pakai sendiri," katanya setengah mengejek.


"Kenapa kebetulan sekali? Polisi ini ...." Lin Mu bergumam tak habis pikir. Memakan beberapa detik untuk berpikir, sampai sebuah ide gila muncul di kepalanya saat mendapati sebuah sepeda entah milik siapa, tersandar dekat tiang listrik di tepian jalan. "Eh! Apa itu?!"


"Apa?" Dengan bodohnya Petugas Wang mengikuti telunjuk Lin Mu. Dan .... "Di mana dia?" Tempat tadi Lin Mu berdiri telah kosong. "Sial! Beraninya mempermainkanku." Bersungut-sungut geram, setelah dilihatnya pemuda konyol itu sudah menjauh melarikan diri, menggunakan sepeda yang dirampoknya dari jalanan.


Tak serta merta, Wang menaiki mobilnya, lalu melaju gegas mengejar pemuda sialan itu.


"Kalau kau hebat, jangan lari!!" teriaknya seraya terus menancap pedal gas di bawah kakinya dengan kecepatan penuh.


WIU WIU WIU ....


Suara sirine mobil yang dikendarai Wang terdengar melengking memecah jalanan.


Di tempat berbeda.


"Eh, kenapa Lin Mu belum juga kembali?" Song Yuru bergumam bingung. Ia sudah berada di dalam mobilnya, menatap jok kemudi yang masih tetap kosong setelah beberapa waktu ia menunggu.


Kembali pada jalanan.


Dua sejoli nampak berjalan santai di atas trotoar tepian jalan raya seraya mengobrol dengan candaan renyah.

__ADS_1


"Haha, aku beri tahu padamu ...," kata wanitanya. Sebelum ia melanjutkan kalimatnya, eskrim kerucut dengan isian menyerupai puncak monas di Jakarta itu dijilatinya--persis seekor anak anjing. Namun sesuatu berhasil mengejutkannya lebih dulu ....


SWUUUSSSHH ...


"Eh, apa itu tadi?!" serunya seraya menghentakkan kepalanya ke samping--arah jalanan.


"Oh, tidak, eskrimku!" Ditatapnya dengan mata terbelalak, eskrim yang digenggamnya hanya menyisakan cone-nya saja, dengan isi yang sudah berpindah ke bawah kakinya--tersapu angin.


"Sialan! Tunggu aku menangkapmu! Aku akan membuatmu menderita!" Teriakan Wang di tengah laju cepat mobil sirine-nya, mendengking ke seantero area yang dilintasinya.


Kedua muda-mudi tadi menatap seraya mengikuti gerak mobil itu dengan mata terbelalak--masih mematung di posisinya.


"Apa yang terjadi?" Kali ini si prianya bertanya bingung, entah berharap pada siapa, untuk mendapatkan jawabannya. "Polisi mengejar sepeda yang melaju kencang ...?"


Bukankah itu luar biasa? Sedangkan kecepatan laju mobil polisi itu juga tak main-main!


....


Lin Mu berdecak kesal. "Dia sudah mengejar begitu dekat," keluhnya. "Jika begini terus, roda sepeda ini akan rusak!"


Aku harus cari kesempatan untuk melarikan diri darinya! Batinnya menyambung.


Sebuah belokan di depan sana tertangkap mata Lin Mu. Dan tentu, itulah pilihan yang akan ia ambil berikutnya.


Huh, kamu kira aku tidak tahu kamu di sini.


Seringai tipis ditarik bibirnya dengan raut menang.


"Akhirnya, bisa lolos dari polisi gila itu." Lin Mu menghela napas lega. Sepeda itu tak lagi ia kayuh, melainkan didorongnya dengan langkah santai.


Suasana sekitaran cukup sepi dari lalu lalang orang-orang. Namun siapa duga ....


KRATAK


"APA?!" Lin Mu terperanjat bukan kepalang.


"Siapa yang gila?!"


Wang--polisi wanita itu tiba-tiba sudah berdiri saja di dekat Lin Mu. Tak menunggu waktu hingga bermenit untuknya langsung mengunci sepasang tangan Lin Mu dengan borgolnya kembali seperti waktu lalu.

__ADS_1


"Polisi, kenapa kamu datang dan pergi seperti hantu?! Mau apa sebenarnya?!" tanya Lin Mu dengan nada geramnya.


"Tidak apa-apa! Hanya menangkapmu untuk kepentingan penyelidikan. Siapa suruh kamu kabur saat itu?!" jawab Wang terkesan menyudutkan.


Lin Mu mendengus kesal. "Polisi, dengarkan aku. Aku tidak melakukan hal buruk apa pun. Kenapa kamu terus mengincarku?!" Ia bersikeras mempertahankan apa yang diyakini dan fakta menurutnya. "Eh, di sana ... ada orang yang merampok!" Pandangan Lin Mu tiba-tiba tercuri oleh sesuatu di depan sana.


"Apakah kau pikir, aku akan termakan jebakanmu lagi!"


"Sungguh perampokan! Berbaliklah, ada banyak orang yang mengelilingi di sana!"


Menilai dari ekspresi meyakinkan pemuda itu, Wang sedikit merasa bimbang. Pendengarannya memang menangkap keramaian di balik tubuhnya, tapi sebelum berbalik, ia lebih dulu memperingatkan Lin Mu, "Jika kamu membohongiku lagi ... tamat riwayatmu!" ancamnya, kemudian mulai menghela kepalanya ke titik di mana keributan itu terjadi. "Tunggu di sini! Tunggu aku kembali. Awas kamu!" Lalu melanting menuju pusat perhatian tanpa berpikir, jika sepasang kaki Lin Mu masih bergerak bebas tanpa rantai dan sejenisnya.


"Kenapa aku harus menunggumu kembali," gumam Lin Mu dengan tampang masa bodo. Dan lihat, sekali tarikan saja, borgol yang memasung kedua tangannya sudah terputus dengan rantai-rantai kecil yang berhambur sesaat ke udara, lalu jatuh menyongsong beberapa titik di atas jalanan.


Setelah semua bagian borgol lepas dari tangannya, Lin Mu melanjutkan langkah, meninggalkan yang seharusnya.


Akan tetapi ....


"JANGAN GEGABAH! JANGAN SAKITI PARA SANDERA!"


"Eh!" Suara teriakan itu berhasil mengusik laju langkahnya. Ia tak bisa tak peduli. Kata-kata sandera itu ... sepertinya memang serius.


Tubuh tegapnya ia putar menghadap. Menelisik ke arah kerumunan dengan seulas senyuman tipis. "Aku belum pernah melihat penyandera dalam perampokan. Sepertinya ada hal menyenangkan untuk ditonton," katanya sungguh terlalu.


"MINGGIR SEMUANYA! JIKA TIDAK, POLISI INI AKAN MATI!"


Lin Mu sudah tiba di kerumunan. Disibaknya orang -orang berdesakkan itu untuk mendapatkan jarak pandang yang lebih jelas. Seketika matanya kembali dibuat melebar. "Polisi juga bisa disandera?" tanyanya entah pada siapa.


"Tidak. Sanderanya adalah anak kecil! Polisi itu menukar dirinya dengan sandera secara sukarela!" Seorang wanita menyahuti sesuai apa yang diketahuinya.


Sejenak saja Lin Mu tertegun, lalu tersenyum kemudian. "Ternyata begitu," komentarnya. Hati yang baik ....


"Lai Zidong! Berhenti memberontak! Kamu sudah dikepung! Serahkan dirimu!" Dalam keadaan leher dicekal, juga pelipis yang terbidik senjata api oleh penjahat itu, Wang--belum diketahui nama panjangnya, berteriak mengingatkan.


"Mimpi! Siapa yang akan berani mendekat!" hardik si penjahat, lalu mengedar pandang menghitari deretan kerumunan orang. "Pergi kalian semua! Segera siapkan satu mobil untukku! Jika tidak, tunggu saja kematiannya!"


Ancaman yang manis!


Lin Mu menanggapi, "Huh, tidak ada cara lain ...." Lalu merundukkan tubuhnya, sedikit merangkak untuk melewati tali yang dibentangkan sebagai benteng antara si penjahat dan kerumunan orang-orang.

__ADS_1


Setelah berhasil melewati, ia kembali berdiri seraya merapikan rambutnya yang sedikit teracak akibat gerakannya.


"Dia!" Polisi Wang seketika membelalakan mata, ketika pandangnya sudah cukup jelas menangkap rupa manusia yang dengan songong menerobos garis polisi. "Hey! Kenapa kamu kemari?! Di sini berbahaya! Cepat mundur!"


__ADS_2