
Mono dan Sri segera pergi,meninggalkan rumah Santi sambil tertawa meledek,membuat Santi dan Indra salah tingkah.Sepeninggal pasangan suami istri itu,mereka berdua hanya berdiri mematung di beranda,tanpa kata,tanpa suara
"Ehem...",pak Dodo yang akhirnya berdehem mengejutkan mereka berdua."Maaf,mbak Santi....temannya diajak masuk,gih,takut kakinya kesemutan."
Santi terperanjat lalu tersipu malu dan mempersilakan Indra masuk dan duduk lagi.
Santi hanya menunduk,pun Indra.Suasana kaku,sepi dan tak ada yang bersuara.
"Eh...,"kata mereka bersama.m membuat mereka tersipu.
"Kamu..."kata mereka bersamaan lagi,dan kali ini mereka tertawa malu...
"Kamu dulu,deh,mas,"kata Santi,tersipu.
Raut wajahnya merona,menambah debaran jantung Indra jadi tak beraturan.
"Kamu aja dulu,ladies first,"kata Indra,tersenyum.
Santi makin tersipu.Dirwmasnya jemari ya yang mendadak di gin dan gemetar.Selama ini belum pernah dia berdekatan dengan seorang lelaki,,meskipun jarak mereka nggak dekat,karena ada meja yang memisahkan mereka.S elama ini dia hanya fokus ke karirnya saja,karena selain menanggung beban hidupnya,dia juga harus menanggung. biaya kuliah adik adiknya.Yang seorang sudah lulus fakultas kedokteran,dan sekarang sudah bekerja di sebuah rumah sakit,sementara masih ada adiknya yang bungsu,sekarang masuk semester akhir.Beban itu yang membuatnya fokus bekerja tanpa lelah,meskipun sudah jadi manager keuangan,dia masih juga sibuk menjahit baju baju pelanggan,untuk menambah pu di pundi uangnya.D ia belajar menjahit sejak SMP,dan dari keahliannya menjahit itu dia bisa sekolah bahkan kuliah sampai jadi sarjana akutansi.Tetapi meskipun sudah berhasil,dia tetap meneruskan menjahit,meskipun sudah tidak seperti dulu lagi.Sekarang dia hanya menjahit baju orang orang tertentu saja,karena waktunya yang nyaris dihabiskan di kantor.
"Mmmmm....Mas Indra emang rumahnya mana?'tanyanya tersipu.
"Rumahku di desa sih,San,tapi di sini aku punya ruko di dekat pasar,tomo bahan bangunan."
"Mas Indra tinggal sendiri?"
"Yaaaah...kadang sendiri,kadang ada yang menemani..."
"Oooh..."
"Kenapa emang,dik?"
"Nggak apa apa ,sih,cuma mau tahu aja..."
"Kalau dikirim Santi sendiri?"
"Mmmmm...aku sama pak Dodo,tukang kebunku dan bik. Minah,istrinya pakp Dodo yang bantuin bersihin rumah."
"Bapak,ibu,saudara?"
"Eh,mereka di kota lain,mas,aku merantau kok..."
"Wah,sama ya ,dik?Aku juga perantauan,cuma aku masih di kota yang sama dengan keluargaku."
"Kenapa harus berpisah kalau hanya satu kota?Apa nggak bisa masih di tinggal serumah?"
Indra tersenyum mendengar pertanyaan Santi.Memang sebenarnya dia bisa saja tinggal di rumah orangtuanya dan pergi ke tokonya kalau siang dan pulang kalau tutup,tetapi hubungan yang terjalin dalam keluarganya yang membuatnya mengambil keputusan itu.Dia tinggal di atas tokonya,sesekali keponakannya datang menemani,atau teman temannya datang menginap.Kehodupan itu sudahdijalaninya bertahun tahun,s sendirian menhadang kehidupan yang seolah tak pernah ramah padanya itu.Sampai kemarin,Mono mengatakan kalau ada teman istrinya yang minta dikenalkan,dia menyanggupinya.Dia yang selama ini tertutup pada sosok perempuan karena merasa tak pantas untukenjalin hubungan dengan perempuan,karean kondisi kehidupannya itu akhirnya menyanggupi ajakan Mono,karena Mono mengatakan kalau Santi adalah perempuan luar biasa yang juga berjuang dari nol seperti dirinya.Dan jadilah hari ini mereka bertemu.
__ADS_1
Saat ia melihat wanita itu,Indra sudah merasa ada rasa nyaman di hatinya.Waniya itu tidak terlalu cantik,tetapi cukup manis,dengan kitnya yang sawoatang,wajahnya yang biasa saja tanpa riasan,hamya kelihatannya lipstik samar yang disapukan dibibirnya,wanita itu terlihat sangat mempesona nya.
"Hhhhjh..."Indra menghembuskan nafas pelan."Sebenarnya,aku juga ingin seperti itu,dik,tingval serumah dengan kedua orang tuaku,saudara saudaraku,keluarga besarku,tetapi rasanya lebih puas kalau tinggal di ruko,lebih mandiri,lebih bebas."
"Ooooh...",hanya itu yang keluar dari mulut Santi.
"Dik Santi sendiri?"tanya Indra.
"Kalau aku jauh,mas...tadinya kost,trus nggak enak aja sama temen temen kost,aku ngontrak,sampai akhirnya aku beli deh,rumah yang aku kontrak,karena pemiliknya lebih memilih di Jakarta."
"Oooo....btw,kopinya enak loh,"kata Indra membuat Santi tersipu.
"Mas Indra bisa aja,"kata Santi tersenyum malu."Menurutku biasa aja,sih,tiap pagi aku sarapan kopi itu dengan sebutir telur rebus.Sebenarnya sih,enakan tanpa gula,jadi teras kopinya."
"Pahit,dong,"kata Indra.
"Kan kopi emang pahit,mas,dan nikmatnya itu kalau terasa pahitnya."
"Iya kali,ya...Lom pernah sih minum kopi tanpa gula...Biasa juga ngopi di mbak Larrni,sebelah toko,selalu kemanisan,kalau ini kok pas banget."
"Menurutku malah enakan nggak pakai gula,mas,"kata Santi.
Hadeeeuuuuh....ini kenapa bahas kopi,yaaak,karena bingung juga mau bahas apa,j Adi deh,kopi dibahas habis.
"Kalau minumnya dekwt kamu,nggak pakai gula juga manis,dik,"kata Indraulai berani gombal.
"Lha iya,minumnya sambil lihatin kamu,kan sudahanis,meskipun kopinya pahit tapi kakinya kananis..."
"Iiih....gombal ahhh...."seloroh Santi tersipu malu,sementara Indra malah tertawa saja,menikmati wajah manis di depannya yang kian merona dan tambah mempesona nya itu.
Gadis di depannya benar benar kelihatan sangat senang dNan Indra merasa mereka juga nyambung ngobrolnya,jadi betah dia berlama lama di sini.
"Dik,Minggu gini nggak ada acara,ya?"
"Mmmmm,kalau Minggu gini palingan di rumah,nyelesai in pesenan jahitan yang ada,kalau bosan tidur,deh."
"Diiih....Minggu kenapa dibawa tidur?Nggak ada acara ke mana gitu?"
"Kalau isi kulkas habis,petsediaan makanan habis,palingan belanja sama bik Minah dan pak Dodo di mall,di pasar tradisional,trus makan di warung makan,pulangkalau nggak capek ya jahit,kalau capek ya tidur."
Indra tertawa mendengar jawaban Santi,m membuat Santi tersenyum.
"Kamu tuh ya...nggak jauh jauh dari tidur..."tw Indra meledak lagi,membuat Santi tersipu.
"Habisnya daripada bengong ,kan enakan tidur,"dalih Santi tersipu.
"Nggak ada yang ngajak main ke manaaaa gitu?"pancing Indra setelah tawanya reda.
__ADS_1
"Siapa memangnya yang mau ngajak main?Paling Sri sama suami ya itu,trus anak anaknya,trus temen temen yang lain,itupun kalau mereja punya waktu buat aku.Kadang nggak enak dan Sri,dia suka cemburu gitu sa.a aku,padhal aku nggak ada Pa Pa sma Ms Mono,cum kadNg itu orang usilny nggak ketulungan."
"Kalau misal ada yangajak main,nggak ada yang cemburu gitu,kamu mau?"Tanya Indra.
Santi menengadah lalu kembali tertunduk..Indra gemas juga mohatnya,dilemparnya gadis itu dengan kacang bawang yang diambilnya dari toples,membuat gadis itu terkejut dan menatapnya,tetapi sedetik kemudian menunduk lagi.
"Nakal..."katanya lirih,membuat Indra makin gemas,dilemparinya Santi dengan kacang,tissue yang dipilih dan kertas pembungkus rokoknya,membuat gadis itu menjerit jerit malu.Dan Indra hanya tertawa melihatnya..
"Eh,dik..."kata Indra.
"Hmmm??"sahut Santi.
"Aku suka kamu...'
"Apa???"
"Iiih....aku suka kamu..."
Santi terbengong,mulutnya sampai terbuka.Seakan tak per aya dengan pendengarannya.Melihat ekspresinya seperti itu,Indr tbah gemes saja.D ilemprnya sebutir kacang ke dalam mulut gadis itu,yang reflek langsung mengatupkan bibirnya dan mengunyah kacang dimulutny.a,membuat Indra tertawa terpingkal-pingkal pingkal.Sementara Santi hanya memberengut.
"Iiiiih......mas Indra isengnya kebangetan,deh,aaah....",kata Santi .
"Maaf...maaf..."kata Indra."Jalan jalan ,yuk...nggak bosen kamu di rumah terus?"
"boleh,aku ganti baju dulu,ya?"
"Diih...giru juga dah manis loh,pakai ganti baju segala..."kata Indra.
"Mang mas Indra nggak malu kalau ketemu temennya trus liat jalan bareng cewek yang bajunya kumel gini?"
"Nggak,siapa juga yang malu..Pakai motor kamu,ya,dik?Maaf,aku tadi nggak bawa motor."
"Boleh,sebwntar,ya..."
Santi masuk ke dalam,sepuluh menit kemudian dua sudah keluar,dengan setelan celana jeanz biru muda dan t shiet putih,wajahnya juga kelihatan segar,setelah cuci muka.Indra sampai terpana dengan wajah manis di depannya itu.
"Yuk..."ajak SANTI."Pak Dodo Santi pergi sebentar,ya"
"Ya,mbak...hati hati,ya..."
"Ta,pak..."
"Permisi,pak..."
"Ya,mas,hTi hati..."
"Ya,pak..."
__ADS_1
Santi mengangsurkan kunci motornya pada Indra dan cowok itupun segera mengambil motor matic dari garasi dan merekapun berboncengan pergi.