
Selesai acara pernikahan itu,Santi diboyong Brian ke rumahnya.Brian tahu kalau Santi belum bisa menerimanya sepenuh hati,karena itu diapun tidak terlalu terburu buru untuk menuntut haknya sebagai suami.Dia ingin Santi menerimanya sebagai suami tanpa keterpaksaan.Santi duduk di sofa ruang tamu Brian,menunggu sang empunya rumah yang masih ada di mobil,menurunkan koper Santi.Brian menyeret koper itu dan berhenti di dekat Santi,lalu menaruh koper itu dan duduk di sebelah Santi,menyandarkan tubuhnya di sofa.Santi menatapnya sekilas.Brian nampak santai,duduk dengan tubuh menyender di sofa dan menatap Santi dengan senyum tipis di bibirnya.
"Capek,dik?"tanyanya sambil tersenyum.
"Lumayan,mas,"sahut Santi."Tadi ayah,ibu dan adik adikku langsung pulang,karena lusa tetangga sebelah rumah juga hajatan."
"Nggak apa apa,dik,lagipula kan semua sudah selesai,"kata Brian.
"Terimakasih,ya,mas,"kata Santi.
"Untuk?"tanya Brian.
"Mas Brian mau menjadi penyelamat perjodohanku,"kata Santi."Nggak kebayang aja kalau aku harus nikah dengan pamanku."
"Aku melakukannya dengan senang hati,dik,"kata Brian."Aku tahu kamu tidak menci tai aku,meskipun aku sangat mencintaimu,tapi aku sangat senang karena bisa melakukan ini untukmu."
"Beri aku sedikit waktu,mas,aku pasti belajar untuk menci taimu,"kata Santi pelan."Saat ini mungkin hatiku masih sangat terluka,mas,karena pengkhianatan kekasihku,tapi terimakasih sekali karena Mas mau berkorban untukku."
Brian tertawa mendengarnya.Ditepuknya tangan Santi dan digenggamnya erat lalu dibawanya ke bibirnya dan diciumnya punggung tangan istrinya itu.
"Kamu membuat aku tertawa karena kamu pikir aku berkorban untukmu,dik,"Kat Brian."Bagiku ini adalah anugrah yang luar biasa indah bagiku,bukan berkorban,dik.Kamu pasti tahu kalau aku telah lama suka kamu,tetapi kamu tak pernah mau tahu."
"Masa?"tanya Santi terkejut mendengar penuturan Brian."Aku tidak tahu kalau Mas Brian menyukaiku."
"Berarti dik Santi kurang peka,"kata Brian tersenyum."Kalau dik Santi sedikit saja memperhatikan. Aku,pasti dik Santi akan tahu kalau aku suka dik Santi."
Santi tertegun.Dia tidak pernah memperhatikan Brian selama ini.M meskipun tidak berada dalam satu naungan kantor,teyapi mereka memang sering bertemu setiap ada acara yang melibatkan tentang keuangan,fan memang setiap kali Brian memang berusaha untuk dekat dengannya,tetapi dia tidak pernah berpikir kalau Brian menyukainya,dia pikir itu hal yang biasa,sesama rekan yang mempunyai pekerjaan yang sam untuk saling bertukar pikiran dan pengalaman.
__ADS_1
"Maaf,aku tidak berpikir sampai sejauh itu,"katanya membuat Brian tersenyum.
"Tak apa,dik,sekafang segeralah mandi dan berganti pakaian lalu istirahatlah,biar nanti bibi siapkan makan malam untuk kita.Kamu pasti capek kan seharian berdiri dengan pakaian yang menyiksa tadi?"
"Iya juga sih,tapi aku belum tahu seluk beluk rumahmu,mas,"kata Santi.
"Ayo kuantar,"kata Brian lalu mengajak Santi masuk ke dalam dan Brian menunjukkan sebuah kamar pada Santi."Ini kamarmu."
Santi mengerutkan keningnya ketika Brian membuka kamar itu lalu keluar lagi.Dia pikir kamarnya juga kamar Brian kan?Brian hanya berdiri di depan pintu dan mpersilakannya masuk.
"Mas Brian kok keluar?"tanyanya bingung.
"Aku ada di kamar sebelah,kalau kamu membutuhkan sesuatu,"kata Brian tersenyum.
"Kita tidak satu kamar?"tanya Santi makin bingung dengan sikap suaminya.
Brian tidak mau kalau Santi merasa tidak nyaman dengan mereka berdua dalam satu kamar,karena dia yakin. Santi belum mencintainya,dia hanya mau kalau mereka satu kamar dan itu karena Santi yang memutuskan.S elama Santi belum bisa menerimanya.anya,dia akan terus menunggunya,munvkin butuh kesabaran ekstra tetapi dia tidak peduli.
Sementara Santi di dalam kamar langsung masuk kamar mandi,karena memang ada kamar mandi di kamar.Dia mandi meskipun masih bingung dengan sikap Brian.Selesai mandi dan berganti pakaian santai,yang dia ambil dRi kopernya yang tadi di bawa Brian,dia me yisir rambut,menyaoukan lipstik warna pink kesukaannya dengan tipis,menyapukan bedak tipis,lalu keluar dari kamar dan mencari dapur.Di ruangan yang merangkap ruang makan itu,Santi melihat seorang wanita paruh baya sedang sibuk dengan masakannya.
"Malam,bi,"sapanya ramah.
"Eeeeh,nyonya sudah mandi?Kok nggak istirahat saja,nya?"
"Bibi jangan panggil nyonya,ah,nggak asyik kedengarannya,"protes Santi,karena art nya pun memanggilnya mbak.
"Lah,nyonya ini istrinya Mas Brian,ya saya harus panggil nyonya,toh?"
__ADS_1
"Santi,bi,namaku Santi,"kata Santi mengulurkan tangan."Panggil aku Santi saja."
"Oooh,say Maemunah,nya,"kata bibi Mae menyambut uluran tangan Santi."Ya nggak bisa lah saya panggil nama,saa panggil mbak saja,ya,nya?"
"Begitu lebih baik,"kata Santi tersenyum."Bi I mau masak?Santi bantuin ya?"
"Eeeh,nhgak usah atuh,mbak,bibi sudah biasa mengerjakannya sendiri,"kata Bi Mae."Mbak Santi tunggu Mas Brian di depan saja."
Santi menatap pembantu Brian itu tetapi yang ditatap malah mengangguk,memeprsilakannya keluar dari dapur,akhirnya diapun menuang air putih hangat dari dispenser dan membawanya ke depan.Dia duduk di sofa sambil menikmati minumannya itu,dan sebentar dia di sana,Bria datangenyisulbya lalu duduk di sebelahnya.Santi menengok dan tersenyum.
"Cantik,"kata Brian membuatnya tersipu."Dari dapur,ya?"
"Heem,tapi nggak diijinin mbantu,ya,kembali aja ke depan,"sahut Santi lalu meletakkan gelasnya.
"Bi Mae memang selalu mengerjakan tugasnya dengan cekatan,meskioun sudah lumayan tua,tetapi dia tidak pernah mengeluh.Dia pembantu ku sejak aku tinggal di rumah ini,tepatnya sepuluh tahun yang lalu."
"Oh,ya,mas,"kata Santi membuat Brian menatapnya intens."Aku penasaran aja,nih,kenapa kita arus ada di kamar yang berbeda,ya?"
Brian tertawa kecil mendengar pertanyaan itu.Ditepuk tepuknya tangan istri yang baru dinikahinya itu.Digenggamnya erat lalu dia kembali menatapnya dengan penuh cinta.
"Aku anya tidak mau kamu merasa tidak nyaman saja karena aku,jadi selam kamu belum bisa menerima aku,sebaiknya memang kita terpisah dulu,karena aku nggak yakin kalau aku bisa kuat nggak ngapa-ngapain ngapin kamu,kalau kita tidur sekamar,dan aku nggak mau itu.Aku mau kamu dan aku sekamar saat perasaan kita sudah klik,jadi tidak ada beban lagi."
"Maafin aku,ya,mas,"kata Santi membalas genggaman tangan suaminya itu."Tapi aku mau kita sekamar,aku nggak mau mengingkari apa yang sudah aku ikrarkan dan aku hanya mau pernikahanku sekali seumur hidupku,jadi aku mau belajar untuk menjadi yang terbaik buat kamu,maz.Tapi bagaimana aku belajar kalau kamu pisahkan tempat tidur kita?"
"Kamu yakin mau sekamar dengan aku?Nggak takut sama aku?"goda Brian,membuat pipi Santi bersemu merah."Aku menunggumu sampai kamu siap menjad8 istriku seutuhnya,jangan takut,karena aku sangat mencintaimu."
"Aku siap menjadi istrimu seutuhnya sejak aku mau menerimaku menjadi suamiku,mas,janganenunggu lagi,karena aku menyerahkan seluruh hidupku untuk menjadi istrimu yang benar benar mau menjadi bagian dalam hidupmu."
__ADS_1
"Yakin?"goda Brian."Sangat,"sahut Santi tersenyum,meskioun dia sendiri belum begitu bisa mencintai Brian,twtapi dia sudah mengikrarkan janji suci bersamanya dan itu sudah cukup meyakinkannya untuk menjalani hidup bersama dengan laki laki itu.