
Santi tak habis pikir.Chat dari kekasihnya menghancurkan hatinya.Bagaimana tidak?Hatinya yang penuh tanya sangat bahagia,ketika menerima chat dari kekasihnya,tetapi nelangsa setelah mbacanya.Bagaimana mungkin,baru beberapa Minggu yang lalu,mereka mutuskan untuk jalan bersama,menikmati hari hari indah,sekarang dengan tanpa perasaan,Indra memutuskan hubungan dengannya.Apa salahnya?Dengan penasaran di telponnya Indra,tetapi nomornya tidak aktif.Penasaram,diaenelpon Kia,dan langsung tersambung.
(Kia,apa oom kamu ada di ruko?)
(Tidak,tan,setahuku di rumah nenek)(Oh,ya sudah,kalau ke ruko tolong kabari Tante,ya?)
(Baik,tan.)
Santi mengeluh lagi.Hatinya sangat sakit.Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan kekasihnya,yang baru saja membuatnya bahagia,bersemanhat untuk menghadapi keluarga pamannya,sekarang seperti dijelaskan.Sakit!Yaaaah,itu yang dirasakan SNti saat ini.Hancur?Sudah pasti.Harapan harapan yang dipikulnya selama bersama Indra harus dikuburnya tiba tiba.Ketakutan akan pamannya ke
Bali lagi menguasai hatinya.Waktu yang ditentukan oleh orangtuanya hanya tinggal beberapa bulan lagi,danitu mbuatnya makin frustasi.
Hari ini,sudah seminggu sejak Indra memutuskan hubungan dengannya,dan sejak hari pemutusan hubungan sepihak itu,Indra bagai lenyap ditelan bumi.Tidak bisa sama sekali dihubungi,dicari bahkan di mana mana,dia tidak bisa menemukannya.Setelah lelah mencari dan frustasi,diapun menyerah.Mungkin ini yang terbaik.Dia harus kembali fokus dengan hidupnya sambil berdoa agar diberikan ketabahan dan kalau bisa tidak menjadi istri pamannya.
"Pagi,mbak Santi,"kata Brian di depan gerbang ru.ahnya.Saat itu Santi mau berangkat kerja dengan motornya."Mbak,sama au ,yuk,please,kaiini saja,mba.Ada yang mau aku omongin dengan mbak Santi."
"T... tapi...,"jawab Santi ragu.
"Ayoalh,mbak,aku dah jinak kok,nggak nggigit,'kata Brian twrsenyumanis.
"Iiih,pak Brian ini bisa aja,deh,"sahut Santi."Tunggu sebentar kalau begitu,saya kebalikan sepeda saya."
"Tinggalin di situ aja,mbak,"kata pak Dodo."Biar aku yang memasukkannya ke garasi,mbak Santi berangkat aja."
"Ooh,makasih banyak,ya,pak."
Brian turun dari mobilnya lalu mbuka pintu untuk Santi lalu berlari kecil,mengitari mobilnya dan duduk di belakang kemudi.Hatinya berbunga bunga,bagaimana tidak?Sudah lama dia jatuh cinta pada manager teladan ini,tetapi belum pernah dibalas.Tawaran untuk pulang pergi kerja bareng selalu ditolak.T tetapi sekarang,dengan mudahnya dia bis membawa pujaannya itu dengan mobilnya.
"Mbak Santi ini kalau berangkat jam berapa,sih?Aku selalu ketemunya di lampu merah,deh.Baru kali ini bisa pas banget ya,"kata Brian sumringah.
"Aku memang selalu berangkat sepuluhemit lebih awal,pak,biar nggak tergesa di jalan,apalagi kejebak macet."
"Iya juga ya,mbak?Kalau gitu,besok mbak Santi mau berangkat jam
berapa?"
"Biasanya jam enam lima belas saya sudah siap berangkat,pak.mengapa?"
"Nggak apa apa,sih,barangkali bisa bareng lagi.Oh,ya,pulangnya jam berapa,mbak?"
"setengah lima,pak,"ssahit Santi.
"Gitu,ya,mbak,oke,ntar jangan naik taxi ya,pulangnya aku samperin,deh,kan aku pulang jam empatan,"kata Brian.
"Nggak usahlah,pak,ngrepotin,"kata Santi.
"Siapa yang repot?Kan sekalian kita searah,mbak,ya,please,nanti tunggu aku."
"Mmmm....baiklah,pak,nanti saya tunggu,"kata Santi datar,seelah berpikir beberapa saat.
Entah mengapa,hatinya yang hancur berantakan membuatnya tidak bisa menolak ajakan Brian.Dia sedang dalam mode yang tidak baik baik saja.Kosah kasihnya,yanh baru pertamakali dijalaninya harus berakhir pahit,ditinggalkan dalam nelangsa.Merasa dicampakkan dalam derita.Yaaa....kekasih yang diharapkannya ternyata tak seindah impiannya.Sekarang yang ada hanya gelisah,takut dan khawatir,kalau sampai pamannya mendengar hancurnya hubungannya dengan Indra,pastikan langsung menikahinya.
Brian juga merasakan kalau pujaan hatinya sedang tidak baik baik saja.Dia menangkap kegelisahan dan kekhawatiran itu di mata sang pujaan hati.
"Mbak Santi baik baik saja?"tanyanya pelan,takut menyinggung
Santi mebnatap Brian dengan sedih.
"Bohong kalau aku bilang aku baik baik saja,pak,"katanya lemah.
__ADS_1
"Mbak Santi mau berbagi dengan saya?"
"Entahlah,pak,"sahut Santi pelan,ragu..
"Mbak....aku ini temanmu,loh,ada baiknya kalau ada teman berbagi cerita,mbak,"kata Brian.
"entahlah,pak,mungkin na
nti kalau saya sudah siap."
"Baiklah,mbak,"kata Brian mangg7t manggut.
Setelah itu suasana hening,tak ada yang memulai utk berbincang lagi.Brian tak mau kalau mengganggu Santi,dan SNti sendiri sedang dalam mode malas tingkat akut.Brian berhenti di depan kantor Santi,sedikit menyesal kenapa cepat sekali sampai,padahal dia ingin lebih lama bersama pujaan hatinya.Santi melepas sealtbeltnya lalu turun.
"Makasih,lho,pak Brian,maaf,ngrepoti,"kata Santi.
"Sama,sama,mbak,"sahut Brian."Nggak repot,kok.Nanti saya yang jemput,ya,mbak,jangan naik taxi."
Santi hanya mengangguk pelan,lalu Brian segera melanjutkan perjalanannya..
Santi melangkah masuk dan menuju ke ruangannya.Ya,meskioun hatinya hancur,tetapi dia tetap profesional dalam bekerja.Hanya saja,sekarang ia nampak lesu dan tidak seceria biasanya.Sahabat sahabatnya sebenarnya juga merasakan perbedaan itu,tetapi mereka tak tahu harus melakukan apa.
Sorenya,jam empt,Brian sudah syandby di depan kanto4 Santi,dan setengah jam kemudian Santi keluar.Brian yang wajahnya nampak cerah itupun membukakan pintu untuk SNti lalu dia sendiri masuk dan duduk di belakang kemudi.
"Kita langsung pulang atau mbak Santi mau makan dulu?"tanya Brian.
"Terserah pak Brian aja,aku ikut,"sahut Santi.
"Oke,mbak,kita makan dulu aja,ya?"
"Ya,pak,"sahut Santi.
Mereka lalu ke sebuah resto yang lumayan bagus,,dengan taman yang mengelilingi halaman resto tersebut.Brian membuka pintu untuk Santi,lalu mereka mencari tempat yang paling sepi,di sebuah gazebo yang agak di sudut.Mereka duduk di sana.
Brian menggut manggut lalu memesan dua sirloin steak dan dua orang juice.Dia memang melihat kalau Santi tidak seperti biasanya,itu sebabnya dia ingin mencaritahu penyebabnya.
"Ada masalah dengan kerjaan,ya,mbak?"tanyanya ati hati,
"Nggak,pak,kerjaan sih,semua beres,"kata Santi.
"Lalu?Saya lihat mbak Santi agak beda aja,nggak seperti biasanya,"kata Brian.
Santi akan menjawab tetapi urung karena pelayan datang membawa pesanan mereka.B Rian lalu berinisiatif untuk motong motonhkan dging di piring Santi dan menggesernya ke depan Santi.Mendapat perlakuan ini,Santi mencelos hatinya.Bagaimana tidak?Sedari pagi tadi dia merasa diperlakukan dengan sangat baik.Brianselalu membukakan pintu mobil untuknya,padahal dia bisa melakukannya sendiri,dan sekarang,yang membuatnya sangat terharu adalah ketika Brian dengan tanpa diminta,mengambil steaknya,memotong motong daging itu dan memberikannya padanya.Sungguh,dia sangat tersanjung.
"Kita makan dulu,mbak,baru nanti kita ngobrol.Mbak Santi di rumah juga sendiri kan,enakan ngobrol di sini dulu,"kata Brian ramah.
Mereka mulai makan,sesekali saling curi pandang da tersenyum.H Ingga isi piring mefeak sudah habis,lalu mereka minum dan sekarang mereka siap ngobrol.
"Mbak Santi ada masalah?"tanya Brian.
Santi menatap Brian dengan tatapan sedihnya.Dua ingin jujur pada Brian,tetapi hatinya ragu,apakah ini pantas?Brian memang sudah lama dikenalnya,hanya tidak terlalu akrab ,karena mereka sama sama manager keuangan,cuma beda kantor aja.Seringnya kalau ada seminar seminar masalah keuangan,mereka pasti ketemu.
"Ini....ini sebenarnya sangat pribadi,pak,"kata Santi ragu.
"Apa saya boleh tahu?"
Santi kembali terdiam.Dia mainkan sedotan di gelasnya,mendesah pelan laluematap Brian,matanya mulai berembun.B Rian jadi agak grogi juga melihat wanita di depannya yang berkaca kaca.
"Saya ini bingung,pak,"kata Santi akhirnya.
__ADS_1
"Bingung kenapa?Barangkali saya bisa menolong,mbak?"
"Saya...saya dijodohkan oleh orangtuanya saya,**...tapi saya tidakau,"kata Santi mulai terisak Isak.B Rian refleks mengambil tissue dan menghapus air mata Santi,membuat Santi tersipu.
"Trus mbak Santi nggak mau?Apa orangnya jelek?Atau sudah tua?"
"Bukan keduanya,pak,dia tampan,mapan,dan belum terlalu tua,"kata Santi lalu menghapus air matanya.
"Lalu mengapa mbak Santi sedih?Kan itu idola banget loh kalau benar seperti yang mbak Santi bilang,itu adalah yang dicari wanita,kan?"
"Mungkin,pak,tapi ini beda,"kata Santi."Dia adik ibu saya."
"Apa?"tanya Brian kaget.
Santi tersenyum kecut.Dia tidak heran kalau Brian kaget,karena memang seharusnya tidak terjadi pe4jodohan itu,tetapi pamannya benr benar nekad dan entah mengapa sanht ingin memperistrinya."Ini....ini....bagaimana mungkin,mbak?Adik ibumu berarti pamanmu?"
"Itulah,pak,yang membuat aku sedih."keluh Santi."Aku hanya punya waktu empat bulan lagi."
"Empat bulan?"tanya Brian bingung."Maksudnya apa,ya,mbak?"
"Aku diberi waktu setahun untuk bersuami,klau dalam waktu setahun aku belum bersuami,mka mau tidak mau,suka tidak suka,aku harus menerima Paman jadi suamiku."
"Lalu letak masalahnya di mana?Mengapa Mak tidak ajak saja pacar mbak untuk menikah?"
"Itu dia,pak,"kata Santi sedih."Beberapa jari yang laku,tanpa saya tahu masalah dan sebabnya,dia memutuskan hubungannya dengan saya dan sekarang dia menghilang bagai ditelan bumi."
Mengatakan itu,Santi terisak lagi,kini makin menjadi.Sakit di hatinya seolah terbuka lagi dan dia menangis sedih.Brian segera tanggap,dia meraih tissue danenvjapus air mata Santi,membuat Santi makin terisak karenanya.
"Mbak Santi percaya sama?"tanya Brian.Santi mendongak,menatap Brian,danengangguk."Saya akan melamar mbak Santi,danelwpaskan mbak Santi dari Paman mbak Santi."
Mata Santi terbelalak.Seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya ya. Bagaimana mungkin,Brian yang tidak ada hubungan apa apa dengannya akan melamarnya?
"Pak...ini pernikahan,pak,saya tidak mau mpermainkan pernikahan,pak,saya hanya ingin menikah sekali seumur hidup,pak.Pernikahan bukan bahan bercandaan,pak,"kta Santi tak percaya.
"Saya serius,mbak,"kata Brian."Mbak SNti pikir saya juga nggak punya prinsip menikah sekali seumur hidup?"
"**...**...tapi kita....,"kata Santi menggantung.
"Mbak Santi percaya saya,kan?Saya akan membawa mbak Santi ke pernikahan yang sesungguhnya,bukan pernikahan yang dibutuhkan permainan,otupun kalau mbak Santi mau."
"Tapi kota nggak ada hubungan apa apa,"keluh Santi.
"Apalah artinya hubungan,mbak?"kTa Brian tertawa pelan."Kita bisa belajar untuk saling membutuhkan dan saling mencintai,mbak,seperti orang tua jaman dulu,yangwnilah tapi belum kenl dengan pasangannya.Dan saya berjanji,selama kita belum bisa saling menerima dan saling mencintai,saya tidak akan menyentuh mbak Santi aau menuntut hak saya sebagai suami."
Mata Santi kembali basah.Kali ini dia terharu dengan sikap Brian,yang mau berkorbam untuknya.
"Pak Brian nggak nyesel nanti?"tanya Santi lirih.
Brian tertawa pelan,dan dengan memberanikan. diri menggenggam tangan Santi membuat Santi tersipu dan salah tingkah.
"Mbak,saya tidak akan pernah menuesalbahkaneskipun mungkin.bak Santi tidak bisa mencintai saya,saya akan tetap menerima mbak Santi sebagai istri saya.Bagaimana,apa mbak Santi setuju dengan usulan saya ini?"
Pelan Santi mengangguk.Meskioun ada sedikit ragu di matanya,tetapi sepertinya ini jalan terbaik untuk membebaskan dia dari keinginan pamannya.T okh Indra sudah tidak.bisa diharapkan lagi.Benar kata Brian,cinta bisa tumbuh karena terbiasa.
"Kalau mbak SaNti setuju,mulai sekarang,saya akan panggil mbak Santi dengan Dik,dan kamu jangan panggil saya pak,kesannya tua banget gitu,"kata Brian tersenyum.
Santi tersipu dengan kata kata Brian,memang dia selalu memanggil Brian dengan sebutan pak,sebagai bentuk asa hormat untuk rekan sejawat,masak harus panggil nama,kan nggak sopan.
"Baiklah,saya akan ubah panggilan saya dengan Mas,boleh?"
__ADS_1
Brian tersenyum senang,Pucuk dicinta ulam pun tiba,begitu pepatah yang sesuai dengan Brian saat ini.Berlagak jadi pahlawan padahal memang dia sangat mencintai Santi,Santi saja yang tidak peka.
Santi sendiri nampak agak lega,karena dia tidak harus menikah dengan pamannya,meskioun bagaimana nanti dia menjalani pernikahan dengan Brian,dia tidak tahu.Yang dia tahuBrian menolongnya keluar dari hati dan harapannya yang hancur.