AKU TERLUKA AGAR KAU BAHAGIA

AKU TERLUKA AGAR KAU BAHAGIA
Ice Cream


__ADS_3

Indra memboncengkan Santi menyusuri jalan yang lumayan ramai.Santi agak grogi juga duduk di belakang Indra.Hari ini dia pertama berboncengan dengan lelaki yang baru dikenalnya.Biasanya dia hanya mau diboncengkan oleh teman teman yang sudah dikenalnya,itupu beramai ramai,tak pernah sendirian seperti ini.I ni kali pertama ia memberanikan dirinya pergi berdua dengan orang yang baru dikenalnya.Entah mengapa ia merasa nyaman berada dekat dengan Indra.Mungkin karena sama sama sudah dewasa,sama sama tidak lagi mencari pendamping yang tidak lagi pacaran seperti halnya ABG,tetapi benar benar yang serius bisa diajak untuk membina hubungan yang lebih dari sekedar berpacaran.


Mereka berhenti di sebuah taman yang lumayan ramai pengunjung.Setelah memarkir sepeda motor,mereka berjalan bersisian masuk ke taman itu dan mencari tempat duduk yang masih ada,dan ternyata malah yang ada di tengah tengah taman yang tidak ada yang memakai.Mereka menuju ke sana,lalu menghempaskan bovot tubuh mereka ke bangku taman itu.Banyak orang yang lalu lalang,karena tempat yang mereka pakai susuk tersebut mang di jalan yang melingkari taman tersebut.


Santi menyandarkan punggungnya ke sandaran Bangkutaman dan melipat tangannya di perutnya,sementara Indra duduk dengan membungkukkan tubuhnya dan tangannya bertumpu pada lututnya.Mereka masih diam,belum punya bahan untuk dibicarakan.


Santi melirik Indra yang masih asyik menikmati lalu lalang orang di taman,semwntara ia ingin sekali membuka pembicaraan.Ditariknya nafas panjang,lalu menghembuskan dengan tenang,sebwlum akhirnya ia membuka pembicaraan araan.


"Mas...",katanya pelan.


"Hmmm?"sahut Indra pelan.


"Bolleh aku bertanya ?"


"Boleh,"sahut Indra.


Santi menarik nafas panjang dan menghembuskan nya lagi dengan tenang.


"Apakah mas Mono sudah bicara dengan Mas Indra?"tanya Santi hati hati,takut Indra tersinggung.


"Sudah,Mono bilang ada gadis manis yang mencari calon pendamping,barangkali aku mau,dan aku juga menjawab,boleh."


"Lalu setelah kita bertemu,apa pendapatmu?"


Indra menarik nafas panjang,lalu menghembuskan nya dengan keras.Dia mengubah posisi duduk ya,dengan bersandar di sandaran bangku dan tangannya terentang di atas sandaran bangku tersebut.


"Kita coba jalan bersama,dik?"katanya serius.


Santi menundukkan wajahnya.Diremas temannya jarinya,untuk mengurangi rasa yang luar biasa membuncah di dadanya.J jantungnya berdebar keras,keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.


"Mas nggak kecewa karena aku hanya seperti ini?Mungkin tidak seperti yang Mas bayangkan,"kata Santi pelan.


"Maksud dik Santi?"tanya Indra.


"Mungkin Mas membayangkan ,kalau teman Sri itu cantik,seperti ,putih,mulus,sempurna seperti boneka barbie,"kata Santi tersenyum tipis.

__ADS_1


Indra tergelak mendengar penuturan Santi.Ia sampai menitikkan air mata,karena terlalu banyak tertawa.Sementar Santi hanya menatapnya tnpa berkedip.Lelaki dihadapannya benar benar telah mencuri hatinya.Lelaki itu tidak terlalu tampan,tefapi tidak jelek juga,dengan tubuh yang tinggi,jangkung,mungkin tingginya 170an,wajahnya bersih,tanpa kumis ataupun jambang,tanpa setitikpun jerawat,bibirnya yang merah seperti bibir perempuan,akh....Santi terpesona.


"Dik Santi membayangkan aku seperti apa?Leonardo di Caprio,Tom Cruise atau artis lain?"tanyanya setelah tawanya mereda."Aku malah takut dik Santi yang kecewa setelah bertemu denganku,karena mungkin tak seperti yang kau bayangkan."


"Aku malah tidak berani membayangkan Mas Indra,"desah Santi."Aku hanya bilang sama Sri,aku nghakau dicarikan kenalan yang usianya di bawahku,kalau perlu sepuluh tahun diatasku tidak apa apa,aar pemikirannya telah dewasa dan tidk berpikir untuk hanya bersenang senang sementara,aku tidak mencari pacar,tetapi kuencari pendamping hidup yang muenerima aku apa adanya."


"Menurut dik Santi,apakah aku memuji syarat itu?"tanya Indra serius.


Santi menatap Indra,tepat saat Indra juga menatapnya.Mata mereka berdua pandang cukup lama,tanpa suara,tanpa kata kata,hanya mata mereka yang bicara.Sampai Santi tergagap dan mengalihkan tatapannya dari tatapan tajam Indra.Gadis itu benar benar ada dalam situasi yang sangat membuat jantungnya bagai genderang mau perang,bergemuruh luar biasa,membiat tangannya pun gemetar.Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya,dan dia hampir pingsan ketika tangan Indra menghapus keringat itu.Waahnya benar benar merona,pias,dN mungkin merah seperti kepiting rebus.Indra tersenyum menatapnya,menambah gemuruh hatinya.


"Dik Santi...aku benar benar mau menjadi pendampingmu,m enemani hari hari sepimu,"kata Indra pelan.


Santi tersenyum tipis,meskipun hatinya benar benar bergemuruh luar biasa,tetapi dia juga masih sadar diri,tak kan secepat ini dia menerima Indra.Masih perlu pengenalan Masing masing pribadi,masih perlu juga pengenalan keluarga mereka,karena menurutnya,pernikahan bukan main main,ini sekali seumur hidup,dan perlu menyatukan dua hati,dua keluarga,jadi tidak bisa terburu buru.


"Kita pendekatan dulu,Mas,"katanya pelan."Bagaimana hakekat pernikahan menurut Mas Indra?"


"Apa perlu untuk dijawab,dik?"tanya Indra menatapnya tajam.


"Menurutku perlu,mas,"sahut Santi.


"Menurutku....,"katanya lalu berhenti sejenak."Pernikahan itu adalah penyatuan dua hati,yang sama sama memiliki komitmen,menerima pasangan apa adanya,tanpa bamyak menuntut,mencoba untuk saling melengkapi tanpa memaksakan kehendak pribadi."


Santi tersenyum mendengar jawaban Indra,nyaris mendekati sempurna.Gadis itu menatap jauh ke depan,dimana banyak anak anak kecil berlarian,ad juga pasangan lansia yang berjalan bersisian.Senyum tipis mengembang dibibirnya yang ranum.


"Nyaris sempurna,,Mas,entah itu hanya teori ataukah keluar dari lubuk hatimu.Kita butuh waktu untuk saling mengenal,saling memahami,dan juga butuh untuk berdiskusi dengan keluarga,"kata Santi sambil menunduk.


Tiba tiba datang seorang anak kecil,mungkin usianya sepuluh tahunan,menawarkan dagangannya.


"Oom,tante...beli dong es krimnya...dari tadi ngider nggak ada yang beli,kasihan ibu saya,nanti tidak bisa belanja lagi..."kata anak itu.


Santi menatap iba,ternyata masih ada orang yang hidupnya lebih susah dari dirinya.Selama ini dia merasa kalau hidupnya paling susah,ingin melanjutkan studi S2,tidak bisa karena orang tuanya me.intanya membiayai adik adiknya,ternyata ada anak yang sekecil ini harus banting tulang demi membantu ibunya.


"Berapa harganya,dik?"tanya Indra.


"Lima ribuan,oom,"sahutnya.

__ADS_1


"itu ada berapa?"tanya Indra lagi.


Anak itu meletakkan termosnya ,lalu mulai menghitung mangkuk ice creamnya.


"Masih sangat banyak,Oom...,"sahutnya."Masih ada dua puluh mangkuk,Oom."


Indra tersenyum lalu mengambil dua mangkuk,da. menyerahkan selembar uang ratusan ribu.Anak itu malah kebingungan.


"Nggak ada kembalinya,Oom,"katanya panik.


"Sudah,ini aku ambil dua,kami kan hanya berdua,sisanya bagikan sama anak anak di dan itu,kalau masih sisa jual aja lagi,"kata Indra tersenyum.


Santi menatap lelaki di sampingnya dengan kagum.E ntah karena sedang mencoba menarik perhatiannya atau memang dia benr benar peduli dengan anak kecil itu,tetapi tetap saja dia kagum dengan apa yang dilakukannya.


Anak kecil penjual ice cream itu berlalu kali mengucpkn terimakasih,lalu berjalan sambil melompat lompat,menuju ke sekelompok anak yang tengah bermain di taman itu.Dia membagikan dagangannya sambil sesekali menunjuk ke arah Indra dan Santi.Anak anak itu tampak gembira lalu berlarian menuju ke tempat duduk Indra dan Santi.Mereka berebut untuk berjabat tangan dan mengucapkan terima.Setelah itu,mereka kembali ke tempat semula.


Santi tersenyumelirik lelaki di sampingnya yang memainkan dua mangkuk ice cream.


"Aku nggak ditawarin nih,ice crsamnya?"tanya Santi mengejutkan Indra.


"Eh,i...iya...maaf...gara gara mereka...,"kata Indra salah tingkah,lalu memberikan semangkuk ice cream pada Santi,yang menerimanya dengan tersenyum .


Mereka menikmati ice crsamnya dengan diam. ,dan Indra melirik Santi yang asyik dengan ice creamnya.


"Enak,lumer banget di mulut,"kata Santi.


"Hmmm...masih enak kopi buayau,"kata Indra.


"Bisa aja,mas...."kata Santi makin tersipu.


"Pulang sekarang,dik?"tanya Indra.


"Aku antar Mas Indra dulu,deh,hitung hitung untuk tahu rumahnya,"kata Santi tersenyum.


"Boleh...yuk...,"kata Indra lalu berdiri.

__ADS_1


Mereka berjalan bersisian menuju tempat parkir lalu meninggalkan tempat itu.


__ADS_2