
Selang beberapa waktu kak Steve datang, namun aku masih tetap tertidur di pangkuan kak Robin.
"Masuklah..!!" kata kak Robin pelan supaya aku tak terbangun.
"ok.." jawab kak Steve juga dengan kata yang pelan.
Kak Steve mengambil salah satu kursi dan mendudukinya.
"Jonathan sakit apa bin...? kok bisa sampai koma?" tanya kak Steve.
"Kanker otak stadium akhir"
"kanker otak stadium akhir??" tanya kak Steve tak percaya, dan kak Robin menganggukkan kepalanya.
"Dia sudah tahu penyakitnya dari sebelum tahun baru setahun yang lalu."
"Pantesan aja sejak saat itu dia sering keluar masuk Rumah Sakit, ku kira beneran sakit karena kecapean..."
Aku terbangun mendengarkan ada yang sedang ngobrol.
"Kak..." aku beranjak bangun dari pangkuan kak Robin. "kak Steve dah lama?" ucapku dengan suara parau khas orang bangun tidur.
"Belum Han... kak Steve baru aja nyampe!" Jawab kak Steve.
"Cuci muka dulu Han...! lalu kita makan!" perintah kak Robin.
Aku melangkah ke kamar mandi, untuk mencuci muka. Setelah dari kamar mandi aku menuju sofa kembali, dan di sana makanan sudah disediakan sama kak Robin.
"Ayo.. sini.. ! makanlah! dari tadi siang kamu belum makan."
Aku duduk di sofa dan mengambil makanan yang sudah di sediakan oleh kak Robin. Selesai makan aku mendekati tempat tidur Jonathan, ku tatap wajahnya dengan sendu, lalu aku mengambil kursi dan ku dudukkan diriku di sana.
Ku genggam tangan Jonathan, dan ku letakkan kepalaku di atas kasur sambil menggenggam tangannya.
"Jooo... bangunlah ... aku rinduu... !" ucapku lirih.
Kak Steve dan kak Robin hanya memandangiku dengan tatapan sendu, mereka tak mampu berkata apa apa dan memahami apa yang ku rasakan.
Kak Robin melangkah mendekatiku, dan mengusap pelan kepalaku.
"Han.... kakak antar pulang ya...!? kamu harus istirahat, besok kita ke sini lagi." ucap kak Robin.
"Bentar lagi kak... Hana masih pengen sama Jonathan." jawabku tanpa mengubah posisiku.
"Ok... tapi bentar aja ya?! kamu kan harus istirahat biar kamu tetap sehat, biar bisa jagain Jonathan."
"Iya kak..." ucapku lirih dan menitikkan air mataku.
Satu jam kemudian
Aku beranjak dari tempat dudukku, ku kecup kening Jonathan lama, dan aku berbisik di telinganya.
__ADS_1
"I Love You Jo... I Miss You ... bangunlah aku menunggumu!"
Aku melangkah ke sofa mengambil tasku dan berpamitan pada kak Steve untuk pulang.
"Steve... gue anter Hana dulu..." mereka bertos dengan kepalan tangan.
Di dalam mobil saat perjalanan pulang aku masih tetap dalam kebisuan dan kak Robin hanya sesekali melirikku. Hingga mobil kak Robin telah memasuki halaman rumahku.
"Tidurlah yang nyenyak Han... biar kamu gak sakit." nasehat kak Robin.
"Hana coba kak..." aku tersenyum menatap kak Robin, dan ku ucapkan terima kasih sebelum aku turun dari mobil kak Robin.
Seperti biasa kak Robin akan menungguku hingga masuk rumah, baru menyalakan mobilnya dan meninggalkan rumahku.
Dua minggu kemudian
Tak terasa dua minggu telah berlalu dan Jonathan masih setia dengan tidurnya.
Seperti biasa aku selalu duduk di samping Jonathan, menggenggam tangannya dan bercerita padanya.
Tiba tiba ku rasakan jari Jonathan bergerak pelan. Aku panik dan memencet tombol untuk memanggil dokter.
Dokter dan perawat segera datang ke kamar Jonathan untuk memeriksa Jonathan setelah sebelumnya aku menceritakan jika Jonathan menggerakkan jarinya.
Saat dokter masih memeriksa Jonathan, Dia membuka matanya, akupun menitikkan airmata menyaksikan semua itu.
"kamu sudah sadar boy...?" tanya dokter dan Jonathan menjawab dengan senyuman.
Perawat lansung mengambilkan minum untuk Jonathan, dan membantu meminumkannya.
Dokter dan perawatpun keluar kamar Jonathan setelah sebelumnya mengatakan kepadaku, untuk melihat perkembangan Jonathan dulu.
Aku mendekati Jonathan dan ku genggam tangannya, aku mematung beberapa saat menatap Jonathan, lalu aku memeluknya.
Jonathan membalas pelukanku, dengan lemah. lalu aku mencium keningnya. Beberapa saat kemudian mama sama papa Jonathan datang, mereka lansung memeluk Jonathan bergantian.
"Mama bahagia kamu sudah sadar nak..." ucap mama Jonathan.
"Istirahatlah! kamu baru bangun, sesuaikan dulu !" ucap papa.
"Naa... than... baa...hagia meli...hat kalian ba..ik baik sa..aja" ucap nathan lirih.
Mama Jonathan mencium kening Jonathan, "mama juga bahagia ... istirahatlah!" Jonathan tersenyum dan memejamkan matanya.
Tak berselang lama datanglah kak Robin dan kak Steve datang. Mereka bergantian menyalami mama dan papa Jonathan.
"Gimana keadaan Nathan om..?" tanya kak Robin.
"Dokter bilang masih harus di pantau perkembangannya, karena sel kankernya sudah mengenai bagian lain."jawab papa Jonathan dengan nada berat.
"Om yang sabar ya... kita semua akan selalu ada buat Nathan."
__ADS_1
"Om... senang Nathan ada bersama kalian selama ini... dan kalian adalah sumber kebahagiaan Nathan. kini kita hanya bisa pasrah dan mendampingi dia dengan doa kita." papa Jonathan menitikkan air mata.
Di sela sela obrolan kami, Nathan mengucap lirih, "Pa... "
Papa Jonathan langsung berdiri menghampiri Jonathan.
"Tolong bantu Nathan menaikkan kasurnya.. pah! Nathan pengen duduk."
Papa Jonathan lalu memencet tombol yang di pakai untuk menaik turunkan ranjang.
"Adalagi yang kamu inginkan nak...?" Papa Jonathan mengusap kepala Jonathan lembut. Dan Jonathan menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya ingin melihat kalian semua."
"Mama sama papa mau ke kantin dulu Jo, dan kalian ngobrollah lebih dulu sama Jonathan!" dan kami menganggukkan kepala bersama.
Selepas kepergian mereka, aku melangkah di sisi kanan Jonathan dan kak Robin dan kak Steve melangkah di sisi kiri Jonathan.
"Han... " Panggil Jonathan memintaku mendekat, lalu Jonathan menggenggam tanganku.
"Makasih... aku bahagia masih bisa melihat senyummu."
"Jo... aku... rindu." akupun langsung memeluk Jonathan erat dan menumpahkan tangisku, janathan mengusap punggungku pelan.
"Jangan nangis Han! aku juga merindumu." Jonathan melepaskan pelukanku dan mengusap air mataku.
Jonathan tergelak, "Kamu jelek kalau lagi nangis seperti ini." Jonathan menoel hidungku.
"Han... bisa gak aku minta tolong!?" akupun mengangguk, "tolong belikan aku bubur! aku ingin makan bubur ayam langganan kita, dan kak Steve tolong antar Hana ya!?" Jonathan mengatupkan ke dua tangan di dadanya.
Kak Steve tersenyum dan menepuk bahu Jonathan, "Ok bro... gue cabut dulu, ayo Han... kita berangkat!" dan kami beranjak keluar bersama dari kamar Jonathan.
Selepas kami pergi Jonathan menyuruh kak Robin untuk mengunci pintu, dan meminta kak Robin untuk duduk di sampingnya.
"Kak... aku mau minta tolong sama kakak?!"
"Apa Jo.. kalau aku bisa dan mampu pasti akan ku lakukan."
"Tolong jaga Hana... kak... waktuku gak banyak lagi, dan Hana pasti akan terpukul dengan semua ini, walaupun dia terlihat seperti gadis yang tegar tapi sebenernya dia sangatlah rapuh dan cengeng." Jonathan tertawa pelan.
"Aku janji akan selalu jagain Hana Jo.. kamu gak usah khawatir soal itu."
"Aku lega... di saat aku pergi nanti Hana gak sendiri, ada kalian yang menemani, dan kak... setelah aku pergi nanti tolong ambilkan amplop di laci paling atas di meja kamarku ya kak!? dan berikan sama Hana.
"Apa isinya...?"
"Hanya salam perpisahan, agar Hana bisa lanjutin hidupnya tanpa adanya aku di sisinya lagi."
"Baiklah kakak janji akan melaksanakan pintamu."
"Makasih kak... " Jonathan menitikkan air mata.
__ADS_1