
"Ngga gue...!" Hana menjeda ucapannya.
Rangga menggenggam jemari Hana, menatap sekilas Hana dan kembali menatap ke depan. "Maaf... gue udah buat lo menangis!" Rangga menghela nafasnya kasar.
"Bukan maksud gue membuat lo menangis! sungguh... sebenarnya ini juga berat buat gue, jauh dari lo adalah hal yang begitu sulit untuk ku jalani! tapi kita harus ngejalani semua ini, Han." tutur Rangga.
"Gue gak tahu, Ngga... hanya saja hati gue terasa sakit saat lo bilang mau ke Amerika."
"Emang hati gue gak sakit saat ucapin itu ke elo? hati gue sakit, Han! tapi gue harus lakuin semua ini! sekarang lo sudah ada Widi yang akan selalu ngejagain elo, ngebahagiain lo, ngelindungi elo, dia akan selalu ada buat lo kapan pun lo mau, dan Adelia juga nungguin gue, Han."
"Maaf... bila gue terkesan egois, pengen lo selalu ada buat gue. Gue lupa kalau ada Adelia yang lebih membutuhkan lo." Hana terlihat sendu dan menyesali keegoisannya.
Rangga memutar tubuhnya menghadap Hana, "Han... apa lo mencintai Widi?" Hana menganggukkan kepalanya.
"Gimana perasaan lo sama dia?" tanya Rangga penuh selidik.
"Dia adalah seseorang yang bisa dengan mudah menakhlukkan hati gue, dengan segala perhatiannya dan kasih sayangnya, dia pemilik hati gue."
"Kalau perasaan lo ke gue?" Hana menatap Rangga.
"Kenapa nanyanya gitu?" Hana menyelidik.
"Jawab aja!" Rangga menyunggingkan senyumnya dan mengacak rambut Hana.
"Lo... adalah sahabat terbaik gue, lo berarti buat gue, gue sangat menyayangi lo, dan lo punya posisi di hati gue, lo..."
"Akan menjadi sisi terindah di dalam hati, lo." saut Rangga menjeda ucapan Hana.
Hana terkekeh, "Bagaimana lo tahu apa yang ingin gue ucapin?" Hana menaikkan sedikit dagunya.
"Apa lo lupa siapa Rangga? hal terkecil dari diri lo pun gue tahu, Han." Rangga ikut terkekeh, dan menoel hidung Hana.
Hana menghela nafasnya kasar, "Jam berapa lo pergi?" tanya Hana dengan menahan isak tangisnya.
Rangga menundukkan kepalanya, "Pesawat berangkat jam sepuluh, jadi mungkin nanti sehabis makan malam bersama lo dan Widi, gue cabut dari sini."
"Tersenyumlah selalu my princess! lo akan selalu ada di hati gue, lo juga akan menjadi sisi terindah di hati gue."
Rangga terkekeh dan membenarkan rambut Hana yang menutupi wajahnya karena terpaan angin.
"Makasih!" ucap Hana.
"Apa yang lo pengeni sebelum gue pergi?"
"Kita bernyanyi bersama, sebagai bekal nanti keberangkatanmu."
"As you wish my princess!" Rangga pun menyanyikan lagu buat Hana.
Keduanya mengobrol dan berkelakar seperti biasa dan kesedihan yang tadi sempat membuat drama di antara mereka pun sedikit demi sedikit mulai terkikis dengan candaan candaan yang Rangga lontarkan.
Sementara itu Widi termenung menunggu Hana dan Rangga menyelesaikan masalah di antara mereka berdua sembari menyalakan telivisi, namun tak di tontonnya.
Widi asyik dengan pikirannya sendiri, mencoba menata hatinya yang sebenarnya merasa cemburu dengan kedekatan Rangga dan Hana, karena dia tahu bila Rangga juga mempunyai rasa cinta untuk Hana.
Walaupun dia percaya kepada Rangga dan Hana, namun sebagai manusia biasa dia tak luput dari rasa cemburu itu. Dan di hela nafasnya dengan kasar.
Semoga setelah ini semua akan baik baik saja, aku bisa melanjutkan hidupku dengan Hana tanpa bayang bayang dari Rangga lagi, dan aku berharap Rangga juga bisa melanjutkan hidupnya tanpa bayang bayang Hana dan bahagia bersama Adelia.
Beberapa waktu kemudian, Rangga dan Hana memasuki rumah dan menemui Widi di ruang tengah.
__ADS_1
Setibanya di ruang tengah, Hana mendudukkan dirinya di samping Widi dan bergelayut manja di lengan Widi.
Sementara Rangga duduk di single sofa, "Mas... aku sama Rangga pengen melihat sunset sebelum nanti dia pergi, apa boleh?" tanya Hana.
Widi menyunggingkan senyumnya, dan mengecup pucuk kepala Hana, "Pergilah dan nikmati waktu kalian."
"Makasih mas...!" Hana mempererat pelukannya, Widi tersenyum mengusap lembut pipi Hana.
Rangga menyaksikan kemesraan Hana dan Widi, sebenarnya juga merasa terluka dan cemburu, namun dia cukup tahu diri, bila dirinya hanyalah sahabat Hana sementara Widi adalah suami Hana.
Wid... gue salut sama lo, yang begitu dewasa dan bijaksana, Melepaskan Hana di tangan loadalah keputusan yang tepat. Jika gue yang di posisi lo belum tentu gue bisa bersikap seperti dirimu.
"Mas ikut ya nonton sunset?" Hana menggoyang goyangkan lengan Widi.
"Kamu sama Rangga aja yang nonton sunset, kalau sama mas kan bisa kapan saja kita nonton, tapi kalau sama Rangga kan gak bisa setiap waktu, jadi kalian berdua aja yang berangkat." Widi mengusap pipi Hana dengan punggung tangannya.
Hana mencium pipi Widi, "Kalau gitu kita berdua berangkat ya mas?!"
Widi beranjak hendak mengantarkan mereka berdua keluar dari rumah.
Namun saat dia berdiri dengan bersedekap Hana menggoda Widi.
"Mas yakin gak mau ikut? kalau terjadi apa apa dengan aku dengan Rangga gimana? apa mas gak cemburu?" goda Hana.
Widi mengerucutkan bibirnya, "Aku gak akan cemburu, kalau kamu macem macem nanti aku juga bisa macem macem." ucap Widi dengan songongnya dan mengedipkan sebelah matanya, kemudian melangkah keluar menyusul Rangga yang sudah keluar terlebih dahulu dan meninggalkan Hana yang sedang melongo tak percaya dengan sikap Widi.
Hana yang menyadari bila Widi sudah tak di hadapannya pun berlari keluar rumah menyusul Widi dan Rangga.
"Naiklah motor itu Ngga! biar kalian cepat sampai di sana dan bisa pulang tepat waktu." Widi menunjuk pada motor yang biasa di pakai Widi untuk berkeliling di perkebunan.
"Baiklah!" Widi melangkah mendekati motor tersebut dan mencoba menyalakannya.
"Ayolah Han... kita berangkat sekarang!" teriak Rangga.
"Mas... aku pamit ya?" Hana memeluk Widi kemudian berlari ke arah Rangga dan langsung membonceng di motor yang di kendarai Rangga.
Ranggapun melajukan motornya menuju ke tempat mereka akan melihat sunset.
Sesampainya di sana, mereka berdua turun dan berdiri di tepi bukit dan melihat sunset berdua.
"Gue gak akan pernah melupakan kenangan ini, Han!" ucap Rangga.
"Ini sebagai bekal buat lo nanti di sana, biar gak nglupain gue."
Rangga tertawa, "Maybe!"
Dalam beberapa saat mereka berada dalam keheningan, dan hanya menatap mentari yang semakin lama semakin menyembunyikan dirinya.
"Han... apa lo tahu, kalau sunset itu begitu indah, namun hanya sebentar saja bisa di nikmati keindahannya?"
"Hmmm... iya sunset memang hanya sebentar bisa kita nikmati keindahannya."
"Seperti diri lo!" Hana mengernyitkan dahinya.
Dan Rangga tersenyum manis menatap Hana, "Seperti diri lo yang hanya bisa di nikmati keindahannya sebentar saja, aku bisa menatapmu namun aku tak bisa memikimu."
"Ngga?"
"Kenapa? gue tahu Han... di antara kita hanya sahabatan saja, untuk itu gue bilang lo bisa gue lihat, gue tatap tapi gak bisa berbuat lebih dari itu."
Rangga terkekeh,"Karena lo sudah ada yang punya dan bentar lagi gue akan nyusul lo bersama Adelia."
__ADS_1
"Mentarinya sudah tenggelam, Han! kita pulang sekarang?" Hana menganggukkan kepalanya.
Kemudian keduanya menaiki motor dan kembali pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah Widi sudah menunggu kepulangan mereka di teras depan.
Setelah turun dari motor Hana mendekati Widi dan mencium punggung tangan Widi.
Widi kemudian merangkul pundak Hana dan mengajak mereka berdua untuk makan malam bersama.
"Kita makan malam dulu." ajak Widi.
Kini mereka bertiga telah duduk di meja makan dan menikmati hidangan makan malam dengan khidmat.
Usia makan malam Hana dan Widi menuju ke ruang tengah sementara Rangga menuju ke kamar untuk berkemas.
Setelah selesai berkemas Rangga menuju ke ruang tengah di mana Hana dan Widi berada.
"Wid... Han... gue pamit ya?"
Widi dan Hana beranjak dari duduk mereka dan mendekati Rangga. Kemudian Widi memeluk Rangga.
"Hati hati dan selamat jalan, semoga lo segera menemukan kebahagiaan lo."
"Makasih Wid... berkat lo gue belajar banyak hal, dan gue akan selalu ingat itu."
Widi terkekeh menepuk bahu Rangga
"Han... ambil foto kita berdua, buat kenang kenangan!" pinta Rangga menyerahkan ponselnya pada Hana.
Hana mulai memotret Widi dan Rangga, dua lelaki yang mempunyai tempat khusus di hati Hana.
Setelah memotret keduanya, Hana menyerahkan ponselnya kepada Rangga, dan menatap Rangga dengan lekat.
"Gue minta... jangan menangisi kepergian gue, karena gue hanya ingin melihat senyummu sebagai kenangan terindah buat gue."
Hana terkekeh, kemudian Widi meraih tangan Hana dan menggenggamnya dengan hangat, menyalurkan ketenangan untuk Hana.
Hana mengulum senyumnya menatap Widi, Widi membalas senyuman Hana dan mengedipkan kedua matanya.
"Princess... gue pergi ya! lo bisa video call kapanpun lo mau! gue gak akan menolak panggilanmu, kini lama kita gak akan bertemu, gue harap lo bahagia bersama Widi, hormati dia, hargai dia dan cintai dia dengan tulus! lo ngerti kan?" Rangga mengusap kepala Hana.
Mata Hana mulai berembun, "Eem... no... no... dah gue bilang kan? jangan menangis! gue gak pengen lihat lo menangis,"
Hana mencoba untuk tersenyum, "Jaga diri lo baik baik di sana!" ucap Hana dengan sedikit serak.
Rangga tersenyum lebar, "Good girl! Gue pamit!"
Rangga berlalu memasuki mobilnya, dan tak kembali berani menoleh kepada Hana, karena air matanya kini telah menetes.
Sementara Hana semakin mempererat pelukannya kepada Widi.
Kini keduanya melambaikan tangan, saat mobil Rangga berlalu meninggalkan rumah mereka.
Dan di dalam mobil tangis Rangga yang sedari tadi dia tahan akhirnya pecah, Rangga menangis sesenggukan.
Bersambung
Happy reading my Readers
Jangan lupa Like, Comment, Fav dan tekan bintang limanya.
🙏🙏😍😍🤗🤗
__ADS_1