Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki

Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki
Malam Pertama


__ADS_3

Usai sudah pesta pernikahan yang telah di gelar siang tadi dengan sederhana namun penuh kenangan yang indah.


Widi tampak sangat bahagia begitu juga dengan Hana.



Mereka masih menyambut sanak saudara dari kedua belah pihak yang tadi gak sempat datang di acara pernikahan.


Mama dan Papa Hana pun juga masih sibuk ngurusin pembumbaran pesta pernikahan Hana dan Widi dan menjamu sanak saudara yang baru datang dan yang masih ada di sana.



Tak berapa lama datanglah adik ipar dari Ayah Widi bersama kedua anaknya dan di sambut oleh Ayah dan Papa.



Hana dan Widi begitu bahagia karena seluruh keluarga besar dari keduanya kini telah berkumpul.


Kedua belah pihak tampak begitu bahagia, melihat sang pengantin yang juga tampak begitu bahagia.


Keluarga Widi begitu terharu dengan adanya pernikahan Widi yang selama ini mereka tunggu tunggu karena Widi selalu menutup diri semenjak berpisah dengan Rosa.


Dan setelah bertemu dengan Hana dia seperti orang yang baru, dan Hana membawa dampak positif buat Widi, begitu juga dengan keluarga Hana juga merasakan hal demikian, karena semenjak Jonathan meninggal dia begitu terpuruk, hingga dia mencoba bangkit dengan mencoba membuka diri buat Anwar namun yang dia dapatkan adalah luka, dan Widi mampu meluluhkan hati Hana yang membeku.


Kedua orang tua Hana begitu bahagia karena Hana mendapatkan pendamping yang bertanggung jawab.


Mereka berharap pernikahan anaknya bisa seperti pernikahan mereka yang bisa langgeng hingga saat ini dan masih tetap harmonis hingga kini.


Hana dan Widi pun sebenarnya juga ingin seperti orang tua mereka hingga usia tua masih tetap harmonis.


Malam ini keluarga sudah beristirahat semua, Widi dan Hana pun kini telah memasuki kamar Hana yang sekarang menjadi kamar mereka berdua, bila mereka ada di rumah Hana, karena selepas ini Hana harus ikut Widi pulang ke rumah orang tuanya.



Hana dan Widi duduk di sofa, setelah memasuki kamar, mereka berdua sebenarnya merasa canggung, dan Widi juga bingung harus memulai semuanya dari mana.


Di raihnya jemari Hana dan di genggamnya, meskipun jantungnya berdetak tak menentu.


"Han... apa kamu siap?" tanya lembut Widi tanpa melihat wajah Hana.


Hana yang mendapatkan pertanyaan itu tak kuasa untuk menjawabnya.


"Kamu gugupkah?" tanya Widi kembali.


"Iya... aku sangat gugup."


Widi kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Hana.

__ADS_1



Hana merasa sangat gugup, dia memejamkan matanya, mencoba mengontrol detak jantungnya.


"Han... dah ngantuk belum?"


"Sebenarnya sih... uuudah...tapi..."


Tanpa aba aba Widi beranjak dari duduknya hingga membuat Hana terjengit dengan aksi tiba tibanya Widi.


Widi pun akhirnya mengangkat badan Hana, di bawanya dia untuk di baringkan ke kasur.



Di letakkannya berlahan tubuh Hana di ranjang, dan Hana hanya tersipu malu di buatnya.



Setelah meletakkan Hana, Widi duduk di pinggir ranjang bergeming menatap Hana dan tersenyum manis, menyentuh pipi Hana dengan lembut, kemudian mencium kening Hana.



Setelah mencium kening Hana Widi beranjak dari duduknya dan melangkah ke sisi ranjang satunya, dia pun naik ke atas ranjang dan di rebahkannya tubuhnya menghadap ke arah Hana.



"Saat ini aku hanya ingin seperti ini, Han. Menatap wajahmu yang selama ini ku rindukan, namun kini bisa ku nikmati setiap saat kapan pun aku mau."


"Sejak kita pertama kali bertemu, sebenarnya aku sudah menyukaimu, namun aku hanya memendam rasaku, karena kamu saat itu masih dalam keadaan berduka."


"Hmmm... Jonathan habis meninggal."


"Bisa di katakan itu adalah cinta pada pandangan pertama, hingga saat aku tahu kamu bertunangan dengan Anwar, aku merasa begitu terluka, namun entah mengapa aku masih tetap nggak bisa nglupain rasaku, dan aku hanya meyakinkan diriku, bila kelak kau akan menjadi milikku, dan ternyata do'a dan keinginanku telah terwujud."


Hana mengusap pipi Widi, "Dan ini bukanlah mimpi, aku sebenarnya gak pernah tahu, jika tanpa ku sadari secara berlahan dirimu memasuki relung hatiku, yang selama ini hanya Jonathan yang mengisinya, namun kau mampu mengambil alih tempat yang selama ini ku berikan untuk Jonathan."


"Apa kau bahagia?"


"Aku bahagia, dan Jonathan pun pasti juga bahagia, melihat aku bahagia bersamamu, karena ini yang di harapkan Jonathan aku bertemu dengan belahan jiwaku yang sesungguhnya, yang jelas bukan dirinya."


"Aku sangat berterima kasih dengan Jonathan, dia mendidik hatimu dengan baik."


"Dia memang the best, banyak nasehat nasehat dia buat aku, yang sampai kini masih selalu ku ingat."


"I love you!"


"I love you too!"

__ADS_1


Widi mengecup kening Hana, "Bolehkah aku meminta hakku malam ini?"


"lakukanlah!" ucap lembut Hana dengan tersipu malu.


Widi tersenyum melihat wajah Hana yang bersemu merah bak kepiting rebus.


Di kecupnya bibir Hana, dan pada akhirnya mata telah bertemu mata, bibir telah bertemu dengan bibir, dan kini mereka telah sama sama polos, dengan lembut Widi memperlakukan Hana hingga Hana yang merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan dari atas sampai ke bawah, nafas keduanya pun mulai tak beraturan hingga keduanya sama sama menginginkan yang lebih.


"Bolehkah ku mulai sekarang, sayang?" lirih Widi dengan nafas yang menderu.


Hana menganggukkan kepalanya dengan rasa yang sangat begitu malu.


Hingga pada akhirnya mereka pun memulai penyatuan mereka, Hana sempat meringis menahan rasa sakit, saat selaput daranya telah di robek oleh senjata Widi.


Namun rasa sakit itu perlahan berubah menjadi sebuah kenikmatan yang tiada terkira dan baru pertama kali mereka rasakan, dengan lembut Widi memaju mundurkan senjatanya hingga pada akhirnya mereka mencapai nirwana bersama.


Mereka berdua telah bermandikan peluh mereguk kenikmatan surgawi, sebagai suami istri yang sah di mata hukum dan agama.


"Makasih sayang! kamu telah bersedia menjadi milikku seutuhnya." Widi mengecup kening Hana.


Hana tersenyum malu, menyembunyikan wajahnya di dada Widi.


Widi pun memeluk Hana, dan mereka berdua akhirnya terlelap dalam alam mimpi dengan membawa kebahagiaan, mereka saling berpelukan hingga pagi menjelang.


Di tatapnya Hana dengan senyum bahagia.


Makasih sayang kini setiap ku bangun tidur, wajahmu yang ku lihat terlebih dahulu. Mimpiku tuk bersamamu kini telah terwujud dan aku gak akan menyia nyiakan kamu. Aku sangat mencintaimu dan ku berharap kita bisa menua bersama dan membesarkan anak anak kita berdua bersama sama.


Hana mengerjabkan kedua matanya yang menyesuaikan pandangan, kemudian di tatapnya Widi yang sudah tersenyum manis menatap Hana


"Mas Widi sudah bangun?" dan di jawab senyuman oleh Widi kemudian Widi mengecup kening Hana dengan Hangat, lalu mengecup sekilas bibir Hana yang kini telah menjadi candu untuk Widi.


"Morning kiss" bisik Widi di telinga Hana, Dan wajah Hana pun bersemu merah dengan perlakuan Widi padanya.


Hana pun turun dari ranjangnya, berharap untuk bisa menuju kamar mandi, namun selangkangannya terasa sedikit perih, hingga jalannya menjadi seperti pinguin.


Widi yang melihat cara jalan Hana pun terkekeh, kemudian dia pun ikut beranjak dari ranjangnya dan mendekati Hana lalu mengangkat tubuh Hana dalam gendongannya dan membawanya ke kamar mandi.


Akhirnya pagi itu pun kembali mereka melakukan pemanasan di kamar mandi dan terulang kembali hubungan suami istri di antara mereka baru kemudian melanjutkan mandi mereka.


Bersambung


Mohon


Like


Comment

__ADS_1


Saran dan Kritiknya


Happy reading my readers


__ADS_2