Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki

Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki
Permulaan


__ADS_3

Kini Hana, Rangga dan Leo telah berubah status yang dari pelajar, kini telah menjadi Mahasiswa dan Mahasiswi di salah satu Universitas ternama, sementara Lina meneruskan studynya di Ausy.


Rangga masuk Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Hana masuk Fakultas Psikologi, dan Leo masuk Fakultas Tehnik.


Untuk pertama kalinya mereka bertiga tidak satu kelas, setelah enam tahun mereka bersama dan selalu satu kelas.


Hari ini adalah hari pertama masuk kuliah, Hana pun menemukan teman baru dan dia merasa cocok, namanya Larasati



dan dua orang teman cowok bernama Beck Ziggy Adyatma



dan Daffin Maleakhi Rendra Padantya



mereka bertiga adalah teman satu kelas Hana. Ketiganya selalu menghabiskan waktu bersama Hana, walau terkadang Rangga dan Leo ikut bergabung bersama mereka.


Seperti saat ini, mereka berkumpul bersama di kantin,


"Han, lusa tugas kita kerjain bareng aja di rumah lo!" saran Daffin.


"Iya Han, di rumah kamu aja ngerjainnya," saut Laras.


Sekalian ngumpul aja gimana, Han?" tanya Rangga.


"Gue mau ngerjain tugas lo Ngga, bukan lagi main!" keluh Hana.


"Gue ngerti lo ngerjain tugas... kan selesai ngerjain tugas kita bisa ngumpul?"


"Ya terserahlah, kamu yang hubungi."


"Oke, nanti gue ketemu kok sama kak Dion dan kak Panji,


"Gimana? asyik gak Han di Psikologi?" tanya Leo.


"Ya seperti kita kita ini asyik, gak garing." Hana, Laras, Daffin dan Beck tertawa bersama.


"Han... gue satu kelas sama Anwar."ucap Rangga.


"Trus... apa.hubungannya sama gue?


"Ya gak ada sih, gue ngasih tahu supaya lo gak kaget aja suatu saat nanti."


"Dia udah bukan siapa siapa gue lagi, jadi gue udah gak perduli sama dia, dia kan juga udah jadi suami orang." gerutu Hana


Rangga terkekeh, "Sudahkah move on?"


"Kalian ngobrolin apa sih? siapa Anwar?" tanya Beck.


"Anwar tu mantan tunangan Hana." jawab Leo.


Ooooooo......

__ADS_1


ucap Laras, Beck dan Daffin bersamaan, hingga membuat Hana tertawa, "Kalian cucok bikin paduan suara."


"Kalau gue, Hana dan Leo suka nyanyi bareng, kita selama enam tahun kemarin sering duet bareng, dan nyanyi bareng." Cerita Rangga.


"Unik ya persahabatan kalian, selama enam tahun selalu satu kelas, apa gak bosen?" tanya Beck


"Justru kita malah kompak." jawab Leo


"Kita jadi kayak keluarga sendiri, saling ngejaga." saut Rangga.


"Satu hal yang sangat gue syukuri adalah bertemu dengan sahabat sahabat seperti kalian."


"Kita juga bahagia kok Han, menjadi sahabat lo."


Waktu bergulir dengan begitu anggunnya. hari ini semua ngumpul di rumah Hana, namun ada yang berubah di pertemuan kali ini, Hana terlihat begitu sangat akrab dengan Widi.


Mereka berdua terlihat saling curi pandang satu sama lain.


"Kayaknya bakal ada perayaan nih." ucap Dion dengan songongnya.


"Perayaan apaan nih?" tanya Rangga.


"Lihat noh mereka berdua!" Dion nunjuk ke arah Widi dan Hana. "Dunia seakan milik mereka berdua yang lain pada ngontrak."



Mereka semua pun terkekeh mendengar celotehan Dion dan melihat kedekatan Widi dan Hana.


"Itu hak Hana buat bahagia, kalau pun jadian mereka juga udah tahu satu sama lain. jadi gue rasa gak da masalah." ujar Rangga.


"Han! udah deh jangan pamer kemesraan, mata suci gue ternoda nih." celetuk Dion.



Dion menghela nafasnya, "Dasar temen gak ada akhlak memang kalian berdua ini." gerutu Dion.


Dan yang lainnya hanya tertawa melihat tingkah mereka bertiga.


"Dah... umumin aja hubungan kalian atau, Wid, halalin dia!" goda Steve.


Widi melirik Hana, "Gimana Han? apa kamu siap?" tanya Widi dengan senyum


menggoda.



"Siap apaan?" tanya balik Hana dengan gelagapan.


"Gak tahu pa pura pura gak tahu nih?" goda Beck.


Dan semua tertawa bersama melihat tingkah lucu Hana yang wajahnya kini sudah memerah bak kepiting rebus.


Tetapi tidak dengan Robin, dia terlihat kecewa dengan semua itu.


Maafin kakak Han, yang terluka melihat kebahagiaanmu, sekali lagi aku kecewa, karena kamu tak pernah memandangku sebagai seorang laki laki, dari dulu rasamu tak pernah berubah, kau hanya menganggap aku hanya sebatas seorang kakak dan gak lebih dari itu. Namun rasa kakak yang berubah Han,.. maaf... batin Robin.

__ADS_1


Semua sedang riuh menggoda Hana dan Widi, hanya Robin yang tersenyum tipis melihat kebersamaan Widi dan Hana.



Steve yang melihat perubahan ekspresi sahabatnya pun mendekatinya, dan merangkulnya, "Lo kenapa? masih memendam rasa itu?"


Robin menganggukkan kepalanya, "Gue dah coba buat mengembalikan semua seperti semula namun gue belum bisa." Robin menghela nafasnya dan menundukkan kepalanya.


"Gue tahu posisi Lo sulit, lo di lema, tapi kamu harus bisa ngendaliin semuanya, kalau lo gak punya keberanian langsung buat ungkapin semuanya pada Hana, ya lo harus move on." cerca Steve.


"Gue gak mau persaudaraan gue sama Hana rusak hanya karena gue egois ngungkapin perasaan gue ke dia, kalau move on dari dia gue juga belum bisa, walaupun perih aku akan tetap terus bertahan, asal dia bahagia, gue dah lega, Steve."


"Gue salut sama lo." Steve menepuk bahu Robin.


"Makasih... lo emang sahabat sejati gue."


Hana melangkah mendekati Robin, "Kak, bolehkah?"


"Boleh apaan, Han?"


"Kalau Hana sama Mas Widi." tanya Hana bergelayut manja di lengan Robin.


Steve yang melihat adegan itu merasa miris dengan sahabatnya.


Lo emang perfect,Bin. Kamu menekan perasaanmu mati matian, tetapi Hana yang gak tahu perasaanmu selalu manja padamu sedari kecil. Hatimu pasti sangat terluka, dengan semua itu. batin Steve.


"Kenapa tanya sama kakak? kalau kamu rasa itu yang terbaik, maka jalani! ikuti kata hatimu!" Robin mengusap pucuk kepala Hana.


"Hana pengen membuka hati Hana kembalindan memberi kesempatan pada mas Widi."


Robin tersenyum hangat, "Kakak akan selalu mendukungmu, jika itu yang membuat kamu merasa nyaman dan bahagia, jalanilah bersamanya."


"Makasih kak, kakak memang yang terhebat." Hana memeluk Robin.


"Dah sana gabung lagi dengan mereka!" pinta Robin.


Hana pun melangkah kembali kepada teman temannya, dan mereka menghabiskan waktu dengan bersenda gurau.


Setelah malam hampir menjelang mereka pun berpamitan untuk pulang ke rumah masing masing.


"Han... aku juga pulang ya?" Ucap lembut Widi.


Hana menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.


Mobil Widi pun berlalu meninggalkan rumah Hana.


Mas Widi, mungkin memang sudah saatnya Hana membuka hati Hana kembali, walaupun masih ada rasa takut untuk memulai, namun entah mengapa saat bersamamu aku merasa nyaman dan aku merasa sangat tenang, rasa ini sama dengan rasa saat aku bersamamu Jo. aku menemukan kedamaian saat bersamanya. Mungkin ini adalah jawaban dari semua pertanyaanku.


Bersambung


Mohon


Like


Comment

__ADS_1


Saran dan Kritiknya


🙏🙏🤗🤗😍😍


__ADS_2