
"Rangga..."
Rangga pun menoleh ke arah suara yang memanggilnya, dan dia membuang nafasnya kasar, setelah tahu bahwa yang memanggilnya adalah Niken.
"Paan...?" tanya Rangga ketus, setelah Niken ada di hadapannya, yang datang dengan berlari.
Sambil mengatur nafas Niken memberikan ponselnya kepada Rangga, dan Rangga yang dalam posisi berdiri menatap tajam Nikem dan tangan di silangkan dindadanya, mengernyitkan dahinya, dan menaikkan salah satu alisnya.
"Tolong ... lihat dulu video ini!" ucap Niken dengan nafas yang masih tersengal akibat berlari mengejar Rangga.
Rangga pun menerima ponsel Niken dan melihat video yang di berikan Niken padanya.
Setelah melihatnya, "Apa maksudnya video ini? gak ada yang aneh?" tanya Rangga bingung.
"Kamu jangan bodoh Ngga?"
"Eeeiiitttt.... tunggu! siapa yang bodoh!?" tanya Rangga kesal.
"Dia udah khianatin elo, Nggaaaa... apa elo gak cemburu dengan kelakuan dia yang seperti itu?" ucap Niken dengan antusias.
"Elo... kalau mau ngehalu jangan ketinggian." ucap Rangga dan berlalu dari hadapan Niken.
Niken yang mendapati reaksi Rangga yang datar hanya melongo tak percaya.
kenapa sih Ngga?
Sebesar apakah sayangmu ke Hana, tak bisakah kau sedikit melihatku, melihat ketulusanku, gue bener bener sayang sama lo Ngga!
Setelah bertemu Niken, Rangga berjalan menuju kelasnya, di dapatinya ketiga sahabatnya, yang sedang berkelakar.
"Hai... gaeeeesss..." sapa Rangga.
"Kok baru nongol Ngga?" tanya Lina
"Biasa berkeliling dulu." jawab Rangga.
Bel tanda masuk telah berbunyi, dan pelajaran pertama pun telah di mulai, mereka belajar seperti biasa, hingga bel sekolah berbunyi tanda waktunya pulang.
Sore Harinya,
Satu persatu sahabat sahabat Hana telah datang ke rumahnya, berkumpul untuk berangkat bareng ke rumah Jonathan.
"Kita bawa 2 mobil aja, biar gak ribet." usul Rangga.
"Okey... Hana, Rangga, Leo sama gue naik mobil Steve, dan Panji sama Dion naik mobil Widi." usul Robin.
"Kuylaaah... let's go." jawab Dion.
Mereka pun memasuki mobil sesuai arahan Robin, dan berlalu meninggalkan halaman rumah Hana, menembus jalanan menuju rumah Jonathan.
Dan akhirnya mereka telah tiba do rumah Jonathan, dan di sambut oleh ke dua orang tua Jonathan.
Mereka bergantian menyalami ke dua orang tua Jonathan.
Tiba giliran Hana, mama Wina langsung memeluk Hana erat.
"Mama kangen Han..." ucap mama Wina dengan sendu.
"Hana juga kangen ma.." jawab Hana membalas pelukan mama Wina dan menangis.
__ADS_1
Papa Brata pun mendekati ke dua insan yang sedang berpelukan itu. Papa Brata mengusap pucuk kepala Hana dengan lembut, "Jangan menangis, nak!" ucap papa Brata dengan suara serak.
Hana pun melepas pelukan mama Wina dan berhambur memeluk papa Brata.
"Ayo... kita masuk... kasihan teman teman kamu ngeliat kamu kayak gini, nak." ujar papa Brata dan menuntun Hana masuk ke dalam Rumah.
Tak berselang lama, sudah banyak yang hadir untuk mengikuti acara 7 hariannya Jonathan, dan acarapun telah di mulai dan di pimpin oleh seorang ustadz.
Selepas acara kami geng Jomber, membantu keluarga Jonathan beberes.
"Makasih ya... anak anak udah nyempetin datang di acara ini." ucap mama Wina.
"Sekalian juga kami mau berpamitan untuk kembali ke paris." ucap papa Brata.
"Dan kamu Robin... mama mau nitip Hana, tolong jaga dia dengan baik ya!?" pinta mama Wina.
"Tentu....tante, Robin akan jaga amanat tante dan om semampu saya tante." jawab Robin.
"Hana... mama minta, tolong lanjutin hidup kamu ya, nak!" pinta mama Wina dengan mengusap kepala Hana lembut.
"Ma... Hana pasti kangen banget sama mama." ucap Hana menggenggam tangan mama Wina.
"Mama juga pasti sangat kangen sama princess mama ini, ehmmm kalau libur kamu boleh main ke Paris," jawab mama lembut.
Setelah lama ngobrol, geng Jomber pun berpamitan untuk pulang. Dan kami menempati formasi seperti waktu berangkat tadi.
Widi yang sebenarnya ingin ngobrol dengan Hana pun terpaksa harus menelan kekecewaannya, karena kesempatan itu tak datang padanya.
Setelah beberapa waktu berada di jalanan, akhirnya mereka sampai juga di rumah Hana.
"Mau pada nongki dulu di sini, apa pada langsung pulang nih...?" tanya Hana.
"Nongki bentar aja Han..." ucap Leo
Hana masuk ke dalam rumah mencari bi Inem untuk membuatkan mereka minum, sedangkan untuk camilan di bawa oleh Hana sendiri.
Widi, sedari tadi menatap Hana dengan penuh kerinduan.
Han... maaf bila gue rindu elo... batin Widi.
Setelah beberapa saat berkelakar bersama, akhirnya geng Jomber membubarkan diri, pulang ke rumahnya masing masing, dan hanya menyisakan Hana dan Robin.
"Han... kakak sampai lupa mau ngasih kamu sesuatu."
"Ngasih apaan kak?"
"Udah ada di kamar kamu sih barangnya, ayo kakak perlihatkan."
Robin dan Hana berlalu menuju kamar Hana, dan Robin melangkahkan kakinya menuju ruang santai Hana, di mana di sana Hana biasa menghabiskan waktunya buat baca ataupun bernyannyi.
Di bukanya sebuah lemari, dan Robin mengeluarkan 2 kotak lalu di letakkan di atas meja, sementara Hana duduk di sofa memperhatikan aktifitas Robin.
Setelah meletakkan 2 kotak tersebut, Robin kembali menuju lemari dan mengambil sebuah gitar.
Deg
Melihat gitar yang di pegang Robin, Hana sangat terkejut.
"Kaaaakaaak... gitar Jo kenapa ada pada kakak?" tanya Hana gemetar.
__ADS_1
"Jonathan ingin kamu merawat gitar ini, dan ke dua kotak ini semua dari Jonathan untukmu, dia juga meninggalkan sebuah surat untukmu." Robin menjelaskan semuanya.
Hana membuka salah satu kotak dengan gemetar, dia mendapati sepasang jepit rambut, Hana pun teringat itu jepit rambutnya yang dulu hilang, saat sedang piknik.
Air mata Hana tanpa permisi sudah luruh meninggalkan pelupuk matanya, dia terkekeh memegangi jepit rambut itu, Hana mengambil sebuah memo yang terselip di salah satu jepit rambut tersebut dan membacanya.
Han... aku bisa nemuin jepit rambut kesayanganmu, maaf... tak langsung mengembalikan kepadamu, jangan marah ya... dan kini aku kembaliin jepit rambut kamu, semoga kamu senang.
Hana kembali terkekeh membaca memo itu, lalu meletakkan jepit rambut di meja, dan melihat isi kotak itu lagi, dan di ambilnya earphone pink kesayangan Hana yang dulu sudah rusak, dia pun kembali membaca memo yang tertempel di earphone itu.
Hai... Han... earphone kesayanganmu sudah aku perbaiki, dan sekarang sudah bisa kamu pakai, be happy my Sweet Heart.
Hana meletakkan earphonenya di meja dan kembali melihat isi kotak tersebut, dan dia mengambil syal yang pernah dia inginkan, namun saat itu keduluan orang lain yang mendapatkannya, dan Hana sangat kecewa waktu itu. kembali Hana membaca memo yang tertempel pada syal tersebut.
Maaf... aku terlambat memberikan syal yang kau inginkan, karena aku harus menambahkkan sulaman di syal ini, dengan tanganku sendiri maaf ya... semoga kau menyukainya.
Hana mencari sulaman yang di maksud Jonathan pada syal tersebut, dia menemukan tulisan " My love Hana " kembali Hana terkekeh waluapun air mata terus mengalir, dan Robin hanya menyaksikan Hana dalam diam, memberikan waktu Hana, dengan kenangannya.
Di lihatnya kembali kotak tersebut dan di ambilnya sebuah kotak kecil yang ternyata isinya kalung dengan inisial H di dalam sebuah hati yang terbuat dari permata, sebagai pemanis kalung tersebut. di bacanya memo di kalung tersebut.
Mama memberikan ini untukmu Han... dia membelikan kalung ini, sebenarnya ingin di berikan saat kamu ulang tahun nanti, namun kenyataan harus berkata lain, aku gak bisa menemanimu di hari ulang tahunmu besok, HAPPY BIRTHDAY TO YOU MY LOVELY lanjutkan hidupmu dan tetaplah tersenyum dan bahagia meski tanpaku di sisimu.
Hana kembali mengambil barang terakhir di kotak tersebut, sebuah amplop dan di dalamnya ada 10 tiket masuk ke taman bermain di tanggal ultahku, dan swbuah memo again.
HAPPY BIRTHDAY HAN... bersenang senanglah dengan tiket ini, bersama sahabat sahabatmu, maaf tak bisa dampingimu saat hari bahagiamu. love you Jonathan.
Hana tersedu dapati semua itu, lalu memsukkan semua kembali ke dalam kotak itu lagi.
Lalu Robin menghampiri Hana dan memberikan sebuah amplop, dan di baca oleh Hana.
My dear
Dengan terbacanya surat ini di tanganmu, berarti aku dah pergi dari hadapanmu my sweet heart.
Aku hanya berharap hidupmu akan jauh lebih berarti, selepas ku pergi, dan aku tahu rasamu, semua tak akan mudah untukmu, walaupun kamu bisa lewati hari harimu, namun untuk melupakan semua kenangan kita, aku tahu tak akan mudah untukmu.
Untuk itu tetaplah melangkah, dengan tegar dan semangatlah my lovely. Aku berdo'a kelak akan kau temukan cinta sejatimu, yang akan selalu mencintaimu tanpa syarat apapun, dan akan selalu dampingimu dalam suka dan duka menemanimu menua nanti.
Ingatlah aku hanya sebagai pemanis kehidupanmu, teruskanlah langkahmu dan tetaplah selalu bahagia dan ceria seperti biasa.
Ooh... yaa... ku titipkan gitarku untuk menemanimu saat bernyanyi, dan dua kotak untukmu, satu kotak berisi barang barang kesayanganmu dan satu kotak berisi foto foto dari awal kita bertemu hingga terakhir kemarin kota berfoto bersama saat di rumah sakit.
Rawatlah foto itu sebagai kenangan dariku, lihatlah saat kau kangen denganku dan simpanlah saat kau telah temukan kebahagiaanmu.
Aku pamit ya... Han... maaf tak bisa temanimu dan menua bersamamu, namun aku sudah bahagia dengan menjadikanmu yang pertama dan terakhir untukku.
...I Love You My Sweet Heart...
...Be a good girl...
...Goodbye my lovely...
...Be Happyness...
^^^Love you more^^^
^^^JONATHAN^^^
Hana melipat kembali surat tersebut dan memasukkan kembali ke dalam amplopnya, lalu tanpa berkata sepatah katapun dia keluar dari ruangan itu menuju ranjangnya dan membenamkan dirinya di sana, dan Robin mendekatinranjang Hana dan menyelimuti Hana lalu mengusap pucuk kepalanya lembut, dan mencium kening Hana.
__ADS_1
"Istirahtlah... " pinta Robin mematikan lampu kamar Hana dan keluar dari kamar Hana menuju ke kamarnya.
bersambung