
Aku bersyukur rasa cintaku untukmu belum begitu dalam, hingga mungkin aku akan lebih mudah untuk melupakanmu, namun... tetap saja aku merasa sakit saat kau khianati, aku yang selalu berusaha untuk menjaga kesetiaanku dan berusaha membuka hatiku untukmu, itu tak pernah kau hargai. Memang jalan yang terbaik untuk kita adalah berpisah. Batin Hana.
"Han...!" Robin meraih jemari Hana.
"Nglamunin apa?"
"Kenapa jalan hidup gue gini amat ya kak?"
"Mungkin ini adalah ujian buatmu agar kamu ke depannya lebih kuat, lebih tegar dan mendapatkan yang terindah." tutur Robin.
Hana terkekeh mendengar penuturan Robin, "Oh ya kak... bentar lagi Bonyok pulang!"
"Kapan?"
"Semalam sih bilangnya tiga hari lagi."
"Ya dah, siapin mental kamu, jangan lemah dan kakak akan selalu di sampingmu."
tring... tring... ponsel Hana berbunyi tanda ada chat masuk, di bukanya chat dari nomor tak di kenal dan membuat Hana penasaran.
📩 "Datanglah ke jln. Cempaka 1 , sekarang! kau akan lihat sesuatu yang indah."
Wajah Hana berubah seketika, hingga membuat Robin mengernyitkan dahinya dan keheranan.
"Kenapa Han?"
"Hana gak tau kak, ini chat dari siapa? tapi dia nyuruh gue dateng ke jalan Cempaka satu."
"Hai...!" Sapa Rangga pelan, namun membuat Hana dan Robin terhenyak kaget.
"Kalian kenapa sih?" Rangga kebingungan melihat mereka berdua kaget.
"Hana dapat chat dari orang gak di kenal, di suruh datang ke jalan Cempaka satu."
"Jalan Cempaka satu?" tanya Rangga antusias.
"Iya... " jawab Robin dan Hana bersamaan.
"Kak... itukan alamat yang kemarin."
"Alamat siapa?" Robin belum ngeh.
"Itu yang Anwar sama Putri."
Deg
Hana kaget mendengar penjelasan Rangga.
"Antar gue ke sana Ngga! lo pake motor kan?"
"Oh... okey... ayo." ajak Rangga.
Rangga dan Hana pun berlalu meninggalkan rumah Hana, setelah meminta izin pada Robin untuk menuju ke jalan Cempaka satu.
Tak berselang lama keduanya kini telah sampai di jalan Cempaka satu dan terlihat di sana mobil Anwar terpakir di rumah yang sama seperti kemarin.
Hana memberanikan diri mendekati rumah tersebut dan Rangga mengikuti di belakang Hana.
Di sentuhnya pintu depan yang ternyata tak terkunci, Hana dan Rangga berlahan masuk ke dalam rumah tersebut, dan terdengar di telinga mereka suara suara yang aneh di salah satu kamar yang sedikit terbuka.
__ADS_1
Hana memberanikan diri mendekati kamar tersebut, di bukanya pintu kamar tersebut perlahan dan...
Duaaaarrr....
Bagai di sambar petir Hana tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.
"Anwar! panggil lirih Hana, dan berhasil membuat si penghuni kamar kaget tiada terkira.
Dia pun langsung berlari ke luar rumah sembari menarik tangan Rangga.
Terdengar dari dalam teriakan Anwar memanggil Hana dan tak di hiraukan oleh Hana.
"Rangga... ayo cepet nyalain motornya!" perintah Hana dengan sangat gugup.
"Iya... iya... Han." Rangga pun cemas.
Terlihat Anwar sudah berlari sampai di pintu depan dan terus memanggil Hana dengan memakai baju yang belum sempat dia kancingkan, berusaha mengejar Hana.
Dan sebelum sempat mendekati Hana, Rangga telah melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Anwar pun berusaha mengejar Hana dengan mobilnya, namun dia kehilangan jejak Rangga dan Hana.
Sementara Rangga membawa Hana ke apartemen Rangga, yang jarang dia tempati dan tak banyak yang tahu tentang apartemennya.
"Untuk sementara tenangkan dirimu dulu di sini! kamu gak akan di temukan oleh Anwar!"
Hana hanya diam tak berkata apapun, dia hanya mendudukkan dirinya di sofa dengan pandangan yang kosong.
Rangga pergi menuju dapur dan mengeluarkan air mineral dari dalam kulkas dan memberikannya pada Hana.
"Minum dulu gih! supaya lo tenang!"
Tak berapa lama Robin telah sampai di sana, dan langsung masuk ke dalam apartemen dan mendekati Hana.
Hana hanya melihat sekilas ke arah Robin saat Robin baru datang.
"Han...!" lembut Robin memanggil.
"Hana gak papa kak... Hana hanya syok aja melihat kejadian tadi."
"Kamu yakin?"
Hana tertawa, sesaat dan kemudian diam menatap Robin.
"Mau cerita sama kakak?"
Hana terkekeh, "Mata Hana yang suci ternodai kak." ucap Hana asal.
"Ternodai?"
"Anwar melakukannya sama Putri di depan mata Hana langsung, gimana Hana gak syok coba." Hana mengerucutkan mulutnya.
Robin menatap Rangga dan Rangga pun menganggukkan kepalanya.
"Kalo mau nangis, nangis aja! jangan lo tahan, Han!" ujar Rangga.
"Enggak... gue gak akan nangis, yang gue butuhin saat ini adalah, ambil nafas dalam dan membuangnya dengan sempurna." Hana kembali terkekeh.
"Kak, Hana pengen makan rujak yang pedes." pinta Hana.
__ADS_1
"Delivery aja ya? kakak gak tega ninggalin kamu sendiri."
"Terserah kakak aja."
"Ngga pesen rujak sama makan malam!"
"Baik kak!"
Sementara itu Anwar sangat kebingungan mencari Hana, di semua tempat yang ia tahu biasa Hana berada tak menampakkan hidung Hana.
Sedangkan Hana sendiri sudah bisa tertawa dengan riang bersama Rangga dan Robin.
Hana sengaja mematikan ponselnya, tak berapa lama teman temannya kini telah berkumpul di apartemen Rangga.
Mereka yang sudah tahu tentang keadaan Hana pun berusaha untuk menghibur Hana, dan sama sekali tak menyebut nama Anwar di depan Hana.
"Kalian nginep di sini aja ya!?" rengek Hana, Mereka semua pun saling menatap.
"Ngga! boleh ya?" Rangga menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis.
"Ye... ye..." Hana melompat lompat sangat kegirangan.
"Dan itu membuat yang lainnya merasa lega."
Semalaman mereka bersenda gurau bersama, Hana benar benar menikmati kebersamaan itu, dan dia melupakan sejenak luka yang telah menoreh di hatinya, karena Anwar.
Sedangkan Anwar yang saat ini berada di pantai merasa bingung, resah, dan menyesali segala yang terjadi, dan begitu banyak panggilan dari Putri tak ada satu pun yang di angkatnya.
Han... maafin aku... Anwar menjambak rambutnya sendiri.
"Aaarrrggghhh...."teriak Anwar meluapkan emosinya.
Han... di mana dirimu? aku sangat kuatir, kenapa semua menyembunyikanmu Han?ponselmu pun kau matikan. Aku sadar kesalahanku begitu besar, dan aku sudah melanggar janjiku, aku khilaf... Han... Apa kau akan memaafkanku?
Anwar menangis sesenggukan menyadari kekhilafannya dan menyadari bila Hana pasti akan memilih pergi meninggalkannya.
"Aku memang bodoh... bodoh...!!" teriak Anwar frustasi.
"Hannaaaaaaaaa....!" teriak Anwar di gelapnya malam.
"Jangan tinggalin aku, Han!" Anwar bersimpuh di atas pasir pantai, dan semalaman Anwar menangisi kebodohannya.
kenapa harus seperti ini? Putri... kau telah menghancurkan hidupku! kau berhasil menjauhkan Hana dariku. Aku membencimu... aku benci... benci...
Anwar membuka matanya berlahan dan kepalanya masih merasa sangat pusing, dia sangat terkejut karena saat ini dirinya sedang berada di Rumah Sakit, dan di lihatnya Putri yang tersenyum bahagia datang, masuk ke ruangannya.
bersambung
Mohon
Like
Comment
Saran dan Kritiknya ya
🙏🙏🤗🤗😍😍
__ADS_1