Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki

Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki
Jonathan has passed away


__ADS_3

Ceklek....


Pintu ruangan Jonathan terbuka, terlihat mama papa Jonathan memasuki ruangan.


Aku langsung beranjak dari dudukku dan langsung berhambur memeluk mama Jonathan.


Mama Jonathan melepaskan pelukanku, "Ma...." mama tersenyum dan mengusap rambutku, lalu melangkah mendekati ranjang Jonathan, menggenggam tangannya dan mencium keningnya lama, lalu duduk di kursi Jonathan dengan masih tetap menggenggam tangan Jonathan, sembari mengusap kepala Jonathan.


Sementara papa duduk di sofa bersama kak Robin, dan aku bergeming menatap Mama dan Jonathan, ada sakit tak terperi di hatiku.


Ya Allah... apakah ini saatnya ku harus rela melepaskan Jonathan pergi dari Sisiku?


Siapkah aku?


mampukah aku?


will all really end?


should I let go of all our memories?


Jo... haruskaah...?


God give me your directions! batinku


Kak Robin beranjak dari duduknya dan menghampiriku, menuntunku duduk di sofa. setelah aku duduk kak Robin menggenggam tanganku dan mengusap rambutku.


...xxxxxxxxxxx...


seminggu kemudian


Jonathan kejang kembali, dan mama yang sendirian berjaga di sana, karena papa sedang ke kantin membeli sarapan, begitu panik dan berteriak memanggil dokter.


Dokter dan perawat berlarian menuju ruang Jonathan, untuk memeriksa keadaan Jonathan.


Sementara mama mondar mandir di luar ruangan Jonathan, dan tak berselang lama datanglah papa dengan berlari ke arah mama, karena dari jauh melihat mama yang mondar mandir di luar ruangan dengan gelisah.


"Ma...!" papa menyentuh bahu mama dari arah belakang.


Mama membalikkan badannya dan memeluk papa, menumpahkan tangisannya di pelukan papa.


"Nathan... drop lagi pa...!" ucap mama


Papa mengusap punggung mama, "kita yang sabar ya...! ikhlasin semuanya, biar Nathan di beri kemudahan jalan yang terbaik."


Ceklek...

__ADS_1


Pintu ruangan Jonathan terbuka, dokter keluar dari ruangan, mama papa Jonathan bergegas mendekati Dokter.


"Dok... gimana anak saya?" tanya papa


"Maafkan kami .... kami meminta izin untuk melepas semua alat di tubuh Nathan, kasihan raganya...!?"


Papa mundur selangkah, kakinya lemas seakan tak mampu menahan berat tubuhnya.


"Pak.." dokter menahan badan papa.


"Tunggu dulu, dok... tunggu anak perempuan saya datang, saya yakin Nathan menunggu kedatangannya..." ayah memohon kepada dokter.


"Setelah anak perempuan saya datang, saya ikhlas jika memang alat itu harus di lepaskan." papa menumpahkan air matanya yang sedari tadi dia tahan.


"Baiklah pak... kami akan menunggu kedatangan anak bapak."


"Terima kasih dok!?"


Sementara di sekolah, aku begitu gelisah, hatiku berdetak tak nyaman, tak tahu apa yang terjadi, dan aku gak bisa konsen dalam pelajaran kali ini. Saat di kantinpun aku banyak tak berceloteh seperti biasanya dan banyak diamnya.


Hingga bel pulang sekolah berbunyi, aku langsung mengemasi bukuku dan memasukkan dalam tas, lalu berlari keluar kelas tanpa memperdulikan panggilan trio bocil.


Aku belrlari menuju gerbang dan ku cari kak Robin, namun yang ku cari tak ada di sana. Aku begitu cemas dan gelisah tiada menentu, hanya mondar mandir di luar gerbang mencoba menghubungi kak Robin.


Tin...tin...tin...


"Maaf... dah lama nunggu? tadi jalanan sangat macet." ucap kak Robin. "Kenapa Han... kamu kelihatan panik sekali?"


"Entah kak aku gak ngerti... tapi dari tadi perasaan aku gak enak dan aku pengen buru buru ketemu Jonathan kak." jawabku


"Cepat dikit ya kak!?"


Kak Robin menambah kecepatan mobilnya, menembus jalananan yang terlihat agak ramai, menuju Rumah Sakit.


Sesampai di Rumah Sakit, aku langsung berlari masuk menuju ruang rawat inap Jonathan, tanpa memperdulikan kak Robin.


Kak Robin hanya tersenyum tipis melihat tingkahku, lalu menyusul aku ke dalam rumah sakit.


Saat hampir sampai ruangan Jonathan dadaku semakin sesak, ku percepat langkahku menuju ruangan Jonathan dan ku buka pintunya.


Di saat aku masuk ku lihat mama duduk di sebelah Jonathan, menggenggam tangan Jonathan sembari terisak.


Papa menepuk bahuku, "Han... mendekatlah pada Jonathan! dan tolong bicaralah padanya jika kamu sudah mengikhlaskan dia pergi!"


"Pa... apa maksudnya ini?"ku tatap papa penuh tanya.

__ADS_1


"Sudah tiba waktunya Jonathan buat pergi ninggalin kita.... dia menunggumu untuk merelakan kepergiannya!"


Aku terisak dan kak Robin yang tanpa ku sadari telah berada di ruangan Jonathan, langsung memelukku, "Han... relakan kepergian Jonathan ya...!?" pinta kak Robin namun aku bergeming di tempatku tak mengucapkan sepatah kataku untuk menjawab permintaan kak Robin, hanya air mata yang rerus tertumpah tanpa mampunaku bendung.


"Han... kakak mohon... jangan seperti ini, kasihan Jonathan..."


Aku melangkah mendekati Jonathan dan mama memberiku ruang untuk mendekati Jonathan.


Ku genggam tangannya, ku tatap wajahnya yang begitu pucat, ku usap kepalanya lembut dan ku cium keningnya, hatiku begitu tercabik dan sangat sakit, saat menyadari aku harus melepasnya pergi.


Ku raih ke dua tangan Jonathan ke dalam genggaman ke dua tanganku, lalu menciumnya.


Ku kuatkan hatiku untuk mengucapkan kata perpisahan pada Joanthan,.


"Jo... pergilah jika memang sudah waktunya kamu harus pergi, aku rela melepasmu dan aku akan penuhi semua janjiku padamu, I love you Jo... aku melepasmu dengan segenap cintaku, aku janji akan baik baik saja selepas kamu pergi.... pergilah dengan damai bersama cinta yang kita punya." ku cium ke dua pipi Jonathan, dan saat ku kecup keningnya, ku lihat senyum tipis terukir di bibir Jonathan dan ku dengar suara tiiiiiiiiiitttttt.. .....


Pandangan mataku mengabur dan aku merasa lemah dan...


Brugh...


Kak Robin langsung berlari menujuku yang tergeletak di lantai karena pingsan, dan menggangkatku untuk di baringkan di ranjang penunggu di samping ranjang Jonathan.


Sementara tangis mama langsung pecah, memeluk tubuh Jonathan yang telah terbujur kaku.


Dan papa berusaha tegar menenangkan mama, agar menerima semua ini dengan damai.


Tak berselang lama masuklah Dokter dan perawat untuk melepas semua alat di tubuh Jonathan dan mengurus Jenazah Jonathan dan dokter memeriksaku.


"Dia hanya syok aja... nanti akan siuman... , gak perlu ada yang di khawatirkan." ucap dokter.


"Baik dok..."


"Silahkan di urus administrasinya dan pengantaran pulang jenazah." perintah dokter.


Papa keluar ruangan untuk mengurus kepulangan Jonathan, sementara mama mengemasi barang barang milik Jonathan, dan aku mengurus Hana...


Tak berselang lama datanglah kak Steve dan trio bocil, memasuki ruang rawat inap Jonathan.


"Bin..." panggil kak Steve


kak Robin menengok ke arah mereka, "Steve... bocil... kalian pulang saja ke rumah Jonathan dan persiapkan untuk menyambut kepulangan Jonathan."


"Baiklah..." Jawab mereka.


"Tapi Hana... gak papa kan kak..?" tanya Rangga.

__ADS_1


"Gak papa hanya syok saja... semoga bentar lagi siuman, nanti kami nyusul ke sana setelah Hana siuman."


Mereka berempat pergi meninggalkan Rumah Sakit menuju rumah Jonathan untuk mempersiapkan penyambutan kepulangan Jenazah Jonathan di rumah sebelum di makamkan.


__ADS_2