
"Pagi ma.... pa..." Anwar menyalami ke dua orang tua Hana, dan di sambut dengan sapaan "Selamat pagi juga Anwar! " oleh ke dua orang tua Hana.
"Pagi kak Robin, pagi Han..." sapa Anwar dan di jawab senyuman oleh Robin namun tidak dengan Hana yang hanya bergeming dan tetap melanjutkan makannya.
Drrrttt...drttt...
Hana mengambil ponselnya dan di lihatnya nama kak Dion di sana, di gesernya tombol hijau oleh Hana dan di loudspeaker karena Hana belum selesai makan.
"Paan kak?"
"Beib lo ada di mana?"
"Ya di rumahlah.... ini masih pagi... emang lo berharap gue ada di mana?"
"Heee hee.. gak gitu beib, cuma aku... lagi pengen ngumpul aja.."
"Dalam rangka apa?"
"Hari ini kan terakhir test... buat ngilangin streess kita ngumpul ya beib?"
"Kuylah... gue ajak semuanya ya?"
"Yo'i... dah ya beib... doa'in hari ini lancar ."
"Ashiiiiiaaappp... "
telfonpun di akhiri, dan terlihat wajah Anwar yang sedikit kusut, dan hanya di lihat sekilas oleh Hana.
Sementara ke dua orang tua Hana beranjak meninggalkan meja makan, "Mama sama papa kerja dulu sayang." ucap Mama mencium pipi kanan dan kiri Hana serta mengusap lembut pucuk kepala Hana, dan di ikuti papa yang mencium kening Hana, dan mereka berlalu meninggalkan ruang makan.
"Kenapa dengan muka lo,War? Robin mengernyitkan dahinya, namun tak di jawab kata kata oleh Anwar melainkan gelengan kepala.
Robin terkekeh, "Slesaiin urusan kalian, dah gue mau ngampus dulu." Robin meninggalkan Hana dan Anwar Berdua di meja makan.
Setelah kepergian Robin, Hana beranjak dari duduknya, pergi meninggalkan meja makan, "Han... " panggil Anwar namun tak di indahkan oleh Hana.
Hana melangkah menuju gazebo taman belakang dan di ikuti oleh Anwar, setelah Hana duduk, Anwar berjongkok di hadapan Hana, sembari menggenggam kedua tangan Hana.
"Han... kamu kenapa? dari kemarin kamu mendiamkan aku terus? ku mohon jangan diamkan aku seperti ini Han... aku akui bila aku salah tak seharusnya aku membentakmu, maafkan aku..." Anwar mencium tangan Hana.
Hana mengambil nafas dalam menggembungkan ke dua pipinya dan membuang nafasnya perlahan.
"Apa aku salah mempertanyakan semua itu sama kamu? hingga kamu tega membentakku?" tanya Hana dengan ketus.
Anwar menggelengkan kepalanya, "Kamu gak salah... aku yang salah Han...maaf..."
"Aku hanya ingin gak ada kebohongan di antara kita, apapun yang terjadi aku hanya ingin di antara kita selalu ada kejujuran."
"Aku mengerti dan aku akan penuhi keinginanmu jadi ku mohon tersenyumlah, jangan diamkan aku seperti ini."
Hana mengulum senyumnya, menatap wajah Anwar dan menganggukkan kepalanya,
Anwar pun langsung memeluk Hana erat, "Makasih sayang."
"Hmmm ada satu lagi, aku gak suka Dion memanggilmu beib." perintah Anwar.
"Emang... kenapa?" Hana terkekeh, "Kamu cemburu sama dia?"
"Aku... hanya gak suka dia punya panggilan kesayangan sama kamu."
"Kamu harus terbiasa dengan semua itu, karena para sahabatku gak akan pernah mau merubahnya, dan kamu harus terbiasa dengan tingkah mereka."
"Nyesek... Han..."
"Makanya jangan nethink mulu."
...¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤...
Sore harinya
Semua telah berkumpul di warung bakso langganan mereka, dan sudah mendapatkan tempat duduk lesehan seperti biasanya.
Widi pun merasa bahagia karena bisa menatap Hana kembali, gadis yang selalu di rindukannya setiap waktu.
Seperti biasa pula Rangga membawa gitar kesayangannya. sambil menunggu pesanan datang Rangga memetik dawai dawai gitarnya, dan mulai bernyanyi dan mengajak Hana untuk duet lagu Patah by Padi
...🎵Bagai serpih-serpih pasir di pantai...
...Tersapu gelombang pasang...
__ADS_1
...Meski harus hilang terpecah karang...
...Meninggalkan kenangan abadi...
...Ada tersimpan rasa perih mendera...
...Mengingat engkau di saat itu...
...Masih tentang cerita engkau dan dia...
...Yang tak pernah terukir indah...
...Kau bawa aku renungi apa yang terjadi...
...Kau bawa aku resapi semua tangismu itu...
...Memelukmu kuingin...
...Menyentuhmu kuingin...
...Dan mengucapkan sepatah kata...
...Namun air mata mesti tercurah...
...Memandu cerita itu...
...Jiwamu tak mampu menahan semua...
...Ketidakberdayaan ini...
...Kau patahkan semua cerita hidupmu...
...Kau remukkan harapan yang tumbuh di hati...
...Memelukmu kuingin...
...Menyentuhmu kuingin...
...Dan mengucapkan sepatah kata...
...Bagai serpih-serpih pasir di pantai...
Anwar sebenarnya merasa sangat cemburu dengan kedekatan Rangga dan Hana, namun di pendamnya karena dia tak ingin Hana marah lagi.
Akhirnya pesanan datang dan kami siap menyantap bakso kesukaan mereka, dengan sangat lahap, seperti biasa setelah Hana selesai makan bakso di mangkoknya dia akan mendapatkan satu pentol bakso dari Rangga.
"Han... bagianmu.. buka mulutmu." Rangga menyuapkan satu pentol bakso ke mulut Hana.
"Masih mau Han? punya kakak masih!" ucap Robin.
Hana terkekeh, "Boleh kak...mana?"
Robin menusuk pentol baksonya dengan garpu dan menyuapkannya ke mulut Hana.
"Perut pa gentong itu beib ...?" ledek Dion.
"Brisik...." kesal Hana mendapati ledekan Dion.
Dion terbahak, "Lo liat kak Robin... mukanya kalo lagi malu kayak gitu lucu kan?"
"Pengen rasanya gue karungin gue bawa pulang buat teman si monik."
"Dasar temen gak ada akhlak masak cantik begini di samain sama si monik."
Yang lain pun tertawa, mendapati candaan Dion... namun tidak dengan Anwar.
"Iya Han.... baru nyadar gue kalo monik sama lo itu sama, sama sama imut." ucap Panji
"Kak panji udah deh gak usah ikut ikutan si lampu pijar, ngledekin gue... lihat aja besok monik gue culik gue jual ke pasar." sungut Hana.
"Sorry beib... kelepasan... " ucap Dion masih tetap terkekeh.
Sementara Dion dan Hana masih berdebat, dan di sambubg celotehan yang lainnya, tanpa mereka sadari Steve dan Cinta agak menjauh dari mereka.
Dan kebersamaan kali ini sangat membuat Hana bahagia, namun tidak dengan Anwar, karena dia gak suka kedekatan Hana dan sahabat sahabatnya.
"kak Dion sama kak Dion jadi nerusin ke universitas yang sama dengan kak Steve dan kan Robin." tanya Lina.
"Iya... kita optimis bisa ke sana," jawab Panji dan di jawab anggukan kepala oleh Dion.
__ADS_1
"Nanti pasti kita bantu!" ucap Robin.
"Yo'i... kak..." jawab Dion.
"Ngga petik gitar lo lagi !" perintah Panji.
"Yo'i..."
"Han... kita nyanyi lagu apa?" tanya Rangga.
"Tolong ... Budi Doremi."
"Kuylah..." Rangga mulai memetik dawai gitarnya.
...🎵Kurasa 'ku sedang jatuh cinta...
...Karena rasanya ini berbeda...
...Oh, apakah ini memang cinta?...
...Selalu berbeda saat menatapnya (hu)...
...Mengapa aku begini?...
...Hilang berani dekat denganmu...
...Ingin 'ku memilikimu...
...Tapi aku tak tahu...
...Bagaimana caranya?...
...Tolong katakan pada dirinya...
...Lagu ini kutuliskan untuknya...
...Namanya selalu kusebut dalam doa...
...Sampai aku mampu...
...Ucap maukah denganku...
...Kurasa 'ku sedang jatuh cinta...
...Karna rasanya ini berbeda...
...Oh, apakah ini memang cinta?...
...Selalu berbeda saat menatapnya hu...
...Di sini aku berdiri...
...Menanti waktu yang tepat...
...Hingga akhirnya kumampu...
...Katakan padamu oh...
...Tolong katakan pada dirinya...
...Lagu ini kutuliskan untuknya...
...Namanya selalu kusebut dalam doa...
...Sampai aku mampu...
...Ucap maukah…🎶...
"kalian berdua ini selalu saja kompak dari dulu." kata Robin.
"Kita berdua emang sehati kak... kita bisa bicara walau hanya dengan tatapan mata, iya kan Han?" terang Rangga.
Hana mengulum senyumannya dan menganggukkan kepalanya.
bersambung
please like comentnya
🤗🤗🤗😍😍😍
__ADS_1