Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki

Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki
Kejahilan Widi


__ADS_3

Malam ini adalah malam pertama Hana tak tidur di rumah mertuanya, dia nampak begitu canggung, Hana yang manja bingung harus berbuat apa di kediaman mertuanya.


Hana duduk di kursi yang ada balkonnya, merenung di sana, tak berapa lama kemudian datanglah Widi, dan duduk di samping Hana.



Di usapnya pipi Hana, "Kamu nglamunin apa?" tanya Widi dengan lembut.


Hana tersenyum dan menggelengkan kepalanya dan kembali menatap ke arah langit melihat bintang bintang.


Widi merangkul bahu Hana dan di sandarkannya di dadanya, "Kamu gak nyaman di sini?"


"Bukan begitu, aku hanya belum terbiasa."


"Kamu masih memikirkan rumahmu."


Hana terkekeh, "Saat ini kan aku berada di suasana yang berbeda, suasana di rumahku dan di rumahmu kan sangat berbeda, kebiasaan keluarga kita juga gak sama, jadi aku perlu waktu untuk menyesuaikan diri."


Widi mengecup pucuk kepala Hana, "Aku mengerti, udah malam Han! udaranya juga sangat dingin, ayo kita masuk.


Di gandengnya tangan Hana oleh Widi dan mengajaknya masuk ke kamar, "Istirahatlah besok pagi Beck, Sonya, Laras dan Daffin mau berkunjung ke rumah kita."


"Rumah kita?" tanya Hana mengernyitkan dahinya sembari duduk di tepi ranjang dan di ikuti oleh Widi di sampingnya.


"Beberapa meter dari sini aku sudah membangun rumah untuk kita, karena aku lebih sering di sana dari pada di rumah utama."


"Baiklah!"


Mereka kini telah membaringkan tubuh mereka di ranjang.



"Aku bahagia Han... kini di saat ku mau tidur, wajahmu yang aku pandangi, dan di saat bangun wajahmu yang mengawali hariku."


"Aku juga bahagia, Mas." Hana tersenyum.


Widi mengecup sekilas bibir Hana, "Good night."


Wajah Hana kini telah merona, dan Widi tersenyum kemudian kembali mengecup bibir Hana dan berlanjut dengan ciuman lembut, dan penuh hasrat.


Dan tanpa Hana sadari dengan setiap sentuhan Widi, kini dirinya sudah tak berbusana lagi dan begitu juga dengan Widi, hingga pada akhirnya mereka berdua saling menuntut lebih dan terelakkan lagi penyatuan mereka mereguk kenikmatan surgawi, bermandikan peluh dan kenikmatan yang tiada tara, dan menjadi candu buat Widi.


Kini sampailah jua keduanya di puncak pendakian, dan mencapai klimaks bersama.


Widi merebahkan tubuhnya di samping Hana setelah sebelumnya mengecup kening Hana.


Kini mereka telah terlelap dalam tidurnya dengan berpelukan di bawah selimut setelah mencapai nirwana bersama.


Pagi telah menjelang dan Widi yang terbangun terlebih dahulu, menatap istrinya yang saat ini ada dalam dekapannya.


Di usapnya pucuk kepala Hana dengan lembut. Hana yang terusik dengan tidurnya, kini mulai mengerjabkan kedua matanya.


"Mas... dah bangun?" Hana bangun dan menyandarkan kepalanya di headboard.


Di kecupnya kening Hana dan berpindah mengecup bibir Hana.


"Morning kiss." Widi menoel hidung Hana.


Hana pun wajahnya langsung bersemu merah bak kepiting rebus, sementara Widi hanya terkekeh melihat wajah Hana.

__ADS_1


"Aku mandi dulu." Widi mengusap rambut Hana.


Setelah Widi masuk ke kamar mandi, Hana beranjak dari tidurnya dan merapikan tempat tidurnya, dan menyiapkan baju ganti untuk Widi.


Tak berselang lama Widi keluar dari kamar mandi, hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya sehingga tampak dengan jelas roti sobeknya.


Hana yang melihat itupun menundukkan kepalanya.


"Kenapa menunduk?"


Hana tersipu malu kemudian dia langkahkan kakinya untuk ke kamar mandi, namun tangannya di tarik oleh Widi. hingga Hana pun jatuh di dada bidang Widi.


Di peluknya Hana erat, di tatapnya wajah istrinya dengan senyum manis kemudian di kecupnya bibir Hana.


Dalam seketika Hana mematung, dengan wajah yang sudah merona, sementara Widi terkekeh mendapati reaksi Hanatersebut.


Hana segera berlari ke kamar mandi dengan jantung yang berdetak kencang.


Setelah memakai baju, Widi turun ke bawah menemui keluarganya.


"Hana... mana Wid? kok kamu turun sendirian?" tanya bunda.


"Masih mandi, bun."


Tak berselang lama, turunlah Hana.


"Maaf bun, saya bangunnya kesiangan." ucap Hana dengan rasa sungkan.


"Gak papa kalian kan pengantin baru, jadi bunda juga maklum." bunda tersenyum lebar.


"Ayo kita sarapan bersama!" ajak Ayah.


Usai sarapan Widi meminta izin pada kedua orang tuanya untuk pergi ke rumah Widi yang letaknya tak jauh dari rumah utama.


"Kamu yakin Wid, mau tinggal di sana aja?"


"Yakin Yah... kita pengen mandiri."


"Kalau itu sudah menjadi keputusan kalian, Ayah sama Bunda hanya bisa merestui keputusan kalian berdua, berbahagialah!" Ayah menepuk pundak Widi sementara Bunda mengusap rambut Hana dengan lembut.


"Makasih Yah... Bun... kita berangkat dulu."


Hana dan Widi bergantian mencium punggung tangan Ayah dan Bunda, kemudian keduanya keluar rumah.


"Han... kita mau jalan saja ke sananya atau naik mobil? atau mau naik motor saja?"


"Naik motor saja!"



"Oke... ayo kita naik motor, apa kamu sudah siap?"


"Aku siap."


"Pegangan ya!"



Widi melajukan motornya menuju ke rumah yang sudah dia bangun dan dia persiapkan.

__ADS_1


Tak berselang lama sampai juga mereka di rumah yang akan mereka tempati nanti.


Widi membawa Hana melihat lihat sekeliling rumah, dan menunjukkan setiap tempat di rumah tersebut.


Terakhir dia menunjukkan kamar utama, kamar mereka berdua.


Saat Hana berdiri di balkon yang menghadap ke taman, Widi melingkarkan tangan kekarnya di perut Hana.


Di kecupnya pundak Hana, "Lagi lihatin apa? perasaan kamu seneng banget ngelamun di balkon?"


"Aku hanya menikmati keindahan taman itu mas."


Widi melepaskan pelukannya dan kemudian menggandeng tangan Hana.


"Ayo kita ke taman itu!"


"Mas!"


"Ikutlah!"


Hana mengikuti kemana langkah Widi membawanya, hingga mereka tiba di taman mawar yang luas, yang di buat Widi untuk di persembahkan pada Hana.


"Aku selama ini sudah merawatnya, berharap suatu saat aku bisa memberikannya padamu, dan kini... semua menjadi kenyataan aku kini bisa memberikan semua ini untukmu."


"Indah... tapi kenapa gak pernah cerita sama aku, kalau kamu menyiapkan semua ini untukku?" gerutu Hana.


"Apa kamu tahu apa yang kamu lakukan padaku? apakah selama ini kamu pernah memandangku? hmmm ... apa kamu mengerti rasa cintaku yang besar untukmu? apakah kamu bisa melihat kerinduan di mataku? bisa gak kamu jawab?" ucap Widi dengan ketus dan mendekati Hana yang bergeming kaget dengan sikap Widi yang berubah.



Dalam hati Widi ingin tertawa bisa ngejahili istrinya, hingga mata Hana berkaca kaca.


"Maaf!" ucap Hana dengan suara gemetar.


Kenapa mas Widi berubah jadi dingin seperti ini, di mana sikap hangatnya? aap salahku hingga dia bisa berubah seperti ini.


"Han...!" Widi mengguncang bahu Hana, dan secara otomatis membuat Hana terbangun dari lamunannya.


Hana menatap Widi dengan tatapan bingung, dan Widi membalas tatapan Hana dengan bersedekap di hadapan Hana dan menautkan kedua alisnya dan menggerakkan kepalanya sebagai isyarat bertanya kenapa?


Air mata Hana tanpa dia sadari telah menetes dari kedua pelupuk matanya.


"Hei... hei... kenapa menangis?" Widi memeluk Hana dan mengecup pucuk kepala Hana dengan lembut.


"Maaf! hingga membuatmu menangis, ku mohon berhentilah menangis sayang! maaf aku tadi hanya bercanda." ucap Widi dengan lembut.


Sementara Hana merasa kesal dengan Widi, dan memukul dada Widi.


"Aduh... maaf sayang, aku tadi hanya menggodamu, kenapa kamu malah menangis? maaf membuatmu terluka." Widi terkekeh dan Hana kemudian memeluk Widi dengan erat.


Bersambung,


Happy Reading my Readers


Jangan lupa


Like


Comment, Fav

__ADS_1


Saran dan Kritiknya.


__ADS_2