Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki

Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki
Datang Ke Rumah Mertua


__ADS_3

Pagi hari ini mentari bersinar begitu cerahnya, dan saat Widi dan Hana turun, terlihat keluarga besar Hana dan Widi sedang berkumpul di ruang tengah dengan menggelar karpet dan mempersiapkan sarapan di sana.


Hana merasa sangat hangat, melihat keluarga besar kedua belah pihak berkumpul bersama saling bercanda dan terlihat akrab.


Meskipun sarapan pagi dengan cara lesehan, tak membuat mereka semua tak menikmati. Justru mereka sangat bergembira, karena jarang jarang bisa makan seperti itu.


Setelah acara sarapan berakhir, satu persatu keluarga berpamitan untuk pulang. kedua orang tua Hana pun juga berpamitan untuk pulang.


Sementara Widi masih tetap di rumah Hana, dan mereka akan pulang ke rumah orang tua Widi sore harinya.


Selama masih di rumah Hana, mereka berdua menghabiskan waktu bersama kedua orang tua Hana, karena setelah mereka menempati rumah sendiri, secara otomatis mereka akan jarang bertemu.


"Jadilah istri yang baik buat Widi, dan menantu yang baik buat kedua orang tua Widi, hormati mereka seperti kamu menghormati papa dan mama." papa memeluk Hana.


"Han... mama minta maaf nanti gak bisa antar kamu ke rumah mertuamu, papa yang akan antar kamu, mama harus antar nenek kamu buat chek up ke Dokter, kemarin dah janji sama Dokter dan jadwalnya barengan sama kepergian kamu, kamu gak papa kan? kalau mama gak ikut?"


"Gak papa ma!"


"Wid... papa minta sama kamu, tolong bimbing Hana, kamu ngerti sendiri kan gimana dia, manja." ucap papa terkekeh.


"Saya ngerti pah... Widi akan selalu dampingi Hana."


Papa tersenyum, "Papa lega mendengarnya, apa kalian sudah bersiap?"


"Belum pa! itu bisa di atur nanti lagian di rumah kita juga sudah ada semua perlengkapan Hana, kita tinggal masuk aja, jadi gak banyak barang yang Hana bawa, biarkan semua di sini buat nanti kalau pas Hana sama mas Widi kemari kita gak perlu bawa apa apa lagi."


"Ya udah papa sama mama yang harus bersiap karena besok pagi kita akan antar nenek sama bibimu pulang."


"Nenek sama bibi langsung pulang pah?"


"Iya... kamu kan ngerti sendiri nenekmu gak bisa ninggalin semua kenangan kakekmu."


"Iya... nenek memang so sweet banget." Hana terkekeh.


"Papa juga berharap hubungan kalian juga seperti itu, menua bersama dan membesarkan anak anak dan cucu kalian, dan hanya maut yang bisa memisahkan kalian."


"InsyaAllah pa..." ujar Widi dan Hana beraamaan.


Mereka berkelakar hingga tanpa terasa siang pun menjelang, mereka pun makan siang bersama.


Setelah makan siang mereka memutuskan untuk isrirahat terlebih dahulu sebelum pergi ke rumah orang tua Widi.


Di dalam kamar mereka berdua merebahkan tubuh mereka ke ranjang.



"Istirahatlah! sini aku peluk!" ucap Widi dan Hana pun menyandarkan kepalanya di dada Widi.



Mereka pun kini telah terlelap sembari berpelukan dengan rasa bahagia, terhanyut dalam mimpi nan indah mereka.


tok


tok

__ADS_1


tok


suara ketokan pintu mengagetkan tidur mereka berdua.



"Ya bentar! ucap Widi.


Dia pun beranjak dari tidurnya dan membukakan pintu kamar, tampak mama berdiri di depan pintu kamar setelah pintu di buka oleh Widi.


"Sudah sore! Ayo lekaslah bersiap kalian akan pulang!" perintah mama.


"Baiklah ma, kami akan bersiap."


"Mas... aku dulu yang mandi!" Hana berlari menuju ke kamar mandi dan langsung menguncinya. Widi hanya terkekeh melihat tingkah istrinya.


Widi pun menyiapkan keperluan yang akan mereka bawa ke dalam koper, setelah selesai dia merapikan tempat tidur.


Tak berselang lama keluarlah Hana dari kamar mandi, "Mas mandilah dulu! biar Hana yang lanjutin."


Widi menghentikan aktifitasnya dan melangkah menuju kamar mandi dan melakukan ritual mandi.


Hana pun sudah menyelesaikan semuanya kemudian dia duduk di depan meja riasnya, di keringkannya rambutnya dengan hairdryer.


Ceklek


Widi keluar dari kamar mandi, di dekatinya istrinya dan mengambil alih hairdryer yang di pegang Hana.


"Mas... biar Hana aja."


Hana akhirnya menurut dan tersenyum simpul.


"Selesai..." Widi mengecup pucuk kepala Hana.


"Bersiaplah! biar kopernya aku bawa turun, aku tunggu di bawah!"


Hana menganggukkan kepalanya dan Widi turun ke bawah dengan membawa koper yang akan mereka bawa.


Sesampainya di bawah Widi di tegur oleh mama yang menanyakan keberadaan Hana.


"Masih dandan ma... Widi masukin koper ke mobil dulu mah..." pamit Widi.


Dan mama menganggukkan kepalanya. sementara Widi melangkah keluar menuju ke mobilnya.


Saat di luar di lihatnya Robin yang sedang memanasi mobil yang akan mereka bawa ke rumah Widi.


"Bin..." Sapa Widi.


"Hai... Wid... panasi dulu mobilmu."


Widi memasukkan kopernya di bagasi kemudian dia memanaskan mobilnya.


"Wid... gue titip Hana ya? jaga dia dan bahagiakan dia." pinta Robin.


"Gue janji, Bin. Akan selalu jaga dan bahagiain Hana." Widi menepuk bahu Robin.

__ADS_1


Robin tersenyum lebar, "Gue lega, mendengarnya..."


"Makasih ya Bin! sejak kecil kamu telah menjaga dan merawat Hana dengan baik, membuat dia tumbuh menjadi perempuan yang mengagumkan berkat dirimu, Jonathan dan Rangga."


"Dia selalu menjadi kebanggaanku sejak kecil, entah mengapa aku selalu terpaut dengannya sejak kecil, gak pernah tega meninggalkan dia sendiri." Robin menjeda ucapannya dan menghela nafas berlahan.


"Seorang anak kecil yang dulu sering ku gendong kini waktu seakan berjalan begitu cepatnya tanpa ku sadari saat ini dia telah menikah dan menemukan kebahagiaannya."


"Aku mengerti, rasa sayangmu buat Hana bukan kaleng kaleng, kamu sangat menyayanginya."


Robin terkekeh menatap sekilas Widi dan menatap ke depan dengan pikiran yang kusam.



"Bin... aku tahu kamu pasti merasa sangat kehilangan Hana, tapi... kamu akan selalu menjadi kakak terhebatnya."


"Aku tahu!"


"Panggilkan semuanya Wid! ayo kita berangkat sekarang!"


"Baiklah!" Widi masuk ke dalam rumah memanggil Hana dan papa serta kedua orang tua Robin.


"Pah... kita berangkat sekarang!?" ujar Widi setelah sampai di dalam rumah dan berhadapan dengan papa.


"Oke mari kita berangkat!" ajak Papa kepada kedua orang tua Robin dan Hana.


Kini mobil mereka pun meninggalkan rumah Hana dan melaju menuju ke rumah Widi.


Setelah beberapa waktu menembus jalanan kini mereka telah sampai di rumah Widi dan di sambut oleh keluarga Widi.


Mereka di persilahkan masuk dan setelah berada di dalam, mereka berkelakar bersama.


Hingga tiba waktunya makan malam bersama, mereka menikmati acara jamuan makan malam dengan khidmat.


Usai makan malam mereka berkumpul di ruang tengah, dan Papa memasrahkan Hana pada kedua orang tua Widi, dan setelah memasrahkan Hana kini Papa, Robin dan kedua orang tua Robin berpamitan untuk pulang.



Hana yang akan di tinggalpulang oleh papanya, berhambur memeluk papanya.



"Papa... aku pasti akan sangat merindukan papa."


"Jangan menangis kayak anak kecil begini, kamu sekarang adalah seorang istri dan menantu, jangan cengeng lagi, papa akan selalu ada buat kamu seperti biasaya sayang."


Kemudian papa mencium kening Hana, dan mengusap pipi Hana.


"Papa pulang! jaga diri kamu baik baik."


Hana menganggukkan kepalanya sembari terisak, dan papa mengembangkan senyumnya mengacak rambut Hana, sebelum dirinya masuk ke dalam mobil, untuk pulang.


Nak... papa bahagia kamu menemukan orang yang tepat dan keluarga yang tepat untukmu do'a papo akan selalu bersamamu.


Bersambung

__ADS_1


Happy reading my Readers....


__ADS_2