Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki

Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki
Kekesalan Hana


__ADS_3

"Hana!" panggil Robin.


Dan....


Hana yang merasa di panggil pun menoleh ke arah suara si pemanggil.


"Kak... Robin..." teriak Hana.


Dia berlari megabaikan si odah dan berhambur memeluk Robin.


"Kakak... kenapa gak bilang bilang kalau mau ke sini?" Hana bergelayut di lengan Robin.


Robin terkekeh dan mengacak rambut Hana, "Kejutan" ucap Robin lirih.


Widi hanya melihat interaksi keduanya dengan rasa nano nano.


Bin...Bin... saat ini kamu buat Hana tersenyum dan tertawa, nanti kau buat dia menangis. Pusing kepala aku.


Ketiganya kini telah berada di ruang keluarga, dan Hana memberondong banyak pertanyaan pada Robin.


Sementara Widi masih tetap setia dengan rasa nano nanonya. Dan Widi menghela nafasnya kasar.



Di pencetnya pangkal hidungnya, kenapa sih Han... bila menyangkut dirimu, aku blank kek gini. Aku selalu tak berkutik dengan dirimu. Hhhhhh.... ternyata kamu adalah kelemahan aku Han...


"Mas Widi... beneran mau kerjasama ma kak Robin?" tanya Hana mengagetkan Widi.


Tak ada kata kata yang keluar dari mulut Widi, dirinya hanya tersenyum lebar sembari menganggukkan kepalanya.


"Hana seneng dengernya."


"Wid... besok lo ada waktu gak?" tanya Robin.


"Kenapa?"


"Gue pengen ajak kalian ke suatu tempat."


"Di mana?"


"Ngikut aja!"


"Han... kamu bisa?" tanya Widi.


"Bisa, aku kan masih cuti dan juga gak ada kerjaaaaannn." ujar Hana.


"Baiklah! gue ngikut!"


"Kakak nginep di sini ya?!" pinta Hana.


"Emang boleh sama suami kamu?" tanya Robin.


Hana menatap Widi dengan penuh permohonan.


Widi tertawa, sejak kapan lo jadi seformal ini Bin? nginep aja di sini! tapi ingat gak boleh lama lama! ganggu waktu gue sama istri gue."


Hana melotot ke arah Widi, namun Robin hanya terkekeh.


"Iya ... janji gak lama lama paling cuma sebulan." ledek Robin.


"Whatt!!! jangan kek gitu Bin! emang kamu gak mau ponakan apa?"


Robin tertawa, "Bikinin gue ponakan yang banyak ya! jangan kayak kita bertiga, anak tunggal, gak seru."

__ADS_1


"Aaashhiiiappp!"


Di tengah canda dan tawa mereka bertiga harus terhenti karena mendengar ucapan Odah.


"Mas... mbak... makan siangnya udah siap!" ucap si Odah memberitahu.


"Baiklah kami akan ke sana, Dah!" ujar Widi.


"Kita makan dulu!" ajak Widi.


"Ayo! aku juga udah lapar." ujar Robin.


Ketiganya beranjak dari duduk mereka dan menuju ke meja makan.


Mereka asyik makan sembari berkelakar, sesekali Widi menyuapi Hana, karena mengabaikan makannya dan asyik berceloteh dengan Robin.


Saat selesai makan mereka bertiga memutuskan untuk berada di teras belakang, melanjutkan obrolan mereka, dengan di temani camilan.


Hana terlihat sangat bahagia, dengan kedatangan Robin. Widi pun turut senang melihat Hana sudah bisa tertawa lepas kembali setelah kemarin seharian menangisi kepergian Rangga.



Aku senang Han... kamu bisa tertawa lepas bersama Robin, ku harap setelah kepergian Robin nanti, bisa merubah dirimu, Han. Kamu tak terlalu tergantung sama Robin dan Rangga.


Saat sore hari Hana mengajak Robin dan Widi menonton Sunset.


Ketiganya akhirnya pergi ke bukit dekat perkebunan, dan melihat sunset datang.



Hana terlihat begitu bahagia bisa bercanda dan berkelakar dengan Widi dan Robin.


Robin yang melihat kebahagiaan Hana dan Widi, menyunggingkan senyumnya.



Berbahagialah selalu, Han. Aku akan turut bahagia jika kamu juga bahagia. Walau aku gak bisa memilikimu sebagai pendampingku, namun aku bisa memilikimu sebagai adikku. Makasih untuk semuanya Han... biarlah aku kubur semua rasa cintaku untukmu.


"Kak... sini!" Hana berteriak memanggil Robin.


Robin mengangkat tangan kanannya, kemudian dia melangkah mendekati Hana dan Widi.


"Sini...!" Hana menarik tangan Robin saat Robin sudah sampai di dekatnya.


Kemudian Hana berdiri di tengah tengah antara Robin dan Widi.


Hana memeluk pinggang keduanya, dan menyandarkan kepalanya di bahu Widi.


"Sunset dah mau datang! aku gak akan melupakan semua ini, aku bahagia kakak dan mas Widi bisa menemaniku melihat sunset." celoteh Hana.


Robin mengacak rambut Hana, "Kakak akan selalu memberikan yang terbaik untukmu, Han!"


Kini mereka bertiga pun dalam keheningan berkutat dengan pikiran mereka masing masing hingga siluet senja menampilkan keindahannya,


"Indah!" ucap Hana mengagumi keelokan senja di saat itu.


Widi menoleh kepada Hana, "Jika kamu suka menatap senja, aku akan menemanimu setiap hari." ujar Widi.


"Makasih mas Widi!"


"*Senja memang indah, Han. Namun tak seindah dirimu, dirimu memang seperti senja, begitu indah, begitu menarik dan begitu mengagumkan untuk aku lihat dan aku kenang. Tapi senja tak mampu aku miliki, sama seperti dirimu yang tak mampu ku miliki dan aku hanya bisa mengagumimu dalam hati.


Namun aku bahagia, melihatmu bahagia, hatiku turut bahagia. Tetaplah seperti inIi, selalu tersenyum dan tertawa lepas." batin Robin*.

__ADS_1


Widi sesekali melirik ke arah Hana, Han... aku bahagia melihatmu tertawa lepas seperti ini. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, Ku berharap aku bisa menyembuhkan semua lukamu. Berbahagialah istriku, aku mencintaimu.


Setelah senja berlalu kini, mereka bertiga kembali pulang ke rumah, dan sesampainya di rumah, mereka masuk ke kamar mereka dan bebersih diri.


Saat jam makan malam, si odah memanggil mereka bertiga, karena makan malam sudah siap.


Ketiganya kini telah ada di meja makan, dan Hana seperti biasa semenjak menikah dengan Widi selalu mengambilkan makan untuk Widi terlebih dahulu, sebelum dia mengambil makan untuk dirinya sendiri.


"Kakak... habis ini mau ke tempatnya Ayah sama Bundanya Widi, jadi kalian gak usah nungguin aku!" cicit Robin.


"Hana ikut, boleh?" tanya Hana menatap Widi dan Robin bergantian.



Robin mengerucutkan bibirnya, "Sayangnya gak boleh!" ucap Robin.


Sementara Widi hanya diam tetap menikmati makannya.


"Kenapa?" tanya Hana dengan lesu.


"Gak kenapa napa, kalian kan pengantin baru, jadi nikmatilah kebersamaan kalian berdua dan jangan khawatirkan kakak!"


"Mas Widi?" rengek Hana.


"Han... kakakmu bener lagi mendingan kita ngadon dari pada harus ngintilin mlulu Kakakmu," Widi menaikkan sala satu alisnya.


"unfaedah." bisik Widi di telinga Hana.


"Masss...!" keluh Hana dan membuat Widi dan Robin terkekeh.


Hana menghela nafasnya kasar, "Aku masih kangen sama kakak."


"Kakak kan besok pagi bisa ke sini lagi!?" Robin mencoba membujuk Hana.


"Jadi beneran nih? Hana gak boleh ikut?" Hana mengeluh.


"Iya!" jawab Robin dan Widi bersamaan.


Hana tersenyum miring,"Kompak amat ngelarang Hana." ujar Hana dengan kesal.


"Lanjutin makanmu! atau mau ku suapin?" cicit Widi.


"Suapin!" ucap Hana dengan mata berkaca kaca.


Widi menghela nafasnya, "Sayang... Aaa..." Widi menyuapkan satu suapan ke mulut Hana.


"Udah jangan mewek!" Widi mengusap rambut Hana.


"Ayo habisin makanmu!" pinta Widi.


"Kakak dah selesai, jadi kakak mau langsung ke sana, ntar keburu kemalaman, Kakak pergi ya?!" Robin mengusap surai Hana dan menepuk bahu Widi.


Robin berlalu meninggalkan meja makan dan keluar menuju ke rumah Ayah dan Bunda Widi.


Sementara Widi masih menyuapi makan Hana dengan telatennya dan terkadang menjahili Hana.


Usai makannmereka memutuskan untuk kembali ke kamar mereka.


Widi berkutat dengan laptopnya sementara Hana menonton drakor kesukaannya.


Bersambung


Mohon maaf telat UP ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™karena terlalu sibuk, sehingga belum bisa konsen buat nulis.

__ADS_1


Happy reading my Readers....


__ADS_2