
🙏🙏🙏Meski wajah tak mampu berjumpa, tangan tak bisa saling menjabat, semoga coretan kata ini mampu menjadi jembatan di hari penuh kemenangan. 😍
Sebening embun di pagi hari, seputih kapas tanpa biji, seperti itu suasana hati. Berharap selamanya seperti ini dengan pribadi positif sepanjang hari. 😍
Author ucapkan,Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal aidin walfaizin." 🙏🙏🙏
💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕
Sang mentari tlah menampakkan senyumnya dan menawarkan keindahannya. Hana dan Rangga mempersiapkan sarapan pagi ini.
Setelah sarapan bersama, mereka membongkar tenda, dan melanjutkan perjalanan kembali, menuju Pos Tanjakan Seruni.
Jalur paling kejam yang pertama yang akan mereka lalui adalah Tanjakan Seruni. Seruni merupakan nama dari sebuah bunga indah namun sayangnya sekarang ini mungkin voyagers tidak bisa menemukannya di tempat ini. Di awal, jalur ini masih terlihat seperti jalur biasa, namun tunggu sampai voyagers bertemu dengan jalur yang mulai menyempit yang mungkin hanya cukup untuk 1-2 orang pendaki jalan berdampingan.
Tingkat kemiringan pendakian mulai berubah drastis. Kekuatan tangan dan kaki serta serta kecekatan voyagers sekalian benar-benar diuji di tempat ini. Untuk mencapai garis akhir dari pos ini, voyagers harus memanjat dengan menggunakan akar yang terlihat seperti seutas tali guna memudahkan teman-teman sekalian.
Setelah melewati Pos Tanjakan Seruni, tiba waktunya menuju Pos Bapa Tere.
Untuk menuju ke Pos iniTanjakan curam akan mendampingi voyagers di jalur ini. Tak jarang voyagers harus menggunakan bantuan tali untuk melewati pos ini. Tidak usah terlalu khawatir karena tali-tali tersebut sudah terikat dari atas ke bawah, voyagers hanya perlu menyiapkan fisik dan menggunakan teknik yang tepat agar tidak terjatuh dan cedera. Tali tersebut sudah dipersiapkan oleh pendaki yang sudah terlebih dahulu “bermain” ke tempat ini.
Setelah bisa melewati Pos Bapa Tere, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Pos Batu Lingga, Sebuah pos dengan tanah datar dan terdapat sebuah batu besar di sana. Kala menapakkan kaki di tempat ini, langit sudah mulai dapat terlihat dengan jelas, tidak terlalu ditutupi oleh pohon-pohon besar dengan daun yang lebat.
Menurut cerita penduduk setempat, dulunya tempat ini digunakan oleh Sunan Gunung Jati untuk menyendiri. Tempat ini juga dipercaya warga sekitar dijaga oleh 2 mahluk halus dan para pendaki seringkali diminta untuk tidak berkata sembarangan atau berbuat sesuatu yang bodoh di tempat ini.
Mulai dari pos ini, perjalanan sudah tidak terlalu berat. Jalan tidak lagi dipenuhi oleh akar-akar besar. Waktu tempuh dari Bapa Tere ke Batu Lingga kurang lebih 1 jam. Di ketinggian 2200 MDPL ini voyagers bisa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Sangga Buana yang akan memakan waktu kurang lebih 2 jam.
"Kita istirahat dulu di sini sebentar !pulihkan tenaga kalian dulu sebelum kita lanjut perjalanan lagi !" perintah David selaku ketua teams.
Mereka meletakkan tas mereka dan duduk menselonjorkan kaki.
"Masih kuat Han?" tanya David.
"Masih... " jawab Hana sembari tersenyum manis.
"Dah berapa kali daki Han?"
"Lumayan sering sih... cuma di tahun ini, ini baru yang pertama."
"Ngerasa berat nggak?"
"Nggak lah... gue ngerasa enjoy dan menikmati semua ini." antusias Hana.
Rangga mengacak rambut Hana dan tersenyum manis "Good girl."
Setelah beberapa saat istirahat mereka melanjutkan perjalan menuju ke Pos Sangga Buana.
Sangga Buana dibagi menjadi 2 yaitu Sangga Buana Atas dan Sangga Buana Bawah.
Tanjakan cukup tinggi menjadi penghubung antara Sangga Buana Atas dan Sangga Buana Bawah. Kalau di Sangga Buana Bawah, lantainya itu masih berupa tanah, maka lain halnya dengan Sangga Buana Atas yang sudah mulai berbatu.
Dan mereka pu melanjutkan kembali perjalanan menuju ke Pos Pengasinan.
Pangasinan merupakan batas vegetasi, pepohonan sudah mulai hilang di tempat ini. Lautan awan akan terlihat kala voyagers sudah melihat papan bertuliskan “Pangasinan”. Dari Sangga Buana ke Pangasinan maka voyagers akan melewati tanjakan berbatu. Batunya tidak kecil namun berukuran besar-besar, berbeda dengan jalan berbatu yang voyagers lewati ketika masih menuju Leuweung Datar.
Tempat ini sangat Eksotis karena di tempat ini voyagers bisa menjumpai bunga abadi atau yang biasa disebut Edelweiss.
"Bunga Abadi." ucap Hana memegang Edelweiss di sana.
Rangga mengulum senyumnya, " Gue senang lihat lo bahagia seperti ini, Han."
"Gue gak bisa bohong Ngga, di sini gue merasa lepas." Hana beranjak dari jongkoknya.
__ADS_1
Perjalanan mulai di lanjutkan kembali untuk menuju ke puncak Ciremai.
Tempat yang paling diidam-idamkan para pendaki apalagi kalau bukan bagian puncak. Tidak lagi ada pepohonan yang menghalangi, kali ini voyagers hanya akan beratapkan langit yang indah. Meskipun hanya membutuhkan waktu 30 menit dari Pangasinan, namun jalan menuju puncak bisa dibilang tidak mudah.
Jalan akan sedikit curam dan licin, voyagers harus berhati-hati karena tidak banyak pegangan di sini. Beberapa jalur di sini ada yang longsor, voyagers harus menggunakan tali yang lagi-lagi sudah disediakan oleh pendaki sebelumnya guna memuluskan pendakian ke puncak karena jalur yang dulunya pernah ada kini sudah tidak bisa dilewati.
"Yuhuuuuu.... kita sampaiiiii..." teriak mereka semua.
"Tidak ada kata-kata yang cukup di kamus yang bisa menggambarkan betapa bahagianya aku." Hana merentangkan ke dua tangannya.
"Dunia bisa menjadi tempat yang sulit dan membingungkan, tetapi aku senang kamu di sini bersamaku untuk menjalaninya." Rangga mengusap pucuk kepala Hana dengan lembut.
🎖🎖🎖🎖🎖
Setelah turun dari pendakian, mereka masih berencana mampir ke obyek wisata 1000 bintang.
Hana meminta Rangga untuk memotret dirinya, lalu mengirimkan hasil fotonya pada Anwar dan Robin.
triing.... tring... Hana mendapat telfon dari Anwar.
📲 "Beautiful... kapan pulang?"
📱 "Mungkin 3 hari lagi, kenapa?"
📲 "Kangen."
📱Hana terkekeh, I miss you too."
📲 "Cepet pulang ! bete... gak ada kamu."
📱 "Gimana kerjaan kamu? lancar?"
📲 "Alhamdulillah, semua lancar..."
📲 "Ok... have a nice day, Love you and take care! "
📱"Ok... thanks, love you too."
Hana mengakiri panggilannya dan membantu yang lainnya untuk, mendirikan tenda.
Siang pun berganti dengan sore hari dan malam pun telah menjelang, Mereka berkumpul.
"Ngga... ambil gitar kita nyanyi !" perintah Hana.
Rangga mengulum senyumnya dan beranjak mengambil gitarnya.
"Mau nyanyi apa?" ucap Rangga setelah kembali dari mengambil gitar.
"Maha Dewinya Padi." celetuk David.
"Gimana Han?" tanya Rangga
"Ok..."
...🎵Hamparan langit maha sempurna...
...Bertahta bintang-bintang angkasa...
...Namun satu bintang yang berpijar...
...Teruntai turun menyapaku...
Hana menyanyikan bait pertamanya.
__ADS_1
...Ada tutur kata terucap...
...Ada damai yang kurasakan...
...Bila sinarnya sentuh wajahku...
...Kepedihanku pun terhapuskan...
Rangga menyanyikan bait ke duanya.
...Alam raya pun semua tersenyum...
...Menunduk dan memuja hadirnya...
...Terpukau aku menatap wajahnya...
...Aku merasa mengenal dia...
David menyanyikan bait ke tiganya.
...Tapi ada entah di mana...
...Hanya hatiku mampu menjawabnya...
...Mahadewi resapkan nilainya...
...Pencarianku pun usai sudah...
Teo menyanyikan bait ke empatnya.
...Ada tutur kata terucap...
...Ada damai yang kurasakan...
...Bila sinarnya sentuh wajahku...
...Kepedihanku pun terhapuskan...
Ilham menyanyikan bait ke limanya.
...Ada tutur kata terucap...
...Ada damai yang kurasakan...
...Bila sinarnya sentuh wajahku...
...Pencarianku pun usai sudah...
Andra menyanyikan bait ke enamnya, dan bait terakhir di nyanyikan bersama sama.
...Mahadewi resapkan nilainya...
...Mahadewi tercipta untukku...
...Mahadewi resapkan nilainya...
...Mahadewi tercipta untukku...
...Mahadewi resapkan nilainya...
...Mahadewi tercipta untukku...
...Mahadewi resapkan nilainya...
...Mahadewi tercipta untukku🎶...
Bersambung
Minta like
__ADS_1
Commentnya ya!!!🤗🤗🤗😍😍😍