
Kak Robin menepuk pundak Jonathan pelan, "Hapuslah air matamu! jangan sampai Hana melihatnya!"
"Kak... aku sudah semakin kesulitan menggerakkan anggota tubuhku, ku mohon jangan biarkan Hana tahu semua ini!" Kak Robin menganggukkan kepalanya.
Tok... tok... tok
Kak Robin membuka pintu kamar dan masuklah mama dan papa Jonathan.
"Kenapa di kunci pintunya?" tanya mama Jonathan mendekati Jonathan dan mencium keningnya, dan di ikuti oleh papa Jonathan.
papa Jonathan lalu melangkah menuju sofa dan duduk bersama kak Robin sementara mama duduk di samping Jonathan.
"Tadi ada hal yang penting yang sedang Nathan bicarakan sama kak Robin, Nathan hanya tak ingin terganggu saat sedang bicara sama kak Robin, ma...!?"
"Di mana Hana dan Steve? kok mereka gak ada?"
"Jonathan suruh beli bubur ayam di tempat langganan kami"
Tak berselang lama aku dan kak Steve sudah sampai di ruangan Jonathan. Aku menghampiri papa dan mama Jonthan dan menyalami mereka, lalu aku ke meja mengeluarkan bubur yang ku beli tadi.
"Jo... ini bubur yang kamu inginkan! mau di suapin mama atau aku yang suapin?"
Mama Jonathan tersenyum dan berjalan ke arahku menepuk bahuku pelan, "Kamu aja yang suapin Jonathan... iya kan nak" ucap mama Jonathan mengerlingkan matanya pada Jonathan dan terkekeh.
Jonathan tersenyum menganggukkan kepala, "Sini Han...suapin aku!"
Akupun mulai menyuapi Jonathan perlahan, dan Jonathan menghabiskan buburnya, lalu aku mengambilkan minum dan membersihkan mulut Jonathan dengan tisu.
"Aku senang Jo... kamu bisa menghabiskan bubur ini!" Jonathan tersenyum.
Kami berbincang bersama dan bercanda bersama, hingga menjelang malam.
"Pa... tolong bantu Jonathan tidur, Jonathan capek!"
Papa Jonathan langsung menekan tombol yang ada di ujung ranjang.
"makasih pa...!?" papa Jonthan mengusap pucuk kepala Jonathan dengan lembut dan mencium keningnya. "Istirahatlah nak...!"
Jonathan mulai memejamkan matanya, lalu mama sama papa Jonathan berpamitan pulang, dan malam ininyang jaga Jonathan kak Steve dan kak Robin.
"Han... kamu mau pulang sekarang pa nanti?"
"Nanti aja kak... tunggu Jonathan."
__ADS_1
Dan kami berbincang tentang keadaan sekolah dan sesekali aku meledek, mereka yang sampai saat ini masih jomblo.
"Masak sih kak, di kampus gak ada cewek cantik..? bukannya banyak?"
"Banyak sih... tapi gak ada yang klik di hati, bukannya gak ada yang suka, malah banyak yang suka sama kita ya kan... Steve?"
"Bener Han... bukannya sombong tapi tiap hari kita dapat hadiah atau makanan, tapi gak pernah kita ambil dan selalu gue kasih orang lain."
"Emang yang kalian cari sebenarnya apaan sih?"
"Kita suka sama cewek yang bisa terima kita apa adanya dan menyukai kita tanpa syarat apapun."
...xxxxxxxxxxxxx...
Sementara di rumah Jonathan, mama Jonathan duduk di kamar Jonathan memandangi seisi kamar Jonathan dan menangis.
Papa Jonathan masuk, lalu memeluk mama Jonathan, "Kita harus ikhlas ma... mungkin takdir Jonathan harus seperti ini! jangan perlihatkan kesedihanmu di hadapan Jonathan Ma! biar dia tenang dan bahagia saat meninggalkan kita nanti."
Mama Jonathan semakin terisak di dalam pelukan papa Jonathan.
"Ayo... kita makan malam dulu ma..!?"
Papa Jonathan menggandeng tangan mama Jonathan keluar dari kamar dan menuju meja makan. Mereka makan dalam keheningan, tanpa ada yang bersuara, hanya suara dentingan piring dan sendok.
Di Rumah Sakit, Jonathan sudah bangun dari istirahatnya.
"Makanlah Jo...!" Hana menyuapi makan Jonathan.
Setelah selesai makan, aku berpamitan pulang sama Jonathan.
"Jo... aku pulang dulu... kamu istirahat ya? besok aku kesini lagi."
"Hati hati Han... kamu juga harus istirahat jaga kesehatanmu!?" Aku mengangguk dan mencium kening Jonathan, dan Jonathan tersenyum, dan berkata lirih "I Love You my sweet heart.
Aku memegang ke dua pipi Jonathan dengan ke dua tanganku, " I Love You too"
Aku dan kak Robin melangkah keluar dati kamar Jonathan, untuk pulang. Hatiku merasa sangat gembira tak seperti dua minggu yang lalu.
"Senyum terus neng...?" tegur kak Robin.
"Hana bahagia kak... bisa melihat Jonathan sudah bangun dari koma, aku berharap dia juga bisa sembuh." akupun menundukkan kepalaku, terasa ada yang sesak di dadaku lagi.
"Do'akan aja yang terbaik buat Jonathan! pasrahkan semua sama Allah! karena hanya Dia yang lebih tahu apa yang terbaik untuk Jonathan."
__ADS_1
"Menurut kakak, Hana harus gimana?"
Tangan kiri kak Robin meraih tangan kananku, dan menggenggamnya sementara tangan kanannya masih tetap dalam kemudi. " Ikhlasin semuanya! biar apapun nanti yang akan terjadi di mudahkan olehNya, Jika memang Jonathan harus pergi dengan ke ikhlasanmu, dia akan pergi dengan damai."
"Apa Hana sanggup? Sedangkan saat ini hati Hana sakit, dan dada Hana terasa sesak seperti ini,...?"
Kak Robin mengusap kapalaku lembut, "Kamu bisa! kakak yakin... kamu gadis yang kuat, dan kakak akan terus ngedampingin kamu."
Aku menganggukkan kepala, dan mobil kak Robin sudah memasuki halaman rumahku.
"Jangan terlalu di pikirkan, cobalah untuk istirahat dengan tenang!" pesan kak Robin.
Aku tersenyum tipis lalu turun dari mobil dan melangkah masuk ke rumah. Setelah aku masuk rumah, seperti biasa kak Robin balu menyalakan mobilnya dan melaju meninggalkan halaman rumahku.
Sementara di Rumah Sakit, Jonathan merasa sesak nafas, dan kak Steve langsung memencet tombol untuk memanggil dokter.
Tak berselang lama Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan dan langsung memeriksa Jonathan.
Dokter memasangkan selang oksigen pada Jonathan agar Jonathan bisa bernafas lebih baik. Setelah Jonathan tertidur, Dokter dan perawat beranjak meninggalkan ruangan.
Kak Robin berlari menuju ruangan Jonathan, setelah tadi Kak Steve mengabari kalau Jonathan sesak nafas.
"Gimana Steve... apa kata dokter?" tanya kak Robin dengan nafas tak beraturan.
Kak Steve mengedikkan bahunya, "Kita hanya di minta untuk berserah dan berdo'a."
"Elo dah hubungi bonyoknya?"
"Udah mungkin bentar lagi mereka datang."
Tak berselang lama datanglah kedua orang tua Jonathan.
"Gimana Jonathan, Bin...?" tanya mama Jonathan.
"Tadi sempat sesak nafas, tapi sekarang dia istirahat tante, setelah di periksa dokter tadi."
Mama Jonathan menangis dan langsung di peluk sama Papa Jonathan, dan di bimbing keluar ruangan agar tak mengganggu istirahat Jonathan.
Di luar ruangan, Papa Jonathan mencoba menenangkan mama.Jonathan dan memberi pengertian agar dirinya kuat menghadapi semua ini, biar Jonathan tak merasa keberatan dengan semua ini.
"Papa tahu... mama begitu berat melepas Jonathan, karena papa juga merasakan hal yang sama, tapi kita harus bisa tetap tersenyum, untuk meringankan beban Jonathan."
"Mama tahu pa... tapi, mamaa.... " mama Jonathan tak melanjutkan kata katanya dan kembali menangis, lalu papa Jonathan memeluknya.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu ma... jangan sampai Jonathan melihat mama seperti ini!"