
Seminggu sudah Robin berada di rumah Rea dan Widi, dan saat ini Robin berencana hendak pulang, dan dia sebelumnya gak membicarakan kepulangannya ke malang sama Hana.
Karena Robin ingin menghabiskan waktu yang hanya sebentar ini dengan Hana dan membuat kesan manis dengan Hana.
Sementara Widi yang mengetahui akan kepergian Robin pun menghargai keputusan Robin dan tak mengatakannya kepada Hana.
Di pagi itu, seusai sarapan, Hana, Widi dan Robin berada di taman belakang, Robin pun menguatkan hati untuk berbicara dengan Hana perihal kepulangannya. Dan dia berharap tak melukai perasaan Hana.
"Han... kakak pengen ngomong sama kamu!" ucap Robin dengan suara bergetar.
"Sejak kapan kakak seformil ini sama aku?" ujar Hana.
Robin menundukkan kepalanya dan dia tersenyum getir, sementara Robin memberikan ruang buat Hana dan Robin dengan duduk di pinggir kolam memberikan makan pada ikan ikannya.
Robin mendongakkan kepalanya, di tatapnya Hana dengan sendu.
"Kakak kenapa?" tanya Hana penasaran.
Robin menghela nafasnya dengan kasar dan Hana semakin penasaran dengan sikap Robin.
"Kakak, please tell me!" pinta Hana.
"Kakak.. (Robin menjeda ucapannya) kakak mau pulang Han, mungkin dalam waktu lama kita gak bisa bertemu lagi." ujar Robin akhirnya setelah mengumpulkan keberaniannya.
"Maksudnya?" tanya Hana semakin penasaran dan bingung dengan ucapan Robin.
"Kakak mau pulang kemana?" tanya Hana kembali.
"Kakak mau pulang ke Malang dan kakak, g akan kembali, kakak akan meneruskan usaha Ayah, (mata Hana sudah berembun) usaha kakak yang di sini sudah kakak serahkan sama suamimu buat ngehandlenya."
"Kakak serius?" ucap Hana yang pada akhirnya air mata yang sedari tadi dia tahan akhirnya luruh juga.
"Han... ku mohon usah kau menangis." Robin menghapus air mata yang kini telah membanjiri pipi Hana.
"Kenapa kakak juga meninggalkan aku seperti Rangga?" Hana mulai terisak.
"Kakak gak ninggalin kamu, Han!"
"Buktinya kakak tetap ninggalin Hana."
"Kakak hanya pulang ke Malang, Han! kalau kakak ada waktu kakak akan berkunjung ke sini dan kalau kamu ada waktu kamu bisa ke Malang!?"
"Suamimu juga udah janji akan mengantarmu ke Malang kapan pun kamu mau, jadi kakak mohon izinni kakak pulang ya?!"
"Kakak janji Hana boleh ke sana kapan pun Hana mau?"
"Iya kakak, janji dan kakak akan selalu menjadi kakak kamu, tapi memang kakak sudah harus menggantikan posisi Ayah yang sudah tua."
Hana memeluk Robin dengan erat, "Kakak jangan pernah lupain Hana! aku sangat menyayangi kakak."
__ADS_1
"Kamu janji ya sama kakak, kalau ada apa apa denganmu kasih tau kakak, dan jadilah kamu istri yang baik, Widi sangat menyanyangimu, maka dari itu kamu harus bisa menghargai dia, menyayangi dia dan menghormati dia! kamu bisa janji kan sama kakak?!"
"Iya kak... Hana janji."
Robin menangkup kedua pipi Hana, "Hapus air matamu, kakak gak bisa melihat kamu menangis seperti ini, hati kakak akan terluka, tersenyumlah!" suruh Robin.
Hana menyunggingkan senyumnya meskipun air matanya masih meleleh di pipinya.
Di hapusnya air mata Hana dengan kedua ibu jari Robin.
"Berhentilah menangis kakak mohon."
Hana terkekeh, dan kembali memeluk Robin, "Hana pasti akan sangat merindukan kakak."
"Kakak juga akan sangat merindukanmu, Han!" Robin mengusap surai Hana.
"Mulai sekarang belajarlah untuk lebih dewasa, dan jangan terlalu manja manja lagi, kamu sudah punya suami dan mungkin bentar lagi kamu akan punya baby, berubahlah, hmmm satu lagi... jangan terlalu cengeng lagi." Robin terkekeh menepuk pucuk kepala Hana.
"Kakak di sana jaga kesehatan ya? salam buat Ayah dan Bunda, Hana kapan kapan main ke sana."
"Good girl! (Robin kembali menepuk lucuk kepala Hana) akan kakak sampaikan dan akan kakak tunggu kamu main ke Malang."
"Kakak senang kamu sudah lebih sedikit dewasa, adikku kini sudah bukan anak kecil yang manja dan cengeng lagi."
Hana menyandarkan kepalanya di bahu Robin, "Jika saja kakak tak menjagaku selama ini, mungkin aku juga gak akan seperti ini, kak, (Hana menjeda ucapannya sesaat) makasihbya kak... selama ini selalu menjadi kakak terbaik untukku."
"Makasih kak!"
Keduanya terdiam dan bergelut dengan pikiran mereka masing masing.
Dan kedatangan Widi, menghentikan lamunan mereka berdua.
"Apakah kalian sudah selesai bicaranya?" tanya Widi dengan lembut.
Hana berdiri dari duduknya, dan bergelayut di lengan Widi, "Mas... aku sama kakak udah selesai bicaranya, maafin Hana ya mas, karena telah membuat mas Widi kuatir." Hana mengusap usap lengan Widi.
"Mas... ngerti kok, bagi mas yang penting kamu bahagia itu sudah cukup buat mas, karena dengan melihat kamu bersedih hati mas juga sakit."
Hana menyunggingkan senyumnya, "Maaf!"
Robin kemudian berdiri di hadapan Hana dan Widi, "Aku bahagia melihat kalian bahagia, Wid... aku titip Hana ya?! buat dia selalu bahagia dan ajari dia, bimbing dia agar lebih dewasa lagi."
"Pasti Bin! aku akan selalu menjaganya dan membahagiakannya!" Hana dan Widi saling bertatapan dan mengembangkan senyumnya.
Robin yang menyaksikan interaksi Hana dan Widi pun akhirnya tersenuum dengan bahagia walau perih di hatinya karena harus merelakan Hana lepas dari hatinya.
Cintaku untukmu mungkin tak akan pernah berubah Han. Namamu akan selalu tersemat di sudut hatiku yang terdalam. Dengan kau bahagia akupun turut bahagia. Biarlah ku kubur semua rasaku untukmu demi kebahagiaanmu dan ketenanganmu.
Aku sudah cukup bahagia, kamu tak menjauh dariku, dan tetap dekat denganku walau hanya sebatas seorang kakak, aku sudah senang Han.
__ADS_1
"Kapan kakak pulang?" tanya Hana membuyarkan lamunan Robin.
"Nanti sore kakak ke rumah mama dulu, pamit sama mama dan papa, menghabiskan waktu bersama mereka dulu, dan mungkin lusa kakak ke Malangnya."
"Salam buat mama dan papa, Bin! kita belum bisa ke sana karena masih banyak yang harus aku urus di sini." ujar Widi.
"It's ok! mama dan papa juga pasti ngerti dengan kesibukanmu." jawab Robin.
Setelah perbincangan itu, mereka memutuskan untuk melanjutkan kembali obrolan mereka di ruang tengah.
"Wid... besok kamu tolong datang ke cafe ya!? untuk membicarakan pengambil alihan hak cafe." pinta Robin.
"Baiklah besok saya akan ke sana tapi agak siangan, soalnya pagi jadwalku padat." jawab Widi.
"Tak apa... aku tunggu besok di cafe."
"Ok!"
"Aku besok boleh ikut ke cafe ya mas?!" pinta Hana.
"Baiklah!" Widi mengusap surai Hana.
Setelah beberapa waktu bercanda dan berkelakar, Robin pun berpamitan untuk pulang.
"Kayaknya dah waktunya aku harus pergi!" ujar Robin sembari melihat jam tangannya.
"Baiklah!" jawab Widi.
Ketiganya kini berdiri dan Robin mengbil tas ransel yang kemarin di bawanya.
"Kakak pulang Han!" ujar Robin menyentuh sisi kepala Hana.
"Kakak Hati hati di jalan!" jawab Hana.
"Wid... gue pulang!" Robin menepuk bahu Widi.
"Hati hati ya?!"
Robin keluar rumah dan di ikuti Hana dan Widi di belakangnya, hingga sampai di dekat mobil Robin.
Robin masuk ke dalam mobilnya setelah sebelumnya melambaikan tanganya pad Hana dan Widi.
Di nyalakannya mobil Robin, dan sebelum berlalu meninggalkan halaman rumah Widi, Robin membunyikan klasonnya dan berlahan melajukan mobilnya meninggaLkan halaman rumah Widi, sementara Hana dan Widi melambaikan tangannya, hingga mobil Widi tak terlihat lagi.
Bersambung
Thanks my Readers for yours support.
Happy Reading 😍😍😍🤗🤗🤗
__ADS_1