Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki

Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki
Kedatangan Robin


__ADS_3

Dan di dalam mobil tangis Rangga yang sedari tadi dia tahan akhirnya pecah, Rangga menangis sesenggukan.


Rangga menghentikan laju mobilnya, setelah bisa keluar dari perkebunan keluarga Widi.



Han... maaf... tapi hati gue benar benar sakit, karena harus berpisah jauh dari lo. hati gue sakit harus melupakan lo. sedangkan senyum lo, tawa lo selalu menari dalam benakku. Memang tak mudah bagi gue melupakan lo, tak mudah bagi gue melupakan segalanya tentang kita, Namun gue harus pergi demi Widi, demi persahabatan kita dan demi Adelia. Semoga kamu bahagia bersama Widi, semoga kalian berdua bisa membina rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah,


Gue juga akan meneruskan hidup gue bersama Adelia. Selamat tinggal my princess, selamat tinggal cintaku, selamat tinggal pemilik hati gue, kini lo akan menempati sisi hatiku yang terindah.


Rangga menghela nafas kasar dan kembali menyalakan mobilnya, untuk menuju ke bandara.



Sementara itu Hana masih bergeming menatap kepergian Rangga,


Widi merangkul Hana dari belakang, "Sayang... kita masuk ya?" pinta Widi.


"Mas... Rangga!"


"Ssssttt... Rangga akan baik baik saja, kamu hanya perlu mendo'akan dia saja! okey!" titah Widi.



"Mas... gak marah kan?" tanya Hana.


"Kenapa aku harus marah, hmmm..." Widi menatap lekat Hana dan menaikkan sedikit dagunya.


Hana tersenyum, "Mas Widi memang the best." cicit Hana.


Kemudian Widi merangkul bahu Hana dan mengajak Hana untuk masuk ke dalam rumah.


Keduanya pun langsung masuk ke dalam kamar dan Widi mengajak Hana untuk menonton film komedi.



Keduanya begitu terlihat bahagia menonton film tersebut. Memang ini adalah tujuan Widi agar Hana melupakan kesedihannya karena harus berpisah dari Rangga.


Usai menonton film, akhirnya keduanya pun tertidur pulas saling berpelukan dan hanya berpelukan tak ada aktifitas lain, hingga pagi hari menjelang.


Keduanya kini sudah mempunyai aktifitas rutin setiap paginya dan kini mereka tengah melakukan aktifitas mereka.


Usai mandi, Hana dan Widi kini sedang sarapan bersama, dan sesekali sarapan mereka di selingi dengan bercanda.


Setelah sarapan Widi akan langsung bekerja, mengecek perkebunan dengan menggunakan motornya.



"Han... yakin gak mau ikut?" tanya Widi.


"Nggak mas aku mau benahin taman belakang aja sama si odah!"


"Ya udah kalau gitu, mas berangkat ya?!"


"Hati hati."


Kemudian Widi melajukan motornya, meninggalkan rumahnya dan menuju ke perkebunan.



Sesampainya di perkebunan, Widi menemui mandor perkebunan dan membicarakan pesanan yang akan di antar ke supermarket.


Tiba tiba salah satu pegawainya mengatakan bila Widi sedang ada tamu di kantornya.


"Baiklah saya akan ke sana." jawab Widi.


Widi pun mengendarai motornya menuju ke kantornya.

__ADS_1


Sesampainya di kantor Widi sangat terkejut, ternyata yang datang adalah Robin.



"Robin!"


Robin tersenyum saat melihat Widi mendekatinya.


"Hai!" sapa Robin.


"Kenapa gak langsung ke rumah aja?" tanya Widi sembari mengulurkan tangannya.


"Gak enak kalau langsung ke rumah."


"Kayak siapa aja, Bin? lo kan kakaknya Hana, jadi lo itu juga kakak ipar gue."


Robin terkekeh, sebenarnya gue ke sini gak hanya main, Wid. Gue pengen membicarakan tentang bisnis."


"Bisnis? bisnis apa?" tanya Widi keheranan.



"Bengkel sama kafe gue. Gue pengen lo sama Hana yang urus."


"Kenapa?"


"Gue akan pulang ke Malang nerusin bisnis ayah! jadi gue minta usaha gue yang di sini, lo sama Hana yang urus."


Widi menghela nafasnya kasar, dan terdiam merenungi apa nanti yang akan terjadi sama Hana, jika mengetahui semua ini.



"Wid...!" panggil Robin, namun Widi tetap bergeming.


"Wid...!" panggil Robin untuk kedua kalinya. namun lagi lagi Widi tetap bergeming.


Widi yang mendapatkan tepukan di bahu merasa sangat kaget, "Aahh... ehh... anu... ada apa?" jawab Widi terbata bata.


Robin menatap Widi lekat dan menaikkan dagunya sedikit, seolah bertanya ada apa?


Widi menggaruk kepalanya yang tak gatal dan terkekeh sendiri, menyadari kekonyolannya.


"Maaf... gue ngelamun!" cicit Widi.


"Apa yang lo lamunin?" tanya Robin.



"Hana!" Robin mengernyitkan dahinya.


"Hana? kenapa dengan Hana?" tanya Robin penasaran dan penuh selidik.


"Gue gak masalah jika harus ngehandle usaha lo, tapi yang gue pikirin gimana dengan Hana."


"Ya... Hana kenapaaa?" Robin mulai kesal dengan jawaban Widi yang berbelit.


"Kemarin habis mewek seharian karena Rangga mau ke Amerika, dan sekarang tahu kalau lo mau pulang ke Malang! Gue gak tahu harus gimana."


"Gue yang akan ngomong langsung ke Hana, dia pasti ngerti."


"Iya... dia akan ngerti tapi! dia pasti akan mewek lagi kek kemarin."


Robin tertawa, "Ya itu sih derita lo!"


"Kampret lo... bukannya bantuin cari solusi, malah ngeledek.


Robin masih dalam mode tertawa, "Lo kan tahu Hana emang orangnya kek gitu, sekali dia menyanyangi orang akan dia sayangi seumur hidupnya, dia gak akan pernah lepas dari itu! jadiiii.... lo biasain aja!" Robin mengerlingkan matanya, dan Widi menatapnya dengan kesal.

__ADS_1


"Sekarang Hana di mana?" tanya Robin


"Lagi berkebun sama si odah di belakang rumah."


"Gue ke sana ya!?"


"Terserah..." jawab Widi dengan lesu, hingga membuat Robin kembali tertawa.


"Ketawain aja terus, pusing gue."


"Yang di cintai Hana itu lo, yang di pilih Hana juga lo. ya kuat kuatin ngadepin kemanjaan Hana."


"By the way... lo kan kenal Hana sejak dia kecil!"


"Hmmm...trus?"


"Jadi lo kan tahu gimana caranya biar dia gak mewek! kasih tahu gue dong!"


Robin tertawa terbahak bahak, dan itu membuat Widi sangatlah kesal.


"Terus... terus... ayo tertawa terus!" Widi sangatlah dongkol.


"Gue jamin dia pasti akan mewek, tapi tenang aja, dian meweknya gak akan lama, percaya sama gue." jari telunjuk Robin menunjuk ke dadanya.


Widi menghela nafasnya kasar, "Solusinya tetap sama, dia tetep akan mewek! ya udah sana lo pergi temuin Hana dan buatlah dia menangis sekencang kencangnya." Widi mengusir Robin.


Namun Robin hanya terkekeh, "Lo gak ikut? masak harus gue sendiri gitu?"


"Trus?" tanya Widi dengan jengah.


"Ikutlah! dia membutuhkan lo saat nanti dia menangis."


"Hati gue nyeri, Bin!? gue gak pernah tega ngeliat dia nangis, hati gue ikut terluka."


"Co cuit banget sih lo." Robin tersenyum miring.


"Terus aja lo ngeledek gue."


Robin terkekeh, "Bukannya meledek, tapi sekarang, Widi yang gue kenal suka angkuh dan jual mahal sama cewek cewek, kini bisa sebucin ini?"


"Bucin ma istri sendiri juga... apa salaaahnyaaaa?"


"Nggak salah! tapi aneh! Gue bahagia dan sangat senang, Hana akhirnya memilihmu untuk menjadi pendampingnya, dan gue harap lo gak pernah menyakiti dia."


"Gue janji akan selalu membahagiakan Hana, walaungue tahu itu tak mudah, namun aku akan terus berusaha untuk selalu mendampingi dia dalam suka maupun duka."


"Thanks ya Wid! Selama ini yang biasa jagain Hana dari kecil itu gue sama almarhum Nathan. Dan sejak masuk SMP, dia mengenal Rangga yang juga selalu ada di sisi Hana, menemani Hana dalam suka dan duka, aku yang sebagai kakaknya, terkadang tak tahu apa keinginan Hana, tapi Rangga selalu tahu apa yang dia inginkan. selama enam tahun mereka selalu satu kelas, hingga saat Nathan akan meninggal, dia menitipkan Hana pada Rangga, karena Nathan juga tahu tentang keduanya. Jadi jika Hana bersedih dan gak bisa terima saat Rangga mau ke Amerika itu gue bisa mengerti. Kalau dengan gue karena selama ini dia selalu ingin punya seorang kakak dan dia bertemu denganku, dan menganggapku seolah aku ini kakak kandungnya, bukan kakak angkatnya, dan percayalah, kesedihan Hana kali ini, tak akan sesedih dia berpisah dengan Rangga, gue kan cuma ke Malang, kalian bisa ke sana kapanpun kalian mau."


"Thanks ya Wid! Widi memeluk Rangga.


"Kalau gitu ayo aku antar lo ketemu sama Hana."


Keduanya kini menuju ke rumah Widi, dengan Widi mengendarai motornya, sementara Robin membawa mobilnya.


Sesampainya di rumah keduanya langsung menuju ke halaman belakang rumah Widi, saat berada di teras belakang rumah, Widi dan Rangga menghentikan langkahnya.


Mereka melihat Hana yang sedang memangkas daun daun yang tidak berguna.


"Dia dari kecil suka merawat tanaman, taman di rumah Hana pun dia yang mendesainnya sedari kecil." celoteh Robin.


"Hana!" panggil Robin.


Dan....


Bersambung


Happy reading my Readers

__ADS_1


__ADS_2