
Anwar memutuskan setelah Hana, selesai ngobrol dengan Putri, untuk mengajak Hana pulang terlebih dahulu, tanpa menunggu yang lainnya.
Mobil Anwar telah melaju berlahan meninggalkan halaman Villa, keluarga dan para sahabat mereka.
Di dalam mobil Hana hanya diam membisu dan menatap keluar jendela dengan pandangan kosong.
flashback on
Hana mengambil nafas dalam dan membuangnya berlahan, melepas pelukan Anwar dan berjalan ke arah Putri.
"Hai... Put." Hana menyapa Putri dan mengulurkan tangannya, "Kenalin gue Hana." Putri menyambut uluran tangan Hana dengan tersenyum manis.
"Maaf ya...gue tadi gak sengaja menyela moment kalian." ucap Hana datar sembari tangannya memberi isyarat Putri untuk duduk di sampingnya.
"Han... ku mohon kamu jangan salah paham, maaf... tadi gue yang meminta pada Anwar agar di ijinkan untuk bisa memeluknya, karena setelah ini, mungkin aku gak punya kesempatan lagi untuk sekedar dekat dengannya." ucap Putri dengan berat dan menundukkan kepalanya.
"Apa kamu sangat mencintai Anwar?" tanya Hana dengan memutar badannya menatap Putri dengan intens, dan hanya di jawab anggukan kepala oleh Putri.
"Sebesar apa rasa cintamu?" tanya Hana sekali lagi masih tetap menatap tajam Putri.
Putri akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap Hana sendu, "Han... ku mohon percayalah aku gak akan mengganggu hubungan kalian."
"Sebesar apa rasa cintamu pada tunanganku?" tanya Hana lagi dengan sedikit tekanan.
Putri tercekat, dan mulai menitikkan air matanya, menundukkan kepalanya tak mampu dia menatap pandangan menusuk Hana.
"Kenapa diam? apa begitu sulit mengucapkan bila loe sangat sangat mencintai Anwar?" tanya Hana ketus.
"Diammu gue anggap memang cintamu sangat besar untuknya."
"Maaf... maaafiinn gue Han...!"ucap Putri sembari terisak.
"Tapi... Anwar hanya mencintai dirimu Han... dari dulu hanya dirimu yang ada di hatinya, walaupun kami dekat selama di Ausy, gue tak mampu mengubah rasa cinta Anwar terhadapmu." Putri memberi penjelasan.
"Apa lo yakin, kalau setelah ini lo benar benar telah melepas Anwar?"
Putri bergeming, tanpa sepatah katapun hingga beberapa waktu, "Gue akan coba." jawab Putri pada akhirnya.
"Akan coba?" Hana manggut manggut.
"Berarti belum ada kepastian lo ngikhlasin hubungan kami?"
"Gue udah janji sama Anwar untuk tak mengusik kehidupan dia lagi, dan menjauhinya, apa itu tak cukup?" tanya Putri.
"Apa kamu mau berjanji padaku untuk tak main belakang ?"
__ADS_1
"Gue janji Han..."
Hana beranjak dari duduknya, "Tinggalkan kami, maaf... bila aku egois." Hana melangkahkan kakinya meninggalkan Putri yang diam mematung menatap punggung Hana yang berlalu meninggalkannya sendiri di sana.
Flashback end
"Han..."
"Hana...." panggil Anwar sedikit mengeraskan suaranya, namun Hana bergeming menatap keluar jendela.
Anwar menggenggam tangan kiri Hana dan mengecupnya, membuat Hana terjengit kaget.
"Apa.yang kamu lamunin? hingga beberapa kali ku panggil kamu tak mendengarnya?"
"Gak ada !" jawab Hana singkat dan kembali menatap keluar jendela.
Anwar menghela nafasnya, "Masih memikirkan tentang Putri?" tanya Anwar dengan lembut.
Hana menoleh menatap Anwar yang fokus menyetir, "Bolehkah aku nanya?"
"Apapun pertanyaanmu akan aku jawab."
"Apa benar gak ada sedikitpun rasa cinta di hatimu untuk Putri?"
Anwar melambatkan laju mobilnya dan berusaha menepikan mobilnya, dan memberhentikan mobilnya.
"Kenapa bertanya seperti itu?" Anwar mengernyitkan dahinya.
"Dia sangat mencintaimu, war. Dan yang aku tangkap dari cerita dia, kalian di Ausy bukan hanya sekedar teman biasa."
Deg
"Apa yang dia ceritakan padamu?" muka Anwar memerah menahan amarah.
Hana mengambil nafas dalam.dan membuangnya kasar, "War... hatiku mengatakan bila hubungan di antara kalian begitu dalam, jika hanya teman biasa, dia gak akan seterluka itu."
Sekali lagi Hana menghela nafasnya, "Jika memang hanya teman biasa, seperti katamu, kenapa kamu begitu takut jika dia berteman dengan kita? kenapa kamu takut dia mendekati kita? dan kamu gak mau berhubungan lagi dengannya? apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?"
Deg
"Han... kamu meragukan aku?" tanya Anwar dengan gugup.
Hana mengulum senyum tipis, "Kenapa tak menjawab pertanyaanku dan mengalihkan pertanyaanku?"
"Gak ada apapun antara aku dan Putri, dan ku mohon jangan pernah ungkit lagi Putri di saat kamu denganku !" bentak Anwar pada Hana.
__ADS_1
Reaksi Anwar membuat Hana kaget, Anwar yang selama ini lembut dengannya, kini menampakkan sisi lain dirinya.
"Jalankan mobilnya, kita pulang! aku pengen segera sampai rumah." ucap Hana dengan jengah.
"Han... maaf... maafin aku yang sudah membentakmu." ujar Anwar penuh penyesalan.
"Jalanin mobilnya sekaranga juga atau aku turun di sini?" ucap Hana ketus.
Mobil kembali di nyalakan Anwar setelah dia memasang seatbeltnya, melaju menembus jalanan menurun, kembali pulang ke rumah.
Empat jam telah berlalu, mobil Anwar pun telah memasuki halaman rumah Hana.
Begitu mobil berhenti Hana langsung keluar dari mobil, meninggalkan Anwar yang masih berusaha membuka seatbeltnya.
Hana segera masuk rumah dan berlari menuju kamarnya tanpa mengindahkan keberadaan Anwar.
Sementara Anwar menurunkan barang barang Hana dari bagasi mobilnya dan membawa masuk ke dalam rumah, dan di sambut oleh bi Inem, "Biar saya bawa masuk mas Anwar."
Anwar memberikan barang barang Hana pada bi Inem dan dia pun berpamitan pada bi Inem untuk pulang setelah memberikan semua barang barang Hana.
"Bi... saya langsung pulang aja, tolong nanti sampein ke Hana."
"Baik... mas Anwar nanti pesan mas Anwar akan saya sampekan."
Anwar berbalik keluar rumah dan masuk ke mobilnya, menyalakannya dan melajukan berlahan meninggalkan halaman rumah Hana.
Han... maaf aku gak bisa jujur sama kamu, bila memang ada sesuatu di antara aku dan Putri, yang selalu ku sesali hingga kini, aku gak ingin kamu tahu tentang hubungan masa laluku dengan Putri yang memang bukan hanya sekedar teman biasa, aku tak ingin kamu membenciku Han... akubsudah lama menunghu untuk bisa bersamamu, aku gak ingin kehilanganmu. maaf...
Anwar memijit pelipisnya, masih tetap fokus mengemudikan mobilnya menuju rumahnya.
Sementara di kamar Hana, dia sudah membenamkan wajahnya di bantal, dia menangis karena merasa sangat kesal dengan kejadian tadi.
Tanpa Hana sadari telah terlelap menuju alam bawah sadarnya, karena kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh yang menguras emosi.
Hingga pagi menjelang Hana belum bangun, diapun tak menyadari kepulangan ke dua orang tuanya dan Robin, dia pun melewatkan makan malamnya, hingga sura ketokan pintu membangunkannya.
tok
tok
tok
"Masuk !" jawab Hana masih dalam posisi memejamkan matanya.
Mama yang mendapati Hana yang belum bangun juga hanya geleng geleng kepala, melangkah mendekati ranjang Hana dan membangunkan Hana dengan lembut, namun Hana hanya mengeliatkan tubuhnya.
__ADS_1
bersambung