Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki

Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki
Akhir Cerita


__ADS_3

Sandiwarakah selama ini?


Setelah sekian lama kita telah bersama


Inikah akhir cerita cinta


Yang selalu kita banggakan di depan mereka?


Tak perlu bersikap manis untuk dapat


Menghibur hatiku yang terluka


Karena tak mudah bisa mengobati hati


Yang hancur berkeping karena cinta


Yang berkhianat


Kini harus aku lewati


Sepi hariku tanpa dirimu lagi


Biarkan kini kuberdiri


Melawan waktuku 'tuk melupakanmu


Walau pedih hati namun aku bertahan


Aku hanyalah manusia biasa


Yang inginkan cinta sempurna


Bukan cinta yang selalu membuatku terluka


Namun kau hempaskan semua


Rasa yang tercipta di kalbuku


Tanpa pernah kau melihat


Betapa ku mencoba


Jadi yang terbaik


Untuk dirimu


Kau bilang cinta padaku


Tapi kau tak setia


Kau senantiasa berdusta padaku


Apa itu cinta?


Mengapa harus kau bilang cinta


bila akhirnya hanya luka?


Ini jelas bukan cinta


Semua kisah pasti akan ada akhir


Yang harus dilalui


Begitu juga akhir dari kisah ini


Yakinku indah untuk ku tapaki


Ku percaya ini yang terbaik untukku


Semesta mengirim dirimu untukku


Bukan tanpa maksud apapun


Semua kan indah untukku


Kita adalah rasa yang tepat


Di waktu yang salah

__ADS_1


"Han!" Robin menepuk bahu Hana, dan Hana mendongakkan kepalanya.


"Kakak!" Hana menutup diarynya.


"Apa yang kau tulis?"


"Ih... kakak kepo deh." Robin mengacak rambut Hana.


"Han... kakak mau jemput mama sama papa di Bandara, lo mau ikut atau mau di sini dulu?"


"Kakak aja yang jemput dan bawa mama sama papa pulang, Hana langsung pulang ke rumah aja, biar di antar sama Rangga."


"Baiklah kalo itu maumu, kakak berangkat dulu! take care!" ujar Robin mengusap rambut Hana.


Robin pergi meninggalkan Apartemen Rangga, setelah sebelumnya berbincang sebentar dengan Rangga.


"Han... dah siap?" tanya Rangga.


"Ayo aku dah siap." Hana tersenyum manis.


"Gue suka lihat lo happy seperti ini." Rangga mengacak rambut Hana.


Mereka berdua kini telah meninggalkan Apartemen Rangga, pergi menuju rumah Hana.


Namun betapa terkejutnya Hana, saat sampai di rumah, ternyata Anwar sudah berada di sana.


"Maaf... mama yang memintaku datang ke sini." ucap Anwar dengan kikuk.


"Baguslah!" saut Hana dengan tersenyum tipis.


"Ngga, ayo kita ke halaman belakang sambil nunggu bonyok pulang." Hana berlalu dari hadapan Anwar dan Rangga tanpa mengindahkan keduanya.


"Han!!" Hana mengabaikan panggilan Anwar.


"War, maaf gue nyusul Hana dulu." ucap Rangga dengan rasa canggung.


Anwar menganggukkan kepalannya berlahan.


Han... apa gak ada lagi maaf untukku? batin Anwar.


Tak berapa lama mobil Robin memasuki halaman rumah Hana.


"Di mana Hana?" tanya Mama


"Ada di halaman belakang, ma!" jawab Anwar.


Kedua orang tua Hana pun masuk ke dalam rumah dan menuju ke halaman belakang di mana Hana dan Rangga berada.


"Hanaaa..." panggil Papa.


"Papa... Mama..." Hana berhambur memeluk kedua orang tuanya.


"Pergi aja terus! gak usah perhatiin Hana." Hana mengerucutkan bibirnya.


"Ngambek dia, Ngga." ledek mama.


"Lagi PMS dia nya, ma." jawab asal Rangga.


Mereka pun tertawa bersama namun tidak dengan Anwar yang hanya bisa tersenyum kecut.


"Ya dah kalian lanjutin aja ngobrolnya, mama sama papa istirahat dulu, capek." ujar mama.


"Iya ma... pa..." jawab mereka berempat bersamaan, membuat kedua orang tua Hana terkekeh.


Selepas kedua orang tua Hana berlalu, mereka berempat kembali duduk di gazebo.


Namun mereka semua terjebak dalam suasana yang penuh dengan kecanggungan, dan tiba tiba Rangga memecah keheningan.


"Bete gue, kalian pada sakit gigi semua."


"Enak aja siapa juga yang sakit gigi?" tanya Hana dengan ketus.


"Ngomong kek, ketawa kek, ini pada manyun semua." gerutu Rangga.


"Ngga... ikut gue!" ajak Robin.


Rangga mengekor Robin di belakangnya, meninggalkan Hana dan Anwar berdua.


"Han..."

__ADS_1


"Hmmm..."


"Gimana denganmu? tiga hari kita gak ketemu, kamu baik baik aja kan?" tanya Anwar dengan kikuk.


"Fine... thanks, I feel better than before." ujar Hana santai.


"Aku... akuuu mau minta maaf atas semua kesalahanku, Han!"


"Udah gue maafiiinnn... tapi... aku juga minta maaf, bila aku gak bisa nglanjutin pertunangan kita."


Deg


"Han... gimana dengan perasaan orang tua kita bila kita berpisah?"


"Kenapa? apa lo mikir perasaan mereka saat lo lakuin semua itu?" Jutek Hana.


"Maaf... Han... tapi ku mohon beri aku kesempatan kedua, aku janji gak akan mengulangi lagi kesalahanku."


Hana menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Nggak!!! bukankah pernah ku bilang, aku akan memaafkan semua kesalahan kamu sebesar apapun itu, tapi tidak dengan pengkhianatan."


"Tapi Han..."


"Nggak ada tapi tapian, keputusan gue udah final, gue gak bisa nglanjutin semuanya, maaf.!" Hana memotong ucapan Anwar.


"Gimana caranya ngomong ke mereka?"


Hana menghela nafasnya, "Gue yang akan bicara dengan mereka."


"Han aku masih mencin..."


"Stop!!! jangan berucap manis denganku, karena itu akan membuka lukaku." bentak Hana dengan suara bergetar dan sedikit serak karena menahan tangisnya.


"Maaf!" Anwar menitikkan air matanya.


"Air matamu gak akan bisa merubah keputusanku, tolong jujurlah pada Ayah dan Bunda tentang apa yang telah terjadi di antara kita, cobalah untuk bertanggung jawab!"


"Mereka pasti akan sangat marah, Han."


"Lusa aku akan mengajak mama sama papa berkunjung ke rumahmu, untuk membahas semua ini."


"Han..." Anwar semakin terisak.


"Maaf... War, aku gak tahu apa yang kau pikirkan saat itu terjadi... kamu tahu War, apa kamu ingat! saat aku pulang dari Malang, kita berdua sama sama bohong, aku bohong belum pulang, tapi kamu bohong katanya pulang kerja dan lagi ada di kamar mandi saat aku ingin vicol kamu yang ternyata sedang kencan dengan Putri."


"Bagaimana kamu tahu?"


"Kita ada di restoran yang sama waktu itu, dan kami mengikutimu, hingga sampai ke jalan Cempaka satu, dan kamu menginap di rumah itu hingga subuh hari, maaf aku punya videonya saat kamu keluar dari rumah itu, betapa kamu bahagia bersamanya, lalu untuk apa hubungan kita di lanjutkaan? bila kamu sudah merasa nyaman dan bahagia dengan orang lain? dan aku memilih melepasmu."


Anwar begitu sangat frustasi, "Jadi sudah sejak saat itu kamu, mengetahuinya?"


Hana menganggukkan kepalanya, "Aku sebenarnya menunggu kejujuranmu, dengan masih tetap menerimamu di sisi aku tanpa menghakimimu, namun bukannya kejujuran darimu yang gue dapatkan, namun hal menjijikkan yang kau perlihatkan padaku." Hana sempat tercekat saat mengatakan kata kata terakhirnya.


"Aku sendiri kini merasa sangat hancur Han, tak tahu harus apa lagi?"


"Nikahi Putri!"


"Tapi... aku tidak mencintai dia."


"Mudah ya bagimu, mengatakan tidak mencintainya, tapi kalian melangkah terlalu jauh, hingga berkali kali harus membohongiku, aku sudah berulang kali melihat kemesraan kalian, War... sebelum aku melihat kejadian waktu itu."


"Han..." Anwar menatap sendu Hana.


"Kita masih pelajar War, lalu kenapa kau lakukan semua itu? apa motifmu? namun apapun itu, aku akan terus berjuang untuk tetap melangkahkan kakiku walaupun tanpa dirimu lagi di sisiku, aku yakin akan dapat menemukan kebahagiaanku yang jelas bukan dengan dirimu."


"Aku mengerti Han, maaf... aku pulang."


Hana menganggukkan kepalanya dengan senyum yang di paksakan.


Dengan langkah lesu dan lunglai Anwar meninggalkan Hana di gazebo, dengan hati yang hancur, karena kebkdohannya sendiri.


Bersambung


Mohon


Like


Comment


Saran dan Kritiknya

__ADS_1


🙏🙏🤗🤗😍😍


__ADS_2