
Setelah Acara perayaan ulang tahun Hana di warung bakso langganan mereka, dan mereka memutuskan untuk kembali pulang.
Sesampainya di rumah Hana di kejutkan dengan pesta penyambutan, di sana sudah ada keluarga Anwar, Orang tua Hana dan Orang tua Robin.
"Bunda..!" Hana berlari memeluk Bunda Rina, sementara yang lainnya menyalami para orang tua.
Hana menangis dalam pelukan bunda Rina, "Hana kangen bangat sama bunda ! kenapa lama gak pernah ke sini?"
Bunda Rina mengusap lembut kepala Hana, "Bunda juga kangen nak, tapi ayah belum ada waktu buat ke sini, tapi di ulang tahunmu kami ingin merayakan bersamamu, untuk itu kita semua ada di sini untukmu."
"Makasih bunda!" Hana melepaskan pelukan dan menyalami para orang tua yang lainnya.
Taman teman Hana merasa terharu dengan situasi malam ini.
Semuanya terhanyut dalam pesta ulang tahun Hana.
Waktu berlalu begitu cepatnya sekarang tiba saatnya ddi sekolah sedang di adakan UAS.
Hana dan sahabat sahabatnya, sibuk untuk belajar bersama dengan Anwar dan di dampingi Robin.
Seminggu telah berlalu, saatnya kini di adakan pertandingan antar kelas.
"Ngga... semua sudah siap di lapangan." Sakti memberi tahu.
"Ok.. gue nyusul... " Rangga mengangkat tangannya pada Sakti, dan di ajungi jempol oleh Sakti, dan Rangga juga.mengacungkan jempolnya.
"Han... ayo... sudah akan segera di mulai pertandingannya, kita ke sana sekarang." ajak Rangga.
Ke duanya berjalan beriringan menuju ke lapangan basket dan itu membuat beberapa siswi yang merasa tak suka dengan kedekatan mereka berdua.
Pertandingan pun telah di mulai dengan sangat sengitnya.
Tampak Sakti sedang berusaha untuk tetap Mengendalikan permainan.
Dan pada akhirnya pertandingan di menangkan oleh team Rangga dan Sakti.
Saat masih ngumpul di lapangan selepas pertandingan, ada seorang sisiwi yang mendekati Sakti, "Kak Sakti, boleh gak minta fotonya?"
"Ok... sini..!" Sakti memberikan izinnya untuk foto bersama.
"Makasih ya kak... kenalin nama saya Clara." Clara mengulurkan tangannya dan di sambut dengan senyum manis oleh Sakti.
"Wah... yang tebar pesona." ucap Leo sembari tersenyum lebar.
"Bukan tebar pesona kasihan aja kalo di tolak, lagian juga gak ganggu gue, kecuali kalo mereka udah reseh... yo ogah guenya."
"Tu... Ngga Sakti aja bisa kek gitu la elo..." cicit Hana
"Ya bedalah Han... dia tadi minta foto ke Sakti tidak dengan sikap kecentilan, layang kemarin kan gue risih di gituin, ya ogahlah gue... " sewot Rangga.
__ADS_1
"Tapi beneran deh Ngga lo aja lagi sewot masih tampak mempesona apalagi tersenyum manis bikin hati klepek klepek." ucap Tania teman sekelas mereka.
"Ngaco... gue gak segitunya kali... buktinya Hana aja gak pernah liat gue sebagai cowok."
Hana tertawa, "Iya Tan... selama ini gue lihat Rangga sebagai banci, jadi gue gak tertarik sama dia." ucap Hana dan di sambut tawa oleh yang lainnya.
Sementara Rangga langsung memiting leher Hana, "Elo... tega ya nganggep gue banci."
Masih dengan tertawa Hana menjawab, "La elo...juga sih... ngomongnya kek gitu, maaf... udah lepasin."
"Gak... nanti lo ngomong gue banci lagi, awas ya lo? "
"Nggak udah... cepat lepasin !"Rangga pun melepaskan pitingannya dari leher Hana.
"Keterlaluan kamu ya gue sampai sesak nafas." Hana memukul bahu Rangga.
"Kalian berdua sangat cocok." celetuk Tania.
"Cocok apanya?" tanya Rangga dan Hana serempak.
"Tuh kan... kalian berdua emang jodoh."
Rangga dan Hana hanya saling menatap dan tersenyum tipis menahan tawa.
"Kalo ngehalu jangan lama lama,gue sama Hana hanya temen, we are just friends no one is, and will forever be friends or you can say siblings."
"Siblings?" Tania mengernyitkan dahinya.
Dan Rangga mencebikkan bibirnya."Iya... Hana adalah saudaraku, kita berdua lebih nyaman dengan status itu."
"Tapi orang lain ngliatnya gak gitu."
"Bodo... ma omongan orang, kita yang jalani, bukan orang lain."
"Kita jadi sahabat sejati aja." ujar Rangga.
"Yakin?"
"Maksud lo apa?" Rangga menatap jengah Tania.
"Lo ngraguin persahabatan kami? ya udah.. itu sih urusan kamu bukan urusan kami."
Rangga menggandeng tangan Hana, berlalu dari hadapan teman temannya.
"Ngga... gue pengen lo tersenyum udah marahnya." nasehat lembut Hana.
"Nyebelin..!" umpat Rangga dan Hana hanya terkekeh mendapati sikap Rangga yang kekanakan.
"Yakin... lo gak mau tersenyum?"
"Ngga... lihat deh muka aku, manis kan?"
"Iya kamu manis! " Rangga menangkup ke dua pipi Hana dengan gemas, dan Hana.hanya tertawa.
__ADS_1
"Gue gak suka lihat lo jutek kek gitu."Sungut Hana.
"Iya... iya... gak lagi."
"Kita ke kantin aja yuk! Gue laper."
"Kuylah say..."
Sesampainya di kantin mereka berdua memesan bakso, dan seperti biasa Rangga selalu menyisakan satu pentol bakso untuk Hana.
"Buka mulutnya!" Hana pun membuka mulutnya dan Rangga menyuapkan satu pentol baksonya ke mulut Hana.
Tanpa mereka sadari aksi mereka berdua membuat geram Niken dan Angel.
Tiba tiba Niken datang menggebrak meja yang di tempati oleh Rangga dan Hana, dan mereka berdua terjengit kaget.
"Apa apain sih lo?" maki Rangga.
"Ini masih di sekolah, gak usah pamer kemesraan di sini !" Umpat Niken.
"Ooo... jadi lo jealous?"
"Gue gak jealous, tapi lo tu Ketua Osis, kasih contoh yang baik! " teriak Niken.
"Emang gue kasih contoh yang buruk? seperti apa? gue butuh saran dan kritik lo nona Niken." ucap Rangga melunak.
"Sebagai Ketua Osis dan anggota Osis gak usah sok kecakepan, apa harus kalian bermesraan di kantin? bisa kan kalian sopan!?"
"Bermesraan di kantin? perasaan kita gak lakuin itu! Apa karena menyuapi seseorang termasuk bermesraan? begitukah nono Niken? lalu bagaimana dengan lo sendiri yang selalu mengusik hari hari gue, apakah itu termasuk hal yang sopan atau tidak sopan?"
Niken gelagapan tak tahu harus berkata apa lagi,
Rangga akhirnya beranjak dari duduknya dan meraih tangan Hana di ajaknya Hana keluar dari kantin, tanpa menghiraukan Niken.
Niken mengepalkan tangannya, dia begitu kesal, marah, cemburu, dan malu.
Angel yang melihat kejadian tadi hanya terkekeh, "Dasar bodoh." gumam Angel
Sementara Rangga dan Hana, kini telah bersiap untuk mengawasi jalannya pertandingan kembali.
Hingga tiba waktunya bel sekolah berbunyi menandakan bahwa kegiatan berakhir dan saatnya untuk pulang.
"Udah deh Ngga gak usah bete terus." ucap Hana.
"Kenapa dengan Rangga, Han?
"PMS?" cicit Hana
Leo terkekeh, lalu merangkul bahu Rangga, " Lo kesambet?"
"Enak aja kesambet ! Gue cuma lagi bete aja dari tadi ketemu orang orang reseh." ketus Rangga.
Hana, Leo.dan Lina pun tertawa, melihat sikap kekanakan Rangga.
Bersambung
Mohon Like
Comment
__ADS_1
Saran dan kritiknya ya 🙏🙏🙏
🤗🤗🤗😍😍😍