Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki

Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki
Jonathan droop lagi


__ADS_3

Selepas dari kantin, kami kembali mengikuti mapel di kelas masing masing, hingga bel berakhirnya pelajaran beegema di seantero sekolah.


Aku melangkah menuju gerbang sekolah dan trio bocil melangkah menuju pakiran. Aku menengok ke kanan dan ke kiri mencari cari kak Robin namun tak kutemukan.


Tiba tiba kak Steve menghampiriku, "Hana..." panggilnya dan aku menoleh ke arahnya.


"Loh... kak Steve ngapain di sini?" tanyaku keheranan.


"Jemput kamulah.. mau ngapain lagi...?" Kak Steve mengerlingkan matanya. Belum sempat aku mengucapkan kata, Kak Steve sudah berkata lagi, "Robin lagi ada urusan, gak bisa di tinggal jadi tadi nyuruh gue buat jemput elo!?"


"Ooh... ya udah kak ayo pulang!" kami berjalan menuju mobil kak Steve, kamipun berlalu dari sekolah. menuju Rumah Sakit seperti biasa, kebiasaanku sepulang sekolah semenjak Jonathan sakit.


"Emang kak Robin... ada kepentingan apa kak?"


"Di suruh dosen buat revisi buku... jadi dia harus ke perpustakaan buat cari bukunya, nanti kalau dia dah selesai, dia akan nyusul ke Rumah Sakit." aku hanya mengangguk.


"Oh...ya Han... nanti aku cuma bisa antar sampai luar ya? Soalnya aku tadi di minta segera ke kantor papa."


"Iya kak... maaf ya.. Hana ngrepotin kakak?!"


"Santuy aja Han... gue gak pernah berasa di repotin.." kak Steve terkekeh.


Sesampainya di Rumah Sakit, aku ber segera melangkahkan kakiku menuju ruang rawat inap Jonathan.


ceklek...


Ku buka pintu ruangan Jonathan, ku lihat mama sama papa Jonathan yang sedang duduk di sofa sementara Jonathan tertidur.


Aku mendekati mereka dan menyalami keduanya.


"Ma..pa... ini Hana bawa makan siang buat mama sama papa." ku serahkan kantong plastik berisi makanan yang tadi sempat di belikan oleh kak Steve, kepada mama.


"Makasih nak... sini! ayoo kita makan sama sama!" ajak mama.


Aku tersenyum menganggukkan kepalaku, dan mulai makan bersama mereka di selingi dengan obrolan ringan.


Tak berselang lama selepas kami makan bersama, datanglah kak Robin, dan kak Robin langsung menyalami kedua orang tua Jonathan.


"Om sama tante pulang aja, istirahat biar Hana sama Robin yang jagain Jonathan."


"Apa kamu gak capek? kan kamu juga habis dapat tugas dari dosen?"


"Enggak om... Robin dah biasa,.."

__ADS_1


Papa Jonathan beranjak dari duduknya dan menepuk bahu kak Robin, "Ya udah... kalau gitu om sama tante pulang dulu, makasih ya... dah bantuin kami!?"


"Masama om... Jonathan juga udah saya anggap adik sendiri, selama ini, jadi buat jagain dia itu juga merupakan kewajiban Robin... om."


Ya Allah... terima kasih karena selama ini anakku di kelilingi orang orang yang tulus menyayangi dirinya... Batin papa Jonathan.


"Ok... om sama tante pulang dulu, titip Jonathan!" papa menepuk bahu kak Robin sekali lagi dan mama memelukku, "Mama pulang dulu nak!" dan aku membalas pelukan mama, "iya ma... hati hati di jalan!"


Selepas mereka pergi aku dan kak Robin duduk di sofa, sembari menunggu Jonathan bangun.


Entah kenapa, aku bisa tertidur...mungkin karena akhir akhir ini aku gak bisa tidur dengan nyenyak, jadi tanpa sadar aku tlh tertidur dengan posisi duduk, bersandar pada sandaran sofa.


Aku terlonjak kaget, dan terbangun saat ku dengar kak Robin berteriak memanggil Dokter dan Perawat. Dan aku hanya terpaku duduk di sofa, masih bingung dan belum memahami apa yang terjadi, karena terus terang aku masih sangat mengantuk.


Ku tatap mereka, yang sedang sibuk memeriksa Jonathan dan kak Robin yang berdiri mematung di sampingku, dengan wajah yang sangat cemas, tangan kiri di letakkan di dadanya, dan tangan kanan memegang dagunya.


Terlihat banyak sekali alat alat yang di pasangkan pada tubuh Jonathan, yaaa.... ternyata Jonathan droop lagi.


Setelah dokter dan perawat selesai memasang semua alat, Dokter mendekati kak Robin...


"Di mana pak Brata?"


"Mereka pulang sebentar dok! gimana keadaannya dok?"


"Baik dok...nanti akan saya sampaikan sama om Brata."


Dokter tersenyum dan menepuk bahu kak Robin dan berlalu meninggalkan ruangan.


Kak Robin lalu mendekatiku duduk di sampingku dan menggenggam tanganku, akupun menatapnya penuh tanya.


"Jonathan, drop lagi... tadi dia kejang." kak Robin menjelaskan padaku.


"Lalu...?" jawabku lirih dan menatap ke depan menatap Jonathan, hatiku begitu bergemuruh, ada rasa sakit dan ketakutan di hatiku.


"Kita berdo'a saja, semoga Allah memberikan jalan yang terbaik buat Jonathan! dan kakak harap apapun nanti yang terjadi pada Jonathan,.." kak Robin menjeda kata katanya dan menghela nafas berlahan, "Ikhlasin semuanya Han...!biar jalan Jonathan juga mudah dia lalui!?"


"Kak..." ku tatap kak Robin dengan sendu, "Apa aku harus kehilangannya...?" tanyaku dengan suara yang mulai serak karena menahan tangisku.


Kak Robin langsung memelukku, "Jangan pernah merasa kehilangan Jonathan, Han... dia akan selalu bersamamu menemanimu dalam hatimu, dia akan selalu hidup dalam hatimu, jadi janganlah pernah merasa kehilangan dia."


Aku menitikkan air mataku yang tanpa ku sadari tlah lolos dari pelupuk mataku.


"Han.. hana..." suara tercekat tak mampu mengucapkan kata apapun.

__ADS_1


Kak Robin menghapus air mataku dan menyandarkan kepalaku di bahunya.


"Kakak... akan selalu dampingi kamu, apapun nanti yang terjadi, jadi jangan terlalu bersedih, semua sudah di atur olehNya... ! ingat itu Han... dan kita hanya mengikuti alurNya, apapun nanti yang terjadi itu adalah yang terbaik, untuk kita semua."


Tak berselang lama mama papa Jonathan memasuki ruangan dengan wajah panik san cemas, "Gimana keadaan Jonathan, Bin..?" tanya papa Jonathan.


Sementara mama Jonathan langsung mendekati Jonathan, menggenggam tangannya dan mengusap pucuk kepalanya lembut dan mencium kening Jonathan.


"Om sama tante di minta untuk menemui dokter!?" jawab kak Robin.


Papa Jonathan mendekati mama Jonathan, merangkulnya dan mengajaknya untu ke ruangan dokter terlebih dahulu, dengan berat hati mama mengikuti langkah papa Jonathan, untuk pergi menemui dokter.


tok... tok...tok


Papa Jonathan mengetuk pintu ruangan dokter Budi.


"Masuk...!" ujar Dokter Budi dari dalam ruangan.


ceklek...


papa dan mama Jonathan memasuki ruangan dokter Budi.


"Silahkan... duduk..!" dokter Budi mempersilahkan mereka duduk, dan mereka duduk di depan meja dokter Budi.


Dokter Budi tersenyum kepada kedua orang tua Jonathan, "Maaf mengganggu istrihat bapak sama ibu, tapi saya harus menyampaikan semua ini..." dokter Budi menghela nafasnya, " Sebenarnya keadaan Jonathan saat ini sedang kritis, jika semua alat itu kita lepas, maka Jonathan di nyatakan meninggal, dan saya minta maaf untuk semua ini." terang dokter Budi pada kedua orang tua Jonathan.


Mama Jonathan memegang lengan papa Jonathan dan menangis. Sementara papa terlihat begitu tegar, walaupun matanya memerah menahan tangisnya.


"Baiklah dok... kami mengerti!" ucap pap Jonathan, dan dokter Budi tersenyum tipis menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih dok... dan kami mohon permis."


"Baiklah semoga anda sekeluarga di kuatkan hatinya."


"Makasih dok.."


Mama dan papa Jonathan beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruangan dokter Budi.


Sementara di ruang Jonathan aku begitu cemas, walaupun kak Robin sudah menghiburku dan memberi tahukan segalanya, namun sebelum ketemu mama papa Jonathan dan mendengarkan langsung dari mereka keadaan Jonathan yang sebenarnya, aku belum merasa lega.


HAPPY READING SEMUANYA DENGAN CERITA PERDANA SAYA.


TBC....

__ADS_1


__ADS_2