Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki

Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki
Pengertian Widi


__ADS_3

"Ngga?" panggil Widi.


Namun Rangga tak bergeming dan tetap menatap ke depan dengan pandangan yang kosong, karena merasakan sesak dalam hatinya.



Widi akhirnya mendekati Rangga dan duduk di samping Rangga.


"Gue tahu perasaan lo, Ngga!" Widi memberikan minuman kaleng kepada Rangga.


"Maaf... bila harus terjadi seperti ini."


"Hana, akan baik baik saja, percayalah!"


"Aku tahu... lo akan menjaga Hana dengan baik."


"Kita sama sama menyayanginya, dan gue juga memahami perasaan lo, Elo mengenalnya lebih dulu dari gue, Elo yang menyayangi dia lebih dulu dari gue, dan Elo yang selama ini menjaganya hingga saat ini, wajar bagi Hana merasa sangat kehilangan lo, karena lo yang bisa memahami dirinya selama ini dan lo yang selalu ada buat dia dalam sukanya maupun dukanya, hanya lo."


"Gue sangat terluka, Wid. Selama ini gue gak pernah membiarkan dia meneteskan air mata dan selalu membuatnya tersenyum dan tertawa, hari ini gue membuatnya menitikkan air mata, dan menangis seperti itu."


Widi merangkul bahu Rangga, "Selamanya dia akan menyayangi lo. dia gak akan pernah melupakan lo dan lo akan selalu ada di hatinya. Untuk itu aku mohon kuatlah demi Hana, jangan seperti ini!"


Rangga menoleh ke arah Widi, "Apa hati lo terluka?"


Widi tersenyum tipis menatap Rangga, dan menggelengkan kepalanya.


"Gue udah mempersiapkan hati gue sejak awal, karena gue tahu, kejadian seperti ini pasti terjadi, untuk itu sedari awal sebelum gue melamar Hana, gue udah menata hati gue untuk segala kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi, sehingga jika tak gue persiapkan dari awal, mungkin akan menjadi kesalah pahaman dan gue mungkin akan terpuruk dan terluka! namun Alhamdulillah gue udah persiapkan semua itu, karena gue juga gak mau kehilangan Hana, atau melukai Hana. Jujur gue sangat mencintai Hana, dan gue menyukainya sejak pertama kali melihatnya saat ada lomba panjat tebing waktu itu."


"Maafin ... gue ya!" Rangga tersenyum miris.


"Lo gak salah, karena kita gak bisa mengendalikan hati kita untuk mencintai siapa? karena cinta itu datang tanpa bisa kita cegah, dia datang tanpa kita undang, dan dia hadir tanpa kita suruh."


Rangga terkekeh, "Gak salah Hana memilih lo dan melabuhkan hatinya untuk lo, Elo dewasa, bijak dalam berpikir, dan itu memang yang Hana butuhin selama ini."


Widi tersenyum simpul, "Gue juga gak tahu, Ngga jika hati gue berlabuh untuk Hana."


"Mungkin karena perbedaan umur kita yang beda lima tahun." ujar Rangga dan Widi hanya tersenyum simpul.


"Lo mau pulang dari sini jam berapa? apa semua sudah lo persiapkan untuk keberangkatan lo?"


"Sudah, sebelum gue ke sini, gue udah siapin semuanya, jadi dari sini gue langsung ke bandara. gue tahu gak mudah bagi kami, terutama Hana, buat terima semua ini."


"Kita makan dulu sebelum kamu pergi!" pinta Widi.


Rangga menganggukkan kepalanya, "Hana di mana?" tanya Rangga.


"Dia tadi tidur, pas gue tinggalin." Rangga mengangguk anggukkan kepalanya.

__ADS_1



"Wid... makasih ya! udah ngertiin gue!" Rangga menoleh ke arah Widi.


Widi menepuk bahu Rangga, "It's okay, believe me everything will be fine, and you don't have to worry."


"I know, and now I feel relieved too, that when I'm gone, you will be there to look after Hana." ucap Rangga.


"Gue tinggal lihatin, Hana dulu! bersiaplah untuk makan! kita udah melewatkan jam makan siang kita karena kejadian ini." Widi beranjak dari duduknya dan menepuk bahu Hana,


Kemudian Rangga menganggukkan kepalanya, "Gue nanti nyusul."


Widi meninggalkan Rangga sendirian di teras belakang, berlalu untuk melihat Hana di kamar.


Sesampainya di kamar, di lihatnya Hana masih tertidur pulas, dan terlihat jelas wajahnya yang masih kelihatan sembab karena menangis.


Di kecupnya kening Hana dan di usapnya pucuk kepala Hana dan di tepuknya berlahan lengan Hana.


"Sayang! bangun dulu, yuk!"


Hana yang merasa terusik dengan tepukan Widi, mengerjabkan kedua matanya.


"Mas... jam berapa sekarang?" tanya Hana dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Udah sore! kamu melewatkan makan siangmu, jadi bangunlah! mas gak mau kamu sakit."


Widi tersenyum tipis dan duduk di tepi ranjang, "Kamu mau bikin mas kuatir?"


Hana menggelengkan kepalanya dan beranjak dari tidurnya, kemudian duduk bersandar pada headboard.


Dia pun menghela nafasnya perlahan, "Di mana Rangga?"


"Tadi aku menyuruhnya untuk ke ruang makan terlebih dahulu,"


"Kita sekarang ke sana ya!?" pinta Widi dan Hana hanya diam saja, tanpa berkata sepatah katapun.


"Sayaaannng... please!" Widi mengusap pipi Hana dengan punggung tanganya.


Keduanya saling menatap, kemudian Hana menganggukkan kepalanya, dan Widi tersenyum bahagia saat Hana menuruti kemauannya.


"Hana mandi dulu mas!"


Widi mengangguk anggukkan kepalanya, tersenyum dan mengacak rambut Hana.


Widi akhirnya keluar kamar untuk menuju ke ruang makan menyusul Rangga, setelah Hana memasuki kamar mandi.


Saat sampai di ruang makan di lihatnya Rangga yang sedang duduk sambil memainkan gawainya.

__ADS_1


"Ngga... kita tunggu Hana bentar ya?! dia baru mandi." Widi duduk di hadapan Rangga berseberangan meja.


Tak berselang lama, Hana datang dan langsung mendudukkan dirinya di samping Widi.


"Maaf... kalian jadi menunggu lama," Ucap Hana.


Rangga menatap lekat Hana, dan Hana juga menatap sekilas Rangga, kemudian mengambil piring Widi dan mempersiapkan makan untuk Widi.


Kini mereka bertiga tengah makan siang yang terlambat menjadi makan sore dengan keheningan hanya suara piring dan sendok yang berdenting meramaikan suasana hening di antara mereka.


Usai makan mereka Widi mengajak mereka ke taman belakang dan duduk di kursi taman yang ada di sana.


"Han... Rangga sudah mau pergi! apa kamu gak mau melepasnya pergi?" ucap lembut Widi. Namun Hana hanya diam tak mengucapkan seaptah katapun.



"Hana sayang...! Widi menatap Hana dan memegang lengan serta tengkuk Hana.


"Dengerin mas... ku mohon jangan merajuk seperti ini, kasihan Rangga, Adelia saat ini sedang menunggunya dan membutuhkannya, jadi dia harus berangkat ke Amerika."


Hana memegang pipi Widi, "Aku masih belum rela?!" ucap Hana yang sudah mau mewek lagi.


"Mas... yang akan selalu menemani kamu, saat Rangga pergi, mas gak akan larang kamu buat video call sama Rangga, tapi untuk saat ini mas mohon... ikhlasin Rangga pergi, jangan membebani hatinya dengan ketidak relaanmu ini."


Hana memeluk Widi dengan erat, "Maafin Hana yang egois, mas!" Widi mengusap punggung Hana dengan lembut.


"Sekarang, bicaralah pada Rangga sebelum dia pergi! mas tinggalin kalian ke dalam ya? kalian bicaralah!"


Hana melepaskan pelukannya, dan kemudian menoleh ke arah Rangga, yang sedari tadi menatap Hana dengan sendu.


Kemudian Hana duduk di samping Rangga, dan Widi dengan seutas senyumnya meninggalkan mereka berdua untuk memberikan mereka berdua waktu untuk mengungkapkan perasaan mereka masing masing, karena akan berpisah jauh dan lama.


Untuk beberapa saat mereka berdua terdiam dalam keheningan dan merasa canggung untuk memulai percakapan mereka berdua.


"Ngga gue...!" Hana menjeda ucapannya.


TBC


Happy reading my Readers.


jangan lupa like


Comment, Fav, hadiah dan Votenya


serta tekan bintang limanya


🙏🙏🤗🤗😍😍

__ADS_1


__ADS_2