Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki

Aku Yang Merawat Orang Lain Yang Memiliki
kedatangan Rosa


__ADS_3

"Kamu!" bentak Widi.


"Hai Widi! gimana kabarmu?" ujar Rosa tersenyum manis.


Ya... yang datang adalah Rosa mantan pacar Widi.


"Ngapain lo ke sini?" kesal Widi melangkah duduk di kursi kebesarannya.


"Aku merindukanmu!" ujar Rosa mengerlingkan matanya.


"To the point aja mau lo apa?" gerutu Widi.


"Kan dah aku bilang kalau aku merindukanmu?"


Widi beranjak dari duduknya hendak meninggalkan tempat itu, namun Rosa mencegahnya.


"Okey... di sini gue pengen kerjasama sama lo!" Rosa mengatakan dengan cepat.


Widi menatap Rosa dengan jengah, "Sayangnya gue gak mau lagi ada urusan sama lo! kalau kamu memang ingin kerjasama nanti Anton asistenku yang akan tangani semua ini."


"Kamu kan ownernya? kenapa harus asistenmu?"


"Karena gue gak mau berurusan sama lo lagi, karena yang ada nanti kamu gak bisa profesional ngadepin semua ini."


"Wid... memang bener bener dah gak ada kesempatan buat gue lagi?" Rosa menghela nafasnya kasar.


"Gak akan pernah ada lagi kesempatan untuk lo, karena gue sudah menemukan belahan jiwa gue, jadi gak perlu repot repot buat memperbaiki segalanya, karena yang ada di antara kita itu adalah masa lalu, yang saat ini semua itu sudah gak berarti untuk gue, karena sejak lo memutuskan untuk meninggalkan gue tiga tahun yang lalu, sejak itu pula gue buang jauh jauh perasaan gue ke lo."


"Tapi selama ini lo gak pernah menjalin cinta lagi semenjak gue pergi, itu karena lo sangat mencintai gue kan? karena lo sangat menyayangi gue kan? kenapa lo harus bohong, Wid?! kalau lo memang menunggu gue kembali." tutur Rosa penuh ambisi.


Widi terkekeh, "Lo salah bila berfikir seperti itu! gue belum punya kekasih karena gue belum menemukan seseorang yang gue rasa pas buat gue jadiin istri, karena gue udah gak mau lagi pacaran, karena yang gue cari itu pendamping hidup buat gue, bukan kekasih buat gue, apalagi karena menunggumu." ujar Widi berapi api.


"Tapi?"


"Jangan lo pikir gue masih menyimpan rasa cinta gue ke elo itu sudah lama mati tiga tahun yang lalu, sejak lo memutuskan meninggalkan gue, sudah gue buang jauh jauh rasa itu, bukankah sudah pernah pernah gue bilang kalau lo pergi saat itu maka lo gak akan pernah bisa kembali menempati hati gue! apa lo lupa!?" tutur Widi dengan geram.


"Wid... tapi gue masih sangat mencintai lo! gue masih sangat menyayangimundannbelum bis melupakanmu, Wid?!" Ujar Rosa dengan memelas.


"Simpan saja rasa lo itu, karena demi apapun gue gak akan melepaskan Hana, apalagi hanya demi diri lo, impossible!" ketus Widi.


Widi memencet telpon kantor, "Anton cepat kemari!" perintah Widi.

__ADS_1


Tak berselang lama datanglah Anton memasuki ruangan, "Bos... ada apa?" tanya Anton setelah memberikan bow.


"Tolong handle urusan kita dengan nona Rosa dengan baik, karena saya sama sekali gak mau ada masalah apa apa, dan saya gak ingin berhubungan langsung dalam kerjasama ini, kalau memang dia masih mau bekerjasama dengan kita, apa kamu mengerti?" tanya Widi.


"Mengerti Bos!" Anton menganggukkan kepala.


"Jadi nona Rosa, urusan kerjasama kita akan di tangani oleh Anton., jadi tak perlu lagi beralasan apapun untuk dapat bertemu dengan gue." ketus Widi.


"Lo urus dia, gue balik!" titah Widi kepada Anton.


Widi melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya, dan tak mengindahkan Rosa lagi yang berteriak memanggil namanya.


"Gimana bu Rosa? apa bisa kita lanjutkan pembicaraan ini?" tanya Anton dengan santun.


Rosa menatap jengah Anton, "Saya pulang dulu, nanti saya kabari kelanjutannya." Rosa menghela nafasnya kasar.


"Baiklah bu Rosa, saya tunggu kabarnya!" ucap Anton memberikan bow.


Kemudian Rosa pergi dari ruangan Widi dengan penuh kekecewaan. Mobil Rosa berlalu meninggalkan kantor Widi.


Wid... kenapa begitu mudahnya lo lupain semuanya? gue kangen banget sama lo. Kenapa kita tak bisa seperti dulu lagi? gue rindu. Di mana cintamu yang dulu lo berikan hanya untuk gue? Di mana perhatian, senyum dan tawa lo yang selalu kau berikan untukku. Wid... apa Hana lebih baik dari gue? gumam Rosa.


Rosa menitikkan air matanya, hatinya terasa begitu sakit karena cintanya tak bersambut lagi, dan pelangi yang selama ini dia nanti nantikan kini tak akan pernah lagi dia lihat.


Namun nasi telah menjadi bubur dan semua telah terkubur, Rosa benar benar menyesali segalanya.


Serpihan kenangan bersama Widi masih terpatri jelas dalam ingatannya.


"Bagaimana caranya gue bisa melupakanmu, Wid?!" lirih Rosa dengan derai air mata.


Sementara Widi kembali pulang ke rumahnya dengan rasa jengkel.


Di tengah perjalanan ponsel Widi berdering tanda ada panggilan masuk.


"Anton kenapa?"


"Bu Rosa belum ambil keputusan, pak."


"Ya udah... biarin aja, apa ada yang lain?"


"Ada pak, besok pesanan pak Andrew minta tambahan tiga kotak lagi."

__ADS_1


"Stock masih kan?"


"Kebetulan tadi di cek masih kurang satu kotak, pak."


"Ambilin yang mau di setor di pasar satu kotak buat di berikan pada pak Andrew."


"Baik pak... akan saya lakukan."


Sambungan telpon pun telah di tutup, dan tak berselang lama Widi telah sampai di rumah, dan langsung di sambut Hana dengan pelukan.


Dan dengan seketika kejengkelan Widi pun menguap, seiring dengan pelukan Hana dan senyum manis Hana.


Dirimu memang mampu menjadi mood booster aku Han... dengan pelukanmu, tawamu, senyummu mampu menghipnotisku, mampu meredakan emosiku, dan penatku


"Mas?" lirih Hana.


"Biarkan sebentar saja seperti ini!" Widi tetap memeluk erat Hana, dan Hana pun pasrah dengan keinginan suaminya.


Kemudian Widi melepaskan pelukannya dan mencium kening Hana dengan lembut, "Thanks sudah bersedia mendampingiku sayang, i love you." Widi kembali merengkuh Hana dalam dekapannya.


"Mas Widi ada masalah?" tanya Hana dengan lembut.


Widi menggelengkan kelalanya, "Aku hanya capek aja!" Widi menyunggingkan senyumnya.


"Kakak... gak ada di rumah tadi di panggil Bunda buat ke sana." Hana memberitahukan.


"Ya udah... kita masuk!" Widi merangkul Hana dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Akan aku siapin Air hangat buat mandi mas Widi!" Widi mengacak rambut Hana dan mengulum senyumnya.


Kemudian Hana berlalu ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat buat suaminya.


"Mas airnya dah siap mandilah dulu!" pinta Hana.


Widi pun berlalu masuk ke kamar mandi dan melakukan ritual mandinya, sementara Hana menyiapkan baju ganti dan berlalu ke bawah setelah selesai menyiapkan keperluan suaminya, untuk menyiapkan makan malam mereka.


Sementara Robin yang berada di rumah kedua orang tua Widi kini sedang membahas proyek yang akan di kerjakan oleh Ayah Widi dan Ayah Robin.


Bersambung


Semoga suka dan thanks sudah mau membacanya dan memberikan like, comment, saran dan kritiknya, hadiah serta votenya.

__ADS_1


Terima kasih my Readers


__ADS_2