
Sesampainya di tempat parkir pemakaman, Rangga meraih jemari tangan Hana, tanpa melihat Hana dan menggandengnya hingga memasuki pemakaman dan berada di depan makam Jonathan. Sementara yang lain menunggu di tempat parkir.
Widi menatap kepergian Hana dan Rangga dengan rasa nano nano yang tak mampu dia tafsirkan sendiri.
"Kak Nathan... gue ke sini penuhin janji gue buat anterin Hana ke sini, saat dia pengen ke sini" ucap Rangga melepaskan pegangan tangannya pada Hana, setelah sampai di depan makam Jonathan.
Hana mengernyitkan dahinya menatap rangga, "Bicaralah pada kak Nathan, gue tungguin di sini!" Rangga mengusap kepala Hana tersenyum.
Hana duduk di depan pusara Jonathan, "Jo... aku kangen sama kamu?!" ucap Hana mengusap nisan Jonathan, dan menitikkan air matanya.
Rangga ikut duduk jongkok di samping Hana dan mengusap lengan Hana, saat melihat Hana menitikkan air matanya.
Mereka akhirnya berdo'a untuk Jonathan, setelah selesai berdo'a Rangga mengajak Hana untuk pergi dari sana.
"Han... kita pulang ya...?" ajak Rangga karena melihat Hana hanya bergeming mengusap nisan Jonathan, selepas mereka berdo'a.
Namun Hana tak mengiyakan ajakan Rangga, dan hanya bergeming di tempatnya.
Rangga merangkul bahu Hana dan mencoba mengajak Hana berdiri dan beranjak dari sana.
"Ayo... Han... besok ke sini lagi kalau kamu mau! gue anterin!" ucap Rangga.
Hana pun akhirnya pasrah mengikuti langkah Rangga yang membawa Hana keluar pemakaman tanpa sepatah kata pun terucap dari mulut ke duanya., hingga tiba di lokasi parkiran Rangga masih tetap menuntun Hana sampai ke hadapan Steve, Rangga baru melepaskan tangannya yan melingkar di bahu Hana.
Steve mengusap kepala Hana dengan menampakkan senyum manisnya.
"Ayo kakak antar pulang! Robin dah nungguin di rumah!?" ucap Steve membuka pintu mobil agar Hana masuk ke dalam mobil.
Setelah Hana masuk ke dalam mobil dan Steve telah menutup pintu mobil lalu menepuk bahu Rangga yang masih bergeming ditempat dan melambaikan tangan pada yang lainnya.
"Brow... kita pulang dulu!" teriak Steve sebelum memasuki mobilnya untuk melajukan mobilnya keluar area pemakaman dan pulang menuju rumah Hana.
Dan yang lainnya pun pulang ke rumah masing masing, karena malam dah hampir menjemput, dan karena sudah capek sehabis bertanding.
...xxxxxxxxxxx...
Sementara Robin selepas mandi, dia menunggu kepulangan Hana dan Steve, di teras depan sembari membuka laptop dan menyelesaikan pekerjaannya.
Tak berselang lama terdengar suara tin... tin... tinnn... mobil Steve memasuki halaman rumah Hana.
__ADS_1
Steve bergegas turun dan membukakan pintu mobil untuk Hana. Hana pun keluar dengan wajah lesu, tak bersemangat.
Melihat semua itu Robin menghentikan aktifitasnya dan meletakkan laptopnya di meja dan berjalan ke arah Hana dan Steve yang berjalan memasuki rumah.
"Kenapa...?" tanya Robin menghentikan langkah Hana dan menyibakkan rambut Hana ke telinganya.
Hana hanya menjawab dengan seulas senyum dan berlalu masuk rumah menuju kamarnya, meninggalkan Robin dan Steve di sana.
"Dia kenapa lagi Steve? pulang pulang wajahnya begitu kusut?" tanya Robin sembari melangkah di kursi teras deoan dan di ikuti oleh Steve.
"Keinget Nathan!" ucap Steve lalu menceritakan pada Robin, semua yang terjadi tadi selama mereka pergi.
Robin mengambil nafas dan membuangnya berlahan, "Tadi gue ke rumah Nathan! ambil semua amanat Nathan yang harus gue kasih ke Hana, dan besok lusa kita di undang di acara 7 hariannya Nathan, sekalian bonyoknya Nathan mau pamit kembali ke Paris."
"Ok... share aja nanti di grup, biar mereka semua bisa datang juga!" ujar Steve, lalu beranjak dari duduknya menepuk bahu Robin, " Gue pulang dulu, dah gerah nih badan ! jaga Hana, gue pamit."
Steve pun berlalu menuju mobilnya dan menyalakannya meninggalkan halaman rumah Hana.
Setelah di rasa Steve telah pergi keluar halaman Robin masuk ke dalam rumah menuju ruang keluarga dan meletakkan laptopnya di meja, lalu berlalu menuju kamar Hana.
tok
tok
tok
"Masuk kak... gak di kunci!" sahut Hana tak bersemangat dari dalam kamar.
Robin pun membuka pintu kamar Hana dan mendapati Hana yang meringkuk di ranjangnya.
"Han... kenapa? apa kamu sakit?" tanya Robin kuatir dan mendekati Hana, mendudukan dirinya di tepi ranjang, memegang kening Hana.
"Kamu demam Han?" ucap Robin lalu beranjak dari duduknya, berlari ke dapur mengambil air buat kompres Hana dan meminta bi Inem untuk buatin Hana minum dan mengambilkan obat penurun panas buat Hana.
Robin segera kembali ke kamar Hana, di kompresnya dahi Hana sembari menunggu bi Inem membawakan obatnya.
Tak berselang lama, bi Inem pun datang dan Robin membantu Hana untuk duduk meminum obatnya terlebih dulu, lalu membantunya berbaring kembali, dan tetap menemani Hana sembari mengompres dahi Hana, agar panasnya cepat turun.
Hana pun sudah terlelap dalam tidurnya, namun Robin tak meninggalkannya, dia duduk di lantai dan menyandarkan kepalanya di ranjang sembari menggenggam tangan Hana, dia pun ikut terlelap di alam mimpi, hingga pagi menjelang.
__ADS_1
Hana bangun terlebih dahulu, saat membuka matanya dia mendapati tangannya yang sedang di genggam seseorang, dia pun melihat ke arah orang itu.
"Kak Robin...!?" panggil Hana mengusap kepala Robin.
Robin mengerjabkan matanya, lalu mendongakkan kepalanya menatap Hana dan mengusap kepala Hana dan tersenyum.
"Alhamdulillah... panasmu sudah turun!" ucap Robin.
"Kenapa kakak tidur seperti ini?" ucap Hana sembari mendudukkan dirinya bersandar, dan Ronin pun beranjak dari duduknya dan berpindah duduk di tepi ranjang.
"Semalam kamu demam, makanya kakak gak tega tinggalin kamu." ucap Robin.
"Makasih ya kak, udah jagain Hana semalaman." ucap Hana dan Robin beranjak berdiri mengusap kepala Hana.
"Mandilah... biar badanmu lebih segar dan bersiap berangkat sekolah!" ucap Robin berlalu meninggalkan kamar Hana dan masuk ke kamarnya sendiri untuk mandi.
Hana turun ke bawah menuju ke dapur di mana di sana sudah ada Robin yang membantu bi Inem nyiapin sarapan.
"Sarapan dulu Han...!" pinta Robin
Hana mengambil kursi dan mendudukkan dirinya dan mulai makan.
Selepas sarapan Hana dan Robin masuk ke mobil untuk berangkat menuju sekolah Hana terlebih dulu, baru berangkat sekolah.
Setelah sampai di sekolah, Hana berpamitan pada Robin dan turun dari mobil, dan melambaikan tangannya saat mobil Robin berlalu dari sana.
Saat Hana akan melangkah masuk gerbang sekolah, tiba tiba,
tin
tin
tinnn
Hana menoleh ke arah mobil tersebut keluar Cinta dari dalam mobil, " Hanaa...!" teriak cinta, dan di balas senyuman dan lambaian tangan Hana.
Sementara di dalam mobil, Widi menatap Hana penuh kerinduan, tak mengalihkan pandangannya hingga mereka masuk ke dalam gerbang sekolah.
Han... entah kenapa sejak pertama melihatmu, aku merasa beda, aku merasa ini bukan diriku lagi. Aku yang tak mudah jatuh cinta, kenapa di depanmu, aku merasa tak berdaya. Ada rindu di hati saat tak melihatmu.
__ADS_1
Widi pun kembali melajukan mobilnya menuju ke bengkelnya yang dia rintis sejak masuk SMA.