
2 jam perjalan... Akhrinya mereka sampai , tak jauh dari tempat mereka ada sebuah rumah yang cukup mewah. Di luar rumah tersebut ada 2 penjaga di depan pintu.
Rumah diamana tempat adel si sekap cukup ketat dalam penjagaan.
"Gue akan masuk ke dalam lebih dulu, jika sudah aman... Gue bakal kabari kalian" ucap doni
"Papa sendiri?, itu bahaya pa... Aku ikut" ucap varo
"Varo... Jangan gegabah, biarin donk sendiri dulu kesana, doni tau apa yang akan dia lakukan... Kamu tenang disini sama papah" ucap vano
"Huhh... Iya" lirih varo
"Tidak usah hawatir... Mereka tidak ada apa apanya dibanding doni" sahut kenan
"Sudahlah... Aku maju lebih dulu untuk melumpuhkan di depan sana, kalian semua diam disini tunggu intruksi dariku" perintah doni
"Baik don" ucap vano
"Hati hati don" ucap kenan
Doni maju secara perlahan agar tidak membuat curiga, dengan gerakan cepat doni membekap salah satu penjaga disana hingga pingsan
"Siapa lo hah" ucap teman penjaga tersebut..
"Siapa gue gak penting..." doni langsung memukul perut pengawal itu dengan keras dan langsung melintir tangannya kebelakang.
"Kalian bukan lawan gue... Dimana anak gue di sekap.. Katakan" ucap doni beringas menekan tangan musuhnya dengan keras
"Akhhh... Lepaskan"
"Katakan dimana anak gue di sekap, sialan" ucap doni lagi
__ADS_1
"Siapa anak lo... Gue gak tau"
"Orang yang dibawa kesini adalah anak gue, cepat katakan.. Atau lo akan kehilangan tangan ini" doni mengeratkan melintir tangan sang musuh
"Akhhh... Nona iiiii...itu, dddddi gudang" ucap musuh tersebut
"Oke..." doni langusng membekap mulut sang musuh dengan saput tangan yang berisi obat bius
Dengan intruksi tangan... Doni menyuruh semua pengawal serta temannya maju mendekat.
"Calon mertuaku hebat... Aku semakij kagum" batin varo
"Jangan melamun varo... Kalau kamu kaya gitu di depan musuh, nyawamu visa isdet" ucap kenan
"Iya pi" ucap varo
"Dobrak pintunya " perintah doni pada pengawalnya yabg bertubuh besar itu.
Brakkkkkkkk....
Sekali tendangan pintu itu bisa di dobrak oleh bodyguard doni.
"Siapa kalian..." ucap seirang pria yang sedang duduk dengan teman temannya
Lalu beberapa musuh muncul dari bilik bilik pintu... Mengepung pergerakan tim doni.
"Heh... Mau main keroyokan hah" doni tersenyum sinis
"Apa kalian semua takut ,jumlah kami lebih banyak dari kalian, terima resikonya karna berani masuk ke lubang buaya" ucap antek antek zean
"Hahahahahaha... Takut?, dengamu?, helllowwwwww, sama lo mah gak takut ,cuih" ucap kenan berdecih sombong
__ADS_1
"Woi banci kaleng... Kalian badan doang gede, nontonnya masha and bear hahahahahaha" varo tertawa keras membuat para orang tuanya kesal sekaligus gemas.
Semua antek zean melirik ke arah tv yang menyala.. Mereka memang sedang menonton itu... Malu?, pastinya.
"Gak usah banyak omong... Serang mereka" ucap ketua musuh yang memberikan intruksi pada anak buahnya
Doni memberikan kode juga untuk menyerang...
Mereka saling menyerang tanpa menggunakan senjata... Melainkan adu fisik.
Seseorang tanpa diketahui melihat adegan tersebut... Dengan senyum miring, lalu pergi ke sebuah ruangan.
"Ternyata penyelamatmu sudah datang adel" zean menatap adel yang sudah lemah dan ingin menutup matanya
"Kenapa diam hemmm.... Ngomong dong adel sayang" zean mencengkram kedua rahang adel dengan kasar
"Hahahahahahaha... Jangan mati dululah, aku masih ingin menyiksamu" ucap zean menarik rambut adel
"Papa, mama, varo... Maafin aku, maaf" batin adel. Ia hanya bisa menangis menahan rasa sakit dan juga menahan agar matanya tidak tertutup.
BRAKKKK...
"Lepaskan anakku" teriak doni yang melihat zean sedang memainkan sebuah pisau di depan adel
"Ka..kalian, baaa...bagaimana bisa" ucap zean tidak percaya, pengawal yang begitu banyak bisa dikandaskan dengan sedikit orang..
"Adel" pekik varo melihat adel yang sudah berlumuran darah. Sakit, itu yang diarasakan varo dihatinya
"Sayang... Putri papa" gumam doni menatap adel dengan air mata yang menetes, doni tak bisa menahan isakannya melihat putri kesayangannya penuh darah dan luka"
Adel hanya tersenyum kecil melihat orang orang yang ia tunggu untuk menyelamatkannya.
__ADS_1
Zean yang melihat itu berusaha untuk kabur dari sana... Namun langkahnya terhenti saat vano menarik tangannya dan mendorong zean dengan kasar.