ALVARO SANJAYA

ALVARO SANJAYA
kalah ngomong


__ADS_3

"Assalamualaikum pah, mah " teriak varo bergema di dalam rumahnya


"Kamu pikir papah budek hah... Mentang mentang lagi bahagia adel udah sadar, kamu gilanya di rumah sekarang" ucap vano menuruni tangga bersama kinar


"Papah sudah tau"


"Jelaslah... Papah itu gak kudet, selalu tau informasi yang menyangkut orang terdekat" sahut vano


"Kenapa teriak teriak bang?" tanya kinar


"Mah, pah... Abang mau nikahin adel saat dia sembuh, bolehkan?" ucap varo harap harap cemas


"Boleh kok sayang... Tapi abang harus ingat, kalau adel masih sekolah masih muda, jangan sekali sekali berbuat jauh setelah menikah, tunggu adel lulus SMA dan abang mapan dulu" ucap kinar


"Iya mah... Abang tau itu" jawab varo


"Emang sanggup?" tanya vano


"Sangguplah pah"


"Jangan samakan putraku denganmu pah" ucap kinar membela varo


"Lebih baik diam kalau sudah nyonya besar berbicara" batin vano


"Mah... Papah lapar, makan yuk" rengek vano pada sang istri


"Cih manja" cibir varo

__ADS_1


"Bilang aja kamu iri... Nanti kalau kamu nikah sama adel juga begini" kata vano


Varo juga memikirkan hal yang seperti itu nantinya... Ia bakal manja manja kepada adel saat sudah menikah. Tanpa di duga varo tersenyum senyum sendiri.


"Anakmu mulai gila mah..." ucap vano pada kinar


"Itu juga anakmu kali" delik kinar menatap heran pada putranya


"Kalau waras dia anakku.. Kalau gila maaf , papah gak mau akui" ucap vano bercanda


"Isshhh... Papah yang buat"


"Mamah yang hamip kan" sahut vano tak mau kalah


"Kalau papah gak maksa mamah gak bakal hamil" teriak kinar membuat varo tersadar


"Papah kamu tuh... Masa kamu dikata gila terus gak mau akui sebagai anak" adu kinar


"Ohh..." balas varo dan melanjutkan ucapannya


"Gak masalah kok, aku punya papa candangan" sambung varo lagi


"Heh... Kamu kira pemain bola ada cadangannya, mau kamu papah tendang ke langit ke 7 biar gak balik lagi" kesal vano dengan ucapan anaknya


"Ke langit 7... Emang bisa?, nendang bola biar gol deket aja kaga bisa.. Apa lagi ke langit ke 7" ucap varo


Vano langsung kicep dibuatnya, memang susah melawan kecebongnya yang satu ini.

__ADS_1


"Ekhem... Masih mau adu mulut pah?" tanya kinar menahan tawanya


"Gak, mending papah jemput vania di tempat lesnya... Males kalau ada kecebong dirumah bikin darah tinggi mulu"


"Kecebong kecebong gini waktu buat mendesah enak juga kali pah" ucap varo vulgar


"Varo.... Jaga ucapan kamu, siapa yang ajarin hah" kinar yang sudah mulai naik pitam


"Maaf mah, abang bercanda doang, nanti malam kita ke rumah sakit ya jenguk adel sekalian obrolan nikahan aku" ucpa varo


"Males" vano langsung pergi keluar rumah untuk menjemput putrinya vania


"Kamu sih bang... Papah ngambek tuh" ucap kinar


"Salah mamah, kan mamah duluan yang buat kesal ,jangan salahin abang lah" elak varo


"Duhhh siapa sih yang ajarin varo pinter ngomong gini, heran deh" batin kinar


"mah... abang pergi ke kamar dulu ya, ngantuk.. mau istirahat" pamit varo


"iya sayang"


sampainya di dalam kamar varo langsung meronggoh ponselnya untuk mengirim pesan kepada adel.


sayang aku udah di rumah ,nanti malam aku ke rumah skakit lagi bareng mama dan papah juga vania.. kamu jangan lupa istirahat ,i lobe you my love


itulah isi pesan yang dikirimkan oleh varo ke adel, dengan senyum yang merekah varo menaruh kembali ponselnya dan berbaring di ranjangnya menatap langit langit kamar.

__ADS_1


"terimakasih ya allah... kau mengabulkan doaku, tolong jaga dia untukku" doa varo sebelum memejamkan matanya untuk tidur


__ADS_2