
Sepasang orang tua datang ke apartemen, Ibu Rindi mengetuk pintu beberapa kali memperlihatkan bik Asih yang membukakan pintu untuk orang yang ia tunggu sejak tadi.
" Gimana bik, manda udah enakan. saya sampe tidak ke kantor karena bunda nya manda ingin pergi sekarang" Pak Rudi langsung duduk dan menegak habis air yang dibuat bik Asih
" Manda pasti lagi tidur ya bik, kasian bibik pasti repot ngurusin manda, apalagi kalo lagi sakit dia jadi manja" Bunda Rindi yang tak menemukan manda berada diruangan itu, ia juga bisa melihat wajah bi Asih dengan mata sembab perpaduan kurang tidur dan terus menangis. dengan hati-hati bik asih menjelaskan keadaan nona nya itu, Ia menghela nafas dalam saat mulai mengatakan kejadian semalam " Pak, bu maafkan saya, saya tidak bisa menjaga non manda dengan baik" bik asih mulai menitikan air mata
" Bibik itu berlebihan, manda itu cuma kelelahan aja bik. dia terlalu memporsis untuk selalu bekerja. Ayah jangan selalu menuntut manda terus kasian dia, biarkan dia juga memikirkan jodohnya" Bu Rindi memang sangat keberatan kepada suaminya yang terus mendukung segala ambisi manda.
" Sudahlah bik, bik asih kan sudah menjaga manda sejak dulu. jangan seperti ini. manda tidak apa-apa" Pak Rudi berhenti berbicara saat tangisan bik Asih mulai jelas terlihat.
Wanita paruh baya itu memang sangat menyayangi amanda, ia sudah merawat manda sejak masih SD, bik Asih sangat mengenal bagaimana nona nya itu dengan baik. Apalagi keluarga amanda juga menganggap bik Asih bagian dari mereka.
Bik Asih mulai menjelaskan kejadian itu dangan perlahan, apa yang ia dengar dari Adi semalem ia ceritakan kembali dengan isak tangis
" Eh gimana orangtua manda udah dikasih tau belum?" tanya Indira menatap Rey dan Adi bergantian. Indira memang menunggu diluar karena amanda tertidur lelap setelah ia diberi obat penenang.
" Coba lho tanya bik Asih, gwe sih udah bilang sama dia buat nelpon orangtua nya Anya. Ada handphone Anya tapi di screen lock" ucap Adi.
" Ah kok bisa sampe lupa sih gwe, sini handphone nya gwe tau kok kodenya" Indira menerima uluran hp manda.
" Indira...Indira.. dimana manda, tante mau liat" Baru saja indira mau menelpon Bu Rindi, sosok itu sudah datang menghampiri dengan Pak Rudi. bu rindi menangis sambil menanyakan keadaan putrinya.
__ADS_1
" Amanda di dalem tante dia lagi tidur" Ucapan itu terpotong karena bu Rindi langsung masuk dengan cepat. Indira dan Adi langsung ikut masuk kedalam, tapi tidak dengan Rey, sebelum Indira masuk ia menyuruh Rey agar pulang, ia tidak mau manda melihat keberadaan Rey yang membuat orangtuanya tau asal muasal masalah semalam.
" Tante, kondisi Anya sudah lebih baik. dokter terus memantau perkembangan kondisi anya"
ucap Adi sedikit menjelaskan kondisi manda
" Anya?, siapa kamu. kenapa kamu bisa menyebutnya anya" bu Rindi nampak heran karena pria di sampingnya menyebut nama Anya, nama kecil Amanda dulu
" Saya Adi Tante, Anak nya Pak Dion Perwira. Apa tante ingat, saya teman Anya dulu" bu Rindi tentu saja langsung ingat, karena manda hanya memiliki satu teman dan itu adalah Adi.
" Anak Kapten Dion Perwira, iya ?" tanya pak Rudi memastikan.
" Iya benar om"
Pak Rudi langsung memeluk anak sahabatnya itu.
" Baik om, Ah iya Ayah suka cerita soal om, katanya ingin bertemu tapi malu"
" Ayah mu itu memang tidak berubah, padahal dulu ketika di komplek kami sangat berteman akrab, ayah mu sering bantu saya saat mengurus surat perizinan untuk perusahaan, ah kenapa dia malah bersikap seperti itu, Nanti pertemuankan lah ayah mu dengan saya"
" Ayah" bu Rindi hanya menggeleng. sungguh Pak Rudi disaat seperti ini malah membahas masa lalu
__ADS_1
" Ayo antar saya, saya ingin mendengar penjelasan dokter yang menangani manda"
Pak Rudi langsung membawa Adi keluar ruangan.
" Bunda .. " Amanda terbangun dari tidur lelapnya, mungkin efek obatnya sudah mulai berkurang.
" Iya sayang, bunda disini. kamu tenang yah. bunda gak akan ninggalin kamu" bu Rindi terus menahan tangisnya melihat kondisi manda sekarang.
" tante juga tenang yah" Indira mengelus tangan bu Rindi. meminta agar ia tak menangis yang mungkin bisa membuat manda histeris kembali...
Beberapa waktu dokter menjelaskan dengan detail keadaan pasien nya itu, Diagnosis awal Amanda mengalami Trauma, Adanya tekanan besar yang dirasakan dalam waktu berdekatan membuat Manda mengalami goncangan yang besar dalam sisi psikologis nya, Stress Pacsa Trauma itulah yang membuat manda selalu menangis histeris dan ketakutan berlebih. Dokter melakukan beberapa tahapan pemeriksaan mulai dari visum untuk mengetahui kondisi tubuh amanda sampai beberapa terapi dan pengobatan yang harus dilakukan manda bersama dokter psikiater Rumah Sakit tersebut.
Pak Rudi nampak serius mendengarkan penjelasan kondisi anaknya itu, Rasa penyesalan menderanya karena ia yang meminta amanda untuk tetap mempertahankan karir modelnya meskipun itu juga keinginan manda.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.