Ambisi Cinta Model Cantik

Ambisi Cinta Model Cantik
KEMAMPUAN ITU DIBUTUHKAN


__ADS_3

Aku mulai tersadar karena suara handphone ku yang terus berbunyi ... Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul aku malah menerima panggilan telpon itu, padahal biasanya aku tidak pernah menerima panggilan tidak dikenal ..


Hallo Amanda, Saya Utari ...


Bisa kita ketemu? Kayanya Kita emang harus ngomong ... Nanti saya share tempat dan waktunya


tuttuttuuttutu ....


Panggilan tiba-tiba terputus sebelum aku sempat mengucapkan apapun.. Hingga satu pesan masuk dengan nomor yang sama..


Saya tunggu kedatangan nya, Ku harap seorang MANTAN MODEL INTERNASIONAL ini masih memiliki nyali ...


HAH ... maksudnya apa ini?, perempuan gila itu mengajak ku bertemu?, Mau apa lagi dia?, Apa dia masih berusaha memiliki Mas Rey?, Ya Tuhan kenapa tiba-tiba kepalaku berdenyut kencang begini setelah menerima panggilan telpon nya...


Tenang...Tenang.... Perempuan hina seperti dia tidak layak kamu takuti, Seorang pengganggu seperti dia bukan sebuah masalah apalagi ancaman bagi rumah tangga mu ...


Tenang... Ingat kamu sedang hamil.. Seorang perempuan gatal seperti dia tidak pantas membuat mu begini ...


Ya Tuhan, kenapa dengan diriku .. Apa karena hormon kehamilan membuat ku makin merasa takut dan khawatir ...


Baiklah saya akan datang, Saya ingin lihat seberapa besar rasa malu mu mengganggu istri sah seseorang.. Oppsss,,, Saya lupa kalo kamu tidak memiliki urat malu...


Benar, satu-satunya cara adalah menghadapi segala ujian ini, bukan malah lari apalagi menghindar. Dari pada aku terus menduga-duga nya sendiri yang bisa jadi malah membuat ku curiga terhadap Mas Rey....


Wanita itu harus selesai bagaimana pun caranya,..


" Sayang, Udah bangun?, Makan dulu yuk?" Ajak Mama Indri yang baru masuk kamarnya..


" Ah, Iya Ma. Maaf Ma Manda ketiduran" ucap Manda merasa tidak enak hati karena tertidur dikamar mertuanya..


" Gak apa-apa, Kamu udah lebih baik kan?" tanya Mama Indri lagi, Ia merasa khawatir melihat wajah pucat Manda ..


" Iya Ma, Manda gak apa-apa" Ucap Manda menjelaskan keadaan nya, Ia tidak mau Mama nya merasa khawatir meskipun sebenarnya ia tidak terlalu yakin dengan ucapannya sendiri..


" Jangan seperti ini, Kamu dan Rey kalian itu berhubungan sudah lama Sekali, Bicarakan apapun yang ingin kamu ungkapan padanya, Jangan menanggung beban mu sendiri, Kamu kan punya suami... Percaya sama Suami mu, Dia sangat menyayangi mu lebih dari apapun" Mama Indri terus mengusap lengan Manda, Yang kali ini di angguki Manda, ucapan Mama nya memang benar,

__ADS_1


" Iya Ma .. Nanti Manda coba tanyakan sama Mas Rey"


" Ya sudah sekarang kamu makan dulu"


Manda memikirkan semua yang terjadi, dari mulai Ucapan Mama hingga pertemuan nya dengan Tari,. Makanan yang berada dihadapannya pun tidak tersentuh sama Sekali, ia Hanya mengetuk-ngetuk sendok dan garpu nya ke meja, sambil terus melamun..


Perjalanan menuju cafe dimana kami akan bertemu pun ternyata tidak terlalu jauh, hanya tiga puluh menit aku sudah sampai dan terlihat dengan jelas sosok wanita itu yang sedang menunggu kedatangan ku.


" Permisi, Maaf saya terlambat" Ucap ku Basa-basi, tentu saja kesopanan masih berlaku, itu jelas menunjukkan perbedaan kelas ku dengannya yang siang tadi menelpon tanpa beretika...


" Fruity Lemon Squash sama Almond Croissants masing-masing dua" Sengaja aku memesankan untuk nya juga, Anggaplah ini pemberian pertama dan terakhirku padanya...


" Ayolah, Kamu juga harus minum. Melawan perempuan seperti ku pasti sangat melelahkan" Ucap ku kembali karena ia menolak menu yang aku pesankan


" Jadi,... Ada hal penting apa sampai kamu mengganggu waktu ku?"


" Baiklah, Saya ingin meminta Kak Rey, Kasih aku tempat untuk berada di sisi nya, Aku menyukai suami mu ..." Aku hanya tersenyum getir mendengar pengakuan itu, Dengan tidak tahu malu nya dia meminta seseorang yang sudah menjadi milik ku.


" Memang nya kenapa aku harus memenuhi keinginan mu?, Sesuatu yang menjadi milik ku akan selalu jadi milikku sampai kapanpun juga" Dia tertawa sinin menatap ku tajam, Apakah dia meremehkan ucapanku


" Menurut ku yang miris itu kamu, Kamu perempuan berpendidikan tapi malah mengejar suami orang lain, Apa se tidak laku nya Kamu sampai berbuat hal memalukan seperti ini. Saya adalah istrinya yang ia nikahi secara sah Dimata Negara maupun agama, saya punya hak untuk mempertahankan pernikahan kami dari ulat bulu gatal seperti mu" Terlihat dia tidak terima dengan penuturan ku, Jelas-jelas itu sebuah fakta, Masih ingin menyangkal.. Muka nya sudah merah padam, Dengan tangan yang mengepal kuat diatas meja ..


" Berbuatlah sesukamu kalo kamu sudah tidak menyayangi hidup mu sendiri, Kamu belum tahu sehebat apa aku.. Sangat mudah bagiku membuat mu menyesali perbuatan mu saat ini karena telah berani mengusik pernikahan ku" Aku masih bersikap santai, meskipun aku menekan setiap kalimat yang aku katakan, Tetapi tidak dengan hati ku yang tersayat dengan keadaan ini, Kenapa aku begitu sakit hanya karena hal tidak berguna seperti ini.. Setelah kehamilan ku, aku memang merasa banyak perubahan dalam hatiku.. Ya tuhan, Nak. Jangan buat Mama lemah apalagi kalah dari perempuan yang sudah mengganggu Papa mu..


" CK!!! Omong kosong macam apa itu, Aku sama sekali tidak tertarik dengan ancaman mu" Oke, Dia ternyata meremehkan aku. Mari kita lihat sekuat apa dia bertahan...


" Butuh Bukti,... " Bisik ku tepat di telinga nya .. Dia mengerutkan keningnya bingung,


" Aarrrggghhh, Kenapa kamu tega bicara seperti itu.. Kamu itu teman ku dan kamu malah menyukai suami ku.Tolong jangan seperti ini, Aku sedang hamil anak nya, apa kamu tega melihat anak ku yang terlahir tanpa seorang ayah" Ucap ku dengan menangis, Aku terus mengusap perut ku yang untungnya mulai membuncit,..


" Heh, Apa maksudmu?" Dia mulai tidak bisa mengendalikan dirinya, emosi mulai menguasai nya..


Hahha... Ke makan juga kan ...


" Tolong, Jangan sakiti Aku..." Dengan akting yang sangat aku kuasai tentu sangat mudah membuat setiap pasang mata melihat ke arah kami dengan cibiran yang mereka tunjukan pada Tari .. Maaf, Tapi ini cara terakhir ku membuat mu merasa jera..

__ADS_1


Dengan sejuta kemampuan ku, Aku memegang tangan nya seolah dia yang dengan sengaja menarik tangan ku.. Aku meringis yang berhasil membuat beberapa orang menghampiri kami.. dan menanyakan atas apa yang terjadi... Bahkan ada yang sampai menarik tubuh tari dan menjauh kan nya dari ku...


Kita lihat sampai dimana kemampuan mu mengalahkan seorang Amanda Zivanya...


" Mee,,, Kamu gak apa-apa?" Ucap seseorang tiba-tiba, orang yang sangat aku kenali, ...


HAH .. Kenapa Mas Rey ada disini, Aku melongo karena kehadiran Mas Rey yang tiba-tiba ..


" Kamu gak apa-apa" Tanya Mas Rey melihat seluruh tubuhku


" HAH Iya " Jawab ku asal ,..


Ggguuubbrakkk... Permainan ku ternyata harus berakhir secepat ini ..


" Apa yang kamu lakukan?, Jawab" Teriak kak Rey pada Utari, sedang kan aku tertawa mengejek melihat pemandangan didepan ku.. Orang-orang pun tanpa aba-aba langsung membubarkan diri ...


" Aku gak laku-" sebelum dia berhasil menyelesaikan pembelaan nya aku langsung memotong kalimat nya dengan tangisan yang ku buat setragis mungkin..


" Mas, Aku -" dengan sengaja aku memotong kalimat ku dan merangkul tangannya erat, seolah aku merasa takut dengan perempuan itu..


" Berhenti mendekati ku, Berhenti mengganggu kehidupan ku, Apalagi kalo sampai istri dan anak ku kamu sakiti, Jangan salah kan aku kalo urusan ini Harus berakhir di kantor polisi" Dengan wajah marah dan khawatir nya Mas Rey memberi peringatan pada Utari sambil mengelus pundak ku ... Utari hanya melongo menyaksikan semua ini, Wajah nya pun sangat nampak kemarahan.


Ya ampun Permainan ini makin tidak menarik, apalagi setelah pihak keamanan datang..


" Mas,, Kepala ku sakit.. Aku ingin pulang" Ucapanku dengan menyandarkan kepalaku di dada Mas Rey, Aku harus segera menyelesaikan permainan ini sebelum kami semua berakhir di pos security... Hahahaha .... gak lucu kan kalo sampai terjadi seperti itu..


" Pak, Maafkan atas keributan ini .. Saya permisi dulu," dengan gerakan cepat kak Rey langsung membantu ku menuju mobilnya......


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2