
Senyum bahagia terpancar diwajah Alana, melihat Arkana yang ada dalam gendongan bi Onah, masuk ke dalam kamarnya. Dia sangat senang bisa dipertemukan kembali dengan putranya, setelah satu minggu ini Alana tidak bisa bertemu karena Abimana yang tidak pernah mengunjunginya.
Alana bersyukur Wijaya datang megunjunginya hari ini, karena tanpa menunggu lama, papa mertuanya itu segera mewujudkan keinginan Alana. Tidak seperti Abimana yang selalu saja banyak pertimbangan.
"Terima kasih Pa." ucap Alana tulus begitu Wijaya melihat padanya.
Wijaya megangguk lalu pamit pada Alana, "Papa harus pergi, tapi bunda tetap disini menemani kamu." ucap Wijaya.
Setelah Wijaya pergi, Alana segera medekati bi Onah. Airmata yang sejak tadi menggenang dipelupuk mata Alana, kini mengalir tanpa bisa dia tahan lagi begitu dia meraih tubuh gembul putranya.
"Sayangnya Mama." ucap Alana begitu Arkana sudah ada dalam pelukanya, dia lalu mengecup seluruh wajah Arkana, yang selalu bisa membuatnya tesenyum.
Abimana hanya bisa diam, sungguh dia benar-benar telah melukai hati Alana begitu besar. Melihat Alana begitu merindukan putra mereka, Abimana sadar semua lagi-lagi kesalahan dirinya. Harusnya dia menyelidiki dulu semuanya, bukan langsung menuduh Alana bermain di belakangnya.
"Mau kemana, Bi?" tanya Ajeng yang melihat Abimana akan meninggalkan kamar rawat Alana.
"Abi mau menemui dokter yang merawat Al, Bun. Mau minta izin untuk membawa Al pulang. Abi rasa Al sudah baik-baik saja, rasanya tidak pantas dia tetap berada disini." jawab Abimana yang langsung di setujui Ajeng.
"Kamu benar, Bi. Kita sebagai keluarganya yang harus merawat kejiwaan Alana, bukan orang lain." balas Ajeng.
"Maafkan Abi, Bun. Abi tidak bisa menjaga Al dengan baik, hingga semua ini terjadi."
Ajeng meminta Abimana berhenti bicara dengan memberi kode, meletakkan jari telunjuknya dibibir. Mereka sudah sepakat menutupi kejadian yang sebenarnya, Ajeng tidak ingin Alana mendengar ucapan Abimana yang mengungkit lagi masalah itu.
"Sana temui dokter yang merawat Alana!" ujar Ajeng memberi perintah pada sang putra.
Mengerti maksud ucapan sang bunda, Abimana segera keluar dari kamar rawat Alana menuju ruang dokter Dirga.
Diruang dokter Dirga, dokter yang merawat Alana itu sedang menerima tamu yang tak lain sahabatnya sendiri. Tepatnya, dokter Dirga yang mengundang Wisnu sahabatnya itu untuk berkunjung, ada hal penting yang ingin Dirga bahas dengan Wisnu. Apalagi kalau bukan masalah Alana yang sekarang dirawat di rumah sakit ini.
"Alana dirawat disini, kenapa?" tanya Wisnu tidak percaya.
"Tidak apa-apa, Alana sehat baik fisik maupun mentalnya, hanya ada salah paham, hingga dia dititipkan disini." jawab dokter Dirga.
"Salah paham gimana?" tanya Wisnu tidak mengerti.
__ADS_1
"Adik sepupu gue dikira depresi sama suaminya." jawab Dirga.
"Masalahnya apa sampai diduga depresi?" tanya Wisnu lagi.
"Ceritanya panjang Nu. Btw, Lo masih cinta sama adik sepupu gue, kan?" tanya Dirga.
"Lo tahu bagaimana gue, Ga." sahut Wisnu.
"Lo mau nerima keadaan adik gue apa adanya?" tanya Dirga menyelidik.
"Gue nggak peduli status dia apa. Asal udah nggak terikat hubungan pernikahan, gue maju." jawab Wisnu tegas.
Wisnu mencintai Alana sejak wanita itu duduk di bangku sekolah tingkat atas. Pertemuan mereka pertama kali di kediaman orang tua Dirga. Saat itu Alana dan Wisnu sama-sama membantu keluarga Dirga yang sedang mengadakan syukuran.
Cinta pada pandangan pertama, itu yang Wisnu rasakan. Sayangnya, dia tidak punya banyak waktu dan kesempatan untuk mendekati Alana. Selain Dirga dan Rendi melarang adik mereka pacaran diusia sekolah, Wisnu juga harus melanjutkan pendidikannya ke luar negeri.
Melihat keseriusan Wisnu, Dirga menceritakan apa yang terjadi pada Alana. Mulai dari gagalnya pertunangan Alana hingga sepupunya itu berakhir dirumah sakit jiwa yang dia dirikan.
"Sebaiknya Lo manfaatin kesempatan ini untuk kembali mendekati Alana. Dia ingin pisah dengan suaminya." ucap Dirga menyarankan sahabatnya itu.
"Mau ketemu sekarang?" tawar Dirga.
Wisnu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, dia langsung mengagguk setuju. Bersamaan dengan anggukan Wisnu, suara ketukan pintu ruang kerja Dirga terdengar. Pintu yang bagian atasnya terbuat dari kaca, membuat Dirga bisa mengetahui siapa yang datang, sementara yang berada didepan pintu hanya melihat bayangan dirinya, tidak bisa melihat kebagian dalam.
"Itu suami Alana. Lo jangan menyinggung tentang hubungan gue dan Al. Dia tidak tahu kalau gue dan Alana saudara sepupu." ucap Dirga yang langsung diacungi dua jempol oleh Wisnu.
"Masuk!" ucap Dirga sambil berdiri dari sofa lalu duduk di kursi kerjanya.
Abimana membuka pintu dihadapannya begitu mendengar suara Dirga mempersilakan dia masuk. Tersenyum canggung saat melihat dokter Dirga sedang tidak sendirian.
"Maaf saya menganggu waktu dokter." ucap Abimana.
"Sama sekali tidak. Silakan duduk!" jawab Dirga.
Abimana mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Dirga. Ada meja kerja Dirga sebagai penghalang mereka. Sementara Wisnu tetap menunggu duduk di sofa, memasang telinga apa yang akan Abimana sampaikan.
__ADS_1
"Jadi apa ada yang ingin Pak Abimana sampaikan?" tanya Dirga.
"Saya ingin membawa Alana pulang, apa bisa?" jawab Abimana langsung pada pembahasan. Dia tidak perlu kata pengantar untuk mengatakan apa yang dia inginkan.
Dirga terdiam sejenak sambil mengambil berkas kesehatan Alana, hanya sebagai bentuk pengalihan untuk menemukan jawaban yang tepat untuk Abimana.
Dirga teringat percakapannya dengan Alana, adiknya itu tidak ingin kembali kekediamannya yang dia tempati bersama Abimana.
"Al ingin pisah, Bang!" seru Alana.
"Ya, itu keputusan yang cukup baik untuk kamu, Al. Tapi, apa tidak masalah kamu menjadi janda? Punya anak pula.." tanya Dirga khawatir.
"Bang, kita hidup di dunia modern. Al tidak peduli apa kata orang. Al hanya ingin hidup tenang dan bahagia berdua Kana." jawab Alana.
"Abang akan bantu kamu, Al." balas Dirga.
"Terima kasih Bang." balas Alana tulus.
Alana sudah lama tidak bertemu Dirga dan tidak menyangka dia akan bertemu kembali dirumah sakit milik kakak sepupunya ini. Sayangnya, dalam keadaan sedang tidak baik.
"Tolong rahasiakan pada keluarga Rahardian tentang kondisi Al sebenarnya. Bantu Al, agar Kana bisa tinggal disini bersama Al, Bang. Jangan izinkan mas Abi membawa Al pulang, Al tidak ingin kembali kesana. Abang bisa, kan?" pinta Alana.
"Abang akan lakukan apapun untuk kamu Al, untuk kebahagiaan kamu." jawab Dirga.
Alana masuk kedalam pelukan Dirga, menagis didada bidang sepupunya itu. Dirga membiarkan saja, Alana butuh tempatnya meluapkan semua kesedihannya. Dirga juga tahu tentang hubungan Alana dan Rendi yang tidak bisa sedekat dulu karena kakak ipar mereka. Sungguh Dirga membenci istri Rendi, tapi Alana memintanya berjanji untuk tidak mengusik rumah tangga kakaknya.
"Bagaimana dok?" tanya Abimana karena Dirga belum juga memberikan jawaban.
"Saya tidak bisa memutuskannya sekarang, akan saya tinjau terlebih dulu dalam beberapa hari kedepan. Bagaimana jika kita tes dengan membiarkan putra Alana ikut tinggal disini?" jawab Dirga, dia akan mewujudkan keinginan adik sepupunya itu. Tentu saja.
"Jika itu baik menurut dokter, saya akan izinkan, semua demi kesehatan ostri saua di" balas Abimana.
Dirga tersenyum, Alana pasti senang dengan berita ini, "Baiklah, jika Pak Abi sudah setuju, kita mulai terapinya hari ini saja. Bagaimana?" tanya Dirga, "Saya dengar dari perawat anda membawa putra Alana menemuinya hari ini" lanjut Dirga ucapanya.
...🌿🌿🌿...
__ADS_1
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku...