
Seno bisa bernafas lega saat Wijaya percaya dengan ucapannya. Mengatakan, jika Abimana tidak ada diruangan. Pimpinanya itu sedang pergi keluar tanpa membawa kendaraan sendiri karena Wijaya sempat mempertanyakannya.
Pria paruh baya itu berlalu dari hadapan Seno tanpa banyak tanya lagi meski sempat melirikkan matanya kepintu ruangan Abimana.
"Hu, aman." ucap Seno sambil mengusap-usap dadanya.
Hampir saja Seno memberitahu Wijaya bagaimana kelakuan anak sulung pria itu. Namun mengingat kemarahan Wijaya bisa membuat berita besar dan keheboan di perusahaan, maka Seno terpaksa berbohong untuk menutupi aib pimpinannya.
"Oh Tuhan maafkan hambamu ini, hamba terpaksa." ucap Seno.
Sudah lama dia tidak melakukan hal ini sejak Abimana menikah dengan Alana. Sekarang, perusak ahlak pimpinannya itu datang kembali dan itu juga merusak jiwa Seno yang sudah berjanji untuk selalu bicara jujur. Tapi apa daya, mengingat dan menimbang baik buruknya, maka Seno terpaksa memutuskan untuk tidak bicara jujur saat ini.
Ingat! Hanya saat ini. Seno akan memberitahu Wijaya diwaktu dan tempat yang tepat. Membeberkan semua yang dia tahu tentang pimpinanya selama ini, baik dan buruk Abimana, Wijaya harus tahu. Bukan ingin cari muka dengan mengadu pada Wijaya, Seno hanya ingin Abimana menjalani hidup dengan baik lagi, seperti tiga tahun terakhir ini, selama pria itu mejalani hidup rumah tangga bersama Alana.
Seno siap menerima kemarahan Abimana yang mungkin akan berimbas pada pemecatannya sebagai sekertaris dan asisten pribadi. Seno tidak takut, dari pada dia terus ikut menaggung dosa. Masalahnya, kapan waktu dan tempat yang tepat itu? Seno akan memikirkannya nanti.
Wijaya tahu, Seno berbohong. Abimana tidak suka berpergian tanpa membawa kendaraan sendiri seperti yang asisten putranya itu katakan. Tapi dia memaklumi Seno melarangnya bertemu, mungkin Abimana sedang ingin sendiri setelah menghadapi sidang perceraian.
"Atau?" gumam Wijaya, namun segera dia tepis pikiran buruknya itu.
Abimana tidak pernah berpaling sejak menikah dengan Alana, itu berarti putranya tidak lagi berbuat hal buruk itu. Lagi pula wanita yang dikenalkan oleh ibu kandung Abimana itu sudah menikah, dan tinggal diluar kota.
"Pak, kita akan pergi kemana?" tanya sopir Wijaya.
Tadinya Wijaya ingin menemui Abimana untuk membicarakan pekerjaan lalu mengajak putranya itu makan siang bersama. Wijaya juga ingin memberitahu alasan mengapa dia ingin Abimana bercerai dengan Alana. Tapi apa boleh buat, rencananya gagal.
"Pulang ke rumah saja." jawab Wijaya.
Gagal makan siang bersama Abimana, Wijaya memutuskan untuk pulang dan makan siang di rumah saja bersama Ajeng. Wanitanya itu pasti akan senang dengan keputusannya meski dia yakin Ajeng akan terkejut.
Seperti dugaan Wijaya, Ajeng pasti akan langsung komentar seperti yang sekarang istrinya ucapkan, "Lho, Papa kok pulang? Katanya mau makan siang sama Abi."
"Abi sedang banyak pekerjaan, dia tidak ingin diganggu." jawab Wijaya yang terpaksa berbohong.
Ajeng hanya mengangguk dan tersenyum lalu menawarkan suaminya untuk makan siang. Kedua orang tua itu pun mekmati makan siang dalam diam. Merrka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sebelum Wijaya tiba di kediaman mereka, Ajeng menerima panggilan dari orang yang dia perintahkan untuk mengawasi Aditya. Sejak tahu perbuatan buruk Aditya pada Alana, Ajeng membayar orang untuk mengawasi putranya dan akan melaporkan pada Ajeng setiap ada yang mencurigakan.
__ADS_1
Ajeng hanya tidak ingin Aditya kembali mengulangi perbuatan buruknya pada Alana. Tapi berita yang Ajeng dapatkan membuatnya terkejutnya.
Ajeng menawarkan Aditya untuk makan siang bersamanya, karena Wijaya akan makan siang bersama Abimana.
"Aku sedang ingin sendiri, Bun." tolak Aditya, dan Ajeng tidak bisa memaksa. Membiarkan putranya pergi ke apartemen.
Sekarang? Orang yang dia perintahkan mengawasi Aditya memberi kabar ada seorang perempuan menemui Aditya di apartemen putranya itu.
"Siapa?" ucap Ajeng tanpa suara. Pikirannya terus memikirkan siapa wanita yang di izinkan Aditya masuk kedalam apartement putranya, karena tidak semua orang bisa masuk ke apartemen pribadi Aditya.
"Siapa apa Bun?" tanya Wijaya yang bisa membaca gerakkan bibir Ajeng. Meski dia hanya diam saja sejak tadi karena sesekali memikirkan Abimana.
"Bunda hanya memikirkan, siapa wanita yang tepat untuk Abimana dan Aditya?" jawab Ajeng yang tiba-tiba saja terpikirkan untuk menjawab seperti itu. Belum waktunya Ajeng memberitahu Wijaya. Dia akan menyelidiki sendiri terlebih dulu.
"Kamu sudah memikirkan siapa wanita yang pantas untuk Abi? Bukankah kamu menolak Abi bercerai dengan Alana?"
Ingin rasanya Ajeng menepuk keningnya karena salah menjawab. Ajeng lupa, suaminya tidak tahu jiak dia sudah mengetahui alasan Wijaya mengizinkan Abimana dan Alana berpisah.
***
Kembali keperusahaan setelah itsirahat makan siang, Seno menatap kesal pintu yang bertuliskan pimpinan. Abimana belum juga memanggilnya, itu berarti masih ada Rachel didalam sana.
Sampai waktu kerja berakhir, pintu pimpinannya tidak juga terbuka dan Seno memutuskan untuk pulang. Pekerjaanya sudah dia selesaikan, tinggal menunggu keputusan Abimana yang dia yakin akan pulang malam, malam ini.
Dugaan Seno salah, Abimana tidak pulang malam. Pria itu juga pulang setelah tiga puluh menit Seno pulang.
Langit masih terlihat jingga saat Abimana sampai di kediamanny. Tidak hanya seorang diri seperti biasanya, sore ini Rachel juga ikut bersama Abimana. Wanita itu akan menginap di kediaman Abimana dan Alana selama tinggal di kota ini. Tanpa Abimana sadari jika dirinya tengah diawasi oleh orang-orang Wisnu.
Berita baik menurut Wisnu, dengan begini Alana akan lebih mudah meminta cerai dari Abimana. Berita ini Wisnu teruskan pada Dirga, Rendi dan tim pengacara Alana.
Dengan cepat Rendi mengapresiasi apa yang orang-orang Wisnu dapatkan. Kakak Alana itu segera mencari Dirga yang ternyata tengah bermesraan dengan Kinara.
Dirga memeriksa benda pipihnya, apakah Wisnu juga mengirimkan pesan padanya? Seperti yang Dirga duga, ada pesan masuk dari Wisnu lengkap dengan foto Abimana dan Rachel.
"Kamu kenal wanita ini, Ki?" tanya Dirga sambil menujukkan wajah seorang wanita dilayar ponselnya
"Tidak. Memang kenapa?" Kinara balik bertanya.
__ADS_1
"Abang hanya tidak ingin kita berpikir buruk tentang Abi. Seperti yang kamu katakan, pria itu sangat setia dengan Alana, kan?" jawab Dirga apa yang dia pikirkan.
"Maksud Abang, mungkin saja wanita itu saudaranya?" sahut Kinara.
"Yap, benar sekali. Enggak lucu kan Rendi yang ingin menekan Abi untuk segera menceraikan Alana karena ada wanita lain, tapi ternyata kita salah orang." balas Dirga.
"Apa tidak ada orang lain yang bisa memberikan keterangan lebih jelas siapa wanita itu?" tanya Rendi.
"Ada." jawab Dirga dan Kinara bersamaan.
"Bi Onah." ucap Kinara, "Dia bekerja bantu-bantu Alana di rumah." lanjut Kinara ucapannya.
"Itu bagus, minta tolong dia untuk mencari tahu siapa wanita itu dan ada hubungan apa dengan Abimana." sahut Rendi.
Kinara segera melakukan apa yang Rendi sarankan, dia langsung menghubungi bi Onah yang langsung menerima panggilan darinya.
"Assalamualikum, Bi." sapa Alana yang langsung dibalas bi Onah, "Waalaikumsalam."
"Bibi apa kabar?" tanya Kinara.
"Bibi baik-baik saja, Non Kinara. Tapi disini ada yang tidak baik." jawab bi Onah.
"Tidak baik bagaimana Bi?" tanya Kinara pura-pura tidak mengerti.
"Tuan!" seru bi Ona.
"Mas Abi kenapa? Sakit?" tanya Kinara lagi.
"Dia baik-baik saja, karena terlalu baik sampai bawa wanita lain pulang ke rumah ini." jawab bi Onah.
"Wanita lain? Saudara mungkin Bi." sahut Kinara.
"Wanita itu mengaku calon istri tuan Abi saat memperkenalkan diri dengan Bibi dan...."
"Dan apa Bik?" tanya Kinara penasaran.
"Dia ikut masuk ke kamar tuan dan nyonya Alana."
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku...