
Aditya baru saja selesai memeriksa pasien terakhirnya, seorang anak laki-laki seusia Arkana. Melihat pasiennya itu, membuat rasa rindu Aditya pada Arkana semakin memuncak.
Setelah bertemu Arkana terakhir kali, Aditya sengaja menghilang sejenak dari kehidupan Alana dan putranya itu. Mencoba menahan rindunya pada Arkana juga Alana. Berusaha untuk memperbaiki diri, menjadikan dirinya layak dipanggil papa oleh putranya, Arkana.
Sebelumnya, Aditya sangat ingin berkeras untuk kembali mendekati Alana. Dia tidak terima jika ada pria lain yang akan mengantikan dirinya sebagai sosok ayah untuk Arkana. Namun, kata-kata Rendi cukup mengusik ketenangan Aditya. Membuat pria itu belajar untuk menjadi ayah yang baik bagi Arkana. Tentu saja semua karena keinginannya untuk mendapatkan Alana.
Sayangnya, rasa rindu Aditya begitu besar. Dia pun tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menemui kedua orang yang dia cintai.
"Dimana putraku?" tanya Aditya pada orang yang dia bayar untuk mengawasi Alana dana Arkana.
"Putra anda ada di butik, Tuan." jawab pria tersebut.
Setelah mendapat jawaban dari orang bayarannya, Aditya melenggang pergi dari ruangannya. Sebelum ke butik milik Alana, Aditya menyempatkan mampir ke toko kue langanan Alana. Tentu saja Aditya hapal roti dan kue apa saja yang disukai Arkana dan Alana khususnya. Bukan sekali atau dua kali saja dia membelikan kesukaan Alana ini. Tapi, hampir setiap minggu. Itu pun karena Alana yang mengingatkannya agar tidak terlalu sering membelikan makanan tersebut untuknya.
Keluar dari toko kue, Aditya kembali perparkiran lalu melajukan kendaraannya menuju butik Alana. Diapun bertanya pada karyawan tentang keberadaan Alana dan Arkana.
Setelah tahu Alana dan Arkana masih ada di dalam ruangan wanita yang dia cintai, Aditya memutuskan untuk menuggu keduanya diluar saja. Dia akan memberikan kejutan pada keduanya, terutama Alana. Sudah lama sekali Aditya tidak melihat Alana secara langsung.
Mendengar suara handle, Aditya langsung menoleh pada pintu ruangan Alana. Wajahnya langsung saja melukiskan senyum begitu melihat Arkana dan Alana yang keluar dari ruangan itu. Tampak jelas wajah Alana yang terkejut melihat dirinya, hingga wanita itu hanya berdiri diambang pintu.
"Hai Kana." panggil Aditya pada Arkana untuk menghilangkan kecanggungan.
Aditya sengaja tidak menyapa Alana, biarlah ibu dari Arkana itu mengira dirinya datang memang untuk bertemu Arkana saja. Dia masih berusaha jaga image menjadi ayah yang baik untuk putranya.
Arkana yang jarang bertemu Aditya tentu saja lupa dengan sosok pria yang biasa dia panggil 'om' itu. sehingga anak laki-laki itu hanya menatapnya tanpa ada niatan mendekati Aditya.
__ADS_1
"Ini Papa, sayang." ucap Aditya lagi sambil berjongkok dihadapan Arkana. Tentunya setelah dia yang berjalan mendekati Arkana.
Aditya itu memang penyuka anak-anak. Tidak sulit baginya bermain, menghibur dan juga berbicara dengan anak-anak. Karena itu jugalah dia memilih profesi sebagai dokter anak. Namun sayang, semua itu tidak berlaku untuk putranya sendiri. Arkana menatap asing pada pria yang menjadikannya ada di muka bumi ini.
Alana memilih diam dan membiarkan saja Aditya mencoba bicara dengan Arkana, selama itu tidak menyinggung dirinya atau melakukan sesuatu yang merugikan Alana. Sampai suara seseorang yang sangat Alana kenal memanggilnya.
"Sayang."
Bukan hanya Alana yang menoleh pada Wisnu. Aditya yang tidak suka kata sayang diucapkan oleh pria lain untuk wanita yang dicintainya pun ikut menoleh. Menatap tidak percaya pada sosok Wisnu yang dia kenal sebagai pengusaha muda yang akhir-akhir ini namanya semakin melejit. Padahal pria ini belum lama tinggal di Indonesia, tepatnya kembali lagi ke Indonesia.
"Sejak kapan Alana mengenal pengusaha muda ini?" tanya Aditya pada dirinya sendiri.
Lebih terkejutnya lagi, Arkana begitu senang melihat kehadiran Wisnu. Dan putranya itu memanggil Wisnu dengan panggilan yang sejak dulu Aditya inginkan.
"Dad...dy!" panggil Arkana meninggalkan Aditya begitu saja, lalu mendekati Wisnu dan mengulurkan tangannya untuk digendong oleh pria yang dia anggap adalah ayahnya.
"Muu." jawab Arkana, yang mengatakan mau.
"Ok kita pulang." balas Wisnu sambil mengecup pipi Arkana dengan gemas.
Bukan hanya mencium, Wisnu juga menyatukan hidungnya dan hidung Arkana lalu mengesek gesekan hidung keduanya. Ulah Wisnu itu membuat Arkana geli dan tergelak dengan riangnya.
"Kana!" seru Aditya memanggil putranya itu, berharap sedikit perhatian dari Arkana beralih padanya.
"O...om." ucap Arkana memberitahu Wisnu sambil menunjuk Aditya.
__ADS_1
"Papa, Kana." pinta Aditya.
"No!" sahut Arkana yang memang tidak mau memanggil Aditya dengan panggilan 'papa'. Anak itu mungkin tahu, mana pria yang pantas menjadi ayahnya dan mendampingi sang ibu.
"Kamu harusnya memberitahu Kana yang sebenarnya Al." ucap Aditya menegur Alana. Kesal juga lama-lama tidak dianggap seperti ini oleh darah dagingnya sendiri.
Alana menghembuskan nafas kasar sebelum membalas ucapan Aditya. Dia tidak suka disalahkan dalam hal ini. Wajar saja Arkana tidak mau memanggil Aditya dengan panggilan papa. Sejak lahir, yang dia tahu Aditya adalah om nya. Interaksi mereka dulu juga sebatas paman dan keponakan. Mungkin itu yang sudah tertanam dalan ingatan Arkana, atau mungkin saja Arkana sudah lupa siapa Aditya.
"Arka masih kecil. Belum waktunya dia tahu masalah orang dewasa. Untuk saat ini, biarkan hati kecilnya yang memilih siapa yang dia inginkan sebagai ayahnya." jawab Alana membalas ucapan Aditya yang membuat dia semakin tidak menyukai sifat dokter anak tersebut, yang selalu saja memaksakan kehendak.
Bukankah Aditya memang begitu? Alana saja yang baru menyadarinya saat ini, bahwa Aditya adalah orang yang suka memaksakan kehendak. Jika Aditya bukan manusia yang suka memaksakan kehendak, bisa dapat dipastikan Arkana tidak akan lahir kedunia ini dan Alana tidak akan bercerai dengan Abimana.
"Mau pulang sekarang?" ucap Wisnu menawarkan pada Alana.
Bukan ingin bersikap tidak sopan pada Aditya, Wisnu hanya tidak ingin masalah pribadi mereka didengar banyak orang. Aditya sepertinya orang yang tidak tahu tempat, dimana dia harus mengungkapkan apa yang dia inginkan. Pria itu jelas-jelas mempermalukan durinya sendiri. Dengan membawa Alana segera pergi dari tempat ini, Wisnu pikir adalah hal terbaik.
Alana mengangguk, "Iya Bang. Kasihan Arka kalau kelamaan disini." jawab Alana.
Wisnu menganggukkan kepala pada Aditya sebelum dia melangkahkan kakinya kearah pintu keluar. Arkana yang ada dalam gendongan Wisnu semakin mengeratkan pelukannya di leher pria tampan dengan wajah campuran Arab, India, Eropa dan Indonesia.
Alana segera mengikuti langkah Wisnu, ibu Arkarna itu mengekor dibelakang calon suaminya. Sementara Aditya hanya bisa menatap punggung yang semakin menjauh itu dengan tatapan penuh kecewa.
Pria yang bersama Alana kali ini bukan semvarang orang. Aditya sangat tahu sepak terjang Wisnu di dunia bisnis. Hal itu terus menganggu pikiran Aditya. Bagaimana Alana bisa mengenal Wisnu? Mereka terlihat sangat dekat, bukan orang yang baru kenal akhir-akhir ini saja. Terlebih lagi Arkana yang begitu nyaman dengan pria yang putranya panggil dengan panggilan daddy itu. Apa lagi ada cinta dimata Alana saat melihat Wisnu. Bahkan hal itu tidak pernah Aditya lihat sebelumnya, saat Alana menatap Abimana.
"Apa ada yang aku tidak tahu tentang kamu, Al?" gumam Aditya.
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...