Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 76. Istirahat


__ADS_3

Alana masuk terlebih dulu ke kamar hotel yang disiapkan Sandra untuknya dan Wisnu istirahat. Segera saja ibu Arkana itu masuk ke kamar mandi. Tubuhnya sudah lengket rasanya dan wajahnya juga terasa tebal meski make up yang dia gunakan natural dan sederhana. Tetap saja Alana merasa seperti menggunakan topeng.


Alana sudah selesai mandi, bahkan dia juga sudah melakukan ibadah wajibnya sebagai umat muslim. Lalu, istri Wisnu itu duduk didepan meja hias yang ada dikamar hotel. Disaat Alana tengah menyisir rambutnya, Wisnu masuk kekamar dan tersenyum menatap sang istri yang sudah terlihat segar.


Alana menoleh pada Wisnu yang berjalan mendekat. Wajahnya ikut tersenyum membalas senyuman sang suami. Berdiri didekat Alana, membuat jantung Wisnu berdebar. kepala Alana sudah tidak terhalang yang tidak hijab. Rambut panjang sepunggung yang pernah Wisnu lihat tanpa sengaja, kini bisa dia lihat sesuka hatinya.


Alana berdiri setelah mengikat rambutnya asal. Dia ingin membantu Wisnu melepaskan pakaian pengantin yang masih suaminya itu kenakan. Entah apa yang Wisnu lakukan diluar sana, hingga prianya ini baru masuk ke kamar untuk istirahat.


Ingat! untuk istirahat, bukan untuk yang lainya. Pesta belum usai, maka Alana diminta untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa membuatnya kelelahan.


Semakin dekat posisinya dengan Alana, semakin cepat saja debar jantungnya. Wisnu melingkarkan tangannya dipinggang Alana disaat tangan sang istri membuka satu persatu kancing pakaian yang dia kenakan.


Cup.


Wisnu mencuri satu kecupan dibibir Alana. Bibir berwarna cery itu sudah menggodanya sejak lama. Wisnu jadi ingat masa lalu. Waktu itu, bukan Wisnu yang mengecup Alana seperti hari ini, tapi gadis usia belasan itu yang memberikan ucapan terima kasih padanya dengan memberikan kecupan di pipi kanan kirinya lalu pada bibirnya.


Alana memang sering seperti ini pada ayah dan kakaknya, dikala hatinya senang atau sebagai ucapan terima kasih pada keduanya. Jika Alana menganggap Wisnu sama seperti ayahnya dan Rendi, namun tidak bagi Wisnu yang memang sudah memiiki rasa pada gadis itu sejak lama.


Tidak tahukah Alana, bahwa hal itu membuat jantung Wisnu hampir terlepas, karena begitu cepatnya berdetak akibat ulah abstrak sang gadis pujaan. Sejak saat itu, Wisnu sering menjaga jarak demi keamanan jantungnya. Sayangnya hal itu membuat Alana salah paham.


Tapi hari ini, semua yang ada pada diri Alana sudah menjadi miliknya. Jadi Wisnu bebas melakukan apapun yang dia inginkan. Seperti meminta haknya. Bukankah mereka sudah sah?


"Mandi Bang, biar segar." ucap Alana.


Suara lembut Alana yang menegurnya, menarik Wisnu dari Lamunan. Pria itu kembali mendaratkan bibirnya di bibir Alana sebelum pergi ke kamar mandi.


"Sayang, jangan kemana-mana." ucap Wisnu sebelum dia menutup pintu kamar mandi.


Alana hanya bisa menggelengkan kepala. Memangnya dia mau kemana?

__ADS_1


Sambil menunggu Wisnu membersihkan diri, Alana menghubungi kakak iparnya yang menjaga Arkana. Alana ingin tahu dimana pria kecilnya itu saat ini? Sedang apa? dan mencari dirinya tidak?


Untung saja banyak orang yang senang menjaga Arkana. Pria kecil itu semakin hari semakin menggemaskan. Arkana juga bukan tipe anak yang rewel. Anak laki-laki itu sangat pengertian pada sang ibu.


"Tidak usah khawatir. Arka baik-baik saja, dia sedang tidur." jawab Ratna setelah Alana bertanya tentang putranya itu.


Alana bisa bernapas lega begitu tahu Arkana baik-baik saja. Anak laki-laki itu bahkan sangat pandai berpose saat diminta untuk foto bersama. Sempat membuat iri Aditya yang melihat kebahagiaan Alana, Wisnu dan Arkana. Membayangkan seandainya keluarga kecil itu adalah dirinya.


Untung saja Aditya diingatkan oleh Luci, saat langkahnya yang kembali berjalan menghampiri pelaminan. Seketika Aditya tersenyum lebar, dia juga akan membina rumah tangga dengan Luci. Dan akan membawa Arkana pergi bermain sesekali bersamanya dan Luci. Harapan yang indah bukan?


"Habis telpon siapa?" tanya Wisnu.


Suami Alana itu sudah keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.


Alana yang ingin menjawab pertanyaan Wisnu segera membuang jauh pandangannya. Mencoba menetralkan hatinya yang memanas. Meski bukan pemandangan yang baru, tapi Alana sudah cukup lama sendiri.


"Terima kasih sayang." ucap Wisnu begitu menerima pakaian ganti yang Alana berikan padanya. Tanpa perlu repot kembali ke kamar mandi, Wisnu melakukan aktifitasnya berpakaian dihadapan sang istri.


Demi ketentraman hatinya, Alana naik ketempat tidur dan membaringkan tubuhnya membelakangi Wisnu. Seperti yang Sandra katakan padanya untuk istirahat, maka Alana akan melakukannya. Istirahat! Mengabaikan Wisnu yang seperti memancingnya agar tergoda.


Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Wisnu mengikuti jejak sang istri naik ke pembaringan. Tangannya melingkar di perut Alana yang berbaring membelakanginya.


"Acara nanti malam akan dihadiri banyak orang penting sayang. Mungkin akan lebih melelahkan." ucap Wisnu berbisik.


"Hemm." jawab Alana sambil membalikkan tubuhnya yang kini menghadap Wisnu.


"Abang tidak apa-apa?" tanya Alana.


"Memangnya Abang harus apa?" ucap Wisnu balik bertanya.

__ADS_1


Yang mereka bicarakan saat ini adalah status Wisnu yang perjaka menikahi Alana yang janda. Banyak ucapan miring tertuju pada Alana, membuat Wisnu sempat emosi tidak terima sang istri jadi bahan gunjingan.


Alana pilihan hatinya sejak dulu hingga saat ini dan Wisnu berharap sampai maut yang memisahkan. Jika memang takdirnya mereka bisa baru bersama saat ini, apa urusan dengan mereka?


Wisnu mengusap lembut wajah cantik istrinya yang mulus tanpa noda. Bohong jika dia tidak menginginkan Alana saat ini. Tapi dia tahu diminta untuk bersabar. Jadi Wisnu akan menahannya sampai nanti malam.


"Ayo tidur, biar cukup tenaga kita untuk malam nanti." ucap Wisnu berbisik.


Alana tentu saja tahu kemana arah pembicaraan Wisnu. Dia pun tersenyum lalu mengecup bibir Wisnu sebelum menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria yang sekarang menjadi imamnya.


"Jangan memancing sayang." ucap Wisnu. Sementara si pelaku terkikik geli dalam pelukan sang suami yang kini mengusap punggungnya. Sesekali Wisnu memainkan rambut Alana yang terasa lembut ditangan.


Sementara itu, dihotel yang sama namun berbeda lantai itu. Abimana tengah berdiri di balkon kamar hotel yang dia tempati. Menatap keramaian kendaraan yang berlalu lalang. Seperti hatinya yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Alana sudah menjadi milik orang lain.


Bel kamarnya berbunyi sejak tadi, tapi Abimana mengabaikannya. Arman memang gila. Dia mengirimkan wanita untuk menemani Abimana menghadiri undangan yang dikirim keluarga Mahendra padanya.


"Bi, jangan tunjukkan sisi rapuhmu pada Alana. Dia harus tahu kamu bahagia jika kamu ingin dia bahagia." ucap Arman saat bertemu Abimana kemarin sore setelah membahas proyek kerja sama mereka.


"Akan aku kirim seseorang untuk menemani kamu besok malam." ucap Arman sebelum mereka berpisah.


Dan Abimana sangat yakin, yang menekan bel saat ini adalah sesorang yang Arman katakan. Abimana tidak akan berbuat bodoh lagi. Dia tidak akan membawa sembarang orang hanya untuk memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja dihadapan Alana. Tidak akan!


Jadi yang Abimana lakukan hanya membiarkan bel itu berhenti sendiri. Lebih baik dia menatap jalanan yang ramai dibawah sana. Sambil berpikir ulang, apakah dia akan menghadiri resepsi Alana dan Wisnu nanti malam atau tidak.


Sepertinya Abimana masih sama seperti dulu. Sulit sekali mengambil keputusan jika menyangkut Alana. Bukankah sikap plin plan seperti ini yang membuat Alana akhirnya memilih bercerai darinya?


...🌿🌿🌿...


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku  ...

__ADS_1


__ADS_2