
Seperti yang diinginkan Ambar, malam ini Wisnu membawa Alana dan Arkana untuk bertemu keluarganya. Tidak ada percakapan sepanjang jalan antara Wisnu dan Alana, bukan karena bertengkar atau selisih paham. Tapi, keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Alana dengan pikirannya yang yakinan tidak akan takut menghadapi Ambar, meskipun ibu dari pria yang mencintainya itu akan menghinanya. Alana akan bersikap tenang, apa lagi ada Sandra yang sudah jelas sangat menerima Alana dengan tangan terbuka.
Untung saja jamuan makan malam yang semula akan diadakan di kediaman orang tua Wisnu kini beralih ke kediaman utama keluarga Mahendra, yaitu kediaman yang ditempati Sandra dan Mahendra.
Sementara Wisnu, terus memikirkan bagaimana caranya agar Ambar tidak menyakiti Alana dan Arkana. Meskipun ada Sandra yang pasti mampu membuat mamanya tidak banyak bicara.
"Bu."
Suara Arkana memecah keheningan. Membuat Alana dan Wisnu sama-sama tersentak dari lamunan mereka, lalu menoleh pada Arkana yang kini melihat kearah ibunya.
"Iya sayang." jawab Alana kemudian, sambil memberikan kecupan sayang dipucuk kepala sang putra.
"Gi, nana?" tanya bayi yang tidak terasa usianya sudah mengginjak delapan belas bulan itu.
"Kita mau pergi ke rumah opa buyut dan oma buyut sayang."
Bukan Alana yang menjawab, melainkan Wisnu. Pria itu bicara sambil mengulurkan tangannya mengusap sayang kepala Arkana. Sering menghabiskan waktu bersama Arkana, sedikit banyaknya membuat Wisnu mulai memahami setiap kosa kata yang keluar dari mulut balita tersebut. Tidak sedikit, kosa kata baru yang Arkana dapatkan dari Wisnu saat pria itu mengajaknya bicara.
"Pa yut, ma yut!" seru Arkana tidak mengerti, tapi dia bertepuk tangan membuat Alana dan Wisnu sama-sama terkekeh.
Anak itu berseru dan senang karena mendapatkan kosa kata baru. Sebelumnya, Arkana belum pernah mendengar ibunya menyebut kata opa buyut dan oma buyut.
Arkana hanya megenal sapaan oma dan opa saja yang ditujukan untuk Wijaya dan Ajeng tanpa ada embel buyutnya. Itu pun Arkana sangat jarang mengucapkannya, apa lagi jika bukan karena terbatasnya waktu bertemu bayi laki-laki itu dengan kedua kakek dan neneknya.
Sementara untuk orang tua Alana, ibu Arkana itu memperkenalkan pada putranya dengan sebutan eyang putri dan eyang akung. Baru kali ini dia mendengar kata opa buyut dan oma buyut. Tentu saja Arkana tidak paham apa itu opa buyut dan oma buyut.
"Opa buyut, itu papanya, papa Daddy. Kalau oma buyut, itu mamanya, mama Daddy" sahut Wisnu menjelaskan.
__ADS_1
"Papa, mama, Daddy." ulang Arkana ucapan Wisnu.
"Iya opa buyut itu papanya papa Daddy. Kalau papanya Arka itu Daddy. Oma buyut itu mamanya mama Daddy, kalau mamanya Arka, bunda." ucap Wisnu menjelaskan dengan lebih jelas agar Arkana paham.
Sementara Arkana hanya mengangguk, entah dia mengerti atau tidak dengan apa yang Wisnu katakan. Yang penting dia mengangguk dan itu membuat Wisnu senang.
"Arka paham tidak? Tadi apa yang daddy jelaskan?" tanya Alana menguji kemampuan pemahaman putranya itu.
"Kek titu papa daddy. Nek titu mama daddy." jawab Arkana diluar dugaan Alana dan juga Wisnu.
"Pintarnya, anak siapa sih ini?" balas Alana sambil menciumi pucuk kepala Arkana berkali-kali.
"Nanak Daddy." jawab Arkana membuat Wisnu tersenyum lebar. Siapa yang tidak bangga diakui ayah oleh putra wanita yang dicintainya.
"Jadi Arka anak Daddy, bukan anaknya Ibu?" sahut Alana dengan wajah dibuat merajuk.
"Nanak Nda duda." jawab Arkana.
"Nanak Daddy mama Unda." jawab Arkana.
Alana memeluk erat tubuh bayi gembul itu. Semakin hari Arkana semakin pintar saja. Tidak salah dia sering megajak Arkana bicara selama ini, membuat anak itu jadi cepat bicara dan sudah memiliki cukup banyak kosa kata.
Dalam hati Alana berjanji, untuk selalu membuat anaknya bahagia. Keputusannya menerima lamaran Wisnu bukan semata karena pria itu cinta pertamanya saja, tapi karena Wisnu tulus menyayangi Arkana dan mampu menjadi sosok ayah yang memang Arkana butuhkan. Seperti saat ini.
Percakapan mereka bertiga terus berlanjut. Sesekali Alana dan Wisnu bergantian mengenalkan sesuatu yang baru Arkana lihat di sepanjang jalan yang mereka melewati. Hingga tidak terasa mereka tiba di kediaman utama keluarga Mahendra.
Begitu memasuki halaman kediaman Mahendra, Alana melihat tidak banyak perubahan yang terjadi. Menginjakkan kembali kakinya di kediaman ini, membuat Alana mengingat tempat ini menjadi saksi untuk pertama kalinya dia di kenalkan oleh Rendi dan Dirga kepada Wisnu.
Kedekatan Wisnu dengan kedua kakaknya, membuat Alana secara tidak langsung juga menjadi dekat dengan pria itu. Bukan keinginan Alana untuk selalu ikut kemanapun Rendi dan Dirga pergi menghabiskan week end mereka. Tapi keinginan keduanya yang mengajak Alana untuk pergi bersama mereka.
__ADS_1
"Lebih baik kamu perginya sama Abang dari pada ngeluyur sendiri nggak jelas." ucap Rendi kala Alana menolak ikut bersama kakaknya itu.
"Al nggak sendiri tapi sama Kinara." balas Alana.
Bukan melunak, Rendi malah mengajak Kinara ikut serta bersama mereka. Kedekatan keduanya menghadirkan perasaan yang lebih dari sebagai teman. Hal itu tidak hanya dirasakan Alana dan Wisnu saja, tapi juga dirasakan Dirga dan Kinara. Berbeda dengan Rendi yang memang sudah menjalin kasih dengan Sandra sejak remaja.
"Sayang." tegur Wisnu pada Alana yang melamun.
"Kita sudah sampai." ucap Wisnu lagi.
Alana melihat keluar begitu mendengar ucapan Wisnu. Benar saja, di teras sudah ada Sandra yang menunggu kedatangan mereka. Wanita tua itu tersenyum lebar menyambut Alana dan Arkana yang ada dalam gendongan Wisnu berjalan kearahnya.
"Akhirnya kalian sampai juga." ucap Sandra dengan wajah berseri-seri.
"Ini pasti Arka. Ini oma buyut sayang." ucap Sandra lagi sambil menciumi wajah Arkana yang tidak menolak, padahal ini pertemuan pertama mereka.
Sepertinya Arkana tahu mana orang yang tulus sayang padanya dan ibunya. Itu terbukti saat Ambar datang dan menyapa Arkana, balita tampan itu tidak mau Ambar menyentuhnya. Dia bahkan tidak ingin melihat ibu dari Wisnu itu. Arkana bahkan mengeratkan lingkaran tanganya di leher Wisnu seperti orang ketakutan.
Awalnya Alana merasa tidak enak dengan reaksi Arkana terhadap Ambar, namun detik selanjutnya Alana tersenyum. Baru kali ini dia melihat Ambar tidak banyak bicara. Apa yang sebenarnya terjadi?
Alana menoleh untuk melihat Wisnu yang juga tengah memeperhatikannya. Apa Wisnu memberikan ancaman pada ibunya untuk merestui hubungan mereka?
Jika iya, itu berarti Ambar hanya terpaksa menerima hubungan mereka. Tentu saja Alana akan berpikir ulang untuk melanjutkan rencana pernikahannya dengan Wisnu. Bukan jual mahal, Alana hanya tidak ingin gagal untuk kedua kalinya. Apa dia salah?
Seolah tahu apa yang dipikirkan Alana, Wisnu meraih tangan calon istrinya itu lalu menggeggamnya. Wisnu tidak ingin Alana kembali menolak ajakannya untuk segera menikah.
Sementara Alana hanya bisa pasrah begitu tangan besar Wisnu menggenggam erat tangganya. Mencoba melepaskannya pun percuma, justru akan menarik perhatian yang lain. Jadi kali ini Alana akan memaafkan Wisnu dengan kelakuannya.
...🌿🌿🌿...
__ADS_1
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...