
Abimana tiba di rumah sakit tempat dimana Alana dia titipkan. Melirik jam tangan mahal yang melingkar ditangannya, Abimana berdecak kesal. Dia sudah sangat terlambat untuk bertemu Alana, karena waktu berkunjung hanya tinggal tiga puluh menit lagi.
Setelah tahu Alana meminta cerai, Wijaya menahan Abimana untuk segera kerumah sakit. Pria paruh baya itu langsung menghubungi pengacara keluarga mereka. Apalagi jika bukan untuk mengurus perceraian Abimana dan mengambil hak asuh Arkana jatuh ketangan mereka.
"Abi tidak akan melepaskan Alana, Pa!" ucap Abimana begitu Wijaya menutup panggilan teleponya dengan pengacara.
"Jangan bodoh! Untuk apa kamu bertahan dengan wanita yang pikirannya sudah terganggu seperti itu." balas Wijaya.
"Pa!" Abimana tidak suka Wijaya menghina Alana. Semua terjadi bukan kemauan Alana tapi kesalahan Aditya dan juga dirinya.
"Abi tidak akan bercerai!" sahut Abimana.
"Masih banyak wanita sempurna diluar sana yang bisa kamu nikahi, Bi. Mereka tidak akan menolak menjadi menantu keluarga Rahardian." ucap Wijaya memberikan saran.
"Tapi tidak ada yang seperti Alana." sanggah Abimana ucapan Wijaya.
Para wanita yang dimaksud Wijaya adalah mereka yang melihat seorang Abimana dari harta dan nama besar Rahardian tidak yang lainnya. Berbeda dengan Alana, istrinya tidak silau akan harta dan nama besar Rahardian yang disandangnya.
Selama menjadi istri Abimaana, Alana sangat pandai mengatur pengeluaran. Membeli sesuatu yang hanya dia dan keluarganya butuhkan saja, tidak berlebihan. Tas dan barang mewah lainnya hanya beberapa saja yang dia miliki, itu pun karena Abimana atau Ajeng yang membelikannya sebagai hadiah.
Dan yang terpenting, Alana itu tulus mencintai Abimana. Tapi itu dulu! Dan itu tidak berlaku lagi untuk saat ini.
Dengan langkah yang lebar, Abimana menghampiri meja bagian penerima tamu yang akan berkunjung. Tujuannya haya satu, secepatnya bertemu Alana, lalu meminta maaf untuk kesekian kalinya. Berharap Alana membatalkan gugatan cerai yang istrinya layangkan.
Abimana tidak ingin Alana berhadapan dengan pengacara keluarga Rahardian yang ditunjuk Wijaya. Abimana tidak ingin memisahkan bayi laki-laki itu dari ibunya. Abimana akan membela dan mempertahankan Alana. Mampukah Abimana mewujudkan keinginannya itu?
Tiba dimeja penerima tamu untuk anggota keluarga pasien yang ingin menjenguk keluarga mereka, Abimana langsung disambut salah satu karyawan yang bertugas.
"Selamat sore, ada yang bisa kami bantu?" tanya karyawan yang ada di meja tamu tersebut.
"Saya Abimana, suami dari pasien yang bernama Alana." jawab Abimana.
"Mau minta laporan kesehatan atau menjenguk, Pak?" tanya karyawan itu lagi.
__ADS_1
Karyawan tersebut sebenarnya sudah sangat mengenal Abimana. Hanya karena menjalankan perintah atasannya yang juga pemilik rumah sakit ini, maka dia tetap melakukan standar operasional rumah sakit, berusaha untuk seolah tidak mengenal siapa Abimana dan memperlakukan pria itu seperti anggota keluarga pasien lainnya.
"Menjengguk istri saya." jawab Abimana.
"Baik. Saya cek kondisi pasien sebentar ya Pak." jawab karyawan tersebut.
Abimana mengangguk, setiap dia berkunjung selalu melakukan prosedur ini. Tidak masalah, karena prosesnya hanya sebentar. Abimana tidak tahu, sebenarnya dia bisa saja masuk tanpa prosedur karena Alana pasien di kelas VIP.
"Mohon maaf Pak. Pasien atas nama ibu Alana sudah tidak di rawat disini lagi. Beliau sudah pulang tadi pagi."
"Pulang?"
Seketika rasa kecewa menyeruak memenuhi rongga dada Abimana, mendengar ucapan karyawan tersebut. Istrinya sudah pulang, kemana? Mengapa tidak ada laporan yang dia terima.
"Maaf saya yang bertanggung jawab atas pasien bernama Alana, mengapa bisa dia dipulangkan tanpa memberitahu saya?" tanya Abimana tidak terima.
"Maaf untuk itu saya kurang tahu, Bapak bisa tanyakan langsung pada bagian administrasi." jawab karyawan tersebut.
Dirga memang menghubungi Abimana kemarin sore, seperti saran Wisnu mereka tidak akan menutupi apapun dari Abimana kecuali merahasiakan tempat tinggal Alana.
Abimana merogoh saku celananya, lalu dia mengambil ponsel miliknya yang dia simpan disana. Menyalakan layar ponselnya, banyak notifikasi dan panggilan tak terjawab yang masuk, salah satunya pesan masuk dari nomor tak dikenal.
"Apa rumah sakit punya alamat tempat tinggal istri saya yang baru?" tanya Abimana.
"Tidak ada. Tapi Bapak bisa menghubungi pak Dirga." jawab karyawan tersebut yang memang diberi pesan seperti itu.
Baru saja Abimana akan menekan tombol panggilan untuk menghubungi Dirga, satu pesan masuk dan itu pesan yang dikirimkan oleh Alana. Abimana segera membaca pesan tersebut, berharap berita baik, Alana memberikan informasi dimana istri dan putranya tinggal saat ini.
Alana [Mas Abi, aku sudah sehat dan sekarang sudah tidak tinggal di rumah sakit. Terima kasih sudah peduli dan membawa aku ketempat ini, membuat aku bisa berpikir jernih dan mengambil sebuah keputusan besar dalam hidupku. Maaf jika keputusanku membuat mas Abi kecewa, aku memilih perpisahan seperti yang pernah mas Abi inginkan. Karena itu aku tidak bisa pulang kembali ke kediaman kita. Aku pamit, tolong tandatangani surat cerai yang dikirimkan pihak pengadilan dan jangan mempersulit langkah ku. Karena aku ingin bahagia.]
Tanpa pamit pada karyawan rumah sakit, Abimana berlalu begitu saja. Meninggalkan rumah sakit dengan perasaan yang dia sendiri tidak bisa menggambarkannya. Satu orang yang akan dia tuju untuk meluapkan semua amarah ini dan orang itu adalah adik kesayangannya, Aditya.
Memasuki kediaman orang tuanya, Abimana langsung saja menuju kamar sang adik. Orang suruhannya dia tugaskan kembali untuk mengawasi Aditya, karena itu Abimana tahu dimana adiknya itu saat ini berada.
__ADS_1
Abimana berjalan tanpa memperhatikan sekitar, dia bahkan tidak memperdulikan Ajeng yang menyapanya dan juga memanggilnya.
Diabaikan Abimana, tentu saja membuat Ajeng terkejut. Meski dia bukan ibu kandung pria itu, tapi putra suaminya itu sangat hormat dengannya. Tidak pernah mengabaikannya seperti sekarang ini.
"ADITYA!" seru Abimana memanggil adiknya itu.
Mendengar suara Abimana yang keras, Ajeng baru menyadari jika putra pertamanya itu sedang dalam kondisi marah. Tidak ingin sesuatu terjadi dengan kedua putranya, Ajeng segera menyusul Abimana.
"Panggilkan satpam." ucap Ajeng saat berpapasan dengan asisten rumah tangga.
Sudah dapat Ajeng pastikan, kemarahan Abimana pasti menyangkut Alana. Sesuatu sepertinya telah terjadi, hingga Abimana kembali marah seperti ini pada Aditya.
Tiba di pintu kamar Aditya, seperti dugaan Ajeng. Aditya sudah terjatuh di tempat tidur. Bibirnya terluka dan rambutnya berantakan. Aditya berdiri, dia ingin membalas Abimana.
"Tahan mereka." ucap Ajeng pada kedua satpam yang sudah tiba disana.
Ajeng duduk berhadapan dengan Abimana setelah satpam membawa putra suaminya itu keluar dari kamar Aditya. Mereka sekarang berada di ruang keluarga.
"Apa yang terjadi Bi?" tanya Ajeng.
"Alana mengajukan gugatan cerai."
"Apa? Tidak mungkin!" sanggah Ajeng.
"Dan papa merestui keinginan Alana. Abi tidak terima, Bun. Abi tidak akan menceraikan Alana, meski Abi harus melawan papa." ucap Abimana.
"Bunda dukung kamu. Bunda juga tidak ingin kamu bercerai." balas Ajeng.
Tanpa keduanya sadari, Aditya mencuri dengar perbincangan tersebut. Sudut bibirnya melukiskan lengkung. Dia senang dengan berita yang disampaikan Abimana. Kakaknya tidak bisa melawan sang papa, Aditya sangat yakin.
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku...
__ADS_1