
Alana meninggalkan Rendi dan Dirga yang sedang bicara. Tepatnya Rendi yang sedang menjelaskan hubungannya dengan Sandra dan juga gugatan cerai yang sudah kakaknya itu layangkan.
Dia sudah mendengarkan penjelasan Rendi sebelumnya. Maka Alana memilih untuk masuk kekamarnya, mengganti pakaian Arkana yang sudah kotor dan berkeringat sehabis bermain bersama Rendi.
"Anak ibu sudah ganteng dan wangi. Sekarang waktunya bo..." Alana sengaja menjeda ucapannya agar Arkana ikut melanjutkan.
"Bo." sambung Arkana ucapan Alana.
Alana terkekeh sambil menoel pipi putranya yang semakin hari semakin berisi.
"Pinter banget sih anaknya Ibu." ucap Alana.
"Nak da...di." sahut Arkana.
"Anak Ibu." balas Alana lagi.
"Da...di." Arkana tidak mau kalah, dia kembali menyahuti ucapan ibunya.
"Iya deh, anak daddy." ucap Alana akhirnya mengalah.
"Ibu mama da...di." ucap Arkana.
"Iya, Kana anak Ibu sama daddy." sahut Alana.
"No Bu, Alka. Tata da..di Alka." protes Arkana yang tidak suka dipanggil Kana. Dia lebih suka panggilan yang Wisnu sematkan untuknya.
Alana hanya bisa membolakan matanya pada Arkana yang semakin pintar protes apa yang menurutnya salah. Dan yang menyebalkan, selalu saja apa kata Wisnu yang bayi gembul itu setujui.
"Bu... lalo da...di." pinta Arkana.
"Daddy lagi sibuk kata uncle Dirga tadi. Sore saja kita halo-halo daddy nya." ucap Alana menjelaskan.
***
Sebenarnya hari ini Wisnu ingin mengajak Arkarna pergi bermain ketempat permainan anak seperti yang pernah dia janjikan pada bayi gembul itu.
Tapi sekertarisnya hari ini membuat jadwal kegiatan yang padat untuknya dan semuanya penting. Untung saja dia belum memberitahu Alana. Jika tidak bisa saja dia dituduh php oleh wanita yang selalu saja mengetarkan hatinya setiap kali bertemu.
Mengingat dua orang yang dia sayangi, Wisnu jadi merindukan mereka. Ingin rasanya Wisnu segera melamar Alana dan menikahi wanitanya itu. Tapi sayang, status Alana belum bisa menerima lamaran dari siapapun.
__ADS_1
Coba saja dulu dia tidak terlalu banyak berpikir. Mungkin saat ini dia sudah bahagia dan memiliki banyak anak. Berangan-angan seperti itu saja sudah mebuat jantung Wisnu bergetar, bagaimana jika itu kenyataan? Dia pasti akan sangat bahagia pastinya.
Kebahagiaan Wisnu terganggu saat seseorang masuk keruangannya. Wisnu menatap datar pada wanita yang sekarang menyapanya.
"Hai Nu. Aku bawakan makan siang. Ini aku dan mama kamu yang masak, dan tante minta aku yang antarkan ini untuk makan siang kamu." ucap Helen menyapa Wisnu.
"Aku sedang banyak pekerjaan dan makan siang diluar bersama klien. Kamu makan saja sendiri atau bawa pulang lagi." jawab Wisnu.
Ada nada kesal dalam bicaranya. Mamanya masih saja menjodohkannya dengan Helen. Harus berapa kali lagi dia katakan kalau dia tidak pernah tertarik dengan wanita seperti Helen.
"Apa sih bagusnya Alana. Sudah janda beranak satu cantiknya juga biasa saja. Helen lebih cantik dari Alana dan keluarga dia tidak terlalu jauh dibawah kita." ucap Ambar setiap kali Wisnu menolak pergi kencan dengan Helen.
Wisnu tidak pernah menjawab setiap ucapan ibunya. Percuma saja dijelaskan karena dia tahu seperti apa Ambar. Jika sudah tidak suka ya tidak suka. Keras sekali hati wanita yang melahirkannya itu.
Tapi Wisnu tidak peduli, dia laki-laki bisa menikah tanpa restu ibunya. Dia tidak butuh wali saat menikah, kan? Maka Wisnu tetap akan melangkah untuk bersama Alana meski dia terpaksa melawan restu dari Ambar. Hanya Ambar, kan?
Ya hanya Ambar yang tidak memberikan restunya pada Wisnu untuk bersama Alana. Ayah dan kakeknya terutama sang nenek sudah sangat merestui bahkan mereka terlihat sangat senang meski Wisnu memberitahu status Alana sekarang.
"Itu berarti Alana wanita yang punya pendirian, Nu. Untuk apa bertahan dengan laki-laki seperti suaminya itu. Sudah tidak bisa menjaga kehormatan istrinya, tidak tegas juga." ucap Sandra, nenek Wisnu dari ayahnya.
Ayah dan kakeknya juga tidak pernah mempermasalahkan keyakinannya yang berpindah mengikuti jejak sang nenek menjadi mualaf. Jadi, hanya Ambar penghalangnya. Wisnu yakin dia mampu melawan restu ibunya.
"Tidak bisa begitu, aku dan mama kamu sudah susah memasaknya khusus untuk kamu. Setidaknya dimakan sedikit saja." ucap Helen memprotes ucapan Wisnu.
Baru saja Helen akan protes, suara dering ponsel menginterupsi ucapannya. Ponsel Wisnu yang berdering dan pria itu langsung mengangkatnya. Berbanding terbalik jika dia yang menghubungi Wisnu. Pria itu tidak pernah mengangkat panggilan darinya. Helen hanya bisa menatap kesal pada pria yang dijodohkan dengannya itu.
Jika bukan karena janji Ambar yang akan memberikan dia banyak kekayaan, mana mau Helen merendahkan diri seperti ini dan bersusah payah masuk dapur membantu Ambar yang menyebalkan menurut Helen. Dia akan menyingkirkan wanita itu nanti setelah dia jadi nyonya Wisnutama.
"Siapa?" tanya Helen setelah Wisnu menutup panggilannya.
Wisnu tidak menjawab pertanyaan Helen. Dia bukan siapa-siapa Wisnu, untuk apa wanita itu bertanya siapa yang menghubungi Wisnu. Saat ini dia harus segera pergi untuk bertemu klien direstoran dari pada meladeni Helen.
Wisnu melangkah keluar ruangannya, meninggalkan Helen begitu saja tanpa bicara apa-apa. Asisten Wisnu yang sejak tadi menunggu didepan pintu segera mengikuti langkah bosnya yang berjalan menuju lift.
"Katakan pada pihak keamanan, jangan izinkan lagi wanita itu masuk kedalam perusahaan ini apa lagi sampai keruangan saya." ucap Wisnu memberikan perintah.
"Baik Pak, akan segera saya sampaikan." ucap Haikal yang sangat mengerti mengapa Wisnu sangat tidak suka dengan kehadiran Helen.
***
__ADS_1
Abimana tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaanya. Dia takut Dirga memberi tahu Alana tentang Rachel. Sungguh Abimana sangat menyesal. Dia tidak ingin menyakiti hati Alana lagi, tapi apa yang dia lakukan sudah sangat menyakiti istrinya.
"Bagaimana ini?" gumam Abimana prustasi.
Dia tidak mengerti mengapa tubuhnya selalu saja bereaksi saat di sentuh oleh Rachel, meski hatinya dengan keras menolak untuk melakukannya.
Bagaimana juga Rachel tahu tentang dirinya yang akan bercerai? Mereka sudah lama sekali hilang kontak sejak Rachel menikah dan pindah ke luar kota.
Lalu apa benar Camelia putrinya seperti yang Rachel katakan? Abimana hampir saja lupa dengan tujuannya untuk menyelidiki itu. Jika benar dia harus bagaiamana?
Sementara itu orang yang sedang dipikirkan Abimana tengah berada di kediaman orang tua Alana. Rendi yang memerintahkan orang-orangnya untuk membawa Rachel ke tempat itu dengan penjagaan yang ketat.
Wanita itu sedang berpikir bagaiamana caranya dia bisa mengelabui orang-orang Rendi dan kabur. Amel orang pertama yang akan dia datangi untuk dia marahi. Berani-beraninya dia memberitahu Rendi tentang dirinya.
"Bagaimana ini?" gumam Rachel setelah dia tidak bisa menemukan jalan untuk melarikan diri.
Sepertinya Rendi telah memperhitungkan semuanya untuk membalas apa yang sudah dia dan Amel lakukan terhadap Rendi dan Alana.
"Tunggu!"
Rachel menemukan ide, dia masih bisa menghubungi Cintia untuk meminta bantuan. Rendi tidak menyita ponselnya, jadi dia masih bisa berkomunikasi. Mengapa tidak dari tadi saja dia melakukannya. Karena terlalu takut, otak Rachel sepertinya jadi lambat untuk berpikir.
Tidak ingin membuang waktu, Rachel segera saja menghubungi Cintia yang langsung menerima panggilan darinya.
"Ada apa Rachel?" tanya Cintia tanpa menyapa saudara sepupunya itu terlebih dulu.
"Bantu aku Cintia, please." pinta Rachel.
"Bantu apa? Kamu diusir Abimana?" tanya Cintia.
"Aku jadi tahanan suami Amel." jawab Rachel.
"What! Bagaiamana bisa? Bukankah semalam kamu bersama Abi?"
"Nanti saja aku ceritakan, sekarang keluarkan aku dulu dari tepat ini." jawab Rachel.
"Kamu dimana?" tanya Cintia.
"Aku kirim alamatnya." balas Rachel.
__ADS_1
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...