
Sudah satu bulan ini Abimana memutuskan untuk kembali menetap di Indonesia. Cukup sudah dia bersembunyi untuk mengobati luka, luka yang dibuatnya sendiri karena meragukan kesetiaan Alana.
Abimana merasa hatinya sudah kuat menerima kenyataan. Kenyataan bahwa Alana bukan lagi miliknya. Perusahaan Wijaya yang dia tangani di negara ini juga mulai membaik dan bisa kembali dia serahkan pada orang kepercayaan Wijaya. Jadilah Abimana pulang ke negaranya, dimana wanita yang dia cintai berada.
Berdasarkan keyakinannya, Abimana ingin menemui Alana. Mencoba kembali bicara dari hati kehati, mungkin saja Alana kali ini bisa memaafkan dan mereka kembali bersama.
Namun tidak semudah itu untuk Abimana bisa menemui Alana lagi. Ayah Arkana itu pun berusaha mengorek keterangan melalui Luci. Belum juga bertemu Luci, Abimana harus menerima kabar bahwa Alana akan menikah.
"Secepat itu?" batin Abimana setelah Arman memberitahu berita Alana yang akan menikah.
Secepat itu Alana menemukan penggantinya, tentu saja Abimana tidak percaya. Dulu saja, Abimana harus berjuang cukup lama untuk bisa mendapatkan hati Alana yang terluka karena di khianati Naren. Tapi sekarang? Hanya hitungan bulan Alana kembali akan menikah. Rasanya sangat sakit. Lebih sakit dari pada waktu mereka akan bercerai.
Kecewa? Itulah yang Abimana rasakan. Ternyata dia belum siap menerima kenyataan ini. Dari pada menyesali apa yang telah terjadi, Abimana memilih menyibukkan diri dengan bekerja, bekerja dan bekerja. Sudah seperti robot saja dirinya saat ini. Hingga Ajeng merasa sedih melihat putra sambungnya itu.
"Kamu baru pulang?" tegur Wijaya pada Abimana yang baru saja masuk kedalam kediamannya.
Sejak memutuskan kembali ke Indonesia, Abimana memilih tinggal bersama Wijaya dan Ajeng dari pada hidup sendiri di apartement.
Inginnya Abimana, dia kembali ke kediamannya saat bersama Alana. Sayangnya, kediaman itu sudah dijual oleh Alana. Rumah yang jadi mahar pernikahannya dengan Alana sudah mantan istrinya itu lepas. Sebegitu inginnya Alana melupakan dirinya, sehingga rumah yang penuh kenangan itu Alana jual.
"Jangan terlalu menyibukkan diri dengan pekerjaan, Abi." ucap Wijaya lagi.
"Hanya pekerjaan yang bisa membuat aku hidup Pa." jawab Abimana sambil memalingkan wajahnya yang menghadap Wijaya.
Abimana tidak perlu diingatkan tentang pekerjaan. Dia sengaja menyibukkan diri dengan bekerja. Dengan begitu, Abimana bisa mengalihkan pikirannya yang selalu meningat Alana dan Arkana.
"Tapi kamu juga butuh waktu untuk dirimu sendiri Abimana!" seru Wijaya sambil meletakkan undangan yang baru saja dia baca.
__ADS_1
Dan benda itu menarik perhatian Abimana. Dari sampulnya yang mewah, Abimana bisa menebak jika itu undangan dari kolega papanya. Karena rasa penasarannya, Abimana mengambil undangan itu. Dia hanya ingin tahu, keluarga kaya mana kali ini yang akan mengadakan pesta pernikahan?
"Keluarga Mahendra?" gumam Abimana.
Abimana sedikit banyak tahu tentang keluarga itu, sayangnya dia tidak begitu mengenal satu persatu anggota keluarga sultan tersebut. Keluarga Abimana memang salah satu keluarga yang memiliki kekayaan diatas rata-rata. Tapi keluarga Mahendra masih jauh diatas keluarga Rahardian.
"Pantas saja undangannya semewah ini." ucap Abimana setelah tahu keuarga sultan mana yang mengundang keluarga mereka. Satu kehormatan bukan?
"Kosongkan jadwal mu untuk besok lusa. Ikutlah bersama Papa dan bunda menghadiri undangan pernikahan itu." ucap Wijaya.
"Anggota keluarga mereka yang mana yang akan menikah? Apakah putri dari tuan Indra?" tanya Abimana.
"Kamu baca saja isinya. "jawab Wijaya membuat Abimana yang tadinya ingin menaruh kembali undangan itu menahan gerakan tangannya.
Karena Wijaya tidak ingin memberitahu siapa yang menikah, Abimana pun terpaksa membacanya sendiri. Dan betapa terkejutnya Abimana saat membaca nama mantan istrinya yang tercentak dengan tinta emas itu bersanding dengan putra mahkota keluarga Mahendra.
"Tentu saja itu benar." jawab Wijaya.
Sekali lagi Abimana membaca undangan itu. Mungkin saja karena pikirannya pada Alana yang akan menikah sehingga dia melihat nama Alana yang tertulis dalam undangan tersebut.
Namun, sudah tiga kali Abimana mengulangnya. Nama yang tercetak disana masih saja nama Alana mantan istrinya.
"Alana sudah kenal lama dengan keluarga Mahendra. Khususnya dengan calon suaminya itu. Sudah sejak dulu mereka saling mencintai namun terhalang oleh keyakinan. Sekarang ceritanya berbeda. Wisnu sudah memiliki keyakinan yang sama, dan Alana juga single. Sehingga tidak ada penghalang lagi bagi mereka untuk hidup bersama. "ucap Wijaya menjelaskan.
Abimana terdiam. Dia sudah tahu Alana akan menikah, tapi dia tidak mencari tahu siapa calon suami Alana. Abimana hanya menebak calon suami Alana adalah pria yang pernah hadir di persidangan perceraiannya dengan Alana. Abimana tahu Alana punya cinta pertama dengan pria lain sebelum Naren. Tapi Abimana tidak mengira, jika pria itu berasal dari keluarga Mahendra.
"Papa tahu kamu masih mengharapkan Alana kembali Abi. Kubur keinginan kamu itu. Datanglah ke pesta itu, agar kamu bisa melihat bagaimana Alana bahagia. Bukankah cinta sejati itu bahagia melihat orang yang kita cintai itu bahagia." ucap Wijaya lalu berdiri untuk pergi meninggalkan Abimana. Sebelum melangkah, Wijaya kembali bicara pada putra sulungnya itu.
__ADS_1
"Wisnu pernah merasakan di posisi yang kamu rasakan sekarang. Dia bahagia melihat Alana bahagia denganmu." ucap Wijaya lalu melangkah pergi meninggalkan Abimana untuk berpikir.
"Belajarlah merelakan orang yang kita cintai untuk bahagia. Itu akan membuat hidup kamu juga bahagia." ucap Wijaya lagi sebelum langkahnya semakin jauh.
***
Dua hari sudah Abi mana terus berpikir. Apakah dia akan menghadiri pernikahan Alana dan Wisnu? Atau dia hanya berdiam diri di rumah saja, meratapi kebahagiaan Alana karena kebodohan dia di masa lalu.
Kenangan masa lalu terus hadir dalam ingatan Abimana. Hari demi hari yang pernah dia lewati bersama Alana seolah rekaman film yang kembali ditayang ulang. Air mata kesedihan, senyum kebahagian, canda dan tawa yang mewarnai hari-hari bahagia itu semua tergambar jelas dalam ingatan Abimana.
Ingatan Abi mana kembali di saat pertama kali dia diberitahu Alana tengah hamil, mengandung buah hati mereka. Segala keinginan sang istri selalu Abimana turuti. Alana dan buah hatinya adalah anugerah terindah yang Abimana dapatkan. Jadi, apapun itu, demi mereka Abimana akan lakukan.
Abimana sangat bahagia, dua tahun lamanya dia menunggu. Dan berita bahagia itu datang. Tak sekalipun Abimana mengabaikan Alana kala itu. Bagi pria itu Alana dan buah hatinya adalah segala-galanya. Seolah benda berharga, Abimana selalu menjaga Alana dan juga buah hati mereka.
Ingatan Abimana terus berlanjut pada hari kelahiran Arkana, saat itu dia tengah sibuk dengan pekerjaannya. Ajeng menelponnya, bundanya itu memberikan kabar bahwa Alana tengah dilarikan ke rumah sakit. Saat itu juga Abimana meninggalkan ruangannya, berlari ke parkiran lalu masuk ke dalam mobilnya dan membelah jalanan untuk segera sampai di rumah sakit tempat Alana tengah berjuang.
Tak terasa air mata mengalir di pipi Abimana, kebahagiaannya lengkap sudah. Buah hatinya bersama Alana terlahir sempurna. Begitu bahagianya Abimana, apalagi melihat wajah putranya yang sangat mirip dengannya.
Sayangnya, kebahagiaan itu hancur seketika, tepat setelah dia merayakan hari jadi pernikahannya yang ketiga dan berakhir dengan perceraian.
Kini Alana sudah menemukan kebahagiaanya. Lalu bagaimana dengan dirinya? Abimana belum bisa menentukan pilihan. Dia ingin bahagia melihat Alana bahagia seperti yang Wijaya katakan, meski hati kecilnya menolak.
Apakah Abimana akan hadir di pernikahan Alana?
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...
__ADS_1