
Seperti yang Wisnu katakan, dirinyaa sudah mempersiapkan hari ini. Hari dimana dia menemui Rendi sebagai kakak dari Alana, bukan sahabatnya.
Wajah tampan itu terus melukiskan senyum, tentu saja, itu menambahkan kadar ketampanannya. Sandra yang sejak dulu selalu mendukung keputusan Wisnu hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan sang cucu yang begitu bahagia.
"Baru lamaran aja udah kayak gini. Gimana nanti pas mau nikah, Bang." ujar Inaya menggoda sang kakak.
"Kamu kayak nggak tahu aja, gimana bahagianya kakakmu ini bisa melamar orang yang dicintainya."
Bukan Wisnu yang menjawab, tapi Sandra yang membela cucu kesayangan. Sementara yang dibela terus saja menyungingkan senyum.
"Kamu sendiri bagaimana? Kapan Dito dan keluarganya datang?" tanya Indra yang baru ikut bergabung dan langsung nimbrung pembicaraan mereka yang sedang berkumpul diruang keluarga.
Puk, Sandra menepuk lengan Indra, "Selesaikan dulu masalah Inaya dengan keluarga Amar." ucapnya.
"Iya Mi. Setelah urusan Wisnu selesai, kita putuskan pertunangan Inaya dan Amar. Semoga saja keluarganya bisa menerima keputusan kita. Ya..., siapa yang mau putrinya menikah dengan penjahat kelamin seperti Amar itu." jawab Indra menyindir Ambar secara tidak langsung.
Sementara yang disindir hanya diam saja. Membela diri pun percuma, dia memang salah menilai Amar dan Helen yang ternyata bermain gila di belakangnya. Menyesal, tentu saja. Tapi egonya yang tinggi, membuat Ambar terlihat biasa saja. Walau kemarin malam dia sempat berdebat dengan Amar, karena pria itu terus saja menyangkal kebenaran yang sudah dia ketahui.
flash back
"Jadi mbak cantik ini calon istri Mas Wisnu?" tanya Amar, setelah Wisnu menunjukkan layar ponselnya pada Alana.
Tatapan semua orang beralih pada Amar. Terutama Wisnu yang masih saja kesal medengar Amar memanggil Alana dengan mbak canti. Belum lagi nada bicara pria itu seolah tidak terima bahwa Alana adalah calon istri Wisnu.
Inaya memicingkan matanya menatap Amar, "Kenapa? Kamu tidak suka? Apa kamu berpikiran bisa mengajak mbak Al untuk tidur bersama kamu seperti Helen?" tanya Inaya beruntun.
Wajah Amar memucat dan tangannya mengepal menahan geram, bagaimana Inaya bisa bertanya seperti itu dihadapan semua orang? Amar tidak suka dipermalukan seperti ini. Sayangnya dia tidak bisa marah begitu saja. Dari mana tunangannya itu tahu tentang hubungannya dengan Helen? Amar akan mencari tahunya nanti.
"Maksud kamu apa, sayang?" tanya Amar seolah-olah tidak mengerti dengan pertanyaan Inaya.
Inaya berdecak, "Ck, pura-pura tidak paham." ujarnya.
"Masalah Wisnu dan Alana sudah selesai. Kita akan mengadakan acara lamaran besok." ucap Sandra. Lalu pandangannya menuju pada Inaya dan Amar bergantian.
"Sekarang masalah Inaya dan Amar yang harus diselesaikan." ucap Sandra melanjutkan perkataannya.
"Kami baik-baik saja Oma. Masalah apa yang harus diselesaikan?" sahut Amar.
__ADS_1
"Huu! Baik menurut kamu, tapi tidak untuk Inaya dan keluarga kami." jawab Ambar yang sejak tadi hanya diam saja.
"Maksud Mama apa?" tanya Amar lagi.
"Putuskan pertunagan kamu dan Inaya. Saya tidak sudi punya menantu seperti kamu yang suka tidur dengan banyak wanita." jawab Ambar.
"Jangan bicara asal Ma." balas Amar tidak terima, padahal apa yang dibicarakan oleh Ambar adalah kebenaran.
"Apa perlu bukti? Kami punya banyak bukti." ucap Ambar menantang Amar.
"Kalian tidak bisa memutuskan pertunagan ini begitu saja. Orang tua dan keluarga saya pasti tidak akan terima dengan fitnah ini." jawab Amar lalu pergi meninggalkan keluarga Mahendra. Sungguh tidak ada sopan santunya pria itu. Sayangnya Ambar terlambat mengetahuinya.
flash back off
***
Alana dan Ratna dibantu Kinara sibuk mempersiapkan jamuan untuk malam ini. Acara yang diadakan dadakan, tentu saja cukup merepotkan. Untungnya tidak begitu banyak tamu yang hadir malam ini. Hanya keluarga inti Mahendra dan beberapa orang dari keluarga terdekat mereka. Sementara dari Alana hanya orang-orang terdekat Alana saja dan tetangga kanan kirinya.
"Apa yang sekarang kamu rasakan Al?" tanya Kinara pada Alana, karena sahabatnya itu lebih banyak diam hari ini.
"Kebiasaan!" balas Kinara.
Alana menghembuskan nafas kasar, "Aku tidak sempurna Ki. Abang menikahi janda, dia...."
Alana tidak bisa melanjutkan ucapannya kaena Kinara menoyor kepala Alana. Kinara sedikit kesal mendengar ucapan sang sahabat. Entahlah, Kinara terkadang masih sulit memahami pikiran sahabatnya itu. Selalu saja memikirkan kebahagiaan orang lain dari pada dirinya sendiri. Alana itu harusnya belajar untuk egois.
"Jangan berpikir yang tidak perlu kamu pikirkan , Alana sayang. Abang Wisnu itu mencintai kamu, dia sayang sama kamu, sejak dulu hingga saat ini. Dimatanya kamu sempurna Al. Abang bahkan berpindah keyakainan dan sanggup menunggu restu dari ibunya demi bisa bersama kamu. Cukup kamu ingat hal itu, bukan hal yang lain." ucap Kinara menasehati sahabatnya itu.
"Al, kenapa masih disini? Sana siap-siap, kamu harus tampil lebih cantik dari hari biasanya malam ini." ucap Ratna yang melihat adik iparnya itu masih sibuk membantu asisten rumah tangga menata meja untuk menjamu tamu mereka.
"Mbak, aku nggak perlu persiapan apa-apa." jawab Alana.
"Haris! Kamu itu tokoh utama kita malam ini." jawab Ratna.
"Ayo Al, aku bantu kamu dandan." ucap Kinara.
"Ini masih sore Ki, acaranya kan nanti malam." tolak Alana, karena dia masih engan masuk kekamarnya.
__ADS_1
"Ya ampun Al, kamu perawatan dulu, luluran dan facial sana! Biar kinclong, cetar membahana. Buat Abang Wisnu semakin mempercepat hari pernikahan kalian." balas Ratna sambil terkikik menggoda adik iparnya.
Alana hanya bisa tersenyum malu. Wisnu memang bukan orang pertama yang datang untuk melamarnya, melainkan yang ketiga setelah Naren dan Abimana. Tapi Alana tidak bisa berbohong, dia merasa dejavu. Karena itu, Alana ingin bersikap biasa saja. Demi keamanan jantungnya.
Kinara menarik tangan Alana untuk masuk kekamar, dia akan membantu sahabatnya itu untuk melakukan perawatan tubuh dan wajah yang biasa mereka lakukan bersama.
"Aku mau lihat Arka dulu, Ki." ucap Alana begitu Kinara sudah mengeluarkan semua perlengakapan dan peralatan yang mereka butuhkan.
"Arka baik-baik saja. Nggak usah khawatir, ada bi Onah yang jaga. Ada Raka juga, dia nggak akan rewel kalau ada temannya." jawab Kinara menahan langkah Alana yang akan menuju ruang bermain putranya.
***
"Wisnu dan keluarganya sudah dalam perjalanan." ucap Rendi memberitahu Alana yang masih berada di kamarnya.
Alana hanya menganggukan kepala menanggapi ucapan Rendi yang sekarang berjalan mendekat padanya.
"Al!" panggil Rendi sambil mengambil tangan Alana lalu mengenggamnya.
"Wisnu pria baik." ucap Rendi, "Maafkan Abang yang dulu pernah menghalangi hubungan kalian." ucap Rendi lagi.
Alana bisa melihat sorot mata Rendi yang penuh penyesalan. Padahal semua yang terjadi dengan Alana bukan sepenuhnya kesalahan kakaknya. Tapi takdir Alana yang harus menjalani kehidupan seperti ini. Mungkin memang jalannya untuk bisa bersama Wisnu penuh drama dan proses yang panjang.
Diawali dengan keyakinan Alana dan Wisnu yang berbeda. Lalu, Alana yang harus menerima perjodohan dengan Naren dan berakhir menikah dengan Abimana. Dan dipernikahannya Alana memiliki anak yang ternyata bukan anak suaminya, tanpa Alana sadari.
"Hei, kenapa kalian masih ada disini? Wisnu dan keluarganya sudah ada didepan." ucap Ratna menegur suami dan adik iparnya.
Mendengar ucapan Ratna, Rendi segera keluar dari kamar Alana. Ratna mengikuti suaminya setelah meminta Alana untuk tetap menunggu dikamar. Rendi dan Ratna langsung menyambut keluarga Mahendra yang sudah tiba beberapa menit yang lalu.
"Selamat datang, Opa, Oma." ucap Rendi yang sejak dulu memanggil Mahendra dan Sandra sama seperti Wisnu memanggil mereka.
"Om, Tante, silakan masuk." ucap Rendi lagi begitu menyalami Indra dan Ambar.
Ratna mengikuti apa yang Rendi lakukan, dia juga mempersilakan keluarga Wisnu yang lain untuk masuk kedalam kediaman mertuanya.
...🌿🌿🌿...
...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku ...
__ADS_1