Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku

Anakku Ternyata Bukan Anak Suamiku
Bab 54. Kegelisahan Alana


__ADS_3

Mengenal Alana sejak kecil, tentu saja membuat Wisnu sangat tahu seperti apa calon istrinya itu. Maka saat Alana mengatakan ada perasaan yang tidak nyaman jika dia pulang ke kediaman orang tuanya, Wisnu langsung menyetujui Alana dan Arkana untuk menginap di kediaman Rendi.


Tidak hanya Wisnu, Dirga dan Kinara pun memiliki pemikiran yang sama. Entah hanya sebuah kebetulan atau bukan, setiap Alana merasakan sesuatu yang tidak nyaman, maka akan ada hal buruk yang terjadi.


Jadilah malam ini Wisnu dan Dirga memutuskan untuk menginap di kediaman orang tua Alana dan Rendi. Tentu saja setelah mereka mengantarkan Kinara pulang ke apartemenya. Meskipun sempat ditolak oleh sahabat Alana itu.


"Aku ikut dalam misi kalian." ucap Kinara.


"Kamu istirahat di rumah saja ya Ki." ucap Dirga membujuk sambil menoleh ke belakang untuk melihat Kinara.


"Iya Ki, kamu kami antar pulang ke apartemen. Kita tidak tahu akan ada kejadian seperti apa? Kamu nanti bisa memberikan bantuan saat kami membutuhkan." ucap Wisnu menimpali untuk membujuk Kinara.


"Terserah kalian saja." jawab Kinara meskipun kecewa, tapi dia tidak bisa melawan dua pria yang ada bersamanya ini. Apa yang Wisnu katakan juga ada benarnya.


Tadinya Rendi juga berkeinginan untuk ikut kedua sahabatnya. Tapi Wisnu menyarankan lebih baik Rendi menjaga Alana dan keluarga kecilnya saja.


Mereka tidak tahu, kenyamanan yang Alana rasakan itu akan terjadi dimana. Tentu saja mereka harus berjaga-jaga, bukan?


Rendi setuju dengan pendapat Wisnu. Dia juga tidak sendiri, karena dibantu para pengawal yang memang selalu berjaga disekitaran kediamannya.


Tiba di kediaman orang tua Alana dan Rendi, Wisnu dan Dirga langsung memeriksa disetiap sudut rumah. Mungkin saja ada hal yang mencurigakan atau ada seseorang yang bersembunyi didalam rumah. Atau mungkin telah terjadi sesuatu saat kediaman ini kosong.


Awalnya mereka tertuju pada Naren yang membuat Alana merasa tidak nyaman, karena pria itu tadi sore berani menemui Alana. Namun menurut penjelasan Kinara, apa yang terjadi antara Naren dan Alana sore tadi sepertinya Naren tidak mungkin melakukan hal yang buruk pada Alana. Pria itu datang hanya untuk menjelaskan apa yang terjadi dan meminta maaf, bukan memaksa Alana kembali padanya.


Merasa tidak ada yang aneh dari semua tempat yang mereka periksa, Wisnu dan Dirga kembali kekamar masing-masing. Dirga menempati kamar Rendi saat masih tinggal di kediaman orang tuanya, sementara Wisnu menempati kamar tamu.


***


Aditya baru saja selesai membersihkan dirinya setelah bergumul dengan Irena, wanita panggilan yang sudah beberapa kali dia pakai untuk melepaskan hasratnya.


Aditya keluar dari kamar hotel. Sampai di lobi hotel, dia melihat seorang wanita muda sedang menggendong anak laki-laki. Aditya langsung teringat dengan Arkana putranya.


"Kana, Papa kangen." gumamnya.

__ADS_1


Tanpa Aditya sadari, langkanya mendekati wanita muda tersebut. Tangannya terulur lalu mengusap kepala anak laki-laki yang usianya Aditya perkirakan hampir sama dengan Arkana.


"Hei boy." sapa Aditya.


Wanita muda itu menoleh kebelakang dan terkejut ada seorang pria yang mengajak anaknya bicara.


"Anda siapa?" tanya wanita muda itu.


"Maaf saya mengagetkan anda. Saya sedang kangen anak saya. Melihat putra anda saya jadi ingin menyapanya." jawab Aditya.


"Iya, tidak apa-apa. Saya permisi dulu Mas, mari." ucap wanita muda itu sopan berpamitan pada Aditya.


Aditya memandangi anak laki-laki itu yang semakin menjauh sampai hilang dibalik pintu besi. Rasa rindunya pada Arkana sudah berhari-hari ini menganggunya. Dan Aditya tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia harus bertemu Arkana secepatnya.


Pemilik rumah sakit ibu dan anak itu meninggalkan hotel dengan rencana-rencana berlian di kepalanya.


"Kenapa baru kepikiran sekarang?" ucapnya sambil tersenyum lebar.


"Malam ini harus berhasil." ucapnya lagi. Merasa yakin dengan rencana yang dia susun.


***


Namun rasa tidak nyaman sebelumnya kini berganti dengan kepingan-kepingan kenangan masa lalu. Seperti siaran ulang, satu persatu peristiwa besar yang Alana pernah alami kini hadir kembali. Baik itu kenagan bahagia maupun kenangan buruk yang menyakitkan.


Menoleh pada sang putra, Alana menghembuskan nafas kasar. Sekuat apapun dia ingin melupakan kenagan buruk itu, rasanya akan sulit saat melihat Arkana. Wajah putranya selalu mengingatkan Alana pada Abimana dan juga Aditya.


Bukan hanya itu yang membuat Alana malam ini sulit terpejam. Ucapan Sandra setelah mereka makan malam tentang Amel tidak bisa dia abaikan begitu saja.


"Jadi menurut Naren, Amel melaukan semua ini karena cintanya di tolak seseorang yang mencintai kamu sejak dulu?" tanya Sandra mengulang penjelasan Alana.


Ibu dari Arkana itu mengangguk, "Dan pria itu bang Wisnu." jawabnya.


"Aku tadi bertanya pada bang Wisnu tentang hubungan dia dan Amel." ucap Alana lagi menjelaskan.

__ADS_1


"Dia jawab apa?" tanya Sandra.


"Abang tidak punya hubungan apa-apa dengan Amel. Abang tadi jawab seperti itu."


"Itu berarti sama seperti penjelasan Naren sama kamu, Al. Amel bertepuk sebelah tangan dan kecewa. Melampiaskan rasa kecewanya pada kamu, orang yang dicintai Wisnu." ujar Sandra.


"Amel itu licik, kamu harus lebih hati-hati. Jangan sampai dia kembali menghancurkan hidup kamu. Apa lagi setelah kamu hidup bersama Wisnu." ucap Sandra lagi menasehati adik iparnya sebelum dia meninggalkan kamar yang Alana tempati.


Alana lagi-lagi membenarkan ucapan kakak iparnya itu. Bukankah rumah tangganya dan Abimana hancur karena ulah Amel?


Lalu ingatan Alana kembali pada pesan tadi sore. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.


'Al, aku kangen Arkana.'


Entah siapa yang mengirimkan pesan tersebut. Bisa Abimana, bisa juga Aditya. Kedua nomor pria itu sudah Alana blokir sejak dia kabur dari rumah sakit milik Dirga.


Alana sadar, bagaimanapun seharusnya dia tidak boleh memisahkan antara ayah dan anak. Tapi keadaan yang memaksa dia harus melakukan ini semua.


Siapa yang menyangka hidupnya akan seperti ini. Rumah tangganya bersama Abimana yang dia rasa baik-baik saja dan bahagia ternyata harus berakhir dengan perceraian.


Memang Alana yang memilih jalan perceraian, karena dia tidak ingin terluka semakin dalam. Maka Alana harus menjalani ini semua dengan ikhlas.


Ikhlas, sebuah kata yang sangat mudah diucapkan, tapi sangat sulit untuk di praktekkan. Alana sangat menyadari, dia bukan wanita sempurna. Masih banyak penyakit hati yang menyelimuti dirinya, karena itu sulit rasanya untuk mengapai kata Ikhlas yang sebenarnya.


Arkana menggeliat, sepertinya putranya itu sedang bermimpi. Sesekali wajahnya tersenyum dan sesekali tampak ingin menangis. Menggemaskan memamg putranya ini, membuat Alana ingin sekali mengigit pipi bakpau Arkana.


Mengelus kepala putranya dengan sayang, Alana harap Arkana bisa tidur dengan tenang. Bukan hanya Arkana sepertinya yang terbuai dengan usapan tangan di kepala, Alana juga ikut merasa kan kantuk.


Rasanya baru saja Alana memejamkan mata, kini dia harus kembali terjaga karena lupa mensenyapkan suara dering ponselnya.


'Jangan kamu kira sudah menang karena berhasil menyingkirkan aku jauh dari ibu kota. Kamu salah.'


...🌿🌿🌿...

__ADS_1


...Ananku Ternyata Bukan Anak Suamiku  ...


__ADS_2